PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
KUIL DI ATAS BUKIT BATU


__ADS_3

Ji Lian Hua terpental mundur, dengan patahan pedang, yang tinggal separuh di dalam genggaman tangannya.


Huo Qi Lin setelah mendarat diatas tanah, dia langsung terbang balik kearah Ji Lian Hua.


Masih dengan cara yang sama, Huo Qi Lin terbang mengejar kearah Ji Lian Hua, yang sedang terpental mundur kebelakang.


Ji Lian Hua untuk mencegah Huo Qi Lin itu mengejarnya.


Dia melontarkan potongan pedang di tangan, yang tidak bisa dia gunakan lagi.


"Singggg...!"


Potongan pedang tersebut berdesing cepat melesat kearah Huo Qi Lin.


"Trangggg..!"


Hanya dengan sapokkan pelan, dengan cakar kaki kanan depan nya.


Huo Qi Lin sudah berhasil mukul runtuh pedang Ji Lian Hua.


Menancap di atas tanah, hingga tersisa gagangnya saja.


Ji Lian Hua tidak berani berayal lagi, setelah melihat Huo Qi Lin semakin menjadi ancaman bagi diri nya.


Ji Lian Hua kini mengeluarkan Pedang Langitnya .


Ji Lian Hua segera sambil terbang mundur menjauh, dengan sebelah kaki menotol tanah.


Dia langsung memberikan satu tebasan dengan pedang Langit nya.


"Singggg...!"


"Bressss..!"


Huo Qi Lin jatuh tergelatak menjadi singa batu es beku, setelah dia menerima tebasan pedang langit dari Ji Lian Hua.


Tapi hal itu hanya berlangsung sekejab saja, sesaat kemudian Huo Qi Lin sudah kembali memancarkan api yang jauh lebih ganas, bersinar sinar menyelimuti seluruh tubuhnya.


Potongan es langsung jatuh berhamburan kesekitarnya.


Huo Qi Lin sudah kembali berdiri dengan gagah, menatap kearah Ji Lian Hua dengan tatapan mata penuh amarah.


Dia sudah bersiap, untuk memberikan serangan selanjutnya kearah Ji Lian Hua.


Ji Lian Hua buru buru memutar pedang langit nya didepan dada, lalu dia menunjukkan ujung pedangnya menghadap langit.


Dalam keadaan terpaksa, tiada pilihan lain, Ji Lian Hua mengeluarkan jurus pamungkas nya.


"Pedang Langit Pemusnah Kekuatan Semesta...!"


Seberkas cahaya putih turun dari langit masuk ke pedang di tangan Ji Lian Hua, sebelum kemudian dengan suara teriakan keras.


"Hyaaahhh...!"


"Singggg...!"


Pedang Langit ditangan Ji Lian Hua di tebaskan kearah Huo Qi Lin, hingga mengeluarkan suara desing keras.

__ADS_1


Menyadari bahaya, yang datang, Huo Qi Lin segera menggunakan semburan api tiga rasa, untuk menyambut serangan Ji Lian Hua.


"Wusssshhh...!"


Benturan cahaya putih dan merah saling menekan di udara.


Tapi Huo Qi Lin dengan api tiga rasa memenangkan pertarungan adu kuat tersebut.


Yu Ming yang berdiri di samping menjadi penonton, melihat Ji Lian Hua yang mirip dengan sahabat di masa lalunya dalam bahaya.


Dia tidak mungkin diam berpangku tangan.


Yu Ming akhirnya mengeluarkan pedang Xuan Yuan nya, lalu melesat cepat kedepan.


"Crackkkkk...!"


Pedang Xuan Yuan adalah pedang Dewa, begitu bergerak, apalagi di tusukkan dari bawah rahang Huo Qi Lin.


Di mana bagian tersebut tidak terlindung oleh sisik kerasnya.


"Groowaaarrrrrrr...!"


Huo Qi Lin meraung kesakitan, sebelum pedang Xuan Yuan di tarik keluar dari tenggorokan nya.


Kemudian dari samping sebuah tendangan Yu Ming bersarang di kepalanya.


"Crasssh..!"


"Dessss...!"


Huo Qi Lin akhir terpental jatuh diatas tanah, menimbulkan kabut debu beterbangan.


Dengan nafas pelan, api yang menyelimuti tubuhnya, sebelumnya terlihat berkobar kobar, kini terlihat redup hingga akhirnya padam.


Seiring dengan padamnya api yang menyelimuti tubuh Huo Qi Lin.


Huo Qi Lin akhirnya tewas, perut dan dadanya, sudah berhenti bergerak.


Hal itu sebagai pertanda nafas mahluk tersebut, sepenuhnya telah berhenti.


Setelah Huo Qi Lin tewas, di tangan Yu Ming, Ji Lian Hua pun terbebas dari tekanan semburan api tiga rasa yang Huo Qi Lin itu lepaskan.


Kini dia bisa kembali bernafas lega, meski dia harus kehilangan seluruh rekannya .


Dia tetap merasa berterima kasih atas kemunculan Yu Ming , yang bersedia turun tangan membantunya.


Ji Lian Hua segera menyimpan pedang langit nya, lalu dia berjalan menghampiri Yu Ming , yang sedang berdiri memunggunginya dan berkata pelan,


"Terimakasih banyak, kamu sudah bersedia turun tangan menolong.."


"Aku Ji Lian Hua meminta maaf, bila sebelumnya banyak melakukan hal yang kurang baik terhadap mu.."


Ucap Ji Lian Hua sambil menjura penuh hormat kearah Yu Ming .


Yu Ming segera membalikkan badannya membalas menjura kearah Ji Lian Hua dan berkata,


"Nona Ji anda terlalu sungkan.."

__ADS_1


"Di bandingkan pertolongan berulang kali, yang kamu berikan dari awal pertemuan hingga saat ini.."


"Tentu saja pertolongan ku, hari ini belum termasuk apa apa.."


"Lagipula aku juga tahu, selama ini meski aku dan guru mu, dengan semua orang Thian Cien Pai tidak akur.."


"Tapi dengan mu sama sekali tidak, semua ini terjadi karena situasi dan kondisi keberadaan kita.."


"Kita hanya terpaksa harus seperti orang asing yang tidak saling kenal, karena situasi yang tidak memungkinkan.."


"Bukan begitu..?"


Ucap Yu Ming sambil tersenyum, yang membuat dia terlihat semakin tampan dan gagah.


Ji Lian Hua mengangguk pelan dan berkata,


"Terimakasih atas pengertiannya.."


"Maaf,.. aku tidak bisa berlama-lama, aku harus membawa mayat mereka kembali ke sekte ku.."


"Juga melaporkan situasi yang terjadi ditempat ini.."


Yu Ming mengangguk pelan dan berkata,


"Baiklah nona Hua, sampai jumpa..!"


"Jaga diri mu baik baik..!"


"Aku permisi ."


Selesai berkata, Yu Ming pun membalikkan badannya, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


Ji Lian Hua mengulur kan tangan ingin menahan Yu Ming , tapi pada akhirnya, dia tidak jadi berkata apapun.


Selain menarik tangan nya kembali, karena tidak tahu mau bicara apa, sebagai alasan meminta Yu Ming tinggal.


Sebentar saja Yu Ming sudah menghilang dari hadapan nya.


Ji Lian Hua setelah menghela nafas kecewa, dia segera melanjutkan pekerjaan nya.


Menarik sebuah kereta untuk di muat mayat mayat rekannya yang gugur.


Setelah itu dia segera mengambil arah berlawanan dengan Yu Ming .


Setelah bergerak meninggalkan desa Niu Cia, Ji Lian Hua langsung melakukan perjalanan pendakian, menuju Puncak Feng Huang San.


Sedangkan Yu Ming terlihat kembali meneruskan perjalanan nya dengan tujuan sungai Han, yang terletak tidak jauh dari kota Shoucun.


Setelah melewati hutan selatan, yang pernah dia lewati dahulu bersama rombongan Thian Cien Pai .


Dia akhirnya tiba di tepi muara lembah sungai Han.


Di mana dulu dia pernah melawan buaya raksasa di tempat tersebut.


Yu Ming menyaksikan tempat tersebut kini mulai penuh dengan sawah, yang di garap oleh penduduk.


Sedangkan di tepian sungai juga banyak terlihat orang membangun tambak ikan .

__ADS_1


Tidak jauh dari lembah tersebut, tepatnya di bukit yang dulunya penuh bebatuan.


Kini Yu Ming menemukan di sana ada di bangun undakan anak tangga, menuju kesebuah bangunan yang kelihatan nya adalah sebuah kuil, untuk penduduk melakukan upacara sembahyang.


__ADS_2