
Jia Qi yang tidak ingin ketiak nya menjadi sasaran empuk pedang Xuan Yuan, dia segera memutar pergelangan tangannya.
Sehingga pedangnya berbalik untuk menghalau tusukan pedang Xuan Yuan .
Tapi pedang yang bergerak membalik itulah yang Yu Ming tunggu.
Begitu pedang membalik, pedang Yu Ming melejit menusuk celah pelindung tangan Jia Qi yang memegang gagang pedang.
Dengan pedang Xuan Yuan menyelip di sana, Yu Ming sudah memang satu tahap.
Kemanapun pedang Xuan Yuan memutar dan bergerak, Jia Qi di paksa harus mengikuti pergerakan nya.
Tidak bisa menolak ataupun menghindar, dia hanya punya pilihan mengikuti pergerakan pedang Xuan Yuan atau tangannya terluka.
Bahkan melepaskan pedang, dia harus mengalami tangan terluka oleh pedang Xuan Yuan .
Jia Qi dalam kerepotan, dia menggunakan kakinya menendang sambungan lutut Yu Ming .
Lalu Telapak tangan kiri nya yang sarat kabut cahaya hitam, dia dorongkan kearah kening Yu Ming .
Serangan kearah lutut Yu Ming tahan dengan telapak sepatunya, sebelum kaki Jia Qi sempat terangkat.
Sedangkan serangan telapak tangannya Yu Ming sambut dengan cengkraman tangan kirinya yang juga bebas .
Mencengkram tepat di pergelangan tangan Jia Qi.
"Lepas..!"
Bentak Yu Ming sambil membetot pedang di tangan Jia Qi hingga terlepas dari pegangan tangannya.
Jia Qi tidak berhasil mempertahankan pedangnya, dia hanya bisa membiarkan pedangnya lepas dari pegangan tangannya yang terluka cukup parah oleh goresan pedang Xuan Yuan .
Selain pedang terlepas dari pegangan tangannya, Jia Qi masih menghadapi Ilmu Penghisap Hawa Semesta milik Yu Ming .
Ilmu ajaib ini, membuat energi internal Jia Qi banjir keluar tidak terkendali berpindah ke tubuh Yu Ming .
"Ahhh..!"
Jerit Jia Qi kaget, sebelum Jia Qi kagetnya hilang.
Kini pedang hitam di bawah kontrol pedang Xuan Yuan sudah menempel di leher Jia Qi sendiri.
Jia Qi juga tidak bodoh, dia tahu diri, dia telah di kalahkan secara telak oleh Yu Ming .
Bila dia memaksakan diri, dia hanya cari penyakit dan mempermalukan diri sendiri lebih parah lagi.
Jia Qi menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku mengaku kalah, semua terserah pada mu..'
Yu Ming menarik kembali tangannya yang mencengkram pergelangan tangan Jia Qi.
Disaat bersamaan dia juga menurunkan pedang hitam dari leher Jia Qi.
Yu Ming melayang mundur menjauhi Jia Qi dan berkata,
"Aku masih satu kata itu, aku tidak tahu menahu dengan kematian putra mu. "
__ADS_1
"Kamu boleh pergi cari tahu bukti dan saksi.."
"Aku punya tugas yang tidak bisa di tunda, jadi aku tidak bisa membantu mu..mencari kebenaran itu.."
Jia Qi mengangguk pelan dia menjura kearah Yu Ming .
Jia Qi mengulurkan tangannya, pedang hitam otomatis melepaskan diri dari kontrol.pedang Xuan Yuan .
Terbang masuk kembali kedalam tangan Jia Qi.
Setelah pedang kembali tanpa berkata-kata, Jia Qi pun langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Yu Ming kini berjalan menghampiri nyonya pemilik toko yang kehilangan toko rumah juga suaminya.
Ji Lian Hua mengikuti dari samping, tanpa berkomentar apapun.
Yu Ming setelah berdiri di hadapan nyonya yang sedang menangis sedih itu.
Dia berkata,
"Nyonya,. orang meninggal tidak bisa kembali lagi.."
"Jangan terlalu bersedih dan berduka relakanlah kepergiannya.."
"Jaga kesehatan mu.."
"Ini ada sedikit sumbangan dari kami, atas bencana tidak terduga ini.."
Ucap Yu Ming sambil memberi kode agar Ji Lian Hua bantu dia mengganti rugi ke nyonya itu.
Nyonya itu menatap tajam kearah Yu Ming dan berkata dengan suara dingin,
"Manusia munafik simpan saja uang busuk mu, aku tidak perlu itu.."
"Kamu ingat saja, tragedi ini kamu penyebabnya suatu hari pasti akan ada orang yang datang menuntut mu.."
"Tiba hari itu kamu jangan menyesal.."
Selesai berkata nyonya yang penuh emosi itu, kembali menangis sedih di samping jasad suaminya.
Ji Lian Hua yang melihat hal itu, dia memberi kode pada Yu Ming agar mundur menjauh, Jangan di sana lagi.
Yu Ming mengerti, dia mengangguk pelan.
Lalu mengikuti Ji Lian Hua pergi ke toko dan rumah di sekitar sana yang rusak untuk melakukan penggantian.
Untung nya uang hasil kemenangan judi kemaren cukup banyak.
Jadi tidak terkena modal Ji Lian Hua untuk melakukan penggantian itu.
Setelah melakukan pembayaran ganti rugi, Yu Ming dan Ji Lian Hua pun memutuskan kembali ke kapal mereka.
Ji Lian Hua di sepanjang jalan tidak berkomentar apapun, dia hanya melangkah saja mengikuti Yu Ming .
Yu Ming yang akhirnya berkata,
"Hua er kamu tidak ingin tahu alasan aku membayar ganti rugi..?"
__ADS_1
"Padahal kejadian itu jelas bukan salah ku..?"
Ji Lian Hua tersenyum dan berkata,
"Aku terlalu mengenal mu, jadi tidak ada yang perlu di herankan."
"Aku percaya padamu, tak ada yang perlu di ragukan dan di pertanyakan.."
"Percaya pada seseorang bukan hanya terpajang di mulut saja.."
"Lebih dari itu, harus tercermin dari dukungan penuh lewat setiap tindakan perbuatan dan sikap.."
"Benar tidak..?"
Ucap Ji Lian Hua sambil tersenyum lembut.
Yu Ming hanya bisa menatap haru kearah Ji Lian Hua.
Sesaat kemudian Yu Ming segera sadar dan kembali kenyataan.
Dia segera berkata,
"Ayo Hua er kita kembali ke kapal.."
Yu Ming ada banyak kata dan ungkapan perasaan, yang tidak bisa dia keluarkan lewat kata kata.
Dia hanya bisa bergumam di dalam hati,
"Terimakasih Hua er, kamu sungguh baik dan sempurna bisa bertemu dengan mu adalah keberuntungan terbesar dalam hidup ku.."
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu, di antara kita tidak mungkin ada akhirnya.."
"Bila hari itu tiba, aku sungguh berharap kamu bisa menerimanya, tidak bersedih untuk itu.."
"Maafkan aku Hua er.."
Selanjutnya mereka berdua melanjutkan perjalanan hingga kembali keatas kapal tanpa berbicara .
Mereka sama sama memilih diam dan larut dalam pikiran masing masing.
Tidak lama setelah mereka berdua kembali, perjalanan kapal kembali di lanjutkan.
Kepergian mereka hanya diantar oleh 4 orang bandar sial yang hanya bisa mengumpat habis habisan kesialan mereka hari ini.
Belum lama Yu Ming memasuki kamarnya, pintu kamarnya terdengar ada yang mengetuk nya dari luar,
"Tok..! Tok..! Tok..!"
"Masuk pintu tidak di kunci..!"
Jawab Yu Ming cepat.
Pintu kamar terbuka, terlihat paman Luo yang masuk kedalam kamar dengan sebuah bungkusan kain hitam ditangan.
Paman Luo dengan sikap hormat segera menghampiri Yu Ming yang sedang duduk santai di tepi jendela.
Paman Luo setelah tiba di hadapan Yu Ming , dia segera meletakkan bungkusan tersebut di atas meja kecil, yang menghadap kearah Yu Ming .
__ADS_1
"Apa ini paman..?"
Tanya Yu Ming heran.