PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
MENGHADIRI PERSIDANGAN


__ADS_3

"Ibu tidak akan pernah ijinkan kamu berpikiran seperti itu.."


"Kamu jangan khawatir, Ibu tetap akan selalu berdiri di posisi mu.."


Ucap Siao Cui sambil membelai dan mencium kepala Yu Ming, dengan penuh kasih sayang.


Yu Ming tersenyum sedih, dia merasa sangat terharu oleh kebaikan ibunya ini.


Di dalam hati Yu Ming sudah memutuskan, apapun nanti ceritanya.


Dia tidak akan pernah membiarkan ibu dan neneknya ikut menanggung kerepotan karena perbuatannya.


Beberapa saat kemudian, Yu Ming pun melepaskan pelukan ibunya dan berkata,


"Ibu lebih baik saat ini, kita bekerja memanen jagung.."


"Hal lainnya kita lupakan saja, biar terbawa angin.."


Siao Cui dan Bibi Lan saling pandang mendengar ucapan Yu Ming, yang lebih mirip kakek kakek ketimbang seorang bocah usia 8 tahun.


Tapi mereka yang sudah terbiasa, tidaklah terlalu heran, mereka hanya menanggapinya dengan tertawa saja.


Mereka berpikir Yu Ming terlalu cerdas, sehingga semua ucapan orang tua, langsung terekam dalam memorinya.


Mereka tidak ada yang menyangka, bahwa semua ini menjadi wajar dan masuk akal, karena Yu Ming meski memilki tubuh anak kecil, tapi pikiran dan akalnya sebenarnya sudah sangat dewasa.


Siao Cui dan bibi Lan mengangguk sambil tersenyum lebar, mereka berdua segera mengajak Yu Ming untuk membantu mereka memanen jagung.


Mereka bertiga bekerja hingga matahari hampir bersembunyi di peraduan nya .


Di mana langit di kala senja, terlihat berwarna merah lembayung.


Mereka bertiga terlihat bergerak dengan sebuah kereta pedati kuda, melakukan perjalanan dengan santai kembali kerumah, dengan membawa sejumlah hasil panen mereka yang di tumpuk tumpuk di kereta kuda.


Siao Cui dan bibi Lan duduk di bagian depan, mengendalikan pergerakan kuda yang menarik kereta mereka.


Sedangkan Yu Ming duduk di bagian belakang seorang diri, sambil menyandarkan punggungnya, di tumpukan jagung yang ada di belakangnya.


Sambil menatap kearah angkasa di mana langit merah dan awan berarak terlihat sangat indah.


Yu Ming bergumam dalam hati,


"Ru Meng bagaimana keadaan mu..?"


"Hua er kamu ada di.mana..?"


Wajah kedua gadis cantik itu muncul secara bergantian di atas sana


Sesaat kemudian Yu Ming segera memukuli kepalanya sendiri dan berkata,


"Sudahlah Yu Ming, kamu kini adalah bocah 8 tahun, jangan berpikir terlalu jauh.."


"Lebih baik kamu berpikir, kira kira apa yang akan terjadi di pengadilan nanti.."


'Apa yang bakal di putuskan Tan Siaw, yang masih merupakan adik kandungnya, ayah Tan Si..?"

__ADS_1


Batin Yu Ming.


Apapun keputusan nya, Yu Ming sudah putuskan, dia akan menanggung nya.


Dia tidak mau membuat Ibu Siao Cui, ayah Xiong Yi, dan Nenek Lan ikut menanggung perbuatannya.


Berpikir sampai di situ, Yu Ming pun kembali memejamkan matanya, tidak mau banyak berpikir lagi.


Setelah tiba di kediaman mereka, Yu Ming segera membantu ibu dan neneknya, menyimpan semua hasil panen mereka kedalam lumbung penyimpanan.


Setelah selesai, Yu Ming pun pergi mandi membersihkan diri.


Saat Yu Ming memasuki rumah kediaman nya.


Dia melihat Xiong Yi sedang duduk di ruang tamu, berbicara serius dengan Siao Cui dan neneknya.


Yu Ming mencoba untuk lebih dekat, agar bisa mendengar pembicaraan mereka bertiga.


"Istri ku, besok biar aku temani kalian bertiga hadir di persidangan Tan Siaw.."


"Dengan memandang wajah ku, mungkin dia tidak akan memutuskan hukuman berat buat Ming er.."


Siao Cui menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak suami ku, luka mu tidak ringan, kamu belum boleh banyak bergerak.."


"Bila sampai luka mu terbuka kembali, itu akan fatal akibatnya.."


"Kamu tidak usah kesana, dalam hal ini keponakannya lah yang bersalah.."


Ucap Siao Cui mencoba menenangkan suaminya.


Xiong Yi menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku dan dia tumbuh besar bersama, aku terlalu mengenal nya "


"Dia adalah orang yang pendendam dan munafik."


"Aku tetap saja sangat khawatir, dia akan menjebak mu di persidangan nanti.."


Ucap Xiong Yi yang terlihat cemas dan gelisah.


Siao Cui menepuk punggung tangan suaminya, dengan lembut dan berkata,


"Sudahlah,.. kamu jangan terlalu banyak berpikir, biar aku bantu kamu kembali ke kamar.."


"Setelah itu aku mau menyiapkan makan malam buat kita semua.."


"Masalah lain jangan di pikir, luka mu itu yang paling penting.."


Ucap Siao Cui, sambil membantu memapah suaminya, perlahan-lahan di bantu oleh nenek Lan, mereka kembali ke kamar.


Sampai di kamar, Siao Cui terpaksa membantu mengganti perban suaminya, yang terlihat ada rembesan bercak darah.


Siao Cui tahu persis keadaan suaminya, yang belum boleh banyak bergerak.

__ADS_1


Demi masa depan mereka semuanya, dia harus bisa bekerja extra menanggung beban keluarga ini, untuk sementara waktu.


Yu Ming kecil sudah mendengar semuanya, dia tahu kesulitan yang akan di hadapi oleh Ayah ibunya demi dia.


Malam itu saat makan bersama, dia pura pura bersikap santai, seolah olah tidak tahu apa apa.


Baru keesokan paginya, saat Siao Cui ingin pergi menghadiri persidangan.


Yu Ming sudah menunggu nya di depan gedung tempat persidangan.


"Ibu aku di sini,.. biar aku temani ibu masuk kedalam.."


Siao Cui sangat kaget melihat kehadiran putranya di sana.


"Ming Er,.. mau apa kamu kemari..?"


"Cepat pulang,.. di sini bukan tempat yang pantas di datangi oleh anak kecil seperti mu ."


Ucap Siao Cui tegas.


Yu Ming menatap wajah ibunya dan berkata,


"Ibu maafkan Ming Er, Ming er tidak bisa pulang.."


"Biarlah Ming Er ikut ibu kedalam, atau Ming Er yang akan masuk kedalam menanggungnya sendiri.."


"Karena awal mula permasalahan semuanya datang dari Ming Er..."


"Ibu tidak ada di tempat kejadian, bagaimana mau menghadapi tuntutan persidangan.."


"Jadi ijinkan lah Ming Er ikut, atau Tidak sama sekali.."


Siao Cui akhirnya menghela nafas panjang, ucapan putranya sangat masuk akal.


Mau tidak mau, dia memang harus hadir di sana, untuk melakukan pembelaan diri.


"Baiklah nak, ayo kita masuk kedalam sama sama."


Yu Ming dan ibunya kemudian melangkah masuk kedalam ruang sidang secara bersama sama.


Mereka berdua hadir di tengah tengah ruang sidang, di mana Tan Siaw di temani oleh seorang penasihatnya.


Mereka menempati tempat duduk di balik meja, yang posisinya lebih tinggi dari posisi Yu Ming dan ibunya.


Selain Tan Siaw dan beberapa petugas pengadilan, di sana belum terlihat hadir.


Tan Si ataupun kedua orang tua nya.


Tan Siaw segera angkat bicara,


"Nyonya Xiong, keluarga penuntut belum tiba.."


"Jadi silahkan duduk dulu, bila mereka tiba, baru kita lanjutkan persidangan nya.."


Siao Cui tidak banyak berbantah, dia hanya mengangguk pelan, lalu mengajak putra nya, untuk mengambil tempat duduk yang di sediakan di sana.

__ADS_1


__ADS_2