
Saat sudah berada cukup jauh dan tidak terlihat lagi dari posisi Hung hai Kun, si tombak sakti.
Yu Ming kembali menepikan kapalnya, menurunkan jangkar kapal.
Kemudian dia berkata,
"Hua er ayo kita tinggalkan kapal sejenak.."
"Aku ingin pergi melihat akhir nasib si manusia keras kepala itu.."
Ji Lian Hua mengerti maksud Yu Ming , dia mengangguk, lalu dia mengikuti Yu Ming melayang ringan ke tepian sungai.
Meninggalkan kapal mereka tertambat di tengah hutan sana.
Mereka berdua bergerak dengan ilmu ringan tubuh kembali ketempat Hung hai Kun, si tombak sakti, terbaring tak berdaya.
Yu Ming dan Ji Lian Hua setelah tiba di lokasi, mereka berdua bersembunyi di atas salah satu cabang dahan pohon besar berdaun lebat yang tumbuh tidak jauh juga tidak dekat dengan posisi Hung hai Kun, si tombak sakti terbaring tak berdaya.
Saat tiba di lokasi, mereka melihat Hung hai Kun, si tombak sakti, masih tetap tergeletak tidak berdaya di tempat.
Dia masih terlalu lemah untuk meninggalkan tempat itu, dia hanya mampu bangun untuk duduk.
Yu Ming dan Ji Lian Hua di tempat persembunyian, mereka berdua menunggu dengan sabar sambil ransum kering mereka.
Menjelang matahari mulai tenggelam baru mulai terlihat tanda tanda Hung hai Kun, si tombak sakti.
Mampu bergerak dengan langkah terhuyung-huyung meninggalkan tempat tersebut.
Yu Ming dan Ji Lian Hua segera bergerak mengikuti dari kejauhan, mereka diam diam terus mengikuti kemanapun Hung hai Kun, si tombak sakti melangkah.
Mereka diam diam terus melakukan pemantauan dari jarak jauh.
Butuh waktu satu hari satu makam mereka mengikuti perjalanan Hung hai Kun, si tombak sakti.
Baru mereka berhasil melihat Hung hai Kun, si tombak sakti tiba di sebuah bangunan gedung besar dan mewah yang berdiri tepat di seberang telaga berwarna biru.
Untuk mencapai kediaman di seberang telaga, Hung hai Kun, si tombak sakti mengandalkan tukang perahu yang siaga ditepi telaga.
Dari pakaian mereka yang mengenakan seragam tertentu, yang berwarna dan bercorak sama.
Yu Ming menebak mereka ini bukan tukang perahu sembarangan, melainkan mereka semua ini, adalah anggota sebuah perkumpulan sekte atau perguruan silat tertentu.
Setelah mereka pergi membantu menyeberangkan Hung hai Kun, si tombak sakti keseberang telaga.
Yu Ming membawa Ji Lian Hua terbang diatas air menuju seberang telaga.
__ADS_1
Ji Lian Hua juga mampu berjalan diatas telaga, tapi tidak lah mungkin bisa menyeberangi telaga yang begitu luas dan lebar.
Bila dia melakukannya sendiri, sebelum sampai di seberang sana, dia pasti sudah tenggelam.
Melihat Yu Ming mampu membawanya menyeberangi telaga.
Hanya sesekali menotolkan kakinya di atas permukaan yang membuat airnya berisik pun tidak.
Ji Lian Hua semakin kagum dengan kemajuan kesaktian Yu Ming yang sudah begitu tinggi.
Dengan kemampuan ini, Yu Ming minimal pasti sudah ada di ranah Alam Dewa, jauh melampaui guru nya sendiri. Dan untuk itu dia tahu persis Yu Ming masih bisa terus berkembang.
Ada kemungkinan Yu Ming bisa mencapai tahap alam dewa abadi, seperti legenda para Dewa Dewi agung, seperti cerita cerita di dalam dongeng.
Di mana mereka bisa terbang bebas naik ke kahyangan, turun ke bumi, bahkan mengunjungi neraka .
Yu Ming berhasil membawa Ji Lian Hua mendarat di seberang telaga bersembunyi di balik bebatuan alam yang berjejer ditepi telaga.
Di sana mereka mengawasi Hung hai Kun, si tombak sakti di bawa masuk kedalam bangunan mewah yang Yu Ming tebak itu pastilah Paviliun Awan Putih.
Seperti yang di sebut sebut didalam undangan yang di tujukan kepada nya.
Yu Ming memberi kode pada Ji Lian Hua agar bergerak mengikutinya mendekati bangunan pagar tembok tinggi, gedung tersebut.
Dengan menyelinap cepat diantara pepohonan dan semak belukar.
Setelah melewati menara pengawas, Yu Ming dan Ji Lian Hua tanpa kesulitan berhasil terbang melewati tembok pagar pembatas .
Di bagian dalam tembok pembatas, Yu Ming dan Ji Lian Hua berkelebatan cepat menghindari perhatian para petugas jaga, dengan bersembunyi di balik pohon dan rerimbunan tanaman di dalam sana.
Yu Ming dan Ji Lian Hua bisa melihat kedatangan Hung hai Kun, si tombak sakti.
Hanya di sambut oleh tiga orang pria berbaju hitam yang pernah di utus untuk mengiriminya undangan.
Yu Ming dari kejauhan bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
Jadi dia terus memasang telinga'nya untuk mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
Sedangkan Ji Lian Hua yang tidak memiliki pendengaran setajam Yu Ming ,
Dia hanya bisa mencoba menangkap gerak bibir mereka, untuk menebak apa yang sedang mereka bicarakan.
Salah satu petugas berbaju hitam itu berkata,
"Maaf majikan sedang ada tamu penting, bila saudara Hung ada yang ingin di sampaikan.."
__ADS_1
"Sampaikan saja pada kami, nanti biar kami menyampaikan ke majikan di dalam sana.."
Hung hai Kun, si tombak sakti, dengan wajah masih pucat dia berkata,
"Tapi aku ada hal penting yang harus di sampaikan secara langsung.."
"Biarlah aku menunggu saja, bila tamu penting sudah pergi, aku baru ijin menghadap.."
Salah seorang dari mereka bertiga kembali menjawab cepat,
"Tidak perlu kamu sampaikan ke kami saja, ini perintah dari majikan.."
Hung hai Kun, si tombak sakti terlihat kurang senang.
Tidak biasanya orang orang ini, berani bersikap seperti ini padanya.
Biasanya mereka sangatlah patuh dan menghormatinya, kapanpun dia mau menghadap dia bahkan tidak pernah ada yang menghalangi.
Keluar masuk sangatlah mudah baginya, mengapa kini jadi di persulit begini.
Hung hai Kun, si tombak sakti, sambil menatap mereka secara bergantian, dia berkata.
"Hubungan aku dengan majikan kalian juga bukan nya tidak tahu.."
"Kalian bertiga jangan banyak ulah dan berkurang ajar di hadapan ku .."
"Bila masalah hari ini sampai ke majikan siapapun tidak ada yang lebih baik.."
"Menyingkirlah jangan menghalangi jalan ku.."
Ucap Hung hai Kun, si tombak sakti, sambil mengulurkan tangannya mencoba untuk menerobos masuk secara paksa.
Di luar dugaan nya salah satu orang itu berani menangkap pergelangan tangannya, memutarnya dengan cepat.
Sehingga tangan langsung tertelikung kebelakang, tidak cukup sampai disana.
Setelah menelikung lengannya, salah satu orang berpakaian hitam itu menendang sambungan di belakang lututnya.
Memaksanya berlutut, lalu punggungnya di tendang dengan keras dari belakang.
Hingga tubuh Hung hai Kun, si tombak sakti terpental berguling guling di atas tanah.
"Sudahlah jangan kamu jual lagak lagi, hari ini dan dulu berbeda, bila tidak mau bercerita ke kami."
Silahkan pergi saja, tanpa perlu kamu bercerita kami juga tahu.."
__ADS_1
"Dengan melihat tampang mu yang begitu menyedihkan, kamu pasti sudah di kalahkan,.. benar..?"