
Di tempat lain, setelah Xiong Ai dan istrinya pergi.
Yu Ming segera membantu ibunya memapah Xiong Yi ayahnya, kembali ketempat kamar peristirahatannya.
Tadi saat datang, Yu Ming bisa merasakan keadaan ayahnya sangat baik dari langkah kakinya yang kuat dan bersemangat.
Tapi dalam perjalanan kembali ke kamar, Yu Ming sedikit cemas.
Dia menemukan ayahnya drops cepat sekali.
Kini langkah kakinya hampir tidak bertenaga, sepenuhnya bergantung pada dia dan ibunya.
Bila tidak ada mereka niscaya berdiri pun, ayahnya tidak akan mampu.
Selain itu Yu Ming juga merasakan tarikan nafas ayahnya berat, sekali,.. sekali,.. tidak teratur dan kurang lancar, agak tersendat sendat.
Yu Ming segera berkata,
"Ibu segera suruh pelayan panggilkan tabib, "
"Ayah, biar aku yang gendong ke kamar.."
Siao Cui tahu situasi, dengan cepat dia segera menyuruh pelayan pergi panggil tabib.
Lalu dia segera mengikuti Yu Ming menggendong tubuh Xiong Yi yang yang semakin lemah kembali ke kamarnya.
Setelah Xiong Yi di baringkan di atas ranjangnya, dia menahan tangan Yu Ming dan membisikkan sesuatu di dekat telinga Yu Ming .
Kemudian dia menunjuk kearah bawah bantalnya, ke Yu Ming .
Yu Ming segera bergerak membantu ayahnya mengeluarkan sebuah gulungan kain kuning, yang merupakan dekrit wasiat terakhir ayahnya.
Sesaat kemudian dia baru melepaskan pegangan tangannya dengan nafas tersengal-sengal.
Saat itu pelayan telah tiba bersama tabib istana.
Yu Ming segera bergerak mundur kesamping ibunya.
Memberi ruang ke tabib agar bisa segera menangani dan menolong nyawa ayahnya, yang sepertinya sedang kritis.
Yu Ming yang ikut berlutut di sisi ibunya, dia segera menyerahkan wasiat ayahnya, ke ibunya dan berkata,
"Ibu ayah ingin ibu menyimpannya, untuk di bacakan setelah ayah wafat.."
Siao Cui sambil menghapus airmatanya yang bercucuran, dia menerima dekrit tersebut dari Yu Ming.
Lalu tanpa melihatnya, dia langsung menyimpan nya kedalam saku bajunya.
Sepasang matanya yang basah bercucuran air mata terlihat terus menatap kearah pembaringan di mana suami sedang berjuang melawan maut.
Sesaat kemudian terlihat tangan Xiong Yi terkulai keluar dari kasurnya.
Beberapa saat kemudian, sang tabib pun bangkit berdiri, dia menghadap kearah Siao Cui dan Yu Ming , lalu berkata dengan nada pelan..
"Maaf aku sudah berusaha.."
"Yang Mulia telah tiada, harap ratu dan pangeran jangan terlalu bersedih.."
"Relakanlah beliau pergi dengan tenang.."
Siao Cui mengangguk pelan, dia berusaha menutupi mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar.
Tapi sepasang matanya yang bercucuran air mata, hingga terlihat memerah bola matanya.
Dia terlihat jelas sangat sedih dan berduka, kehilangan pasangan hidup, belahan jiwa nya itu.
__ADS_1
Yu Ming yang berlutut di sebelah ibunya, juga terlihat bercucuran air mata.
Tidak terdengar suara Isak tangisnya, tapi dari sepasang bahunya yang bidang terlihat bergetar.
Yu Ming jelas sedang menangis sedih tanpa bersuara.
Sesaat kemudian Xiong Ai dan istrinya menyusul tiba, Xiong Ai segera berlari kearah jasad ayah nya.
Menangis dengan suara sekeras kerasnya, seperti takut tidak terdengar oleh semua orang.
Bahwa dia sedang sangat berduka.
Setelah beberapa waktu berlalu, Yu Ming mencoba menghampiri adiknya.
Memegang bahunya dengan lembut dan berkata,
"Adik Ai, ayah telah tiada, Jangan terlalu bersedih, jaga kesehatan mu.."
"Relakanlah ayah pergi dengan tenang.."
Dengan kasar Xiong Ai menyingkirkan tangan Yu Ming dan mendorong Yu Ming dengan kasar.
Xiong Ai berteriak penuh emosi sambil menunjuk kearah Yu Ming dan Ibunya sendiri.
"Pergi kamu jangan sentuh aku..!"
"Kamu,.. dan dia...kalian berdua manusia tidak tahu balas budi..!"
"Ayah begitu menyayangi mu, ayah begitu mencintai kalian..begitu mempercayai kalian ..!"
"Bahkan lebih dari aku, putra kandungnya ini..!"
"Tapi kalian...! kalian tega...!"
"Kalian tega bersekongkol, membunuh nya...!"
Teriak Xiong Ai histeris.
Yu Ming sedikit kaget melihat reaksi dari ucapan adiknya.
Siao Cui sebagai ibu kandung Xiong Ai lebih lebih kagetnya.
Saking kagetnya dia hanya bisa menatap kearah putranya dengan tatapan mata tidak percaya.
Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa, selain terus menatap kearah putranya kandung nya yang seperti berubah menjadi sosok yang hampir tidak dia kenali lagi.
Sesaat kemudian Yu Ming lah yang berkata,
"Adik Ai kamu tenanglah, jangan terlalu emosi.."
"Kendalikan diri mu.."
"Sadarlah adik Ai.."
Ucap Yu Ming berusaha menenangkan adiknya.itu.
Xiong Ai menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Dia ayah ku, bukan ayah mu..!"
"Kalian bersekongkol membunuh nya, bagaimana aku bisa tenang..!"
"Sringggg...!!"
Xiong Ai mencabut pedangnya lalu menunjuk kearah Yu Ming dan kembali berteriak,
__ADS_1
"Pengawal cepat tangkap penghianat ini..!"
"Cepat..!"
Teriak Xiong Ai histeris.
Segera pasukan pengawal istana yang berseragam lengkap, dengan baju zirah emas berkilauan.
Semuanya masuk meluruk kedalam kamar mengurung Yu Ming dan Siao Cui dengan pedang golok dan tombak di tangan.
Yu Ming menatap tajam kearah Xiong Ai dan berkata,
"Adik Ai kamu boleh menangkap aku, kamu boleh menuduh ku sebebas yang kamu mau..!"
"Aku tidak akan berkeberatan..!"
"Tapi dia ini ibu mu, ibu kita..! kamu segera sadarlah dari tuduhan gila mu yang tidak masuk akal itu..!"
Bentak Yu Ming masih mencoba, menyadarkan adiknya.
Xiong Ai menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas,
"Dia memang ibu ku, aku pada akhirnya tentu akan mengampuninya..!"
"Tapi dia telah bersekongkol dengan mu, membunuh ayah ku..!"
"Untuk itu saat ini, aku tetap harus menahannya..!"
"Sedangkan kamu, harus terima hukuman nyawa bayar nyawa bangsat..!"
Bentak Xiong Ai tidak mau kalah.
Siao Cui akhirnya maju kedepan menunjuk.kearah putranya dan berkata,
"Xiong Ai kamu putra durhaka..!"
"Jenazah ayah mu di sana belum dingin, kamu sudah berani berbuat onar dan kekacauan di tempat ini..!"
"Kamu ingin ayah mu tidak bisa pergi dengan tenang..!?"
"Cepat turunkan senjata mu dan suruh mereka semua bubar dari sini..!"
"Tidak ada yang boleh menyentuh kakak mu..!"
"Apa kamu dengar itu..!"
Bentak Siao Cui emosi ke putra kandungnya sendiri.
Xiong Ai menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf ibu, itu tidak bisa aku lakukan.."
"Ibu dan dia sungguh kelewatan.."
"Siapa yang durhaka, hati ibu dan dia lebih tahu dari siapapun.."
"Baiklah keadaan sudah seperti ini, biarlah aku buka saja semua aib nya biar jelas...!"
"Ibu saat menikah dengan ayah, sudah membawa anak haram ibu ini, yang dengan lelaki siapa, ? yang tidak jelas asal usulnya itu..!'
"Tapi ayah berbesar hati menerima ibu dan bangsat itu, membesarkan nya, memberikan dia semua yang terbaik..!"
"Tapi kini, sebagai balasannya demi tahta dan kekuasaan di mana kalian ingin menyingkirkan kami ayah dan anak..!"
"Ibu dan bajingan tidak tahu balas budi ini, bersekongkol membunuh ayah..!"
__ADS_1
"Jadi siapa yang berbakti, siapa yang durhaka, ibu dan bajingan ini, lebih tahu dari siapapun juga..!"