
Kini Yu Ming mulai paham, mengapa dulu gurunya Wang Wu melatihnya dengan sangat keras.
Ternyata tujuan nya adalah untuk menutupi kekurangan Ilmu tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh Yu Ming.
Dengan kekuatan tenaga luar dan kegesitan alami.
Hari hari Yu Ming habiskan dengan berlatih tanpa henti.
Pagi pagi sebelum matahari terbit, Yu Ming tetap menjalani naik turun gunung, sambil membawa beban batu.
Bahkan kini Yu Ming menambahnya sendiri, dengan dua batu sebesar gajah, ditangan kiri dan kanannya.
Sepasang pergelangan kakinya di pasangi bandulan pemberat, dari batu sebesar kambing.
Menjelang sore, Yu Ming baru melatih dan terus melatih 15 jurus golok Naga emas, yang di warisi nya, dari Wang Wu.
Hari hari berlalu dengan cepat, kini 10 tahun berlalu, Yu Ming sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat gagah dan tampan.
Wajahnya dan tingkah lakunya, sama persis dengan dirinya saat di kahyangan dulu.
Bahkan kini Yu Ming memilki tubuh yang jauh lebih kekar, tinggi besar dan berotot.
Sepasang matanya mulai bersinar penuh kepercayaan diri, tidak sama dengan Yu Ming di sepuluh tahun yang lalu.
Pagi itu Yu Ming tidak berlatih, melainkan berpakaian rapi, dengan rambut juga diikat dengan rapi.
Dia terlihat sangat cemerlang dan ganteng wajahnya.
Pagi itu Yu Ming hanya di minta oleh Wang Wu, untuk duduk santai menemaninya minum arak.
Selama 10 tahun mengikuti Wang Wu, Yu Ming sudah tidak asing dengan minuman yang namanya arak ini.
Dia bahkan mulai menyukai minuman, yang bisa memberikan kehangatan dan pikiran yang rileks dan tenang untuk nya, bila dia sedang ada masalah dan banyak pikiran.
Hal yang hampir tidak pernah terjadi, saat dia dulu di kahyangan, kini dia bisa menikmatinya dengan bebas.
Sambil mengisi cawan di hadapan gurunya, Yu Ming mendengarkan gurunya berbicara.
"Ming Er, hari ini adalah hari perjanjian saya dengan Thian Cien Sen Ni di seberang sana.."
"Sebentar lagi, aku akan membawa mu kesana. Untuk melakukan duel dengan muridnya.."
"Apa kamu punya keyakinan diri, untuk itu..?"
Tanya Wang Wu sambil menyeruput sedikit arak di dalam cawannya.
Sambil menyeruput arak, Wang Wu melirik kearah Yu Ming.
Yu Ming mengangguk pelan dan berkata,
__ADS_1
"Aku hanya berani berjanji, aku akan berusaha, untuk tidak mengecewakan harapan guru dari ku.."
Wang Wu mengangguk dan berkata,
"Baiklah Ming Er, guru percaya dengan mu.."
"Sekarang bersiap lah, kita akan segera kesana.."
Yu Ming mengangguk, lalu dia bangkit berdiri, dan berjalan meninggalkan pondok kediaman gurunya.
Yu Ming mengikuti langkah gurunya menuju tepi tebing, yang menghadap kearah gunung Feng Huang San di seberang nya .
Wang Wu mencekal lengan Yu Ming, sesaat kemudian mereka berdua sudah terbang menuju puncak gunung di seberang sana.
Mereka berdua berhasil.mendarat ringan di sana.
Wang Wu yang seperti sangat hapal dengan tempat itu, dia melangkah di depan.
Mengambil jalan samping, dengan memutari pagar tembok pembatas, yang membentengi perguruan Thian Cien Pai yang tertutup untuk dunia luar.
Setelah beberapa saat menyusuri tembok yang mengelilingi perguruan tersebut.
Wang Wu membawa Yu Ming tiba di depan sebuah tembok, yang agak menjorok kedalam.
Di samping kiri kanan nya, ada hiasan arca batu tempat lampu penerangan.
Juga ada dua buah patung burung Hok, berjejer di samping arca batu tempat penerangan itu.
Wang Wu mengulurkan tangannya kedalam arca, dia meraba raba sejenak.
Sesaat kemudian langsung terdengar suara di dinding tembok bergetar hebat.
Lalu di sana, dinding tersebut bergeser kedalam, sehingga memunculkan sebuah jalan terbuka lebar di sana.
Wang Wu segera memberi kode, agar Yu Ming mengikutinya untuk masuk kedalam.
Di balik tembok, Yu Ming melihat banyak tumbuh pohon bunga sakura, yang bunga bunga nya terlihat bermekaran indah, dengan warna merah jambu.
Wang Wu mengajak Yu Ming melewati jalan berkelak kelok, yang sulit di ingat jalannya.
Karena sepanjang jalan, yang di lihat semuanya sama, yaitu pohon pohon bunga sakura, yang berjejer rapi.
Setelah berhasil keluar dari deretan barisan bunga sakura.
Mereka berdua akhirnya tiba di bagian bawah, sebuah bangunan arena pertandingan, yang di bangun dengan sangat indah.
Arena berbentuk bulat lingkaran, seluas setengah dari lapangan sepak bola.
Arena pertandingan itu berdiri kokoh dan gagah, tepat di kelilingi oleh rumah rumah, yang kemungkinan adalah bangunan asrama, untuk tempat tinggal murid murid Thian Cien Pai.
__ADS_1
Untuk mencapai arena, di sediakan 5 undakan anak tangga, yang di hiasi dengan karpet permadani berwarna merah.
Anak tangga tersedia di empat penjuru mata angin,
Karpet dari bagian tangga berwarna merah hati.
Kemudian menyambung dengan karpet yang berada di bagian tengah arena.
Karpet itu terdiri dari beberapa lingkaran, dengan beberapa macam warna berbeda beda.
Di sisi bagian terluar, terdiri dari tanah berpasir halus, yang padat tapi lembut.
Sedangkan lingkaran bagian tengah sebelah dalam, di lapisi dengan karpet berwarna merah tebal, semakin ketengah lingkaran nya, warna merah nya semakin tipis dan terlihat lebih pudar.
Wang Wu menoleh kearah Yu Ming, yang berdiri di sampingnya dan berkata,
"Gunakan tangga ini, naik lah,.. keatas, kalahkan lawan mu.."
Yu Ming mengangguk pelan, lalu dia segera melanjutkan langkahnya, dengan menaiki satu persatu undakan anak tangga menuju keatas.
Setelah tiba di atas arena, Yu Ming langsung melangkah tenang menuju bagian tengah tengah arena.
Kehadiran Yu Ming di tengah tengah arena, segera menimbulkan suara kasak kusuk, di antara para penonton yang semuanya adalah wanita.
Mereka semua adalah murid murid Thian Cien Pai.
Seorang gadis yang sangat cantik, di mana bagian tengah dahinya terlihat ada tato bunga teratai.
Gadis itu segera memberi hormat kearah Thian Cien Sen Ni dan berkata,
"Guru, ijinkan murid turun ke arena untuk menghadapinya.."
Thian Cien Sen Ni mengangguk pelan dan berkata,
"Berhati hatilah jangan remehkan lawan mu.."
"Baik guru.."
Jawab gadis itu sambil menjura memberi hormat ke arah gurunya.
Setelah itu dengan gerakan yang sangat indah seperti seekor burung merah.
Gadis cantik yang berpakaian serba merah, mulai dari ikat kepala hingga ujung sepatunya itu.
Dia mendarat ringan di hadapan Yu Ming.
Yu Ming sesaat di buat bengong oleh penampilan gadis itu, yang sangat mirip dengan Hua Sien Ce.
Mereka bagaikan pinang di belah dua, tiada bedanya, di dalam hati Yu Ming bertanya-tanya.
__ADS_1
Benarkah gadis di hadapan nya ini, adalah reinkarnasi dari sahabat baiknya Hua Sien Ce, yang ikut menyusul nya bereinkarnasi ke dunia.