PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
THIAN CIEN SEN NI


__ADS_3

Yu Ming sendiri sebenarnya sudah lama pulih, tapi karena dia kesal dengan sikap Siao Hung yang kurang baik dan agak egois.


Yu Ming sengaja berlagak tidak mampu bergerak, berbaring diam santai disana, membiarkan Siao Hung mengurusnya semua.


Setelah menempuh perjalanan susah payah, memanjat naik keatas sebuah tebing curam, yang sangat tinggi


Rombongan tersebut akhirnya tiba juga di puncak Feng Huang San, yang merupakan tempat kediaman guru dari gadis cilik itu.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh beberapa murid wanita, yang berjaga di pintu gerbang masuk perguruan mereka.


Diatas gapura pintu masuk, terlihat 3 huruf terukir indah di sana.


3 huruf itu adalah Thian Cien Pai..yang artinya perguruan pedang langit.


Yu Ming yang pintar baca tulis, dia segera paham, saat ini dia sedang berada di depan markas Thian Cien Pai.


Melihat kesaktian gadis cilik itu tadi,Yu Ming menebak kemampuan perguruan ini tidak boleh di remehkan.


Tentu saja, bila di bandingkan dengan kemampuan nya saat di kahyangan, perguruan ini tidak ada artinya.


Tapi bila di bandingkan dengan kondisinya saat ini, kemampuannya saat ini, jaraknya akan terlihat seperti jarak langit dan bumi.


Selisihnya terlalu jauh dan sulit di ukur.


"Siao Se Mei, perguruan kita tidak menerima kedatangan pria, mengapa kamu malah membawanya datang kemari..?"


Tanya salah satu gadis, yang berjaga di pintu gerbang itu, mewakili ketiga temannya berbicara.


"Maaf Secie, Lian Hua paham hal itu, tapi kondisinya sangat kasihan.."


"Lian Hua tidak tega meninggalkannya dalam keadaan tidak bergerak, apalagi di tengah tengah hutan selatan, yang penuh mahluk buas.."


"Lian Hua tidak bisa membiarkannya menjadi santapan binatang buas di sana."


"Jadi Lian Hua bawa kemari, agar guru mau membantu menyembuhkan nya.."


"Setelah sembuh, Lian Hua berjanji akan bertanggung jawab memastikan dia di bawa pergi dari sini.."


Gadis penjaga gerbang yang di panggil Se Cie oleh Lian Hua, segera berkata,


"Baiklah,.. kalau begitu kalian tunggu saja di sini.."


"Biar aku saja yang naik keatas melapor pada guru.."


Ucap gadis yang di panggil Secie oleh gadis cilik yang aslinya bernama Ji Lian Hua.


Ji Lian Hua ini bukan gadis sembarangan, dia adalah putri tunggal Raja Ji Fa, yang bergelar Wu Wang.


Raja Ji Fa, Wu Wang adalah penguasa tertinggi di wilayah daratan tengah saat ini.


Dia adalah Raja dari dinasti Zhou, pengganti dinasti Tsang yang sudah di tumbangkan.


Ji Lian Hua di kirim kesini, untuk berlatih ilmu bela diri oleh ayahnya, atas rekomendasi dari manusia setengah dewa Jiang Je Ya, yang saat ini menjabat sebagai perdana menteri di kerajaan Zhou.

__ADS_1


Sebelum gadis penjaga gerbang yang di panggil Secie oleh Ji Lian Hua, bergerak terbang menuju pusat perguruan Thian Cien Pai.


Seorang wanita cantik paruh baya, yang rambutnya berwarna kuning keemasan, di biarkan terurai bebas, dengan bagian atas di sanggul indah.


Dia lah ketua perguruan Thian Cien Pai, yang juga adalah gurunya Ji Lian Hua.


Beliau bernama Yang Chai Ni, tapi kini dunia lebih mengenalnya sebagai Thian Cien Sen Ni, Wanita Sakti Pedang Langit.


Wanita itu melayang keluar dari balik pintu gerbang perguruannya dan berkata,


"Tidak perlu, guru sudah tahu semuanya.."


"Bocah nakal, kamu mau berpura pura berbaring di sana sampai kapan..!?"


Bentak Thian Cien Sen Ni, sambil menyentilkan jari nya kearah Yu Ming.


"Cittttttt..!"


Seberkas cahaya biru berbentuk pedang, melesat kearah Yu Ming.


Yu Ming yang tidak ingin tewas di tempat, dia buru buru menggulingkan tubuhnya kesebelah kanan menjauhi tandu tempat dia berbaring.


"Brakkkk..!"


Tandu yang tersambar oleh energi jari pedang Thian Cien Sen Ni, seketika terbelah menjadi dua.


Yu Ming terbelalak pucat sambil meleletkan lidahnya keluar.


Dia pasti sudah menyusul tandu nya terbelah jadi dua.


Siao Hung segera sadar, dia telah di kerjain oleh Yu Ming.


Dengan wajah merah padam, dia langsung menunjuk kearah wajah Yu Ming dan berkata,


"Kau berani beraninya,..dasar bajingan kecil..!"


Yu Ming hanya menanggapinya dengan nyengir saja, tanpa berkata apapun.


Dia malah sengaja mengabaikan Siao Hung, dan memberi hormat kearah Thian Cien Sen Ni, dengan mengangkat kedua tangannya yang terkepal keatas., menjura kearah Thian Cien Sen Ni,


"Maafkan sikap junior yang telah bertindak kurang sopan di tempat ini.."


"Harap senior berlapang dada, mau memaafkan kesalahan junior."


Thian Cien Sen Ni, mengangguk dengan wajah dingin dan berkata,


"Baiklah melihat kamu masih bocah cilik, aku tidak akan perhitungan dengan mu.."


"Tapi kamu harus lekas enyah dari sini, tempat ini tidak bersedia menyambut kedatangan mu.."


"Kamu boleh segera pergi, sebelum aku berubah pikiran."


Ucap Thian Cien Sen Ni tegas.

__ADS_1


Yu Ming tidak punya alasan, untuk tetap bertahan di sana.


Dia kini menjura kearah Ji Lian Hua gadis cilik yang sebaya dengan nya. dan berkata dengan tulus.


"Terimakasih banyak atas pertolongan nona,.."


"Senang berkenalan dengan anda nona.."


"Nama ku Yu Ming, aku berasal dari desa Dan Yang, aku ada di hutan itu karena sesat jalan.."


"Maaf sebelumnya, aku benar benar tidak mampu menjawab mu, karena terkena racun hijau ular itu.."


"Tapi kini aku sudah pulih, sekali lagi terimakasih Nona.."


"Bila berjodoh, kelak kita bisa bertemu kembali.."


"Sampai jumpa.."


Yu Ming yang bisa merasakan perasaan akrab dengan Ji Lian Hua.


Karena wajah dan wangi tubuh Ji Lian Hua, selalu mengingatkan nya akan Hua Sien Ce, sahabatnya di kahyangan dulu.


Selesai berpamitan dengan Ji Lian Hua, Yu Ming pun membalikkan badannya mencoba untuk meninggalkan tempat itu.


Yu Ming yang kini sama sekali tidak menguasai ilmu meringankan tubuh, maupun hawa sakti, apalagi hawa dewa.


Dia terpaksa harus menuruni tebing curam itu dengan cara sangat berhati hati, bila dia tidak ingin terlempar kedalam jurang tidak berdasar di bawah sana.


Saat Yu Ming sedang bergerak menuruni tebing, tiba tiba kerah bajunya di sambar seseorang.


Kemudian dia di bawa terbang oleh seorang kakek, menuju sebuah puncak gunung lain, yang berseberangan dengan puncak Feng Huang San.


Sambil terbang membawa Yu Ming, Kakek itu mengeluarkan suara tawa nya yang bergema di seluruh tempat itu.


"Ha..ha..ha...ha...!"


"Se mei...!"


"Kebetulan sekali, aku sedang mencari murid, agar bisa melawan murid mu kelak..!"


"Untuk membuktikan siapa yang lebih hebat diantara kita..!"


"Sampai ketemu sepuluh tahun kemudian...!"


"Wuttttttt...!!"


"Singggg...!"


Seiring dengan hilangnya suara kakek itu, muncul sebuah bayangan golok emas raksasa menerjang deras kearah Thian Cien Sen Ni.


Thian Cien Sen Ni segera memutar pedang di tangan nya, membentuk sebuah perisai biru, untuk menahan serangan yang datang.


"Boooommm...!"

__ADS_1


__ADS_2