
Yu Ming di siksa secara bergantian oleh ke 6 gadis Thian Cien Pai, yang membencinya hingga merasuk tulang.
Thian Cien Sen Ni sendiri, tidak ambil perduli, dia lebih memilih mencari sebuah tempat teduh.
Dibawah sebatang pohon besar yang rindang, Thian Cien Sen Ni terlihat duduk bersila dengan sepasang mata terpejam.
Ji Lian Hua yang selalu mengikuti di sisi gurunya, dia menatap iba kearah Yu Ming, yang sedang di siksa secara bergantian oleh ke 6 kakak seperguruannya.
Ji Lian Hua akhirnya tidak bisa menahan diri lagi, saat melihat kondisi Yu Ming semakin mengkhawatirkan.
"Maaf guru, bolehkah aku pergi melihat keadaan tawanan kita.."
"Takutnya ke 6 kakak seperguruan, mereka terlalu dendam dengan nya, tanpa sengaja menewaskannya.."
"Hal ini tidak akan mendatangkan untung apapun buat kita.."
Thian Cien Sen Ni membuka matanya, dia menatap tajam kearah Ji Lian Hua, seakan akan ingin menjenguk isi hati muridnya tersebut.
Ji Lian Hua buru buru menundukkan kepalanya, lalu mengangkat kedua tangannya keatas, untuk memberi hormat kearah gurunya.
Dia berusaha bersikap setenang mungkin.
Thian Cien Sen Ni menatap kearah muridnya lekat lekat, dan berkata dengan suara sedingin es.
"Apa maksud mu ?"
"Apa kamu mulai menyukainya..?"
Ji Lian Hua buru buru menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Maaf guru, bukan seperti itu.."
"Murid hanya bertindak demi kepentingan guru.."
"Bila guru tidak ijinkan, murid pun tidak akan berani ikut campur.."
Thian Cien Sen Ni wajahnya sejenak melembut, dia berkata,
"Berdirilah,.. jelaskan apa pemikiran mu..?"
Ji Lian Hua diam diam menghela nafas lega.
Sambil berusaha bersikap setenang mungkin dia berkata,
" Begini guru, bila dia langsung tewas di sini..bukan kah permainan jadi tidak menarik lagi.."
"Guru saja belum sempat menyiksanya, untuk meredakan emosi, ehh,.. tawanan malah sudah mati.."
"Apa ini tidak terlalu di sayangkan..?"
__ADS_1
"Selain itu bila kematiannya, terdengar oleh gurunya dan paman Jiang Je Ya, yang sepertinya agak membelanya.."
"Bukankah tidak mendatangkan keuntungan, malah mendatangkan masalah di kemudian hari buat kita .?"
Thian Cien Sen Ni terdiam sejenak, sesat kemudian dia pun tersenyum dan berkata,
"Untung ada kamu, yang pemikirannya lebih teliti."
"Baiklah,.. kamu pergilah kesana, hentikan kakak kakak mu, jangan sampai mereka menewaskannya.."
"Itu hukuman terlalu enak bagi nya.."
"Aku harus membawanya ke Thian Cien Pai, di siksa secara perlahan lahan."
"Untuk melampiaskan dendam ku, agar simpul dendam di hati ku, bisa terlepas.."
Ji Lian Hua segera memberi hormat dan berkata,
"Siap laksanakan guru.."
Setelah memberi hormat, Ji Lian Hua buru buru menyusul kearah kolam air terjun.
Di luar dia bersikap datar, padahal di dalam hati dia sangat girang.
Karena rencana penyelamatan nya secara diam diam berhasil.
Dia saat ini tidak ada waktu untuk berpikir banyak, dia hanya bisa melangkah satu, baru berhitung dan memikirkan langkah selanjutnya.
Dia sudah tidak bisa memikirkannya sampai kesana, yang penting saat ini Yu Ming selamat dulu.
Hal lainnya saat muncul, dia baru akan pikirkan solusinya.
Ji Lian Hua saat tiba di pinggir kolam air terjun,
Dia segera berteriak keras, untuk mengatasi bunyi suara jatuhnya air terjun, yang membentur bagian tengah kolam sana.
"Kakak,..! kakak sekalian,..! dengarlah..!"
"Guru ada perintah, ! segera hentikan kegiatan kalian..!"
"Awas jangan sampai dia mati, atau kalian akan mendapatkan marah dari guru...!"
Ucapan Ji Lian Hua yang lantang dan membawa bawa nama guru nya.
Ternyata cukup efektif, untuk menghentikan kegiatan ke 6 kakak seperguruannya, yang sedang bersemangat menyiksa Yu Ming .
Meski sedikit tidak puas, akibat kesenangan mereka terganggu oleh perintah dari Ji Lian Hua.
Tapi karena Ji Lian Hua datang membawa nama gurunya, tentu saja mereka tidak berani melawan ataupun membantah nya.
__ADS_1
Mereka dengan kasar segera melemparkan tubuh Yu Ming, yang basah kuyup dengan rambut riap riapan kearah Ji Lian Hua.
Ji Lian Hua terpaksa menyambutnya, lalu dia memanggul tubuh Yu Ming, yang sedang kehilangan kesadaran nya.
Membawanya menuju tempat yang lebih kering, di sana Ji Lian Hua terpaksa menurunkan Yu Ming , di biarkan tergeletak begitu saja di tempat tersebut.
Dia tidak terlalu berani menunjukkan perhatiannya, takut niat di hatinya di ketahui oleh gurunya.
Yu Ming saat sedang di turunkan oleh Ji Lian Hua, dua merasakan nyeri yang luar biasa, terutama di bagian tulang punggung nya.
Sehingga Yu Ming jadi siuman dari pingsan nya, sambil menahan rasa nyeri di punggungnya, Yu Ming berkata pelan,
"Terimakasih banyak Hua er.."
Ji Lian Hua berpura-pura tidak mendengar, juga tidak menjawabnya.
Setelah menggeletakkan Yu Ming di tempat tersebut, dia segera pergi menyusul ke tempat gurunya bermeditasi.
Ji Lian Hua meski tidak berkata apa-apa, tapi di dalam hati dia tersenyum senang.
Dia sendiri juga tidak mengerti, mengapa ucapan sederhana dan singkat itu, membuat hatinya terasa sangat nyaman.
Terutama panggilan Hua er itu, dia tidak tahu kenapa, bisa merasa begitu akrab dengan panggilan tersebut, dan dia benar benar sangat menyukainya.
Tapi semua ini tentu hanya berani Ji Lian Hua ungkapkan dalam pikirannya sendiri, tanpa ada yang tahu.
Bahkan sekedar tersenyum pun dia tidak berani menunjukkan nya.
Beberapa waktu setelah merasa cukup beristirahat, Thian Cien Sen Ni segera memerintahkan murid nya, agar mengikuti nya melanjutkan perjalanan mereka. Kembali ke Feng Huang San, yang merupakan markas pusat sekte Thian Cien Pai .
Yu Ming yang malang, karena tidak mampu bergerak sendiri.
Awalnya dia di seret seret secara kasar.
Tapi cara itu terlalu melelahkan, jadi setelah keluar dari dalam hutan.
Thian Cien Sen Ni menyuruh salah satu dari 6 muridnya utamanya pergi membeli sebuah kereta kuda .
Tapi saat kembali, murid itu tidak hanya membeli sebuah kereta kuda.
Dia bahkan melengkapinya dengan sebuah kerangkeng bekas babi, di dalam kereta.
Setelah nya Yu Ming yang malang, tentu saja langsung mendapatkan rejeki pertama, mencoba kerangkeng kotor bekas babi itu.
Yu Ming tentu saja tidak berdaya menolaknya, meski sangat jijik dan berulang kali menjulurkan lidahnya ingin muntah.
Tapi pada akhirnya, dia terpaksa menerima semuanya dengan pasrah.
Saat rombongan tersebut tiba di tepi sungai Han, mereka sempat melihat ramai ramai rakyat, sedang melakukan upacara sembahyang di tepi sungai tersebut.
__ADS_1
Thian Cien Sen Ni tidak ambil pusing, dia langsung melewatinya begitu saja.
Dia tidak tertarik dan ingin tahu lebih jauh, dengan kegiatan yang sedang di lakukan oleh masyarakat setempat.