
Saat baunya sampai ke indra penciuman Yu Ming , Yu Ming seketika kembali di buat muntah muntah.
"Hoeeekk..! Hoeeekk..!"
Tapi tetap tidak ada yang bisa Yu Ming muntahkan, yang dia rasakan adalah sakit yang menjadi jadi dan perut yang semakin kram.
Tiba-tiba Yu Ming melihat wajah mahluk yang sedang bertengger di kepala nya, sedang menatap tajam kearah nya.
Mampus batin Yu Ming, dia buru-buru memejamkan matanya.
Untung saja, dia cepat melakukan hal itu.
Sehingga bola mata nya selamat dari Patukan paruh burung hitam jelek itu.
Tapi meski matanya terlindungi, pelupuk matanya tidak terselamatkan.
Luka lecet berdarah segera menghiasi pelupuk mata Yu Ming .
"Aduhhhhh..!"
Teriak Yu Ming secara reflek bergerak kesakitan.
Burung sialan itu kaget oleh suara kesakitan Yu Ming, dan pergerakan tubuh Yu Ming .
Sehingga dia segera terbang menjauhi Yu Ming.
Yu Ming sedikit bisa bernafas lega, tapi dia masih was was, burung sialan itu akan kembali lagi menganggu nya.
Tapi penderitaan Yu Ming sepertinya akan berakhir di kerjain oleh burung itu.
Karena Yu Ming yang tergeletak di atas tanah, dia bisa mendengar dengan jelas langkah kaki, sedang mendekati tempat di mana, dia terbaring tak berdaya.
Awalnya Yu Ming sempat was was, karena mengira yang datang mungkin mahluk buas lainnya .
Tapi setelah dia mendengar yang datang adalah suara beberapa wanita muda.
Hatinya seketika menjadi jauh lebih tenang.
Tapi sesaat kemudian, begitu Yu Ming mendengar suara lainnya, yang menegur, beberapa suara wanita pertama tadi.
Suara itu tidak mungkin bisa Yu Ming lupakan.
Seketika pias lah wajah Yu Ming .
"Ini benar benar musuh bebuyutan lama, datang mencari sampai depan pintu rumah.."
Batin Yu Ming .
Mengapa bisa begitu pas, nasib sungguh pandai mempermainkan dirinya..
Cepat tidak, lambat tidak, harus pilih waktu seperti ini, di saat dia sedang seperti ini, nenek peot itu malah muncul..
"Sekali ini tamatlah sudah.."
Batin Yu Ming dalam hati.
__ADS_1
"Hei lihat,..! di sana ada orang..!"
"Ya sepertinya terluka parah, tidak tahu hidup atau mati..!"
"Ayo coba kita periksa kesana.."
Ucap beberapa suara wanita saling bersahutan.
Sejenak kemudian segera terdengar suara langkah kaki menghampiri di mana posisi Yu Ming berada.
Sebuah suara yang Yu Ming kenal kembali berkata, mengingatkan beberapa wanita yang sedang menghampirinya.
"Mengapa bisa ada orang yang terluka di tempat terpencil begini..!?"
"Kalian bertiga berhati hatilah,..!"
"Awas jebakan.!"
Belum selesai ucapan peringatan tersebut.
Kini terdengar beberapa suara wanita itu berkata, sambil menunjuk kearah Yu Ming dengan ekspresi yang sulit di lukiskan.
Ada rasa terkejut, gembira, marah, benci, kesal dan bersyukur, bercampur aduk menjadi satu.
"Guru lihat,..! ternyata ini dia..!"
"Ya guru ternyata di brengsek jahanam itu..!"
"Wah ini benar benar pucuk di cinta ulam pun tiba, guru..!"
"Hi..hi..hi..hi...!"
"Mampus kamu sekali ini,..!"
"Guru kelihatannya dia terluka parah dan mengalami kelumpuhan..!"
Ucap ke 6 gadis yang pernah di masukkan kedalam kerangkeng babi oleh Yu Ming saling bersahutan.
Mereka terlihat sangat puas dan menikmati kondisi, yang sedang Yu Ming alami.
Mereka semua kini, sedang membayangkan siksaan apa, yang paling cocok buat Yu Ming .
Akhirnya wanita yang di panggil guru, oleh ke 6 gadis itu tiba, benar tebakan Yu Ming tidak salah lagi.
Dia lah ketua Thian Cien Pai , Thian Cien Sen Ni masih terhitung bibi guru Yu Ming .
Thian Cien Sen Ni yang hadir bersama Ji Lian Hua, dia menatap dingin kearah Yu Ming, yang sedang mencoba tersenyum canggung, menyapa kehadiran musuh bebuyutan nya itu.
"Akhirnya kamu ada juga bernasib seperti ini, Lao Thian sungguh punya mata.."
Ucap Thian Cien Sen Ni sambil tersenyum mengejek.
Ji Lian Hua tidak berkata apa-apa, ada rasa kasihan dibalik tatapan mata dinginnya, melihat keadaan Yu Ming yang seperti saat ini.
Melihat hal tersebut, hati Yu Ming sedikit hangat, tapi Yu Ming tentu tidak berani menunjukkan perasaannya di depan nenek peot itu.
__ADS_1
Dia tidak mau menyeret Ji Lian Hua, ikut dalam masalah pribadinya dengan nenek peot yang tiada habisnya itu.
Yu Ming sambil tersenyum canggung, menanggapi ucapan Thian Cien Sen Ni dengan sindiran halus.
"Bibi guru bagaimana kabar mu, lama tak bertemu..?"
"Meski temperamen masih sama, tapi kelihatannya semakin sehat dan awet muda..?"
Thian Cien Sen Ni tersenyum sinis dan balas menyindir,
"Berkat doa dari mu, aku cukup sehat dan cukup baik.."
Selesai berkata, Thian Cien Sen Ni sambil tersenyum sinis, Dia lalu menoleh kearah keenam muridnya, dan berkata,
"Kalian berenam,.. kenapa diam saja, ?"
"Ayo cepat berikan pelayan terbaik untuk pangeran kecil kita ini.."
"Aku mencium ada bau busuk di diri nya, cepat kalian berikan pelayanan di kolam sana, tapi jangan sampai mati.."
"Hari depannya masih panjang, aku masih membutuhkan nya.."
"Setelah ini, kita bawa dia kembali ke Thian Cien Pai, agar bisa di berikan pelayanan lebih baik.."
Ucap Thian Cien Sen Ni dengan nada dingin, senyum mengejek terlihat mewarnai wajahnya yang sinis.
Yu Ming tidak bisa berkata-kata, selain mengeluh didalam hati, akan nasibnya yang malang.
Di mana Lao Thian tidak berhenti mempermainkan nya, seakan akan tidak pernah puas. Bila tidak melihat dirinya menjadi lelucon di dunia fana ini..
Yu Ming langsung di seret dengan kasar oleh dua diantara 6 gadis Thian Cien Pai .
Mereka berdua dengan kasar menarik sepasang kaki Yu Ming, tanpa memperdulikan rintihan tertahan penuh kesakitan Yu Ming .
Mereka sambil tertawa-tawa, menyeret Yu Ming menuju kolam air terjun, yang jaraknya ada sekitar 20 meteran dari posisi Yu Ming terbaring sebelum nya
Posisi tulang punggung yang banyak patah dan retak, bergerak sedikit saja terasa sakit luar biasa.
Apalagi kini di seret secara paksa, sakit yang Yu Ming derita sudah tidak bisa di gambarkan lagi.
Bila bukan karena dia sudah di tempa secara luar biasa oleh Wang Wu gurunya.
Yu Ming mungkin sudah tidak akan sanggup bertahan hingga saat ini.
Setelah tiba di tepi kolam, kedua gadis Thian Cien Pai itu, dengan sadis menarik kedua kaki Yu Ming keatas.
Kemudian dalam posisi terbalik, dengan kepala menghadap kebawah, kaki menghadap ke atas.
Yu Ming di tenggelam kan kedalam kolam, mereka membiarkan Yu Ming meronta ronta penuh kesakitan dan penderitaan.
Baru saat dirasa Yu Ming sudah lemas, tidak banyak bergerak lagi, mereka baru menariknya keatas.
Mereka membiarkan Yu Ming batuk batuk dan muntah muntah penuh kesakitan.
Hal itu di lakukan berulang-ulang, hingga mereka bosan dan capek, baru di oper ke saudari mereka yang lain untuk melanjutkan nya.
__ADS_1