
Selesai membaca surat itu, Siao Cui dengan wajah basah airmata segera berlari menuju kamar suaminya.
"Istri ku kamu kenapa, di mana Ming Er..?"
Tanya Xiong Yi heran, saat melihat kedatangan istrinya datang tanpa Yu Ming dan terlihat sangat sedih.
"Suami ku, baca ini.."
"Dia sudah pergi, dia meminta kita tidak mencarinya.."
"Katanya dia lakukan semua demi kebahagiaan kita semua.."
"Ahh anak bodoh itu, .. mengapa dia lakukan itu.."
"Bagaimana aku bisa bahagia, bila dia tidak ada di sisi ku.."
"Bagaimana aku harus menghadapi almarhum ibu nya, bila sesuatu yang buruk terjadi dengan nya..?"
Ucap Siao Cui sambil menangis sedih dalam pelukan suaminya..
Xiong Yi sambil memeluk istri nya, dia membaca surat yang di berikan oleh Siao Cui barusan.
Selesai membaca, Xiong Yi menaruh kertas itu diatas meja.
Dia lalu membelai kepala istrinya dengan lembut dan berkata
"Istri ku,.. kamu salah,.. anak kita itu tidaklah bodoh.."
"Sebaliknya dia sangat pintar.."
"Untuk anak yang baru berusia 8 tahun, bisa berpikir sampai sejauh ini.."
"Ini benar benar sungguh sulit di percaya.."
Ucap Xiong Yi pelan.
Siao Cui masih menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Suami ku, kamu juga tahu dia baru 8 tahun, bagaimana dia bisa menanggung semua ini.."
"Tidak suami ku, aku ingin pergi mencarinya.."
Ucap Siao Cui tiba tiba sambil melepaskan pelukannya.
Xiong Yi menghela nafas panjang dan berkata,
"Istri ku, bukan aku tidak sayang dengan Ming Er.."
"Bukan aku tidak ingin membantu dan mengecilkan semangat mu.."
"Tapi kamu harus lihat kenyataan yang ada, dan harus belajar menerimanya.."
"Kamu lihat kondisi ku saat ini, aku belum bisa menunggang kuda mengejar kepergian nya.."
"Bahkan dengan kereta sekalipun, aku mungkin tidak sanggup.."
"Sedangkan kamu, kamu tidak bisa menunggang kuda.."
"Bagaimana cara kamu akan menyusulnya..?"
"Dia pergi pasti udah dari semalam, jalan yang diambil arahnya saja kita tidak tahu, bagaimana mau mencari nya.."
__ADS_1
"Kita akan seperti mencari jarum di dasar laut.."
Siao Cui menatap suami nya dengan sedih dan berkata,
"Tapi aku tidak bisa berpangku tangan, melihat dia yang masih kecil pergi seorang diri menempuh bahaya.."
"Aku tidak bisa suami ku ."
Xiong Yi terdiam tidak tahu mau berkata apa.
Dia tahu kekerasan hati istri nya ini, bila sudah ada kepingin, dia akan sulit melarangnya.
Xiong Yi pelan pelan bangkit berdiri sambil menahan rasa nyeri di perutnya, dia berkata,
"Ayo aku temani kamu pergi mencarinya.."
"Anak itu tidak ingin kita menyusulnya, aku yakin dia pasti akan ambil arah selatan.."
Xiao Cui buru buru maju memapah suaminya dan berkata,
"Tidak bisa, kondisi mu tidak memungkinkan untuk itu.."
Xiong Yi tersenyum pahit dan berkata,
"Kamu tidak bisa tenang, bila tidak menemukannya.."
"Aku juga tidak tenang bila kamu pergi sendiri.."
"Daerah ini aku yang tahu lebih banyak.."
"Sudahlah tidak apa-apa, jangan menundanya lagi, ayo kita berangkat.."
Dia sulit mengambil keputusan.
Tiba tiba pintu terbuka dari luar, Bibi Lan berjalan masuk dan berkata,
"Siao Cui kamu jangan gila, apa kamu ingin mengurus pemakaman suami mu baru puas..!?"
"Apa kamu tidak mengerti juga maksud dan niat baik dari Ming Er..?"
"Apa kamu mau menyia nyia kan semua pengorbanannya.."
"Buka mata mu, lihat baik baik itu luka suami mu mulai berdarah..!"
Bentak Bibi Lan sambil menunjuk kearah luka di samping perut Xiong Yi, yang memang sangat parah.
Siao Cui segera mengikuti arah telunjuk bibi Lan, dia segera kaget saat melihat luka suaminya yang di perban mulai kembali berdarah.
Dia buru buru memapah suaminya kembali kearah ranjang dan berkata,
"Maafkan aku suami ku, aku yang terlalu keras kepala.."
"Aku sungguh egois, dan tidak memikirkan kesehatan mu.."
Ucap Siao Cui penuh sesal.
Dia berusaha membuka perban di pinggang suaminya, untuk menaburkan obat luka, setelah itu baru dia ganti dengan perban baru.
Xiong Yi menatap istrinya dengan lembut dan berkata,
"Tidak istri ku, kamu jangan berkata seperti itu.."
__ADS_1
"Aku paham.perasaan mu saat ini, aku juga merasakan hal yang sama.."
"Justru keadaan aku yang seperti ini, yang membuat kalian semua ikut menderita.."
Siao Cui menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi, bibi benar lebih baik sekarang kita fokus dengan kesembuhan luka mu dulu.."
"Saat ini kita hanya bisa berdoa pada yang kuasa, agar dia di beri keselamatan.."
Bibi Lan membelai lembut kepala keponakannya dan berkata,
"Kita harus yakin, dia akan mampu tumbuh mandiri,.."
"Dia pasti akan mampu menjaga dirinya sendiri dengan baik.."
Siao Cui mengangguk pelan, dia terus fokus merawat luka suaminya, tidak lagi berani berkeras ingin pergi mencari Yu Ming.
Yu Ming sendiri yang dari semalam tertidur pulas, di salah satu cabang dahan pohon besar.
Dia baru membuka matanya, saat mendengar suara berisik kicau burung di sekitarnya.
Saat matanya terbuka, melihat seekor ular besar muncul tepat di depan wajahnya.
Di mana sepasang mata ular besar, yang mengeluarkan cahaya merah, sedang menatap tajam kearahnya.
Yu Ming terdiam di sana, tidak berani bergerak dan bersuara, hanya bisa menatap kearah moncong ular, yang berada di hadapannya dengan tatapan mata ngeri.
Tiba tiba ular itu membuka Moncong nya lebar lebar bersiap mencaplok Yu Ming.
Saat kepala ular itu bergerak cepat, berusaha mencaplok kearah Yu Ming.
Yu Ming secara reflek, langsung berguling kesamping.
"Ahhhh...!"
"Brukkkk...!"
Saat melihat mangsanya terjatuh ke bawah, dengan gerakan sangat cepat, ular besar itu langsung menyusul mengejar Yu Ming kebawah.
Yu Ming yang baru saja terjatuh ke bawah, belum sempat memperbaiki posisinya, dia sudah harus bergulingan kesana kemari berusaha, menjauhi kejaran ular besar itu.
Ular besar itu terus melakukan pengejaran, dia sepertinya belum.puas, bila tidak berhasil menjadikan Yu Ming sebagai mangsanya.
Yu Ming terus bergulingan hingga tubuhnya tertahan oleh sebatang gelondongan kayu besar, yang tergeletak di sana.
Gelondongan kayu besar itu berasal dari batang pohon besar, yang tumbang karena terlalu tua dan keropos tengahnya.
"Crackkk..!!"
Gelondongan kayu besar itu hancur berantakan di terjang oleh moncong ular besar, yang lagi lagi tidak berhasil mencaplok Yu Ming.
Yu Ming sendiri setelah melompat menghindar kesamping.
Dia segera bangkit berdiri, lalu berlari secepat mungkin, dengan cara Zig Zag berlindung pada pohon pohon besar, yang tumbuh di sekitarnya.
Yu Ming berusaha meloloskan diri dari kejaran ular besar, yang terus mengejarnya dari belakang.
Ular besar yang terus mengejar dan berkali kali mencaplok Yu Ming tapi masih gagal.
Akhirnya dalam satu kesempatan dia menyemburkan cairan hijau kental kearah Yu Ming.
__ADS_1