
Hung hai Kun, si tombak sakti, yang kini kehabisan Chi, mendapat tendangan keras di punggung seperti itu.
Dia langsung jatuh mencium lantai, saat mencoba untuk bangun, dia terbatuk batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tanpa menghiraukan keadaan Hung hai Kun, si tombak sakti, mereka bertiga malah tertawa mengejeknya.
"Lihat tampang mu itu, bukannya pergi bercermin.."
"Malah kemari untuk memaksa menghadap majikan, bukannya mikir apa kamu masih layak..?"
"Ehh malah maksa.."
Ucap orang pertama dari ketiga orang itu.
"Sudah cepat pergi sana, sebelum kami kehabisan kesabaran, kami patahkan kaki dan tangan mu.."
Dan melempar mu kedalam telaga buat mangsa ikan.."
Tegur orang kedua.
Orang ketiga maju meludah kearah Hung hai Kun, si tombak sakti, dan berkata,
"Sudah tugas gagal, masih berani pulang kemari.."
"Dasar tidak tahu malu..!"
"Kami pikir kami bodoh apa,..paling paling kamu ingin ketemu majikan minta bantuan di pulihkan bukan begitu..?'
"Mimpi kamu,..! cepat enyah..!"
Ucap orang ketiga, sambil mencopot sepatu nya, lalu dia lemparkan kearah kepala Hung hai Kun, si tombak sakti.
Seperti dia melempari seekor anjing atau kucing yang datang menganggu nya sedang makan.
"Plookkk..!"
Sepatu mendarat telak di belakang Hung hai Kun, si tombak sakti.
Meski kepalanya sampai tersuruk kedepan, tapi rasa sakit di hati Hung hai Kun, si tombak sakti, lebih sakit daripada nyeri di bagian kepala belakangnya.
Dengan langkah terhuyung-huyung Hung hai Kun, si tombak sakti, melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa bersuara.
Kepergiannya hanya di hantarkan oleh suara gelak tawa ketiga orang itu, yang sangat menyakitkan.
Tapi Hung hai Kun, si tombak sakti menyadari kondisinya, dia menahan diri untuk tidak melayani mereka.
Agar tidak mati konyol di tempat ini, kini dia mulai menyesali kebodohan dirinya yang tidak bisa melihat jelas wajah asli orang yang di ajak berteman.
Segala puja puji, mulut manis telah membuatnya terlena dan bersedia mengabdikan diri pada seekor serigala berbulu domba.
Tapi penyesalan selalu datangnya terlambat, saat ini nasi sudah jadi bubur.
__ADS_1
Dia hanya bisa menelan semua buah kebodohan dirinya sendiri.
Dengan langkah putus asa, dan agak sempoyongan Hung hai Kun, si tombak sakti berjalan keluar dari dalam gedung mewah itu.
Berbeda dengan saat masuk tadi, dia masih diantar dengan sikap penuh hormat.
Kini saat dia keluar, bahkan sekedar di lirik pun tidak.
Hung hai Kun, si tombak sakti, harus mendorong dan mengayuh sendiri, perahu kecil yang tersedia di sana untuk menyeberangi telaga.
Perahu bergerak pelan meninggalkan tempat itu menyeberangi telaga luas.
Setelah sampai di seberang telaga Hung hai Kun, si tombak sakti, dia berjalan meninggalkan tempat itu dengan wajah lesu.
Seperti ayam aduan, kalah tarung di arena, dia terlihat begitu kuyu dan tidak lagi bersemangat.
Baru memasuki kawasan hutan bambu kuning, Hung hai Kun, si tombak sakti sudah tidak sanggup melanjutkan langkahnya lagi.
Dadanya terasa sakit, nafasnya sesak hingga sulit bernafas, tiba-tiba tubuhnya limbung, pandangan matanya gelap.
Dia tentu akan langsung jatuh tersungkur keatas tanah, bila Yu Ming tidak muncul di sana menyambut tubuhnya.
Beberapa waktu berlalu saat menjelang tengah malam, Hung hai Kun, si tombak sakti.
Akhirnya siuman dari tidur panjangnya.
Begitu bangun tidur, sepasang matanya menatap heran ke sekitar ruangan kecil di mana dirinya berada.
Dia mendapati kenyataan, bahwa dadanya, tidak lagi sakit.
Luka dalamnya sudah sembuh.
Saat dia mencoba untuk duduk bersila dan mengatur nafas, Hung hai Kun, si tombak sakti, sangat kaget.
Dia mendapati kenyataan bahwa seluruh tenaga saktinya sudah kembali pulih total.
Dengan wajah heran, Hung hai Kun, si tombak sakti segera turun dari ranjang dan berjalan keluar dari dalam ruangan bilik kecil itu.
Begitu keluar dari bilik ruangan kecil, Hung hai Kun, si tombak sakti mendapat kenyataan bahwa dirinya saat ini sedang berada diatas sebuah kapal.
Hung hai Kun, si tombak sakti buru buru menyusul kearah geladak kapal.
Di sana dengan wajah semakin heran dan penuh tanda tanya, dia melihat bahwa yang saat ini ada di hadapannya adalah Yu Ming dan Ji Lian Hua yang pernah dua musuhi.
"Apa mereka ini yang menolong ku, dari dalam hutan bambu kuning sana..?"
Tanya Hung hai Kun, si tombak sakti pada dirinya sendiri.
Selagi dia sedang bingung terdengar suara Yu Ming berkata,
"Saudara Hung kamu sudah bangun,.. bagaimana keadaan mu..?"
__ADS_1
Hung hai Kun, si tombak sakti berjalan menghampiri Yu Ming dan berkata,
"Keadaan ku sangat baik, apa pendekar muda yang telah menolong nyawaku, di dalam hutan bambu sana..?
"Bila ya, terimalah sembah sujud ku, sebagai ucapan terimakasih ku.."
"Harap maafkan aku, bila sebelumnya aku banyak melakukan kebodohan yang menyinggung tuan muda.."
Ucap Hung hai Kun, si tombak sakti sambil berlutut dan bersujud di hadapan Yu Ming .
Yu Ming buru buru membantunya berdiri dan berkata,
"Harap saudara Hung jangan bersikap seperti ini.."
"Ini bukan masalah besar, ini hanya satu pertolongan kecil yang tidak berarti, jadi tidak perlu terlalu di masukkan kedalam hati."
"Ayo berdirilah.."
Ucap Yu Ming sambil membantu Hung hai Kun, si tombak sakti bangkit berdiri.
Hung hai Kun, si tombak sakti menatap Yu Ming dan Ji Lian Hua dengan tatapan mata penuh haru dan penuh penyesalan.
"Bagi pendekar muda mungkin tidak berarti, tapi bagi ku pertolongan ini adalah Budi besar yang tiada Tara.."
"Mengingat apa yang aku lakukan sebelumnya, aku benar benar merasa malu dan menyesal.."
Ucap Hung hai Kun, si tombak sakti, dengan kepala tertunduk.
Yu Ming menepuk pundak Hung hai Kun, si tombak sakti, dan berkata,
"Bila malu mengingat nya, makan jangan mengingatnya.."
"Lupakan saja semua..nya.."
"Dengan begitu tentu saudara Hung akan merasa lebih tenang dan nyaman.."
Hung hai Kun, si tombak sakti menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku Hung hai Kun, adalah seorang kasar ada dendam aku pasti menuntut balas, ada Budi aku juga harus membalasnya.."
"Budi besar pendekar muda, biarlah aku Hung hai Kun membalasnya dengan pengabdian ku.."
"Mulai hari ini nyawa ku adalah milik tuan berdua.."
Ucap Hung hai Kun, si tombak sakti kembali berlutut memberi hormat kepada Yu Ming dan Ji Lian Hua.
Yu Ming membantu Hung hai Kun, si tombak sakti bangkit berdiri dan berkata,
"Aku tidak memerlukan itu, aku hanya punya satu keinginan.."
"Keinginan ku adalah, kembalilah ke jalan kebenaran, pergunakan dengan benar kemampuan saudara Hung."
__ADS_1
"Terutama untuk menolong yang lemah dan tertindas dari yang kuat dan semena mena.."