
Ke 7 orang itu sangat marah, tapi Ji Lian Hua sangat lincah juga kuat.
Mereka sudah berusaha maksimal terus menerus menyerang Ji Lian Hua.
Tapi hasilnya masih saja belum ada tanda tanda menuju kearah yang lebih baik.
Mereka hanya bisa mempergencar serangannya berusaha mengejar Ji Lian Hua.
Di mana bagi mereka Ji Lian Hua seperti sebuah bayangan yang mustahil bisa mereka jangkau.
Tapi untuk mengakui kekalahan tentu saja mereka merasa gengsi.
Akhirnya mereka hanya bisa terus berusaha mengejar yang tidak pasti.
Ji Lian Hua akhirnya merasa cukup bermain main dengan mereka ber 7.
Berawal dari serangan orang ke 7 yang merupakan pria yang paling pertama, dia hajar di dalam restoran tadi.
Saat pedangnya datang menusuk kearah wajah Ji Lian Hua, Ji Lian Hua melangkah maju, sambil memiringkan kepalanya.
Sehingga serangan pedang orang ke 7 itu lewat di samping wajah Ji Lian Hua.
Di saat bersamaan gagang pedang Ji Lian Hua di sorongkan kedepan menuju hidung orang ke 7 itu.
"Dukkkk..!"
"Auggghh..!"
Jerit orang ketujuh itu kesakitan wajahnya sampai terdongak kebelakang.
Darah mengucur deras dari hidung nya yang patah, membasahi baju seragam putihnya.
Belum hilang rasa nyeri di hidung, kini giliran ulu hatinya yang menerima tendangan kaki Ji Lian Hua, yang membuat dia terpental jatuh meringkuk di atas tanah, diam tidak bergerak, dengan sepasang mata melotot merah.
Sesaat kemudian tubuhnya rebah kesamping dalam posisi tetap meringkuk.
Robohnya orang ke 7, membuat keenam saudaranya, dengan kompak menyarangkan pedang mereka.
Memberikan tusukan kearah Ji Lian Hua dari samping kiri kanan dan belakang secara serentak.
Ji Lian Hua menotolkan kakinya keatas tanah, tubuh nya, melayang indah naik keatas.
Sehingga tusukan pedang ke 6 orang itu menemui tempat kosong, di bawah kaki Ji Lian Hua.
Dengan bertumpu ringan diatas keenam pedang yang berada di bawah telapak kaki nya .
Dari ketinggian sana, Ji Lian Hua melepaskan tendangan berputar secara berkeliling.
Sehingga keenam penyerangnya langsung jatuh tunggang langgang bergelimpangan di atas lantai.
Masing masing dari mereka kehilangan dua gigi geraham dan dua gigi depan.
__ADS_1
Saat mereka berusaha untuk bangun, merasa di dalam mulut mereka ada sesuatu.
Dengan kompak mereka melepehkan nya, seketika terlihat 4 batang gigi bercampur air liur darah tergeletak di depan mata mereka.
Sisa rekan mereka yang lain meski berjumlah cukup banyak, mereka tidak berani ambil resiko menyerang Ji Lian Hua lagi.
Mereka memilih dengan tertib, membantu 7 orang yang tergeletak di atas tanah, agar bisa segera meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka semua nya pergi, penonton yang ikut menonton keramaian satu persatu bubar dari sana.
Tempat itu seketika menjadi sepi, Ji Lian Hua segera memutar badan lalu melangkah masuk kembali kedalam restoran.
Saat Ji Lian Hua memasuki restoran pelayan yang di tolong nya tadi langsung datang menemui Ji Lian Hua.
"Nona terimakasih atas pertolongannya, tapi nona demi keamanan nona, dan kakek nona.."
"Sebaiknya segeralah tinggalkan tempat ini, sebelum masalah besar datang.."
"Mereka itu orangnya banyak, sulit di lawan.."
"Masalah kecil jadi besar, yang benar jadi salah.."
"Tiada gunanya nona tinggal di sini dan ribut dengan mereka.."
"Lebih baik nona segera bawa kakek nona, lekas lekas pergi jauh jauh dari kota Xiang ini.."
Ucap pelayan itu mencoba mengingatkan Ji Lian Hua.
Ji Lian Hua baru saja ingin membantahnya, tapi Yu Ming sudah datang dengan beberapa kantong makanan, yang sudah di bantu bungkuskan oleh pemilik restoran dan karyawannya.
Yu Ming begitu tiba di hadapan Ji Lian Hua segera berkata,
"Hua Er, makanan juga sudah di bungkus, ayo kita pergi saja.."
"Tempat ini memang tak layak di singgahi lama lama, sedikit masalah lebih baik daripada banyak masalah.."
Ji Lian Hua sebenarnya agak kurang puas dengan sikap Yu Ming yang takut masalah.
Tapi dia tidak mau berbantahan dengan nya.
Sehingga Ji Lian Hua mengangguk saja, lalu dia segera mengikuti Yu Ming berjalan meninggalkan tempat itu.
Tapi saat mereka ingin menuju pintu gerbang kota, langkah mereka terhenti oleh 7 orang berpakaian putih, yang membawa orang cukup banyak menjaga ketat pintu gerbang.
Begitu melihat Yu Ming dan Ji Lian Hua tiba, ke 7 orang berpakaian putih, mereka segera maju menghadang di depan Ji Lian Hua dan Yu Ming .
"Tahan..!"
Ucap salah satu dari ke tujuh orang itu, yang rata rata berusia 60an.
"Kalian berdua menyerahlah dan bersiaplah ikut dengan kami menuju perguruan Pedang Tanpa Tanding.
__ADS_1
Yu Ming menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf, kami cucu dan kakek, sedang terburu-buru.."
"Mohon pengertiannya, biarkanlah kami.lewat.."
Salah satu dari ketujuh orang yang bermata biru, dia berkata,
"Tidak bisa, saudara bila butuh cepat, saudara boleh saja pergi. sendiri..."
"Tapi cucu perempuan mu ini Dia harus di tinggalkan di sini.."
"Dia tidak boleh mengikuti mu pergi dari sini begitu saja, tanpa menjalani hukuman yang akan di jatuhkan oleh ketua Sekte kami yang Agung."
"Atas semua dosa dosa yang berani merendahkan Sekte Pedang Tanpa Tanding."
Ucap pria bermata biru itu tegas.
Yu Ming yang merasa urusan sudah jadi seperti ini, dia melangkah mundur dan berkata,
"Aku berbaik hati, tapi kalian memaksa.."
"Apa boleh buat, Hua er majulah tapi sebisanya jangan membunuh mereka.."
Ucapan Yu Ming membuat tujuh pria paruh baya itu, terlihat kurang senang.
Karena dari ucapan Yu Ming itu, seakan akan menggambarkan mereka bertujuh sudah pasti bukan lawan dari cucu perempuannya.
"Manusia sombong kalian layak di beri pelajaran..!"
Bentak orang kedua dari tujuh orang yang pria paruh baya, yang di utus untuk menghadang dan menangkap Ji Lian Hua, di bawa ke markas mereka.
Ji Lian Hua yang tahu ke tujuh orang, yang berada di hadapannya ini tidak mudah di hadapi.
Ji Lian Hua tidak berani bersikap seperti sebelumnya.
Dia langsung menghunuskan pedang langitnya, yang memancarkan hawa dingin menusuk tulang.
Orang pertama yang bermata biru, berkata pelan,
"Pedang bagus .!"
"Berhati hatilah, bentuk formasi bintang biduk.."
Ketujuh orang itu segera bergerak menyebar membentuk rangkaian posisi 7 bintang yang saling bertaut.
Setelah itu satu persatu mereka mulai terbang menyerang Ji Lian Hua mengikuti posisi tujuh bintang.
Pedang pedang mereka datang menyerang silih berganti tiada putus
Ji Lian Hua di paksa untuk terus menerus hanya bisa menangkis menghindar tanpa bisa membalasnya.
__ADS_1
Tapi meski begitu pertahanan Ji Lian Hua sangat rapat, tidak semudah itu, mereka bisa menembusnya.