PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
MENINGGALKAN THIAN CIEN PAI


__ADS_3

Thian Cien Sen Ni akhirnya menyerah, dia segera berlutut menyembah kearah Yu Ming dan Wang Wu.


Tapi Yu Ming yang tidak mau terkutuk, dia sengaja bergeser kebelakang guru nya.


Sehingga yang di sembah oleh nenek peot itu, adalah kakak seperguruannya.


Sehingga Yu Ming tak perlu memikul beban kualat di pundaknya.


Setelah menyelesaikan sujud nya, Thian Cien Sen Ni langsung berdiri.


Tanpa berkata apapun, karena hatinya sedang mendongkol luar biasa.


Thian Cien Sen Ni langsung hendak pergi dari sana, tapi lagi lagi langkahnya terpaksa harus di hentikan.


Saat kembali terdengar suara Yu Ming dari belakang sana.


"Tahannnn...!"


"Masih satu lagi..Pikun beneran atau pikun Ca Lo Hai..."


Bahasa Palembang Cacak Lolo Tapi Lihai.


Thian Cien Sen Ni sambil memunggungi dia berkata,


"Bajingan apalagi yang kamu inginkan..!?"


"Ming Er sudahlah jangan kurang ajar kelewat batas..!"


Tegur Wang Wu yang merasa tidak enak hati.


Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Yang kelewat batas bukan saya, tapi dia.."


"Jangan di kira saya tidak tahu, guru terhadap dia ada kasih ada perhatian.."


"Tapi dia terhadap guru justru begitu kejam.."


"Siapa yang kelewat batas Langit tahu, bumi tahu, jadi tak perlu bermurah hati dengan nya.."


"Dia juga belum tentu menghargainya..'


Ucap Yu Ming tidak mau kalah.


Thian Cien Sen Ni kini memutar balik badannya, menatap kearah Yu Ming dan Wang Wu lalu berkata,


"Lao Wang tak perlu munafik, katakan saja mau mu.."


"Bajingan ini kamu yang ajar keluar, dia bisa begini, tentu kamu tidak terlepas dari andilnya.."


Wang Wu menghela nafas panjang dan berkata,


"Ming Er ayo kita pergi.."


"Tunggu guru,.. dia tidak sungkan menyuruh mu mencuci kakinya."


"Meminta mu memakaikan sepatu, bahkan meletakkan kakinya di bahu dan menendang kepala mu setelah selesai."


"Emosi ini guru bisa tahan, aku tidak.."

__ADS_1


"Hei nenek peot, tidak perlu sok kamu..!'


"Hari ini kamu kalah, penuhi janji mu...!"


"Aku perintahkan kau untuk merangkak, mengelilingi lapangan ini dan menyalak dengan suara anjing betina mu..!'


"Ming Er cukup,...!"


"Jangan campuri urusan pribadi kami, atau kamu bukan murid ku lagi..!"


Bentak Wang Wu dengan wajah merah.


Yu Ming hampir membatalkan niatnya, menghukum nenek peot di hadapan nya.


Tapi dia segera membatalkan niatnya, saat melihat nenek itu tersenyum mengejeknya.


Yu Ming menjatuhkan diri berlutut di hadapan Wang Wu, dia membenturkan dahinya 3 kali diatas tanah dan berkata,


"Satu hari berguru, seumur hidup beliau adalah ayah ku.."


"Ayah ingin mengusir anaknya, anak tidak bisa menolaknya.."


"Jaga diri guru baik baik.."


Selesai berucap dengan wajah membesi Yu Ming bangkit berdiri, dia menghampiri Thian Cien Sen Ni .


Dengan tangan kanan masih tergantung lemas, Yu Ming berkata dengan tegas.


"Kamu boleh menghina dan menindas ku sesuka hati.."


"Aku tidak akan mengeluh dan menerima nya.."


"Hari ini bila kamu tidak merangkak berkeliling sambil menyalak, jangan harap bisa pergi dari sini.."


Thian Cien Sen Ni tersenyum mengejek dan berkata,


"Kalau aku tidak bersedia kamu mau apa ? atau kamu ingin mencoba membunuh ku..?'


Yu Ming tersenyum sinis dan berkata,


"Aku tentu ingin, tapi aku sadar diri, saat ini aku tidak punya kemampuan itu.."


"Kamu bila ingin pergi, tentu boleh saja, tapi kedepannya."


"Semua orang akan memandang rendah diri mu sebagai orang yang tidak tepat janji.."


"Bahkan guru dan leluhur mu di bawah sana, akan ikut malu dengan sikap mu hari ini.."


"Bila bertemu dengan ku, mereka tidak akan pernah bisa mengangkat kepalanya.."


Ucap Yu Ming sambil tersenyum sinis.


Wang Wu di tempat lain terlihat berdiri diam serba salah.


Tapi sesaat kemudian dia akhirnya berkata,


"Siao Semei maaf permasalahan mu kali ini, kamu selesaikan saja sendiri.."


"Aku tidak bisa ikut campur.."

__ADS_1


"Permisi.."


Selesai berkata Wang Wu menoleh kearah Yu Ming dan berkata,


"Ming Er keputusan mu hari ini, kamu harus menanggungnya kelak.."


"Guru hari ini bisa menjaga mu, tapi tidak mungkin seumur hidup.."


"Kamu jaga diri mu baik baik..,"


Selesai berkata, Wang Wu pun melangkah menuruni arena.


Dia tidak sepenuhnya pergi.


Hanyalah berdiri di mulut jalan, yang menjadi jalan tunggal, untuk datang dan pergi dari Thian Cien Pai


Wang Wu berdiri di sana, menunggu Yu Ming sambil memunggungi arena.


Dia lakukan hal itu, karena dia tidak bisa meninggalkan Yu Ming, yang sedang terluka, dan sedang berjuang sendiri, untuk ketidakadilan yang di terimanya dari mantan istrinya itu.


Tapi dia juga tidak bisa menyaksikan mantan istrinya, di permalukan sedemikian rupa, didepan matanya sendiri, oleh muridnya pula.


Jadi dia hanya bisa memilih untuk tidak ikut campur, dalam urusan rumit diantara Yu Ming dengan Thian Cien Sen Ni .


Setelah Wang Wu pergi dari sana, Thian Cien Sen Ni akhirnya dengan sangat terpaksa.


Dia mau tidak mau terpaksa menuruti perintah Yu Ming, untuk merangkak dan menyalak seperti seekor anjing.


Tapi dia tidak menyelesaikan seperti permintaan Yu Ming, dia hanya bergerak beberapa langkah saja.


Setelah itu dia segera melesat pergi dari sana dengan wajah penuh dendam.


Yu Ming juga tidak mencegahnya, Yu Ming merasa itu sudah lebih dari cukup, untuk mempermalukan nenek peot, yang bandel dan keras kepala itu.


Yu Ming sadar tindakan nya ini sama saja sedang menggali lubang kubur buat dirinya sendiri.


Tapi Yu Ming tidak ambil pusing, kehidupan redup dan penuh derita seperti ini.


Matipun bagi dia gak masalah, dia malah suka.


Cepat mati, cepat reinkarnasi. Siapa tahu dia dapatkan peluang, yang lebih baik di kehidupan berikutnya.


Batin Yu Ming di dalam hati.


Dengan pergi nya Thian Cien Sen Ni , semua anggota muridnya satu persatu juga bergerak menyusul meninggalkan arena.


Ji Lian Hua sebelum pergi, dia sempat melemparkan tatapan serba salah kearah Yu Ming dan kearah kepergian gurunya.


Akhirnya dia sambil menghela nafas panjang, dia segera bergerak menyusul gurunya.


Yu Ming sendiri juga tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap kepergian reinkarnasi mantan sahabat terbaiknya itu, hingga menghilang dari pandangan nya.


Setelah sepenuhnya bayangan Ji Lian Hua menghilang dari pandangan nya.


Dia baru turun dari arena, menyusul Wang Wu, yang masih menanti nya di sana.


Wang Wu setelah mendengar langkah kaki Yu Ming menyusulnya.


Dia segera melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu, dia kembali mengajak Yu Ming melewati deretan tanaman pohon bunga Mei Hua yang cantik.

__ADS_1


Hingga akhirnya berhasil keluar dari jalan yang sama dengan, saat mereka datang ke Thian Cien Pai .


__ADS_2