
Masakan datang, semeja penuh masakan seafood.
Semua hasil pesanan Ji Lian Hua.
Melihat hal ini, Yu Ming pun berkata,
"Hua er apa kita berdua sanggup menghabisinya..?"
"Bila tidak, bukankah agak sedikit mubajir dan memboroskan biaya perjalanan ?"
Ji Lian Hua tersenyum lebar dan berkata,
"Tak perlu khawatir, kamu makan sebisanya saja.."
"Tidak habis bisa di bungkus ke kapal untuk sore nanti.."
"Mengenai biaya jangan khawatir, selama dia ada.."
"Biaya ini bukan masalah untuknya.."
"Maksud mu,.. ?"
Ucap Yu Ming sambil mengikuti petunjuk dari Ji Lian Hua.
Dia segera melihat ada seorang pemuda yang sebaya dengan nya sedang duduk menyendiri.
Pemuda itu bagaimana pun di lihat agak biasa saja, pakaian penampilan dan wajah semua biasa.
Yang sedikit berbeda adalah dia meletakkan sebuah sempoa hitam di atas meja makannya.
Hal ini yang membuat dia terlihat berbeda dari yang lainnya.
Yu Ming kembali menoleh kearah Ji Lian Hua dengan tatapan mata tidak mengerti.
Ji Lian Hua tidak memperdulikan tatapan mata Yu Ming , dia hanya sibuk mengupaskan seafood untuk di masukkan di mangkuk di hadapan Yu Ming dan berkata,
"Sudah tidak usah di pikirkan nikmati saja.."
"Nanti aku yang urus.."
Yu Ming terpaksa mengikuti saja kemauan Ji Lian Hua.
Dia menikmati isi mangkuknya yang menumpuk penuh daging udang dan kepiting segar.
Ji Lian Hua juga terlihat makan dengan santai, tak berapa lama kemudian setelah mereka berdua puas makan.
Ji Lian Hua segera memberi kode pada pelayan agar mendekat.
Pelayan dengan gembira segera membawa tagihan mendekati meja Ji Lian Hua.
Setelah pelayan mendekat, Ji Lian Hua segera berkata,
"Tolong sisanya di bungkus semua.."
"Tagihannya berikan ke dia.."
Pelayan terlihat agak ragu dan berkata,
"Nona tagihan ini tidak sedikit, apa dia mau ..?"
Ji Lian Hua sambil tersenyum berkata,
__ADS_1
"Kamu berikan saja ke dia, kalau dia tidak mau katakan aku yang suruh.."
Pelayan itu meski ragu, tapi melihat Ji Lian Hua begitu yakin akhirnya dia tidak bisa berkata apa-apa..
Dia segera memberi kode, agar teman nya datang membantu membawa sisa makanan diatas meja, untuk di bungkus sesuai pesan Ji Lian Hua.
Sedangkan dia sendiri terpaksa dengan langkah ragu, dan sesekali memutar kepala melihat balik ke Ji Lian Hua.
Tapi dia melihat Ji Lian Hua memberi kode agar dia tetap kesana.
Pelayan itu akhirnya menjadi nekad, dengan langkah lebar dia menghampiri pemuda berpenampilan sederhana itu
Di mana penampilannya sangat tidak meyakinkan.
Di dalam hati pelayan itu mengomel.
"Lihat penampilan nya, seperti seorang sastrawan miskin gagal ujian negara."
"Bagaimana dia bisa membayar tagihan ini.."
"Ini yang namanya mengerjai orang bawah tanpa otak.."
Dumel pelayan itu didalam hati dengan kesal.
Melihat pemuda sastrawan kere itu, makanan pesanannya pun cuma mie polos daun bawang.
Hati pelayan itu menjadi mangkel, tapi mau bagaimana lagi, tamu adalah raja .
Penampilan kedua tamunya itu sangat lain, bila menyinggung mereka dan urusan panjang hingga ke bos nya.
Periuk nasi nya bisa bisa pecah bila dia tidak melaksanakan perintah mereka.
Pelayan itu sambil memasang senyum seramah mungkin dia berkata,
Pemuda itu tanpa menghentikan makannya, atas mie yang masih menggantung di mulutnya menjuntai kedalam mangkok.
Dia menoleh sedikit kearah menatap pelayan itu dengan heran dan berkata,
"Ya..ada apa...?"
Pelayan itu segera meletakkan tagihan yang di pegang di tangan nya keatas meja dan berkata.
"Maaf ini tuan,.. menurut nona yang duduk di ujung sebelah sana.."
"Katanya tagihan ini biar masuk ke anda..'
Ucap pelayan itu sambil tersenyum canggung.
Pemuda yang melihat angka di nota tagihan dan mendengar ucapan sang pelayan .
Sepasang matanya membelalak kaget hingga mau terlepas dari lubangnya.
Dia terburu buru mau bicara sampai lupa di mulutnya masih ada mie yang menggantung.
Sehingga saat mau berbicara, dia malah tersedak oleh mie yang masih ada di mulutnya.
"Uhukk..!"
"Uhukk..!"
"Uhukk..!"
__ADS_1
Pemuda itu sampai mengalami batuk batuk hebat, akibat tersedak mie dan kuah di dalam mulutnya.
Sehingga mienya menyembur kearah wajah pelayan yang sedang bernasib apes itu.
Mana panas mana pedas, komplit lah sudah kesedihan pelayan itu.
Pelayan itu tidak berani bersuara, dia hanya bisa menggunakan lengan bajunya menghapus wajahnya yang berlepotan mie dan kuah minyak pedas dan panas.
Yu Ming dari kejauhan menatap Ji Lian Hua penuh teguran, dia merasa kasihan dengan pelayan restoran itu.
Tapi Ji Lian Hua menanggapi tatapan mata Yu Ming dengan senyum lebar.
Dia mengangkat kedua bahu dan tangan nya, seolah olah kejadian tersebut bukan salah dia.
Tidak ada kaitannya dengan dia.
Yu Ming yang malas berdebat akhirnya memilih bangkit berdiri, dia ingin pergi menjelaskan dan meminta maaf.
Tapi tangan nya di tahan oleh Ji Lian Hua, Ji Lian Hua memberi kode agar dia duduk kembali jangan ikut campur.
Yu Ming akhirnya duduk kembali dan berkata,
"Hua er kamu jangan bercanda kelewat batas..'
"Pelayan meski dia cuma pelayan dia juga manusia yang punya harga diri dan kamu harus menghargainya.."
"Kamu tidak.."
Ucapan Yu Ming terhenti di tengah jalan.
Saat dia melihat pemuda itu, setelah mereda batuknya.
Pemuda itu saat mau memaki maki pelayan di hadapannya.
Tapi dia sekilas menoleh kearah meja Yu Ming dan Ji Lian Hua, sesuai arah jari pelayan yang terlihat takut takut itu.
Seketika sikap pemuda itu berubah, tanpa banyak bicara, dengan wajah kesal dan setengah terpaksa, dia membalas lambai tangan Ji Lian Hua.
Lalu tanpa banyak bicara dia membayar semua tagihan termasuk tagihan mie nya yang baru di makan sesuap.
Tapi kini dia sudah kehilangan seleranya, karena tiada angin tiada hujan dia terpaksa harus merogoh koceknya sedalam itu, untuk membayar tagihan orang lain.
Dengan wajah kesal, setelah membayar semuanya, dia segera bergegas meninggalkan restoran tersebut.
Saat melewati meja Yu Ming dan Ji Lian Hua, dia hanya tersenyum masam kearah Ji Lian Hua.
Lalu dia langsung bergegas ingin pergi dari sana secepat mungkin.
"Tuan Wan San..."
Tapi panggilan Ji Lian Hua dari belakang sana, terpaksa membuat dia menghentikan langkahnya.
Dia langsung menoleh kearah Ji Lian Hua dengan sepasang mata melotot penuh teguran.
Ji Lian Hua sambil menahan tawa, dia berkata,
"Tuan muda Wan duduklah dulu ngobrol ngobrol.."
"Mengapa begitu buru buru sih..?"
Dia dengan setengah terpaksa akhirnya mengambil tempat duduk di hadapan Ji Lian Hua dan berkata dengan suara setengah berbisik,
__ADS_1
"Tuan putri aku mohon jangan lagi mempermainkan pria miskin kere dan papah seperti saya.."
"Jaman sekarang ini, mencari uang sungguh tidak mudah.."