PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
Kenyataan pahit


__ADS_3

Yu Ming yang melihat situasi di bawah sana dengan perasaan campur aduk.


Dia segera melompat terjun ke arah sana, meninggalkan Naga Panca Warna di belakang sana.


Karena dengan kecepatannya saat ini, dia akan lebih cepat tiba di bawah sana, di bandingkan dengan duduk di punggung Naga Panca Warna .


Tapi kejadian di bawah sana berlangsung dengan sangat cepat.


Belum sempat Yu Ming tiba untuk menghentikan pertarungan, Ping Ru Meng terlihat lenyap bersama pedangnya berubah menjadi seberkas cahaya.


Tanpa bisa Yu Ming cegah, Ping Ru Meng telah menembus tubuh Ji Lian Hua.


Saat Yu Ming berhasil mendarat di samping Ji Lian Hua, Ji Lian Hua dia sudah berubah menjadi sebuah patung es beku.


Baru saja Yu Ming mengulurkan tangannya untuk menyentuh Ji Lian Hua.


Ji Lian Hua telah pecah hancur berkeping keping menjadi kristal es yang. berserakan di atas tanah.


Sesaat Yu Ming hanya bisa berdiri mematung seperti orang bodoh, menatap tubuh istrinya, yang sudah berubah menjadi butiran kristal yang berserakan di atas tanah .


Yu Ming tidak tahu harus berkata-kata, saat Yu Ming mendengar suara ledakan keras.


Yu Ming buru buru menoleh kearah asal suara, Yu Ming menemukan kini Naga Panca Warna yang berubah menjadi patung es.


Tapi tidak seperti Ji Lian Hua, Naga Panca Warna hanya terbungkus oleh es tebal tidak bisa bergerak terkunci didalam es beku .


Tapi Naga Panca Warna mampu bertahan tidak sampai tewas seperti Ji Lian Hua tadi.


Tidak jauh dari posisi Naga Panca Warna Yu Ming menemukan seorang pria muda tergeletak menggendong seorang gadis cilik berusia sekitar 3 tahunan.


Keduanya tergeletak tidak bernyawa dengan dada berlubang seperti tersambar energi pedang.


Sekali lihat Yu Ming juga paham kedua orang itu nyawanya tidak mungkin tertolong lagi.


Yu Ming mencari cari kemana perginya Ping Ru Meng, tapi Yu Ming hanya menemukan sebuah portal cahaya baru saja lenyap dari tempat yang agak jauh dari posisi pria muda dan gadis cilik itu tergeletak.


Yu Ming yakin Ping Ru Meng istrinya pasti sudah pergi dari sana menggunakan portal cahaya.


Tidak ada yang bisa Yu Ming lakukan selain menempelkan tangannya di batu es beku, yang membungkus tubuh Naga Panca Warna .


Naga Panca Warna begitu terlepas dia berkata,


"Tuan kita tetap terlambat, wanita jahat itu telah membunuh Hua er dan putrinya secara keji.."


"Bahkan Long Jiu yang tidak tahu apa-apa pun ikut menjadi korban.."

__ADS_1


"Tuan muda tabahkan hati mu, tuan muda harus kuat menerima kenyataan pahit ini.."


Yu Ming dengan wajah bingung, sedih dan perasaan campur aduk menatap Naga Panca Warna .


"Paman..tolong jelaskan sebenarnya apa yang terjadi..?"


Naga Panca Warna menghelanadas panjang dan berkata,


"Tuan muda, aku akan menceritakannya, tapi berjanjilah kamu harus tenang.. mendengarkan semua nya.."


Yu Ming selain mengangguk, dia sudah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Dia hanya terus menatap kearah butiran kristal yang berserakan di atas tanah.


Separuh jiwanya telah pergi, hanya itu yang tersisa, lebih parahnya yang menewaskan belahan jiwanya.


Justru adalah belahan jiwanya yang lain, mau suruh dia bagaimana mengurus dan menghadapi semuanya.


Bagaimana dia bisa pergi balaskan dendam Ji Lian Hua.


Bagaimana dia bisa pergi mencari Ping Ru Meng untuk membalaskan dendam Ji Lian Hua.


Yu Ming yang sedang dalam di lema dan kebingungan hanya bisa menjatuhkan diri berlutut memunguti butiran butiran kristal itu dengan airmata meleleh membasahi wajahnya.


Yu Ming sambil memungut butiran kristal dua mendengarkan cerita selengkapnya dari Naga Panca Warna .


"Tuan muda, setelah kejadian badai itu, aku dan Hua er terseret masuk kedalam pusaran ombak.."


"Akibatnya kami berpisah arah, aku kehilangan Hua er.."


"Aku sendiri terdampar di sebuah pulau kosong, di sana aku memulihkan luka ku.."


"Setelah luka dan kekuatan ku pulih, aku segera pergi melakukan pencarian.."


"Akhirnya aku berhasil menemukan Hua er di pulau ini hidup bersama pemuda itu.."


"Pemuda itu bernama Long Jiu, menurut cerita Hua er, pemuda itu adalah nelayan yang menolongnya dari tengah laut.."


"Aku sempat menawarkan Hua er untuk pergi menemukan tuan muda.."


"Tapi Hua er menolaknya, dia bilang dia sedang mengandung anak tuan muda.."


"Jadi tidak praktis melakukan perjalanan jauh dan penuh bahaya.."


Mendengar sampai di sini, gerakan tangan Yu Ming mengumpulkan kristal terhenti di udara.

__ADS_1


Tangannya terlihat gemetaran, hingga butiran kristal kembali jatuh dari jepitan jari nya..


Yu Ming mengangkat wajahnya yang pucat menatap kearah Naga Panca Warna dan berkata,


"Paman maksud mu,..gadis cilik itu putri kandung ku dengan Hua er ..?"


"Benar begitu paman..?"


Tanya Yu Ming dengan wajah pucat pasi dan seluruh tubuh bergetar hebat.


Naga Panca Warna tidak sanggup melihatnya, dua membuang muka kesamping lalu mengangguk pelan dan berkata,


"Sayangnya aku harus katakan itu benar sekali tuan muda."


"Arggghhh...!!!"


Yu Ming mengeluarkan suara raungan kesedihannya yang menggetarkan seluruh alam semesta.


Setelah itu dia langsung melompat berdiri, seperti orang kurang waras.


Yu Ming berlarian menghampiri jasad gadis kecil di dalam pelukan Long Jiu.


Yu Ming menggendong tubuh gadis kecil yang terkulai lemas itu, keluar dari pelukan Long Jiu.


Yu Ming kemudian memeluk gadis kecil, yang merupakan putri kandungnya sendiri, sambil menangis histeris seperti orang yang sudah kehilangan kewarasan.


Terkadang suara tangisannya terdengar begitu sedih menyayat hati.


Terkadang dia seperti sedang tertawa, tapi suara tawa itu jelas tidak menunjukkan dia sedang gembira.


Melainkan yang terdengar adalah suara tawa yang penuh kesedihan mendalam.


Suatu tawa duka nestapa yang sulit di jelaskan bagaimana gambaran perasaannya.


Hanya seorang ayah yang pernah kehilangan anak tercintanya, yang bisa memahami duka yang di alami oleh Yu Ming saat ini.


Yu Ming terus menangis seperti orang gila, bagaimana pun Naga Panca Warna menasehatinya.


Itu tidak bisa mengubah situasi, setelah beberapa waktu berlalu, dimana Naga Panca Warna hanya bisa mengawasi Yu Ming dari jauh.


Yu Ming terlihat menggendong tubuh puti kecilnya yang sudah tidak bernyawa.


Berjalan menghampiri tempat di mana butiran kristal yang merupakan sisa jasad istrinya Hua er berada.


Di sana sambil tertawa dan menangis, Yu Ming sambil menggendong jasad putrinya, Yu Ming memunguti sisa pecahan kristal untuk lanjut di kumpulkan kedalam kotak kayu berukir indah itu.

__ADS_1


__ADS_2