PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA

PETUALANGAN PUTRA ALAM SEMESTA
LEMBAH TENGKORAK PUTIH


__ADS_3

Yu Ming mengangguk pelan dan berkata,


"Baiklah, kalau begitu aku tidak bersungkan merepotkan paman dan bibi Thio lagi.."


"Selesai makan siang, kami baru akan kembali melanjutkan perjalanan kami.."


"Ayo mari mari,.. kita masuk dan bicara di sebelah dalam saja..."


Ucap Thio Sin Bu, sambil memberi kode pada Afu untuk mengatur segala sesuatu nya.


Terutama barang barang kawalan expedisi mereka, yang ada di depan halaman rumah.


Sementara Yu Ming dan Yang Ni sedang menikmati perjamuan dari Thio Sin Bu.


Di tempat lain nya jauh di pesisir Utara, tepatnya di dalam kota Tian Jin.


Di sana terlihat sedang terjadi kesibukan luar biasa dari pasukan keamanan kota dan seluruh rakyat kota tersebut .


Mereka terlihat bekerja bahu membahu, membuat pertahanan untuk menghadapi serangan dari pasukan Huo Shu yang mulai bergerak mendekati kota Tian Jin.


Gubernur kota Tian Jin, Li Sun yang pernah mendapatkan surat penawaran kerjasama dengan Huo Shu.


Dia langsung menolaknya mentah mentah, kini dia terlihat sedang berada di lapangan memantau persiapan yang sedang di lakukan oleh bawahan dan masyarakatnya.


Di samping Huo Shu terlihat mendampingi seorang jendral muda, yang tampan dan gagah perkasa. Dalam balutan seragam militernya yang gemerlap tertimpa cahaya matahari siang hari yang terik.


Selain pemuda itu, masih ada pasangan pendekar berpakaian y putih, mereka lah pasangan pendekar hitam putih yang menjadi orang tua Yang Ni.


Sedangkan Jendral muda yang tampan itu adalah murid utama mereka, yang juga sekaligus adalah Calon suami Yang Ni.


Pemuda itu bukan orang sembarangan, dia adalah putra tunggal Gubernur Li Sun yang sangat di hormati di seluruh kota Tian Jin karena kejujuran dan kerendahan hati nya di hadapan semua orang.


Kejujuran tulus yang berasal dari hati nya yang tulus, bukan kejujuran untuk di lihat dan di perhatikan orang dalam rangka mencari pamor dan popularitas.


Ataupun menyimpan maksud tertentu di balik kebaikannya.


Mereka berempat terlihat sibuk berkeliling melakukan inspeksi terhadap persiapan yang sedang di kerjakan.


Bila ada yang kurang Jendral muda yang bernama Li Tek itu akan memberikan pengarahan dan memberikan contoh dan penjelasan mengapa harus di buat seperti itu.


Bila yang bekerja paham, dia akan berpindah untuk melakukan inspeksi ketempat lain nya.


Di saat mereka sedang melakukan inspeksi, terlihat seorang prajurit berkuda melarikan kudanya dengan cepat sambil berteriak,


",Laporan darurat militer..!"


Saat kuda sudah mendekati posisi gubernur Li Sun dan putranya Li Tek.


Prajurit itu segera menghentikan laju kudanya, lalu melompat keatas tanah berlari menghampiri posisi Li Sun dan Li Tek berada.


Saat tiba di hadapan Li Sun, prajurit itu segera menyerahkan gulungan kertas itu, dalam posisi berlutut.


Li Sun dengan sikap tenang menerimanya, dan berkata,


"Terimakasih kamu telah bersusah, pergilah beristirahat dulu sejenak.."

__ADS_1


"Sebelum kembali ke garis depan, melanjutkan bertugas ."


"Terimakasih tuan gubernur.."


Jawab Prajurit itu sambil bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari sana, dengan sikap penuh hormat.


Li Sun mengangguk pelan sambil membuka gulungan surat yang baru di terima nya itu.


Setelah gulungan surat terbuka dan Li Sun membacanya, wajahnya seketika berubah, dia terlihat cemas dan gelisah.


Melihat hal itu, Li Tek segera berkata,


"Apa yang terjadi ayah..?"


Li Sun dengan wajah cemas menyerahkan surat yang di peganginya ketangan putranya.


Selagi L Tek sang jendral muda sedang membaca isi laporan darurat militer dengan sepasang alis berkerut.


Li Sun menoleh kearah pasangan pendekar hitam putih yang hadir di sisinya.


"Pendekar Yang,.. Pendekar wanita Siao.. Tuan putri Ji Lian Hua sedang bergerak kemari membawa pasukan bantuan.."


"Tapi saat ini beliau dan pasukan besarnya terjebak di lembah tengkorak putih.."


"Maju tidak bisa mundur tidak bisa dengan perbekalan yang minim.."


"Kondisi mereka sangat mengkhawatirkan.."


Ayah Yang Ni yang bernama Yang Guo berkata dengan suara tenang,


Li Sun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Alasannya tidak di sebutkan, hanya saja di sebutkan di surat.."


"Tuan putri membawa 300.000 pasukan kemari, sedangkan musuh yang mengepungnya mencapai 500.000.."


"Itu belum termasuk pasukan bantuan dari suku Bei Di yang ganas dan kejam.."


"Mereka selalu bersembunyi di dalam hutan, malam hari baru bergerak, sehingga jumlah mereka sulit di ketahui pastinya.."


Pendekar putih Yang Guo berkata pelan,


"Lalu apa rencana gubernur Li,? apa yang bisa kita lakukan..?"


Gubernur Li Sun terdiam sejenak, dia menunggu hingga putranya selesai membaca isi laporan.


Dia baru berkata,


"Putra ku,.. bagaimana menurutmu..?"


Li Tek terlihat sedang berpikir keras, akhirnya dia berkata dengan suara tegas..


"Ayah guru, saya akan bawa 50.000 personil, pergi membantu menyelamatkan Tuan Putri dan pasukannya.."


"Agar bisa mundur kemari, dengan selamat."

__ADS_1


"Selama aku tidak ada, pertahanan kota aku titipkan kepada ayah dan guru .."


Li Sun menatap putra nya dengan khawatir dan ragu,


"Putra ku, kita di sini ada kekuatan sekitar 200.000 pasukan..kenapa kamu cuma bawa 50.000 saja..?"


"Lawan sampai 10 kali lipat dari mu.. bagaimana kamu akan melawan mereka..?"


Li Tek membalas menatap ayahnya dan berkata,


"Ini keputusan sulit ayah.."


"Menyelamatkan tuan putri penting, tapi menjaga kota ini agar tidak jatuh ketangan lawan itu jauh lebih penting.."


"Aku tidak mau di saat kita terpancing fokus memberikan bantuan kesana, mereka malah menyerang kemari.."


"Itu akan membuat semuanya menjadi sia sia.."


Li Sun mengangguk paham dengan penjelasan dan pertimbangan putranya.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Tapi anak ku, sebaiknya biarlah guru mu ikut mendampingi mu.."


Li Tek menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak perlu ayah, aku bukan ingin menyerang frontal.."


"Aku hanya pergi mengamati situasi.."


"Biarlah guru berdua di sini mengawal ayah saja.."


"Agar kita tidak sampai kecolongan oleh tipu muslihat Huo Shu.."


Gubernur Li Sun menghela nafas panjang dan berkata,


"Baiklah putra ku, kalau begitu kamu berhati hatilah.."


"Tetap rutin kabari keadaan mu, komunikasi jangan sampai putus.."


Li Tek mengangguk, setelah memberi hormat kepada ayah dan gurunya.


Li Tek segera meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki lebar.


Pergi untuk menyiapkan segala sesuatu nya, sebelum bergerak kearah Lembah tengkorak putih.


Di katakan seperti itu, karena lembah itu, bila di amati dari ketinggian bukit.


Lembah yang penuh dengan bebatuan putih, akan terlihat seperti hamparan tengkorak putih kepala manusia yang berserakan memenuhi tempat itu.


Ji Lian Hua saat ini bersama pasukannya, terjebak di lembah yang tandus dan kering kerontang ini.


Mereka sudah berulang kali mencoba menerobos kepungan, tapi hujan anak panah dan batu di mulut lembah yang sempit.


Selalu membuat mereka terpukul mundur kembali, ke lembah tandus tersebut.

__ADS_1


__ADS_2