PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
Istana es


__ADS_3

Setelah masalah berlalu perjalanan selanjutnya berjalan cukup lancar.


Seminggu berlalu tanpa terasa, pagi itu di saat cuaca sedang cerah, langit biru yang di temani oleh awan putih, menjadi atap perjalanan mereka.


Rombongan Yu Ming, kapalnya terlihat mulai memasuki kawasan yang di penuhi oleh bongkahan es tebal.


Untuk menghindari benturan kapal dengan potongan batu es yang banyak mengambang di permukaan laut.


Paman Luo menginstruksikan anak buah kapalnya, untuk menurunkan layar kapal mereka.


Selain itu, dia juga memerintahkan beberapa anak buah nya pergi ke bagian anjungan kapal.


Menggunakan galah, untuk mencoba menyingkirkan es beku yang mengambang di atas permukaan air.


Agar kapal mereka bisa lewat, bila padat tidak bisa di singkirkan. Maka mereka akan memberi tanda agar kapal di belokan arahnya.


Tapi perjalanan seperti ini tidak bisa di lanjutkan lama, begitu sampai di kawasan yang lapisan es nya, sebagian besar tidak bisa di singkirkan.


Akhirnya Paman Luo menyerah, dia segera memerintahkan anak buahnya menurunkan sauh.


Lalu dia pribadi pergi menghadap Yu Ming .


"Tok..! Tok..! Tok..! Tok..!"


Yu Ming yang sedang duduk santai di dalam kamar, menemani Ji Lian Hua bermain catur Wei Qi.


Segera menyahut dari dalam kamar, begitu suara ketukan di pintu terdengar.


"Ya.. masuk saja pintu tidak di kunci..!"


Segera pintu terbuka, paman Luo dengan wajah tidak enak hati melangkah masuk dan berkata,


"Maaf tuan muda, kedatangan ku jadi menganggu .."


Yu Ming tersenyum dan berkata,


"Paman Luo anda terlalu sungkan, katakan saja ada apa..?"


"Paman Luo sampai kemari tentu ada yang penting.."


"Tidak apa apa katakan saja terus terang.."


Paman Luo tersenyum canggung dan berkata,


"Tuan muda, kelihatannya perjalanan kapal kita sudah tiba di batas nya.."


"Tidak bisa di paksakan lagi, hamparan es keras di permukaan laut terlalu banyak.."


"Kapal kita tidak bisa melewatinya, bila di paksakan bisa bisa kapal kita tenggelam di lautan es Utara ini.."

__ADS_1


Yu Ming mengangguk paham dan berkata,


"Ayo Hua er kita lanjutkan lain kali saja mainnya.."


"Sebaiknya kita keluar lihat lihat situasi.."


"Bila kapal mengalami kendala, kita terpaksa akan naik paman Naga, mencari tempat rahasia di mana Peti Mati Giok hitam yang ke 8 tersimpan.."


Ji Lian Hua mengangguk, dia buru buru membantu Yu Ming merapikan bidak catur hitam putih.


Setelah itu dia dan Yu Ming segera mengikuti Paman Luo pergi ke bagian atas dek kapal, untuk melihat situasi.


Saat tiba di lokasi, Yu Ming dan Ji Lian Hua langsung di sajikan pemandangan hamparan potongan lapisan es beku, terlihat tersebar di segala penjuru.


Meski daratan es beku, belum terlihat, tapi potongan es beku di permukaan laut itu, memang cukup membahayakan laju gerak kapal.


Kesulitan yang Paman Luo katakan sangatlah beralasan, perjalanan dengan kapal, memang tidak mungkin di lanjutkan lagi.


Melihat pemandangan di sekitar, Yu Ming pun berkata,


"Paman Luo, sebaiknya nanti, setelah kami melanjutkan perjalanan dengan cara kami.."


"Paman Luo lebih baik, berputar arah, meninggalkan tempat ini."


"Paman Luo bisa menunggu kami di luar wilayah berbahaya ini.."


"Tunggu saja di posis barat, nanti kami menyusul kesana.."


Paman Luo mengangguk dan berkata,


"Baik tuan muda, itu bukan masalah.."


"Hati hati di jalan,.. kita berpisah di sini saja.."


"Kami menanti di luar kawasan es ini, di arah barat sana.."


Ucap paman Luo pelan.


Yu Ming menepuk pundak paman Luo dan berkata,


"Terimakasih paman, maaf membuat mu repot.."


Paman Luo menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak tuan muda, tidak repot..'


"Jangan sungkan, selamat jalan.."


Yu Ming mengangguk pelan, dia segera memanggil paman Naga Panca Warna nya.

__ADS_1


Sesaat kemudian Yu Ming dan Ji Lian Hua terlihat sudah terbang di angkasa, duduk diatas punggung Naga Panca Warna .


Naga Panca Warna mengikuti petunjuk dari Yu Ming, terus bergerak menuju arah Utara.


Tidak lama mereka meninggalkan kapal, hujan salju tiba tiba mulai turun.


Semakin ke Utara badai salju yang turun semakin lembat, untung nya Naga Panca Warna adalah hewan legenda yang sangat spesial.


Rintangan cuaca seperti apapun juga tidak mungkin bisa menyulitkan nya.


Begitu pula dengan Yu Ming dan Ji Lian Hua, mereka sebagai kultivator tingkat tinggi, cuaca seperti ini tentu tidak akan bisa menyulitkan mereka.


Rombongan tersebut terus bergerak menembus badai salju.


Kini pemandangan di bawah sana, sejauh mata memandang hanya ada hamparan putih tak berbatas.


Hamparan putih itu, adalah daratan es beku, di tempat ini mulai jarang terlihat ada mahluk yang sanggup bertahan hidup di tempat yang dingin luar biasa itu.


Cukup hembusan angin nya saja, manusia awam akan di buatnya menjadi potongan es beku.


Cuaca di bawah minus 0 derajat itu, sungguh merupakan cuaca yang sangat tidak bersahabat bagi mahluk apapun.


Setelah beberapa waktu melintasi hamparan es luas, kini mereka mulai mendekati kawasan yang di penuhi oleh tebing es tinggi.


Dari jauh terlihat seperti sederet tembok putih berkilauan yang di bangun memanjang tanpa pangkal dan ujungnya.


Naga Panca Warna terus terbang mendekati deretan gunung es yang terlihat membentuk tebing tinggi menghalangi perjalanan lewat darat.


Tapi karena rombongan Yu Ming melakukan perjalanan lewat udara, maka deretan gunung es dan tebing es itu, bukanlah masalah bagi mereka.


Naga Panca Warna terus terbang melewati hamparan pegunungan es di bawah sana.


Setelah beberapa waktu berlalu, dan ketinggian sana, Naga Panca Warna mulai melihat sebuah bangunan, yang di bangun di atas salah satu puncak gunung es yang sangat tinggi dan luas.


Bangunan kuno itu adalah sebuah istana, yang di bangun dari es beku.


Seluruh bangunan terlihat putih berkilauan tertimpa cahaya matahari yang samar samar masih menerangi tempat yang sedang di Landa badai salju.


Naga Panca Warna yang tahu keinginan tuan mudanya, dia segera melesat menuju halaman depan istana.


Tapi baru saja Naga Panca Warna mendekati pintu gerbang utama yang menjadi jalan masuk menuju halaman dalam istana.


Seekor mahluk setinggi sepuluh meter berdiri dengan kedua kaki belakangnya dengan kokoh.


Mahluk yang seluruh tubuhnya di selimuti oleh bulu tebalnya yang berwarna putih.


Mahluk itu mengeluarkan suara raungan keras nya, sambil memamerkan gigi gigi taringnya yang panjang dan runcing.


Mahluk itu sepasang matanya terus menatap tajam.kearah kedatangan Naga Panca Warna .

__ADS_1


Mahluk itu setelah meraung keras penuh kemarahan, kini dia segera menurunkan kedua kaki depannya.


Lalu dengan empat nya yang kokoh dan besar, Mahluk itu segera berlari cepat menghampiri tempat di mana Naga Panca Warna dan kedua penumpang nya akan segera mendarat.


__ADS_2