
Di posisi lain, Yu Ming yang terdesak, melihat, pedang Xuan Yuan nya, tidak berhasil menandingi senjata gaib Che Lung.
Dalam keadaan terpaksa, tidak ada pilihan lain, Golok Cahaya Biru Yu Ming keluarkan.
Begitu Golok Cahaya Biru di keluarkan untuk menggantikan pedang Xuan Yuan.
Memberikan Tebasan cepat mengikuti arahan pikiran Yu Ming .
Golok Cahaya Biru bergerak cepat tanpa perlu di pegangi tangan Yu Ming .
Golok Cahaya Biru dengan sangat cepat langsung bergerak sendiri menghancurkan satu persatu, 13 Hantu kegelapan, yang sedang mengunci pergerakan Yu Ming .
Setelah kaki tangan nya terlepas dari belenggu 13 hantu kegelapan, yang berhasil di hancurkan oleh Golok Cahaya Biru .
Yu Ming bersama Golok Cahaya Biru berubah menjadi sebuah bayangan Golok Cahaya Biru melesat menghalau kebutan dan pedang hitam Che Lung.
Kebutan di terima dengan lengan kiri Yu Ming , yang membiarkan bulu kebutan melilit lengan nya.
Sedangkan Pedang Hitam menghadapi benturan keras langsung dari Golok Cahaya Biru .
Pedang hitam berhasil di remukan oleh Golok Cahaya Biru dengan sangat mudah.
Sedangkan kebutan yang melilit lengan Yu Ming juga berhasil Yu Ming ledakan dengan energi api surgawi.
Kebutan hangus gosong tak berbentuk jatuh tergelatak di atas tanah.
Pedang hitam keadaan nya juga tidak jauh lebih baik, potongan pedang terlihat berserakan di atas tanah, setelah di hancurkan oleh Golok Cahaya Biru .
Sedangkan Che Lung, baru juga dia selesai mengejek Yu Ming , seberkas cahaya biru dengan sangat cepat melewati tubuh nya
Tanpa bisa di cegah lagi, muncul retakan dari keningnya, bergerak cepat menurun kebawah.
Sesaat kemudian dengan jeritan ngeri, tubuh Che Lung telah terbelah dua, oleh jurus, memisahkan gelap dan terang.
Begitu tubuh Che Lung meledak menjadi dua bagian, darah seketika berhamburan di udara bagaikan embun yang jatuh ke bumi.
Sesaat kemudian tempat itu menjadi hening, hingga terdengar suara Kokok ayam hutan jantan.
Hutan baru mulai ramai kembali dengan suara burung yang bersahutan di atas pohon.
Bersiap menyambut datangnya cahaya mentari di pagi hari.
Yu Ming setelah menyimpan Golok Cahaya Biru kedalam gelang penyimpanan nya.
Dia berjalan santai meninggalkan hutan bambu, berjalan santai keluar dari hutan bambu.
Kemudian terus bergerak menuju arah dermaga, saat tiba di dermaga.
__ADS_1
Pagi sudah tiba, kesibukan di dermaga segera di mulai, mulai dari yang bongkar menurunkan barang hingga menaikkan barang keatas kapal semua terlihat berjalan dengan teratur dan tertib.
Masing masing terlihat sibuk bekerja, tidak ada yang saling mengurus dan saling mengatur.
Sehingga tidak ada timbul keributan tidak perlu, sesama manusia yang pada dasarnya selalu ingin menang sendiri.
Ingin mencari pembenaran atas setiap tindak tanduknya yang egois.
Bila tidak ada yang bersikap egois, tentu keributan tidak bakal terjadi.
Yu Ming berjalan santai melintasi dermaga, tanpa menarik perhatian orang yang berpapasan dengannya.
Orang orang yang berpapasan dengan Yu Ming , hanya sedikit kagum dengan ketampanan Yu Ming .
Tapi karena sesama pria, hal itu hanya kekaguman sesaat yang positif, tidak akan menimbulkan ucapan dan tindakan yang tidak perlu, over acting yang bisa memancing keributan.
Yu Ming tanpa menemui masalah berhasil kembali ke kapal nya, baru saja naik keatas kapal Yu Ming sudah di sambut oleh Ji Lian Hua.
Dari raut wajah dan sedikit lingkaran hitam di mata gadis itu.
Yu Ming bisa memastikan Ji Lian Hua pasti tidak tidur.
Dia pasti berdiri di sana, terus menantinya sepanjang malam.
Melihat hal ini, Yu Ming benar benar sangat terharu di buatnya.
Di dalam kamar, Yu Ming dan Ji Lian Hua sarapan bersama bubur ikan, yang di belikan khusus oleh anak buah paman Luo, atas pesan dari Ji Lian Hua.
Selesai sarapan, Yu Ming pun memaksa agar Ji Lian Hua mau tidur.
Yu Ming benar benar menemani istrinya tidur hingga siang hari, saat matahari naik tinggi.
Mereka berdua baru keluar dari dalam kamar.
Mereka memilih pergi ke bagian belakang kapal yang teduh, duduk berdampingan di sana, menikmati angin sepoi Sepoi yang berhembus menerpa wajah dan tubuh mereka.
Di dalam kamar angin tidak bebas keluar masuk sehingga terasa panas, tidak seperti di tempat ini.
Angin lebih bebas berhembus melewati mereka.
Ji Lian Hua yang sebelumnya di paksa tidur, dia tidak di beri kesempatan untuk mendengarkan cerita pertempuran Yu Ming dengan Che Lung.
Baru sekarang dia bisa mendengarkan cerita pertarungan Yu Ming yang membuat dia cemas sepanjang malam.
Yu Ming menceritakan semua nya dengan santai, sedangkan Ji Lian Hua dia terlihat fokus mendengarkan dengan baik tanpa menyela.
Baru setelah cerita selesai Ji Lian Hua berkata,
__ADS_1
"Semoga saja ini adalah pertarungan tantangan dari dunia persilatan yang terakhir.."
"Aku sungguh letih bila melihat mereka setiap hari terus berdatangan untuk menantang mu.."
Yu Ming menghela nafas panjang dan berkata ,
"Semoga saja seperti itu."
"Sebenarnya masih tersisa satu, yaitu di nomor satu yang di sematkan oleh buku sialan itu ke pertapa Ru Yi dari gunung Kun Lun."
"Bila bukan beliau yang muncul, aku rasa musuh yang lainnya bukan masalah."
"Semoga saja pertapa yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan itu, tidak terpancing untuk mencari ku menentukan ilmu siapa lebih hebat. "
Ji Lian Hua mengangguk pelan, lalu dia merangkul lengan Yu Ming dan menyandarkan kepalanya di sana.
Mereka berdua larut dalam keheningan, masing masing larut dalam pikirannya sendiri sendiri.
Hingga beberapa saat berlalu, Ji Lian Hua yang tidak betah dalam suasana sepi akhirnya dia memulai pembicaraan duluan.
"Yu Ming ke ke dari tadi kamu diam saja, apa yang sedang kamu pikirkan..?"
"Apa Yu Ming ke ke teringat dengan Ping Ru Meng cie cie..?"
"Aku sedikit takut reaksi nya, bila dia tahu Yu Ming ke ke di dunia ini, mengkhianati nya, menikah dengan ku.."
Ucap Ji Lian Hua membuka sedikit beban pikirannya.
Yu Ming menghela nafas panjang dan berkata,
"Terhadap kalian berdua aku punya hutang, makanya aku datang untuk menebusnya.."
"Apapun reaksinya, itu adalah takdir, itu adalah hak nya.."
"Aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan kemarahan nya.."
"Tapi dia marah boleh marah, semua nya, dia boleh lampiaskan pada ku.."
"Aku tidak punya pendapat, karena aku memang yang lebih dulu bersalah padanya.."
"Tapi dia tidak boleh lampiaskan pada siapapun termasuk kamu.."
"Karena dalam hal ini, kamu tidak bersalah.."
"Aku yang pantas bertanggung jawab.."
Ucap Yu Ming sambil menatap kearah Ji Lian Hua dengan wajah serius.
__ADS_1