
Yu Ming yang berlari dengan wajah panik dia akhirnya bertemu dengan Paman Luo.
"Paman Luo di mana Hua er...!?"
"Mengapa aku tidak melihatnya !?"
Paman Luo menatap Yu Ming dengan sedih dan berkata pelan,
"Tiga hari yang lalu terjadi badai dan gelombang besar.."
"Nyonya muda dan Naga besar, hilang tertelan badai, tuan muda sudah pergi mencarinya .."
"Tapi hingga tuan muda kehabisan tenaga dan pingsan terombang ambing diatas laut.."
"Nyonya muda dan Naga besar tetap tidak berhasil di ketemukan.."
"Kamilah yang membantu tuan muda kembali ke kapal, saat inipun kita masih ada di lokasi yang sama.."
"Aku tidak bisa mengambil keputusan meninggalkan tempat ini, sebelum ada persetujuan dari tuan muda.."
"Harap tuan muda yang putuskan, apa yang kira kira akan kita lakukan selanjutnya..?"
Ucap paman Luo sambil menunggu keputusan Yu Ming .
Yu Ming berdiri dengan tubuh gemetaran, dia kemudian memukul mukul kepalanya sendiri.
"Akhh..! ternyata semua ini nyata, aku masih berpikir ini adalah mimpi.."
"Ternyata ini bukan mimpi, akhhh Hua er maafkan aku.."
Sesaat Yu Ming terlihat seperti orang linglung, tapi sesaat kemudian Yu Ming sudah kembali tenang.
Sekacau apapun perasaannya, dia adalah orang yang sudah kenyang menghadapi asam garam kehidupan.
Segala penderitaan sudah pernah dia lalui, tidak ada yang dapat membuatnya roboh.
Yu Ming akhirnya sambil tersenyum sedih, dengan wajah tegar dia berkata,
"Terimakasih paman Luo, maaf merepotkan kalian.."
"Aku minta waktu satu Minggu untuk melakukan pencarian ulang.."
"Harap paman Luo dan yang lain nya tidak berkeberatan.."
"Bila ada yang berkeberatan, berilah aku sebuah perahu kecil, biarlah aku yang akan meneruskannya seorang diri.."
"Perjalanan kita biarlah sampai di sini saja.."
"Paman dan yang lainnya boleh kembali ke daratan tengah ."
Paman Luo menepuk pundak Yu Ming dan berkata,
"Tuan muda lakukan saja apa yang tuan muda ingin lakukan.."
"Kami akan menunggu, jangankan seminggu, seumur hidup pun kami tetap akan menunggu.."
Ucap paman Luo berusaha menenangkan Yu Ming .
__ADS_1
Yu Ming menatap paman Luo dengan wajah penuh terimakasih.
"Terimakasih paman Luo.."
"Selain kata ini, aku benar benar tidak tahu harus berkata apa lagi.."
Paman Luo tersenyum penuh pengertian dan berkata,
"Tidak apa-apa tuan muda.."
"Itu bukan masalah.."
"Pergilah,.. tuan muda lakukan saja yang akan tuan muda lakukan.."
Yu Ming mengangguk cepat, lalu dia segera melesat pergi melakukan pencarian.
Hari hari berlalu dengan cepat, tidak terasa waktu tujuh hari pun sudah habis.
Tapi anehnya selama tujuh hari pencarian berlangsung tidak ada satu hari pun, badai yang kembali datang menganggu pencarian Yu Ming .
Badai dan gelombang laut,seolah olah sudah takut dan tahluk dengan Yu Ming .
Yu Ming mengalami kesulitan karena tanpa bantuan Naga Panca Warna , di tambah dia masih ada satu gelang kaki belum terlepas.
Dia belum bisa sepenuhnya bebas terbang sesuka hati, pergerakan terbang nya saat ini sangatlah menguras Chi.
Apalagi di dunia fana manusia Chi murni tidaklah sebaik Chi di kahyangan.
Sehingga otomatis Yu Ming tidak bisa terbang bebas sesuka hati, kemampuan nya saat ini sangatlah terbatas.
Begitupula dengan pencarian di dasar laut sana, kemampuan Yu Ming juga sangat terbatas.
Naga Panca Warna dan Ji Lian Hua kemungkinan besar tidak ada di tempat ini.
Bila masih hidup mereka mungkin ada di satu tempat, yang dia tidak ketahui ada di mana.
Begitupula dengan mereka, mereka juga pasti mengalami kendala untuk bisa kembali ke sisi nya.
Tapi bila mereka akhirnya tidak selamat dalam bencana ini, mereka tidak ada lagi di dunia ini.
Yu Ming juga harus menerima kenyataan, dan melanjutkan sisa misinya hingga selesai.
Kembali ke kahyangan untuk membereskan masalah lebih besar.
Bila semua sudah selesai, dia baru akan meminta bantuan ayahnya, menggemakan cermin ajaib untuk menemukan keberadaan Ji Lian Hua dan Naga Panca Warna .
Meski harus turun ke neraka tingkat 18 Yu Ming juga bertekad akan membantu mereka keluar dari sana.
Setelah berpikir dengan jernih, meski hatinya terasa hancur sedih dan sangat kesepian, setelah Ji Lian Hua tidak hadir di sisinya.
Yu Ming akhirnya menemui paman Luo.
"Paman Luo lanjutkan perjalanan kita ke laut barat.."
"Masalah di sini kita tangguhkan saja sementara.."
Paman Luo mengangguk patuh, tanpa banyak berkata,
__ADS_1
"Dia segera pergi menjalankan tugas nya.."
Memimpin kru anak buah kapalnya kembali bekerja melanjutkan perjalanan mereka menuju lautan barat.
Setelah perjalanan kembali di lanjutkan, Yu Ming memilih berdiri di bagian paling depan anjungan kapal.
Yu Ming berdiri di sana menghabiskan waktu untuk termenung di sana.
Tidak ada yang berani pergi menganggunya, bahkan roh gaib hitam putih di dalam pikirannya.
Mereka juga memilih diam, tidak berani banyak berkomentar.
Terutama roh gaib hitam, karena mulai dari mereka yang bisa melihat masa depan.
Melihat jarak jauh, mendengar jarak jauh, mencium jarak jauh, mereka semua satupun tidak berhasil menemukan Ji Lian Hua dan Naga Panca Warna yang seolah olah lenyap di telan bumi.
Setiap hari setiap waktu, Yu Ming bila tidak berlatih di dalam kamar, tentu dia akan berdiri termenung seorang diri di ujung depan anjungan kapal.
Tidak ada orang yang berani pergi mengurusnya, bila dia sudah ada dalam keadaan seperti itu.
Yu Ming yang tadinya hidupnya mulai menemukan setitik cahaya kebahagiaan.
Kini kembali di selimuti awan duka penderitaan dan kesedihan.
Bukan hal mudah dan semua orang mampu mengatasinya.
Beberapa bulan berlalu,
Pagi itu akhirnya wajahnya mulai bisa tersenyum kembali, dia seperti sudah mulai menemukan rahasia kehidupan.
Dia mulai bisa mengatasi rasa suka ataupun duka di hati perasaan dan pikirannya.
Yu Ming mulai bisa melepaskan semua beban itu satu persatu.
Pagi itu melihat ekspresi wajah Yu Ming yang tidak lagi muram seperti hari hari sebelumnya.
Paman Luo memberanikan diri menghampiri Yu Ming dan berkata,
"Tuan muda, pulau hijau di depan sana, kelihatannya adalah pulau ujung paling barat dunia ini.."
Yu Ming memperhatikan sejenak lalu berkata,
"Apa yang membuat paman bisa memastikan pulau itu adalah tujuan kita..?"
Paman Luo menunjukkan selembar kertas dan berkata,
"Ini adalah lukisan ciri ciri tempat yang kita tuju.."
"Waktu itu tuan muda sendiri yang jelaskan, aku takut lupa, jadi aku menggambar nya ."
"Coba tuan muda lihat, bukan kah di sebelah sana ada dua batu karang yang saling berhadapan.."
"Membentuk sebuah lingkaran, yang tengah nya berlubang.."
"Sedangkan di sebelah sini, ada batu karang berbentuk patung gadis cantik.."
"Di sebelah sini ada patung orang sedang memancing.."
__ADS_1
"Coba tuan muda perhatikan bukan nya sangat mirip..?"