
Pagi itu setelah prosesi pemakaman dan acara sembahyang Adipati Xiong Yi selesai.
Terlihat seorang wanita cantik berpakaian biksuni, berdiri berhadap hadapan dengan Yu Ming .
"Putra ku,.. benarkah sudah bulat keputusan mu akan meninggalkan Dan Yang hari ini..?"
Tanya biksuni cantik itu, dengan sepasang mata berkaca kaca.
Yu Ming mengangguk pelan dan berkata,
"Seperti keputusan ibu, yang telah memilih untuk putus hubungan dengan dunia fana, mengambil jalan Buddhis.."
"Keputusan ku juga sudah bulat Bu, aku akan melanjutkan pertualangan ku dengan bebas.."
Biksuni cantik, yang bukan lain adalah Siao Cui, dia menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah putra ku, bila itu keputusan mu, berhati hati lah di jalan.."
"Ibu akan bantu doa kan untuk keselamatan mu nak.."
"Bila ada waktu, sesekali kembalilah kemari, untuk menyembahyangi ayah mu.."
Yu Ming mengangguk dan berkata,
"Baik Bu, Ming Er akan mengingatnya di hati.."
Yu Ming menoleh kearah Xiong Ai adiknya, yang terlihat berdiri di belakang ibu nya dengan kepala tertunduk.
"Adik Ai kemarilah.."
Ucap Yu Ming pelan, sambil melambaikan tangannya memanggil adiknya mendekat.
Xiong Ai dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah ibunya.
Dia berjalan menghampiri Yu Ming dengan kepala tertunduk.
"Kakak maafkan lah aku, bisa kah kakak tidak pergi..?"
Ucap Xiong Ai pelan.
Yu Ming tersenyum, dia menepuk kedua pundak adik nya dengan lembut dan berkata,
"Aku sudah memaafkan mu, sejak kamu berlutut di hadapan ibu.."
"Aku hari ini pergi bukan karena mu, kamu jangan terlalu menyesali diri.."
"Aku pergi memang karena aku punya tugas dan tanggung jawab pribadi ku untuk masa depan ku.."
Xiong Ai mengangguk pelan, dengan kepala tertunduk menanggapi ucapan kakaknya.
Yu Ming tersenyum lembut, lalu berkata,
"Adik Ai, ada satu nasehat dari ku, istri seperti pakaian kamu tidak suka boleh membuangnya.."
"Tapi orang tua kita tidak, mereka selamanya akan melekat pada kita.."
Xiong Ai mengangguk dengan kepala tertunduk.
Yu Ming kembali berkata,
__ADS_1
"Satu lagi, aku tidak tahu kamu bersedia mendengarnya atau tidak.."
"Setelah masalah ini, demi keamanan kerajaan Chu, aku sarankan kamu kirim Xiang Yan untuk mengambil alih beberapa wilayah kerajaan Wu.."
"Ini sebagai hukuman bagi raja Helu yang berani, mengirim putrinya untuk melakukan konspirasi di kerajaan kita.."
"Kamu bisa kirim surat ke kaisar Ji Fa, untuk meminta bantuan dukungannya atas pergerakan ini."
"Aku yakin, dia akan memberikan bantuan dukungannya.."
"Adik Wu Qi dari Wei adalah orang berbakat, jangan kucilkan dia, biarkan dia dan Xiang Yan membantu mu.."
"Chu Akan berjaya, bila naga dan harimau itu bersama mu.."
Ucap Yu Ming serius.
Xiong Ai mengangguk, dia tahu dan kenal dengan Wu Qi, Wu Qi adalah seorang Jendral pelarian dari dua negara.
Pertama dari negara Lu, di sana demi menyelesaikan pendidikan, dia tidak pulang saat ibunya di negara Wei meninggal.
Kedua saat di negara Lu, dia di ragukan untuk memimpin pasukan melawan negara Qi, karena istrinya orang Qi.
Dia membunuh istrinya sendiri, agar di percaya untuk memimpin pasukan melawan Qi.
Meski dia akhirnya berhasil memenangkan pertempuran dengan gemilang.
Karena karakter nya di ragukan oleh negara Lu, dia akhirnya pindah kembali ke negara Wei.
Di sini dia memenangkan ratusan pertempuran, dan tak terkalahkan. Tapi karena karakternya yang arogan, berani, berbicara terus terang, bermulut tajam.
Dia akhirnya kembali terusir dari negara Wei, dengan tuduhan ingin memberontak.
Tapi selalu di tolak, karena baik Xiong Yi maupun Xiong Ai tidak ada yang cocok dengan karakternya.
Mereka masih meragukan kredibilitas, dan kesetiaannya.
Jadi sampai kini Wu Qi masih mengalami pengucilan di Chu.
Yu Ming melihat keraguan di mata Xiong Ai, dia pun berkata,
"Adik ku, gunakan orang jangan meragukannya, meragukannya lebih baik jangan di gunakan,.."
"Kamu boleh pilih seperti ayah, tidak menggunakan Wu Qi."
"Itu sepenuhnya hak mu, kakak hanya memberi saran bukan harus ."
Xiong Ai beradu tatap dengan Yu Ming sejenak, lalu berkata,
"Aku akan ikuti saran kakak, setelah ini aku akan secara pribadi pergi mengundangnya ke istana untuk membantu ku.."
Yu Ming menganggukkan kepalanya, lalu dia berkata pelan,
"Mengenai adik ipar, aku tidak ada komentar, kamu putuskan saja baik buruknya resiko, buat diri mu dan kerajaan Chu.."
Xiong Ai mengangguk pelan, dan berkata,
"Baik kak, adik akan mengingatnya, terimakasih atas nasehatnya.."
Yu Ming tersenyum puas menatap adiknya. Melihat wajah adiknya, Yu Ming seperti melihat refleksi wajah ayah nya semasa dia masih kecil dulu.
__ADS_1
"Adik waktu sudah tidak pagi, sudah tiba saatnya kita berpisah, jaga diri mu.."
Ucap Yu Ming sambil menepuk lengan adiknya.
Setelah itu, Yu Ming kembali kehadapan ibunya, dia bersujud tiga kali di depan kaki ibunya.
Setelah itu Yu Ming berkata,
"Ibu,.. jaga diri ibu baik baik.."
"Ming Er pergi dulu.."
Siao Cui menghapus dua butir airmata nya yang runtuh dan berkata,
"Pergilah, ibu akan mendoakan untuk keselamatan dan kesuksesan mu.."
Yu Ming setelah memberikan senyum lembut kearah ibunya adiknya juga paman nya Xiong Li yang hadir di sana .
Dia kemudian membalikkan badannya, berjalan cepat menuruni bukit, meninggalkan tempat pemakaman Adipati Xiong Yi.
Sesaat setelah Yu Ming pergi, Siao Cui menghela nafas panjang, lalu ikut berjalan meninggalkan tempat itu.
Xiong Ai buru buru menyusulnya dan berkata,
"Ibu ikutlah dengan ku kembali ke istana, aku akan sediakan biara khusus buat ibu.."
Siao Cui tersenyum hambar dan berkata,
"Tidak perlu, Yang Mulia..biarlah hamba tinggal di kuil Phing An Se di pinggir kota sudah lebih dari cukup.."
"Ibu jangan seperti ini pada Ai er.."
"Ibu,.. maafkanlah Ai er.."
Ucap Xiong Ai sedih dan penuh sesal.
Siao Cui membalikkan badannya berjalan pergi, agar airmatanya yang runtuh tidak terlihat oleh putra nya.
Beberapa langkah kemudian dia berkata,
"Tidak ada yang perlu di maafkan.."
"Asalkan kamu kelak menjadi seorang raja yang bijak, yang menyayangi rakyat mu.."
"Itu sudah bisa dianggap, aku tidak sia sia, mengandung melahirkan dan membesarkan mu.."
Selesai berkata, Siao Cui langsung kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan bukit pemakaman raja, tanpa menoleh lagi.
Kini hanya tinggal dia dan pamannya Xiong Li yang masih berdiri termenung di sana.
Melihat yang lain sudah pada pergi, Xiong Li segera melangkah maju menghampiri keponakan nya dan berkata,
"Ai Er,.. kamu jagalah diri mu baik baik.."
"Paman pergi dulu.."
"Paman apa kamu juga akan tinggalkan aku..?"
Tanya Xiong Ai sedih.
__ADS_1