PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
KEDATANGAN XIONG LI


__ADS_3

Siao Cui sampai terhenyak di tempat, saat mendengar putra kandungnya sendiri.


Tega mengeluarkan kata kata biadab ,tidak berperikemanusiaan seperti itu di hadapannya.


Putranya sendiri tega melemparkan tuduhan keji dan tidak berdasar seperti itu, pada dirinya, yang mengandungnya, melahirkannya, merawat, dan membesarkannya, bahkan menikahkan nya.


Ini sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan dan sangat menyakiti hati dan perasaan nya.


Saking sedihnya, Siao Cui hanya bercucuran air mata, tidak bisa berkata-kata.


Dia hanya bisa menatap kearah putranya, dengan tatapan mata kecewa, sedih, marah, dan berbagai perasaan lainnya, semua bercampur aduk jadi satu.


Tapi Xiong Ai sendiri tetap terlihat tidak bergeming dengan keputusannya.


Yu Ming yang memilki pengalaman dalam perebutan kekuasaan sesama saudara, yang bisa saja menghalalkan segala cara.


Dia akhirnya tersenyum dingin, mengeluarkan pedang Xuan Yuan nya dan berkata,


"Xiong Ai aku harap kamu gunakan akal sehat mu sekali.lagi.."


"Jangan nanti baru menyesal.."


"Segelintir manusia selundupan dari kerajaan Wu ini, kamu pikir bisa menakuti ku..?"


"Jiang Je Ya dan Ji Fa sekalipun aku tidak taruh didepan mata, apalagi sekuncup manusia dari kerajaan Wu ini..?"


"Sekali lagi aku nasehati kamu, bertobat, minta maaf pada ibu.."


"Kamu ingin tahta, boleh ambil.. aku tidak berminat.."


"Lagi pula pesan terakhir ayah tahta ini memang milik mu.."


"Ayah bukan memilih ku mewarisi tahta nya, tapi ayah meminta ku membantu menjaga tahta mu, agar tidak di rebut orang.."


"Tapi kini keadaan sudah seperti ini, asalkan kamu hari ini bersujud meminta maaf pada ibu kita..ayah kita.."


"Aku berjanji saat ini juga, aku akan angkat kaki dari sini.."


Ucap Yu Ming tegas.


Siao Cui langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, sambil memegang tangan Yu Ming dan berkata,


"Tidak nak,.. kamu tidak boleh pergi.."


"Kamu tidak pantas pergi.."


"Ini tahta mu, kerajaan mu,.. siapapun di tanah Chu, tidak ada yang tidak tahu.."


"Bahwa kerajaan ini ada karena kamu ada, tanpa kamu mana ada kerajaan ini.."


Yu Ming tersenyum dan berkata,


"Ibu maafkan Ming Er, ini sudah keputusan ku.."


"Dari awal Ming Er hanya ingin berbakti pada ayah ibu, membalas budi besar ayah ibu, yang telah melindungi merawat dan membesarkan Ming Er.."


"Ming Er hanya ingin ayah dan ibu bahagia, Ming Er tidak inginkan hal apapun di luar itu.."


"Ibu dekrit wasiat terakhir ayah keluarkan lah, bacakan saja, agar semuanya menjadi jelas.."


Siao Cui masih terus menggelengkan kepalanya, meski dekrit sudah berada dalam genggaman tangannya.


Dia terus memegangi tangan Yu Ming dan menggelengkan kepalanya.


Di tempat lain Xiong Ai justru terlihat ragu ragu, untuk menurunkan perintahnya menyerang Yu Ming dan Ibunya.


Setelah mendengar semua ucapan dan penjelasan kakak nya.


Dia sedang dilema, berpikir dan menimbang.

__ADS_1


Di saat dia sedang ragu, Fu Ying di sampingnya, justru menganggukkan kepalanya.


Memberi kode pada kepala komandan pengawal istana, yang merupakan orang dari kerajaan nya.


Agar bergerak menyerang Yu Ming dan Siao Cui.


Kepala komandan itu mengerti, dia segera berteriak serang...


"Crasssh...!"


"Sraaat...!'


"Arggghhh..!"


"Crasssh...!"


"Sraaat...!'


"Arggghhh..!"


"Crasssh...!"


"Sraaat...!'


"Arggghhh..!"


"Crasssh...!"


"Sraaat...!'


"Arggghhh..!"


"Crasssh...!"


"Sraaat...!'


"Arggghhh..!"


Mereka sudah tewas bertumbangan oleh serangan dari arah belakang, yang di lakukan oleh pasukan elit kerajaan Chu, di bawah pimpin Xiong Li.


Adiknya Xiong Yi, yang masih merupakan paman Xiong Ai dan Yu Ming.


Xiong Li bisa tiba tepat waktu, karena jauh sebelum kejadian ini terjadi.


Dia dan Xiong Yi kakaknya sudah tahu, di barisan pasukan pengawal keamanan istana, ada pasukan penyusup dari kerajaan Wu.


Jadi Xiong Li sudah di persiapkan oleh kakaknya, untuk secara diam diam mengawasi pergerakan pasukan ini.


Saat mereka berani bertindak, saat itu pula Xiong Li dan pasukan elite nya akan keluar membasmi mereka.


Hanya saja yang tidak Xiong Li duga, semua kejadian ini justru muncul tepat di saat kakak'nya Xiong Yi wafat .


Baru timbul masalah perebutan kekuasaan yang sangat menyedihkan ini.


Xiong Li begitu muncul, dengan langkah gagah, dia segera menghampiri Siao Cui dan berkata,


"Maaf aku datang terlambat, sehingga kakak ipar mengalami kaget."


"Kakak ipar harap wasiat kakak bisa di serahkan pada ku, biar aku yang bantu urus sisa nya.."


Siao Cui sambil tersenyum sedih tanpa berkata apa-apa, dia langsung berikan dekrit kain kuning tersebut ke Xiong Li.


Xiong Li langsung membawanya menghampiri Xiong Ai, tanpa melihat isi dekritnya.


Dengan kasar Xiong Li melempar gulungan kain kuning itu kearah wajah Xiong Ai, dan berkata,


"Baca sendiri..!"


"Dasar tak berguna..!"

__ADS_1


"Tangkap wanita ini..!"


Ucap Xiong Li memberi perintah.


Sehingga Fu Ying langsung di ringkus oleh pasukan Chu.


"Suami ku..! tolong aku..!"


Teriak Fu Ying kaget ketakutan.


Xiong Ai tidak menjawabnya, dia sedang sibuk membuka dan membaca isi dekrit di tangannya.


Sesaat membaca isi dekrit yang memang mewariskan tahta kerajaan kepada dirinya.


Xiong Ai langsung lemas, pedang di dalam genggaman tangannya langsung terjatuh keatas lantai.


"Trangggg..!"


Wajah Xiong Ai terlihat pucat, sepasang matanya terlihat berkaca kaca.


Dia kini menatap kearah Yu Ming dan Ibunya dengan tatapan mata penuh sesal, malu dan merasa sangat bersalah.


Sesaat kemudian menyusul Xiong Ai menjatuhkan diri berlutut di hadapan Yu Ming dan Ibunya.


Lalu dia berulang kali menampar pipinya sendiri.


"Plakkkk..!"


"Aku bukan manusia..,!"


"Plakkkk...!"


"Aku bukan manusia..,!"


"Plakkkk...!"


"Aku bukan manusia..,!"


"Mengapa aku bisa melakukan perbuatan seperti ini..!?"


"Plakkkk...!"


"Aku sungguh bukan manusia..,!"


"Aku..!"


Pergerakan tangan nya, tertahan oleh Yu Ming .


"Sudahlah, tahu salah, perbaiki kesalahan mu, itu yang terpenting.."


"Tak perlu seperti ini.."


"Minta maaflah pada ibu, berjanjilah untuk selalu menjaga dan merawat ibu kita, melebihi nyawa mu sendiri.."


"Itu sudah cukup.."


Ucap Yu Ming sambil membantu Xiong Ai bangkit berdiri.


Lalu memeluknya dengan erat, sambil menepuk nepuk punggung adiknya, yang sedang menangis penuh sesal dalam pelukannya.


Beberapa saat kemudian dia baru membimbing adik nya, untuk ikut dengan nya berlutut di hadapan Siao Cui yang sedang duduk di samping jenazah suaminya Xiong Yi.


Siao Cui tidak berkata apa-apa, selain terus menangis sedih di samping jasad suaminya.


Xiong Li juga ikut berlutut di sana, seluruh pasukannya ikut berlutut di sana.


Termasuk Fu Ying, dia juga di paksa untuk berlutut, oleh dua pasukan Chu yang mengunci kedua tangannya kebelakang.


Dia dipaksa memberikan penghormatan kepada jenazah Xiong Yi.

__ADS_1


Mengikuti pergerakan Xiong Li, di mana Xiong Li di depan sana, mengikuti pergerakan Yu Ming dan Xiong Ai


__ADS_2