
Sementara itu, ditempat lainnya pasukan besar gabungan dari para bangsawan kerajaan Zhou akhirnya tiba.
Jumlah mereka tidaklah sedikit, hampir mencapai 300.000 personil.
Mereka bergerak dalam barisan yang sangat rapi dan teratur, dari atas mereka terlihat seperti kotak kotak hitam yang berderet rapi.
Mendekati jarak 200 kaki dari benteng pertahanan kota An, mereka menghentikan pergerakan nya.
Mesin mesin berat pelontar batu di dorong kedepan .
Setiap mesin di jaga oleh 50 orang prajurit, yang juga bertugas mendorong mesin berat tersebut, bergerak ke posisi sesuai instruksi dari komandan pasukan mereka.
Setelah mesin mesin pelontar itu berbaris di posisinya, seorang jendral berpakaian jirah emas dengan baju perisai lapis emas dan baja berkilauan.
Jendral itu mengendarai kuda nya, untuk melakukan inspeksi kesiapan pasukan tersebut.
Melakukan inspeksi dari ujung hingga ke ujung, setelah memastikan semua mesin pelontar sudah siap.
Dia segera mengibarkan bendera merah ke udara.
Melihat hal itu, Seorang jendral senior, yang di kawal ketat oleh pasukan pengawal dan sekelompok jago silat bayaran.
Dia memberi kode ke bawahan nya, agar serangan segera di jalankan.
Ajudannya mengangguk cepat, lalu dia pergi meminta bawahannya, mengibarkan bendera hitam.
Begitu bendera hitam di kibarkan, seluruh pasukan yang bertugas mengurus mesin pelontar batu.
Mereka segera melepaskan secara bersamaan tali yang sedang mereka tahan.
"Wuttttttt...! Wuttttttt..! Wuttttttt...!"
"Wuttttttt...! Wuttttttt..! Wuttttttt...!"
"Wuttttttt...! Wuttttttt..! Wuttttttt...!"
"Wuttttttt...! Wuttttttt..! Wuttttttt...!"
Batu batu besar segera beterbangan di udara, bergerak menuju benteng pertahanan kota An.
"Duaakkk.! Duaakkk.! Duaakkk..!
"Duaakkk.! Duaakkk.! Duaakkk..!"
"Duaakkk.! Duaakkk.! Duaakkk..!"
"Duaakkk.! Duaakkk.! Duaakkk..!"
Batu batu besar yang jatuh dari udara menghantam dinding benteng kota An.
Menimbulkan suara ledakan berisik, yang mengakibatkan debu pasir batu beterbangan.
Setelah mengalami hantaman berulang kali, dinding benteng kota An yang sudah bobrok menjadi semakin bobrok.
__ADS_1
Tidak lagi sanggup menahan hantaman keras dari batu batu besar, yang beratnya tidak kurang dari 200 kg.
Dinding benteng kota An di sana sini mulai jebol, dinding benteng mulai ambruk rata dengan tanah.
Melihat dinding pertahanan benteng kota An sudah runtuh.
Jendral yang bertugas memberi komando pergerakan serangan mesin pelontar batu.
Dia segera mengibarkan bendera kuning.
Agar serangan jarak jauh tersebut di hentikan.
Selanjutnya di bawah komando jendral lainnya, serangan kini di gantikan dengan mesin pelontar anak panah raksasa.
Di katakan anak panah, yang ini lebih mirip tombak, hanya bagian ujung belakangnya di pasangi bulu bulu angsa besar.
Sebagai penyeimbang pergerakan anak panah raksasa tersebut saat di lontarkan.
Begitu Jendral senior yang dikawal ketat memberi ijin, ajudannya menurunkan perintah.
Bendera kode rahasia mereka di kibarkan.
Mesin pelontar anak panah langsung melepaskan anak panah mereka.
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
Membentuk lengkungan, sebelum jatuh ke jantung kota An.
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
Suara berisik panah raksasa menembus bangunan atau apapun, yang menjadi sasaran nya, suara yang di timbulkan nya segera memecah kesunyian suasana kota An yang sepi.
Di tempat lainnya, Yu Ming yang membawa pasukan nya mengungsi di hutan sebelah timur.
Dari tepi hutan sana, tiga jendral bawahan Yu Ming, mengawasi situasi yang sedang terjadi pada kota yang mereka tinggalkan.
Mereka terdiam di tempat, tidak mampu berkata-kata, mereka berpikir bila mereka tidak mendengarkan pendapat Yu Ming .
Berkeras bertahan di sana, sudah bisa di pastikan, mereka pasti binasa tidak bersisa.
Yu Ming yang ikut menyaksikan hal itu, dia menatap dengan penuh keprihatinan ke reruntuhan kota An, yang kini terlihat rata dengan tanah.
__ADS_1
Tidak ada lagi benteng megah, yang di bangun dengan susah payah, menguras tenaga dan waktu.
Ini yang dinamakan membangun butuh waktu sepanjang masa, menghancurkannya hanya perlu waktu sesaat.
Di tempat lain pasukan gabungan bangsawan kerajaan Zhou, terus melontarkan serangan anak panah raksasa.
Hingga beberapa waktu berlalu, di kota An tidak ada pergerakan lagi.
Atas perintah jendral seniornya.
Serangan di hentikan, selanjutnya dia memberi perintah agar pasukan panah yang bergerak maju kedepan.
Pada batas 50 langkah dari kota An, pasukan anak panah mengikuti instruksi jendral mereka.
Mulai menghujani kota An dengan hujan anak panah, setelah beberapa waktu berlalu.
Serangan anak panah akhirnya di hentikan, kini yang bergerak kedepan adalah 100.000 pasukan tameng, 50.000 pasukan golok dan 50.000 pasukan tombak.
Mereka bergerak dalam formasi barisan pasukan yang sangat teratur dan terorganisir.
Sedangkan sisa seratus ribu pasukan lainnya, mereka membentuk dinding pertahanan menjaga posisi Jendral Senior, yang bertanggung jawab sebagai panglima perang tertinggi dalam peperangan ini.
Panglima tertinggi ini, bukan orang sembarangan. Dia masih terhitung adiknya Panglima Li Cing, yang kini beserta ketiga putranya, sedang ikut dengan kaisar Ji Fa, berperang di wilayah barat menghadapi serangan suku bar bar.
Panglima pemimpin pasukan gabungan bernama Li Cheng, karena ada ikatan hutang budi dengan salah satu bangsawan berpengaruh di ibukota Zhao Ge.
Dia terpaksa berangkat menjalani misi ini, yang sebenarnya dia kurang setuju.
Karena pertempuran ini bersifat pribadi, tanpa persetujuan kaisar.
Li Cheng di kawal oleh 6 murid wanita Thian Cien Pai, Li Cheng punya hubungan baik dengan Thian Cien Sen Ni .
Sehingga saat dia meminta bantuan, Thian Cien Sen Ni langsung mengirim 6 murid seniornya ikut dalam misi ini.
Selain ke 6 murid sekte Thian Cien Pai, di sana juga hadir dua jagoan bayaran dari sekte halilintar, Lei Kung Cangmen, Lei Mu dan Sekte Pasir Besi, Tie Sa Cangmen, Tie Sin.
Sisa nya yang mengawalnya adalah 5000 pasukan elit bayaran yang sangat terlatih.
Mereka tidak mau terikat dengan penguasa mana pun, di bawah pimpinan Jendral Huang, mereka hanya akan menjalankan tugas bila di bayar.
Total kekuatan pasukan jenderal Huang adalah 30.000 tapi karena hanya mampu membayar 1/6 dari tarif yang di tentukan.
Jendral Huang hanya membawa 5000 pasukan saja. sisanya masih ada di markas mereka di Pai Hu Shan, gunung harimau putih di daerah Shanxi.
Beberapa saat pasukan tameng golok dan tombak memasuki kota An.
Tak lama kemudian, seorang anggota pasukan, kembali untuk memberikan laporan ke rekan nya, yang bertugas menunggu informasi di luar benteng kota An.
Laporan segera di sampaikan secara estafet hingga sampai ke Panglima Li Cheng.
Setelah melakukan pertimbangan dan berunding dengan Jendral Huang dan beberapa jendral bawahannya.
Li Cheng memutuskan untuk memasuki kota An.
__ADS_1
Mereka akan menduduki kota An sebagai basis untuk bergerak, menyerang Ibukota kerajaan Chu di Dan Yang.