
Kelompok pasukan yang datang dengan suara berisik itu, mereka dari kejauhan melemparkan kapaknya menyerang pasukan Ji Lian Hua.
Setelah pasukan Ji Lian Hua roboh oleh serangan lemparan.kapak mereka, ataupun kapak di pukul runtuh oleh tameng pasukan Ji Lian Hua.
Mereka yang terus berteriak dalam suara riuh rendah terus bergerak mendekati pasukan Ji Lian Hua dengan badak mereka sebagai pembuka jalan, kapak di tangan mereka yang lain membantu mendukung badak tunggangan mereka membuka jalan.
Setelah jalan terbuka, saat melewati kapak mereka, yang tertancap di kepala lawan ataupun jatuh di atas tanah.
Mereka akan menyambarnya kembali, senjata Kapak mereka itu, dengan tangan terulur, tubuh membungkuk dan menempel di bagian samping perut badak tunggangan mereka.
Terjangan badak tunggangan mereka yang sangat berbahaya dan sulit di lawan.
Segera membuat pasukan Ji Lian Hua, jadi kocar kacir melarikan diri mencari selamat.
Tapi karena datangnya pasukan badak bergerak seperti jaring ikan.
Maka kemanapun pasukan Ji Lian Hua yang panik melarikan diri. Mereka tetap saja akan menjadi korban tertabrak dan terinjak injak oleh badak cula dua, yang di kendarai oleh pasukan suku Bei Di.
Ji Lian Hua yang menyaksikan kejadian tersebut, dia segera bergerak maju melepaskan tebasan pedang langit mencoba merobohkan beberapa ekor badak, yang sedang berlari kencang mendekatinya.
Tiga cahaya biru di lepaskan oleh Ji Lian Hua, bergerak cepat menuju tiga ekor badak yang sedang mendekatinya.
"Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..!"
"Blaaarrrr..!"
Tiga ekor badak dan tiga orang penunggang nya, mereka semua nya berubah menjadi patung Es beku.
"Brakkkkk..!"
Mereka di tabrak hancur oleh pasukan badak, yang bergerak di belakang mereka, hingga hancur berkeping-keping .
Rombongan pasukan badak di belakang mereka muncul menggantikan posisi mereka.
Rombongan pasukan badak yang muncul sebagai pengganti terus bergerak mendekati Ji Lian Hua.
Ji Lian Hua lagi lagi melepaskan pedang langit nya, sekali ini hampir sepuluh tebasan cahaya biru Ji Lian Hua lepaskan.
Cahaya biru itu berseliweran membabat apapun, yang menghadang di depan mereka.
Kembali terlihat badak dan penunggang nya membeku di tempat sejenak.
Sebelum kemudian di tabrak hancur oleh rekan mereka sendiri dari belakang.
Ji Lian Hua terus melepaskan tebasan pedang langit mencoba menghalau rombongan pasukan badak datang mendekat.
Setelah beberapa waktu berlalu, dimana sudah tidak terhitung badak dan tunggangannya, yang berhasil Ji Lian Hua bekukan dan hancurkan.
Ji Lian Hua mulai merasa letih, wajahnya terlihat pucat nafasnya memburu.
__ADS_1
Tangan nya yang memegang pedang langit juga terlihat gemetaran.
Tapi pasukan badak yang terus bergerak mendekatinya belum juga berhenti.
Ji Lian Hua mengedarkan pandangannya ke sekitar, hatinya mencelos melihat kondisi pasukannya yang berserakan di mana mana.
Sisa yang masih bertahan dan terus bergerak mundur tidak banyak, itupun terus bertumbangan, ada yang di hajar lemparan kapak, ada yang tertembus anak panah dari udara.
Ji Lian Hua menafsir 200.000 pasukan yang dia bawa, ditambah 100.000 pasukan bala bantuan dari Yang Jian, Li Cing dan Na Cha.
Saat ini mungkin yang tersisa tidak sampai 50.000 personil lagi.
Ji Lian Hua tiba tiba merasa kepalanya pusing melihat lautan musuh disekitarnya.
Ji Lian Hua memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk mengumpulkan fokus dan mengumpulkan sisa sisa kekuatan nya.
Sesaat kemudian sepasang matanya kembali terbuka, Ji Lian Hua berteriak keras.
"Tebasan Pedang Langit Pemusnah...!"
Seberkas cahaya turun dari langit masuk kedalam pedang Ji Lian Hua yang sedang teracung keatas.
Seluruh tubuh Ji Lian Hua bergetar hebat, saat cahaya putih menyelimuti seluruh tubuh nya.
Membentuk sebuah kubah cahaya melingkar dalam jarak 3 meter, membungkus Ji Lian Hua di titik tengah kubah.
Ji Lian Hua yang sudah tidak kuat menahan beban kekuatan yang memasuki tubuhnya.
"Musnahlah...!"
Ji Lian Hua menebaskan Pedang Langit di tangan nya dari atas kebawah.
Muncul seberkas cahaya putih membentuk bayangan pedang raksasa.
Memberikan tebasan dari atas kebawah terarah ke pasukan badak suku Bei Di, yang berada di hadapannya.
"Brakkkkk...!"
Terjadi ledakan dahsyat di depan sana, yang menyebabkan pasukan badak dan penunggang nya pada terpental kemana mana.
Ji Lian Hua terus melakukan tebasan berulang ulang kesekeliling nya.
Sehingga pedang cahaya putih raksasa juga terus bergerak menebas ke bawah menghancurkan pasukan pengepung suku Bei Di.
Keadaan di sekitar arena pertempuran disekitar Ji Lian Hua terlihat porak poranda.
Yang membeku jadi patung es banyak, yang berserakan pecah hancur berkeping-keping juga banyak yang terluka dan tewas terpental oleh ledakan benturan energi pedang dan tanah di bawahnya juga tidak terhitung.
Pimpinan pasukan badak sampai menghentikan laju pergerakan pasukan mereka untuk sementara waktu.
Setelah Ji Lian Hua melepaskan serangan yang memilki kekuatan yang sangat mengerikan itu.
__ADS_1
Setelah serangan dari Ji Lian Hua berhenti, bayangan pedang tidak.lagi terlihat.
Hanya debu asap pasir dan batu yang beterbangan menghalangi jarak pandang mata.
Ji Lian Hua di tengah arena pertempuran keadaan nya terlihat semakin payah.
Ikatan rambutnya terlepas, rambutnya berkibaran tertiup angin sebagian menutupi wajahnya yang cantik, tapi terlihat sangat pucat.
Sudut bibirnya terlihat ada bekas darah segar dirinya sendiri.
Ji Lian Hua terlihat jatuh dalam posisi berlutut dengan kaki sebelah, sambil bertopang pada pedang langit yang ujungnya tertancap diatas tanah.
Bagaimana pun Ji Lian Hua struktur tubuhnya adalah struktur tubuh manusia biasa.
Sehebat apapun jurusnya, sekuat apapun Chi nya, itu tetap ada batasannya.
Saat melampaui batasan nya, kekuatan dahsyat itu akan melukai dirinya sendiri.
Saat ini Ji Lian Hua sudah tidak mungkin lagi melanjutkan perlawanannya.
Dia sudah sampai ketitik maksimal, di mana seluruh tenaganya telah terkuras habis.
Bahkan sekedar untuk berdiri saja, rasanya itu sulit.
Ji Lian Hua menghapus sisa darah di sudut bibirnya dengan lengannya.
Kemudian sambil tersenyum pasrah, dia memaksakan diri nya untuk mencoba berdiri.
Setelah mencobanya dengan penuh tekad sambil berteriak keras, untuk membangkitkan semangat nya .
Ji Lian Hua akhirnya berhasil bangkit berdiri, dengan sepasang lutut terlihat gemetaran sepertinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuh nya yang tidak seberapa itu.
Ji Lian Hua menancapkan pedang nya keatas tanah, guna membantu menopang tubuhnya agar tidak sampai roboh kembali.
Dia menengadah keangkasa, sambil tersenyum pasrah bergumam pelan,
"Terlahir di keluarga kerajaan bukan pilihan ku.."
"Selamat tinggal Yu Ming ke ke.."
"Semoga di kehidupan mendatang kita bisa bertemu kembali.."
Selesai berkata, pelan. Ji Lian Hua kini menatap kearah depan dengan tatapan mata penuh semangat dan kembali berteriak keras..
"Ayo majulah...!"
"Apa yang kalian tunggu...!"
Begitu suara Ji Lian Hua terdengar dari balik kabut asap debu.
Sebatang anak panah dari atas langsung meluncur cepat menuju kearah asal suara tersebut.
__ADS_1