
Terjadi ledakan kuat, di mana seluruh tubuh pemuda itu kini di selimuti oleh pancaran listrik.
Pemuda itu terlihat kejang kejang, tapi dia masih berusaha bertahan, agar tubuhnya tidak roboh.
Melihat hal ini, Yu Ming sambil menghela nafas panjang, menambahkan satu totokkan yang membuat pemuda itu berdiri kaku di sana.
Tidak bisa bergerak dan bersuara, dia hanya bisa menatap kearah Yu Ming dengan tatapan mata marah.
Sedangkan Yu Ming sendiri, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tanpa memperdulikan reaksi kemarahan pemuda keras kepala itu.
Yu Ming mengajak Ji Lian Hua untuk kembali masuk kedalam restoran, mengabaikan pemuda itu, yang hanya bisa berdiri kaku di sana.
Beberapa saat setelah Yu Ming masuk kedalam restoran.
Pemuda keras kepala itu, oleh orang orang kelompok sorban merah, dia di pindahkan kedalam sebuah gerobak kereta pengangkut barang.
Setelah dia dan pedang hitam nya di pindahkan kedalam gerobak, oleh anak buah kelompok sorban merah.
Dia segera di dorong menggunakan gerobak pengangkut barang meninggalkan tempat itu.
Yu Ming sendiri setelah kembali ke meja nya, tanpa banyak ambil pusing terhadap pemuda yang dia lumpuhkan tadi, dia berkata,
"Hua er bagaimana lengan kiri mu, ?"
"Apa sudah lebih baik..?"
Ji Lian Hua sambil tersenyum berkata,
"Sudah cukup baik, hanya saja sepertinya untuk memegang mangkuk nasi dan mengambil makanan sepertinya masih sedikit sakit.."
"Agak kurang leluasa saja, tapi lainnya cukup baik.."
Yu Ming mengangguk paham lalu dia menggeser tempat duduknya ke posisi kanannya Ji Lian Hua.
Yu Ming membantu memegangi mangkuk, kemudian dia mengambilkan lauk kesukaan Ji Lian Hua, lalu dia hendak menyuapi Ji Lian Hua.
Ji Lian Hua dengan ekspresi wajah kaget bercampur girang, tapi juga malu.
Sambil menahan senyum dia berkata,
"Ming ke ke hal ini kurang baik kah di lihat orang.."
"Aku agak risih kalau di sini, biar aku makan sendiri saja.."
Ucap Ji Lian Hua yang merasa malu menolak halus, padahal hatinya sebenarnya sangat senang dan bahagia.
Dia bahkan sempat berpikir, bila perlu kedua tangannya cedera saja.
Agar sepanjang perjalanan dia bisa menikmati momen yang jarang ada ini.
Tapi bagaimana pun dia seorang putri adat dan tata Krama tetap ada.
__ADS_1
Dia masih punya rasa malu, karena hubungan nya dan Yu Ming hanya sebatas teman tapi mesra
Tapi belum ada ikatan resmi, bahkan janji dan pernyataan langsung dari mulut sekalipun Yu Ming belum pernah mengucapkannya keluar.
Jadi Ji Lian Hua merasa bila dia menerima niat baik Yu Ming yang mungkin tidak ada maksud lain.
Tapi bagi pandangan orang di sekitarnya, bila hal ini dia terima. ini agak berkesan dirinya terlalu murahan.
Terlalu menunjukkan perasaannya yang mungkin saja cuma bertepuk sebelah tangan.
Melihat keraguan Ji Lian Hua, Yu Ming sambil tersenyum sabar berkata,
"Bila aku tidak membantu mu, makan mu tentu akan kurang nyaman dengan satu tangan saja.."
"Perduli apa kata dan pikiran orang, yang penting adalah pikiran kita sendiri.."
"Asalkan nyaman tidak ada yang perlu terlalu di pikirkan."
"Begini saja aku bantu pegang mangkuk nya, dan bantu ambilkan lauknya, kamu boleh makan sendiri. "
"Bagaimana..?"
Ji Lian Hua dengan wajah tertunduk malu, dia melirik kearah Yu Ming dan berkata,
"Tapi Ming ke ke, bila kamu lakukan ini.."
"Kamu sendiri kapan makan nya..?"
Yu Ming sambil tersenyum berkata,
"Itu bukan masalah.."
Ji Lian Hua melirik kearah Yu Ming dan berkata,
"Ming ke ke ini agak menyulitkan mu, maaf ya aku malah jadi beban mu.."
Yu Ming sambil tersenyum berkata,
"Hua er kamu jangan berpikir ke mana mana, aku tidak ada pemikiran itu sedikitpun.."
"Begini saja, bila sekarang keadaan di balik, aku yang terluka, apa kamu tidak akan mau membantu ku untuk makan ?"
"Apa kamu tidak mau merawat ku, apa kamu akan berpikir ini itu, mempertimbangkan segala macam begitu banyak..?"
Ji Lian Hua yang mendengar hal itu, dia langsung buru buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak aku tidak akan.."
Yu Ming sambil tersenyum berkata,
"Nah seperti itulah seharusnya aku saat ini juga.."
__ADS_1
"Jadi jangan berpikir lagi yang bukan bukan.."
"Ayo makanlah.."
Ucap Yu Ming sambil membantu mengambilkan lauk untuk makan Ji Lian Hua.
Meski awalnya agak canggung, tapi perlahan lahan Ji Lian Hua mulai bisa menikmatinya.
Dia mulai merasa nyaman, dan tidak terlalu perduli lagi dengan keadaan sekitarnya.
Bahkan Ji Lian Hua berpikir makan malam nanti dia akan pesan antar ke kamar saja.
Jadi dia lebih bisa menikmati momen seru ini, bersama pria yang telah merebut hati dan perasaannya.
Sejak pertemuan pertama mereka sejak kecil dulu, Ji Lian Hua sudah merasakan ada perasaan dekat dan akrab dengan Yu Ming .
Setelah dewasa dan kembali bertemu, Ji Lian Hua mulai kagum dan tertarik dengan Yu Ming .
Dia selalu merasa kasihan dan sakit hatinya setiap kali melihat Yu Ming di buli oleh saudari seperguruannya, termasuk guru nya.
Dari rasa kasihan itu, perlahan lahan dia mulai bersimpati pada Yu Ming .
Dari rasa simpati berkembang menjadi cinta dan kasih, sedikit demi sedikit tumbuh tanpa dia sadari.
Perasaan nya tubuh menjadi makin semakin kuat, setelah berulang kali Yu Ming menolongnya dari berbagai kesulitan.
Hingga dalam perjalanan bersama ini, perasaan nya semakin berkembang di luar kendalinya, dia kini benar benar telah jatuh hati pada Yu Ming .
Perasaan cintanya pada Yu Ming tumbuh dengan sendirinya semakin lama semakin subur.
Meski Ji Lian Hua tahu persis Yu Ming sudah punya istri dan Yu Ming sangat mencintai istrinya.
Tapi dia tetap sulit mengontrol perasaannya, semakin lama dia justru, terjerat semakin dalam dengan perasaan cinta nya sendiri.
Yu Ming sendiri juga tidak menyadari bahaya yang sedang dia tabur buat dirinya sendiri.
Mereka berdua larut dalam kebersamaan mereka, makan ngobrol dengan asyik.
Setelah puas, mereka baru meninggalkan restoran, langsung menuju kamar penginapan mereka yang terletak di halaman belakang restoran.
Mereka baru berpisah, setelah masing masing kembali kedalam kamar mereka masing masing.
Ji Lian Hua meneruskan merawat lengan kirinya sendiri.
Sedangkan Yu Ming dia tidak melakukan hal lain selain berbaring dan tiduran santai di dalam kamar nya.
Menjelang malam, Ji Lian Hua datang mengunjungi kamar nya.
Ji Lian Hua memesan makan malam.
Mereka berdua makan bersama di kamar Yu Ming , hanya berdua saja di sini Ji Lian Hua bisa lebih bebas menikmati momen kebersamaan mereka
__ADS_1