PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
KOTA AN KOTA PERBATASAN


__ADS_3

Dalam masa masa perjuangan kota Dan Yang menjadi ibukota kerajaan Chu.


Para penguasa di kerajaan Zhou yang sebelumnya menikmati bagi hasil dengan Tan Siaw.


Begitu mendengar Tan Siaw terbunuh, dan kota Dan Yang di kuasai Xiong Yi, yang memproklamirkan diri, berdiri sendiri.


Mereka menjadi sangat berang, karena hal ini membuat pemasukan mereka menjadi terganggu .


Beberapa dari mereka secara terpisah mengirim militer menyerang Dan Yang.


Tapi berkat hadirnya Yu Ming yang mahir strategi pertempuran.


Serangan mereka selalu mengalami kegagalan.


Karena pada gagal, mereka yang tadinya ingin mencaplok kota Dan Yang, untuk kepentingan pribadi mereka di wilayah selatan.


Kini mereka beralih untuk mencari teman seperjuangan, bergabung beramai ramai membuat rencana untuk menyerang kota Dan Yang secara besar besaran.


Untuk misi ini, mereka kini telah mendatangkan pasukan bayaran profesional, juga dukungan dari beberapa Jendral besar terkemuka.


Selain itu, mereka juga mendapatkan bantuan dari sekte sekte dunia persilatan, yang tertarik dengan tawaran yang mereka berikan.


Dari masalah kecil, kini berkembang menjadi masalah yang jauh lebih berat dan besar.


Yu Ming sendiri juga mulai pusing dengan serangan bertubi-tubi yang hampir tiada henti.


Sehebat apapun, yang namanya perang, sangat lah menguras biaya.


Ini yang Yu Ming khawatirkan saat ini.


Bila peperangan panjang tanpa henti terus berkelanjutan, perekonomian kerajaan Chu akan terganggu.


Ujung ujungnya rakyat akan menderita.


Hal ini akan saling berkait, hingga akan mengakibatkan kurangnya persenjataan dan ransum bahan makanan, yang datang dari pusat buat mereka di garis depan.


Pasukan nya juga akan ikut menderita.


Seperti saat ini, Yu Ming yang berdiri di menara pengawas kota An, yang sepi tiada tanda tanda kehidupan.


Sepanjang mata memandang, hanya ada kuburan masal dan pasukan Chu, yang terluka bernaung di tenda tenda darurat.


Sisa pasukan yang sehat tidak ada yang melakukan pelatihan.


Bukan mereka malas berlatih, tapi tiada waktu untuk berlatih.


Bahkan untuk sekedar tidur pun mereka hampir tidak punya waktu.


Hanya bisa berdiri bersandarkan tembok sambil tidur tidur ayam.


Kondisi Yu Ming sendiri juga bukan sangat baik, pakaian nya robek sana sini.

__ADS_1


Darah hampir memenuhi seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya.


Bahkan bekas noda darah kering, banyak yang menempel di kening dan pipinya.


Sejauh ini, tubuhnya tidak ada bekas luka, tapi semua ini berkat pengorbanan sahabat nya, yang kini terlihat kelelahan dan sedang tertidur lelap didalam pelukannya


Benteng kota An, yang merupakan benteng terluar pertahanan kerajaan Chu.


Saat ini rupa dan bentuknya di katakan benteng, lebih mirip reruntuhan puing puing bangunan.


Tembok pertahan kota, di beberapa sisi terlihat sudah runtuh.


Selain mengalami kelelahan hebat dalam sebulan ini, pusat juga sudah tidak bisa mengirimkan obat dan ransum makanan.


Sehingga Yu Ming harus berhemat dalam pembagian jatah makanan dan obat obatan ke pasukannya.


Mereka tidak hanya menghadapi kelelahan lahir batin, mereka juga harus menghadapi bencana kelaparan.


Yu Ming sudah 3 kali mengirim utusan ke ibukota, untuk meminta tambahan ransum obat obatan dan pasukan serta persenjataan.


Tapi sejauh ini, belum juga ada satupun yang datang, padahal utusan yang di kirim nya sudah pada kembali.


Yu Ming yang berdiri di puncak menara, membiarkan angin sore menerbangkan rambutnya berkibar kibar.


Dia menatap kearah langit senja, dengan tatapan mata yang di penuhi kelelahan.


Yu Ming yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini terlihat jauh dari kata ceria.


Dia terlihat sangat lelah dan kurang bersemangat, kini hanya keteguhan hati, dan tekad yang membuat nya terus bertahan dan berdiri dengan gagah di sana.


"Hao Han tidak ingin mengingat betapa gagah berani nya dirinya di waktu lewat..!"


"Dia hanya ingin..! ingin bertanya,.. apakah kalian mengerti dan paham akan diri nya dan perjuangan nya..!"


Belum selesai dengung suara Yu Ming , sudah terdengar bunyi terompet musuh di kejauhan sana di tiup.


Genderang perang mulai di tabuh bertalu talu, memecah ketenangan dan keheningan langit di kala senja.


"Haisss,.. mereka datang lagi.."


Keluh Yu Ming.


Komandan pasukan Yu Ming di bawah sana, mulai berlari kesana kemari, untuk meminta bawahan mereka masing masing siap siaga, menghadapi peperangan yang setiap saat bisa pecah.


Karena lawan sudah mengisyaratkan mereka sedang bergerak mendekati mereka.


Yu Ming terus menatap tajam kearah debu, yang mengepul tinggi di kejauhan sana.


Belum bisa dipastikan berapa banyak pasukan lawan, yang sedang bergerak mendekat.


Tapi dari derap langkah mereka, yang terdengar sampai ketempat posisi nya berada, ini menunjukkan jumlah mereka tidaklah sedikit.

__ADS_1


Yu Ming sedang memutar otak, berpikir keras. Bagaimana caranya, dia dan pasukannya akan mampu mempertahankan benteng kota, yang sudah sangat bobrok ini.


Setelah beberapa waktu berpikir, Yu Ming akhirnya memanggil 3 Jendral bawahan nya datang menghadap.


Sambil menatap ketiga bawahan nya, Yu Ming berkata,


"Jendral Xiang, Jendral Zhuo, Jendral Meng. "


"Aku berpendapat kita harus merelakan benteng ini ke mereka, dan meninggalkan pasukan, yang terluka dan yang tidak mampu bergerak bebas, menyerahkan diri ke musuh.."


"Bagaimana menurut pendapat kalian bertiga..?"


Tanya Yu Ming sambil menatap kearah mereka bertiga secara bergantian.


Jendral Xiang yang pertama kali buka suara, dia memberi hormat kearah Yu Ming dan berkata,


"Maaf pangeran Ming,..diantara pasukan kita, tentu nya ikatan persaudaraan dan pertemanan dengan yang terluka saling terkait.."


"Bila kita meninggalkan mereka ke musuh, aku rasa ini agak kejam.."


"Takutnya hal ini akan mempengaruhi loyalitas dan mental pasukan kita, yang masih sehat.."


"Mereka akan selalu di hantui oleh pikiran, bila mereka terluka, mereka akan alami hal yang sama dengan rekan mereka, yang kita tinggalkan.."


"Ini akan sangat mempengaruhi semangat juang mereka dalam pertempuran.."


"Jadi maaf pangeran, ide ini aku kurang setuju.."


Jawab Jendral Xiang berterus terang.


Yu Ming menoleh kearah dua Jendral lainnya, menunggu tanggapan mereka.


Jendral Zhuo segera memberi hormat dan berkata,


"Aku hanya ingin mengingatkan pangeran, benteng kota ini meski sulit di pertahankan lagi.."


"Tapi ini adalah benteng pertahanan terakhir kita, bila benteng ini jatuh .."


"Berikutnya adalah giliran benteng kota Dan Yang.."


"Harap pangeran Ming bisa memikirkan ulang dengan baik.."


Yu Ming mengangguk, lalu dia menoleh kearah Jendral Meng, dan berkata,


"Bagaimana menurut Jendral Meng..?"


"Maaf aku tidak punya pendapat, apapun keputusan pangeran, aku akan dukung sepenuh hati.."


Ucap Jendral Meng berpendapat.


Yu Ming mengangguk, lalu dia berkata pelan setengah berbisik bisik dengan ketiga Jendral nya, sambil menunjuk kesana kemari.

__ADS_1


Ketiga Jendral nya segera mengangguk paham, mereka segera membubarkan diri pergi mengatur barisan.


Sesaat kemudian, Yu Ming sendiri segera menuruni menara dan pergi dari sana sambil menggendong sahabat setianya.


__ADS_2