PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
SURAT PERPISAHAN


__ADS_3

"Sebagai imbalannya, aku akan membebaskan mu dari hukuman siksa badan.."


"Sedangkan masalah kamu tidak bisa menang dari Tan Si, situasi saat itu dan saat ini tidak bisa di samakan.."


"Hal itu, juga tidak bisa menjadi bukti kamu bukan lawan Tan Si."


"Soal kalah menang itu relatif, bisa saja waktu itu kamu memang menang.."


"Lalu saat ini, kamu sengaja mengalah.."


"Hal ini tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang. bisa membuktikan nya."


"Untuk itu, aku tidak bisa memutuskan secara sembarang, seperti tuduhan mu, bahwa mereka berenam memberikan kesaksian palsu.."


"Saat ini yang jelas, kamu baru saja menyerang orang, di ruang sidang tanpa ijin.."


"Untuk mencegah kedepannya, agar hal seperti ini tidak kembali berulang, yang mungkin saja bisa semakin rumit dan ada jatuh korban jiwa ."


"Jadi demi ketentraman dan keamanan desa ini.."


"Maka aku putuskan, Yu Ming harus segera tinggalkan desa Dan Yang.."


"Brakkkk...!"


Tan Siaw menggebrak meja,.sekali lagi, kemudian berkata,


"Sidang di tutup..!"


Siao Cui ingin melakukan protes, tapi tangan nya di pegang oleh Yu Ming.


Saat Siao Cui menatap kearah Yu Ming, Yu Ming sambil tersenyum sedih menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Ibu jangan di teruskan, utamakan kesehatan ayah, jangan bikin ayah khawatir untuk ibu.."


Siao Cui menatap kearah Tan Siaw yang sedang bergegas meninggalkan ruang sidang dengan penuh kebencian.


Lalu dia bergumam,


"Ingatlah perbuatan mu hari ini, kalian semua akan menerima karma nya nanti.."


Selesai berkata, dengan wajah sedih dan lesu, dia menggandeng tangan putranya meninggal kan tempat tersebut dengan kepala tertunduk sedih.


Saat mereka berjalan pulang kerumah, Siao Cui berkata,


"Ming E,r kamu jangan takut, bila desa ini tidak menerima kehadiran kita.."


"Biarlah kita semua pindah dari sini.."


"Ibu tidak akan pernah membiarkan kamu pergi seorang diri dari sini.."


"Tidak akan.."


Ucap Siao Cui sedih sambil menarik Yu Ming kedalam pelukannya.


Yu Ming terpaksa mengangguk pelan, sambil tersenyum sedih.


Dia tahu sifat ibunya.


Berbantahan dengan nya saat ini, tidak akan ada gunanya.


Ibunya pasti akan ngotot, tidak akan mau mendengarkan apapun alasannya.

__ADS_1


Jadi Yu Ming memilih diam patuh, tanpa banyak bicara.


Tapi di dalam hati, dia sudah putuskan demi kebahagiaan semuanya.


Demi keselamatan ayahnya, dia akan pergi secara diam diam.


Dia akan pergi dari kehidupan mereka, sebelum kemampuan nya pulih, dia tidak akan pernah kembali kesisi mereka.


Setelah memutuskan apa yang harus dia lakukan nanti.


Yu Ming tanpa banyak bicara mengikuti saja.


Semua kemauan ibunya.


Bahkan saat ibunya dan ayahnya berunding tentang niat mereka meninggalkan Dan Yang, dan pindah kekota lain.


Yu Ming pura pura tidak mengikutinya, dan tidak mau ikut berpendapat.


Yu Ming hanya fokus membantu menyiapkan makanan, lalu pergi membereskan dapur, mengisi air, mengumpulkan kayu bakar.


Pergi ke ladang untuk menyelesaikan sisa panen jagung mereka.


Hingga sore hari, setelah membantu menyiapkan makan malam, dan mereka makan bersama, untuk yang terakhir kalinya.


Saat selesai makan malam, Yu Ming langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Menjelang tengah malam, saat suasana di luar sedang sepi.


Hanya ada suara bunyi hujan, yang jatuh dari langit dengan deras, mengguyur atap rumah dan halaman depan rumah.


Yu Ming setelah menyiapkan sepucuk surat diatas meja kamarnya.


Dengan hati hati, dia keluar dari dalam kamarnya, menutup kembali pintu kamar dan jendela nya rapat rapat.


Dia dengan langkah pelan, berjalan melewati kamar ayah ibunya.


Saat tiba di depan kamar ayah ibunya, Yu Ming menghentikan langkahnya.


Dia kemudian berlutut dan bersujud 3 kali di sana.


Setelah itu tanpa berkata apapun, Yu Ming langsung meninggalkan tempat itu.


Saat melewati depan kamar nenek nya, Yu Ming pun melakukan hal yang sama.


Setelah itu dia baru berlari meninggalkan rumah nya, dengan menerobos hujan deras.


Tanpa memperdulikan hujan deras yang mengguyur dirinya hingga basah kuyup.


Yu Ming terus bergerak mengambil jalan menuju kearah selatan.


Jalur ini adalah jalur tersulit, hanya ada hutan belantara, yang menyambut nya, setelah dia keluar dari mulut desa.


Yu Ming sengaja mengambil jalan ini, agar orang tuanya tidak bisa menyusul dan menemukannya.


Bila ambil jalur lain, saat pagi tiba, kepergian nya secara diam diam ketahuan, dia pasti akan tersusul oleh orang tua nya.


Saat memasuki hutan, Yu Ming menghentikan langkahnya, lalu dia menoleh sejenak kebelakang.


"Maafkan Ming Er ayah..ibu.."


"Demi kebaikan kalian semua, Ming Er tidak bisa tidak harus ambil keputusan ini ."

__ADS_1


Selesai berkata, Yu Ming kembali melanjutkan langkahnya memasuki hutan belantara, yang semakin lama semakin lebat.


Jalannya pun semakin lama semakin sulit dan penuh tantangan.


Dengan hanya bermodalkan penerangan dari kilat yang menyambar di angkasa.


Yu Ming selangkah demi selangkah, terus bergerak memasuki hutan belantara tersebut.


Saat mulai memasuki bagian tengah hutan, semak belukar sudah tidak terlalu banyak.


Dia hanya perlu berhati hati, agar kakinya tidak tersandung ataupun tersangkut, oleh akar akar pohon besar yang bertonjolan di atas tanah.


Di bagian tengah hutan ini, hujan tidak lagi sederas di luar sana, Yu Ming lebih terlindung oleh daun daun pohon besar, yang tumbuh lebat diatas sana.


Tapi seiring dengan berkurangnya tetesan air hujan, penerangan dari kilatan petir di angkasa pun, kesulitan menembus hutan rimbun di bawahnya.


Keadaan yang semakin gelap, hingga Yu Ming kesulitan melanjutkan perjalanan nya.


Yu Ming akhirnya memilih memanjat naik keatas pohon, kemudian dia memilih beristirahat di salah satu cabang dahan pohon besar itu.


Sementara Yu Ming masih terus beristirahat dengan nyaman, hingga matahari naik tinggi.


Di rumah kediaman Xiong Yi, justru terjadi kehebohan.


Saat Siao Cui ingin membangunkan putranya.


Dia sangat kaget saat menemukan putranya dan seluruh bungkusan pakaian nya, sudah tidak ada lagi, di kamarnya.


Dia segera bisa menebak, Yu Ming pasti telah pergi diam diam semalam, karena dia tidak ingin merepotkan mereka lagi.


"Ahhh Ming Er kemana kamu pergi..?"


Ucap Siao Cui dengan airmata bercucuran, dia terduduk lesu di atas kursi di dalam kamar bekas tempat tinggal Yu Ming.


Tangan nya yang di geletakkan diatas meja, secara tidak sengaja, menyentuh sebuah sampul surat.


Siao Cui buru buru mengambil sampul surat itu.


Lalu dia segera mengeluarkan isi sampul surat itu dan membacanya.


Baru membaca satu dua kalimat saja, Siao Cui sudah menggunakan tangan nya untuk menutupi mulutnya sendiri.


Agar suara tangisan nya tidak sampai terdengar keluar.


Meski suaranya berhasil dia tahan, tapi airmata yang bercucuran jatuh membasahi wajahnya, tidak bisa lagi dia tahan.


"Ayah ibu nenek, maafkan Ming Er yang pergi tanpa pamit.."


"Ming Er tahu dengan jelas, tindakan ini pasti akan membuat ayah ibu nenek panik cemas dan bersedih.."


"Tapi Ming Er minta ibu ayah nenek jangan bersedih, percayalah pada Ming Er.."


"Ming Er akan baik baik saja, suatu hari kelak Ming Er pasti akan kembali.."


"Jadi Ibu ayah dan nenek harus jaga kesehatan baik baik, agar kita suatu hari nanti bisa berkumpul kembali.."


"Jangan pernah pergi mencari dan menyusul Ming Er.."


"Demi kesehatan ayah, hal itu tidak boleh di lakukan.."


"Ming Er sangat menyayangi ayah ibu dan nenek, kalian semua adalah orang terpenting dalam hidup Ming Er.."

__ADS_1


"Terimakasih ayah ibu nenek, terimalah salam bakti Ming Er.."


"Selamat tinggal, .."


__ADS_2