
Xiong Yi sejenak berdiri bengong seakan tak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnya saat ini.
Putranya yang sudah hilang selama sepuluh tahun, hingga dia dan istrinya sudah pasrah merelakan kepergiannya.
Di mana mereka menganggap putra pertama mereka itu telah tiada di dunia ini lagi.
Ternyata kini sudah kembali menjadi seorang pemuda dewasa yang begitu gagah sedang bersujud di hadapan nya.
Teringat hal itu Xiong Yi segera tersadar, dia buru-buru ikut berlutut dan memeluk erat putranya dengan erat.
Airmata bercucuran suara sedu sedan rasa haru bercampur bahagia.
Membuat dia sulit berkata-kata, setelah beberapa saat berlalu, dia segera menoleh kearah pemuda tanggung di belakangnya dan berkata,
"Ai er cepat pulang, kabari ibu mu, kakak mu Ming Er,.. dia telah pulang..!"
"Dia sudah kembali ke sisi kita dengan selamat..!"
"Cepat...! cepat,..!"
"Jangan bengong saja..!"
Tegur Xiong Yi ke putra keduanya.
"Ya...ya...ayah...!"
Jawab Xiong Ai gugup.
Dia buru buru berlari meninggalkan balai desa, kembali kerumah untuk mengabari ibu nya.
Xiong Yi segera membantu Yu Ming bangkit berdiri, lalu dia berkata,
"Bagus,.. bagus.. bisa pulang .. itu yang paling bagus.."
"Ohhh Thian terimakasih akhirnya kamu mendengar dan mengabulkan doa kami juga.."
Ucap Xiong Yi sambil menatap kearah langit.
Yu Ming tersenyum kecut, di dalam hati dia berkata,
"Justru kita seperti ini karena permainan Thian yang tidak adil.."
"Bila bukan karena Thian ingin menghukum ku, tentu kalian orang baik Budi ini tidak akan kena imbas nya."
Tapi semua ini, hanya ada dalam pikiran dan hati Yu Ming saja, dia tidak pernah mengucapkannya sepatah katapun.
Terutama tentang perihal masa lalunya, dia tidak ingin Thian tahu, lalu menjatuhkan hukum langit ke Meng Po, yang hidupnya juga sudah tidak mudah di akherat sana.
Xiong Yi yang tidak tahu jalan pikiran putra pertamanya yang penuh misteri.
Dia segera berkata,
"Ming Er ayo kita masuk kedalam.."
"Lihat aku jadi pikun, dari tadi hanya membiarkan kalian semua berdiri di sini.."
"Ayo semua nya kita masuk dan ngobrol ngobrol di dalam..."
Ucap Xiong Yi gembira .
__ADS_1
Dia kemudian dengan penuh semangat menggandeng lengan Yu Ming mengikutinya masuk kedalam ruangan balai Desa.
Setelah duduk bersama di dalam ruangan, Yu Ming pun buka suara mengungkapkan perasaannya,
"Ayah apa sebenarnya yang terjadi, ? mengapa ayah bisa pindah kemari..?"
Xiong Yi tersenyum pahit, dia menatap kearah yang hadir disana.
Paman Lo mengerti, dia langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kami belum cerita, kami ingin dia dengar langsung dari mulut kepala desa sendiri.."
Xiong Yi mengangguk dan berkata,
"Bagus itu sudah tepat, dalam .asa berbahagia yang harus kita rayakan dengan gembira.."
"Tidak pantas kita bicarakan hal hal masa lalu yang tak berguna.."
"Saat ini yang paling penting, kita sudah hidup aman tentram dan bebas.."
"Asalkan kita semua merasa aman nyaman, buat apalagi kita mengenang yang lalu.."
"Hal hal yang membawa aura negatif itu, sebaiknya di lupakan saja.."
Xiong Yi kembali menatap kearah putra pertamanya, dia memegang tangan Yu Ming erat erat dan berkata,
"Ming Er kamu sudah pulang ayah sangat bahagia, ayah harap kamu tidak pergi pergi lagi.."
"Hiduplah bersama kami dengan tentram dan damai di desa ini.."
"Di sinilah rumah baru kita keluarga kita semua berada.."
Jadi selain mengangguk, Yu Ming sudah tidak bisa melakukan hal lain.
"Ya ayah..Ming Er akan menurut pada ayah..."
"Bagus bagus kamu memang putra ku yang paling baik, ayah ibu benar benar bangga bisa memiliki mu nak.."
Ucap Xiong Yi penuh haru.
Yu Ming tersenyum dan berkata,
"Ming Er juga sangat bangga bisa jadi putra ayah ibu.."
Xiong Yi mengangguk angguk sambil tersenyum haru, dia menggenggam telapak tangan Yu Ming dengan erat dan berkata,
"Nak kamu belum ceritakan pada ayah perjalanan hidup mu selama 10 tahun ini.."
"Ceritakan lah kemana saja kamu pergi selama ini, ? apa pengalaman yang kamu peroleh dalam pertualangan mu selama 10 tahun ini..?"
"Ayah sangat ingin mendengarkan nya nak.."
Baru saja Yu Ming ingin menjawabnya, dari arah pintu terdengar suara wanita berteriak,
"Ming Er...! benarkah itu kamu nak..!?"
Yu Ming segera menoleh kearah pintu.
Melihat Siau Cui ibunya yang cantik, kini sebagian rambutnya, sudah berubah menjadi abu abu.
__ADS_1
Ibu yang menjadi penyelamat hidupnya,. membesarkan nya dengan penuh kasih sayang berdiri dengan airmata bercucuran di sana.
Yu Ming segera pergi menghampirinya dan bersujud di depan kaki wanita yang sangat berjasa dalam hidup nya itu.
"Benar ibu, ini Yu Ming, putra mu yang tidak pernah melaksanakan baktinya.."
"Putra mu yang berdosa kini sudah pulang, untuk meminta maaf pada mu Bu..."
Ucap Yu Ming dengan suara bergetar penuh haru.
Airmata nya jatuh bercucuran tak terbendung lagi.
Dia tidak kuasa menahan nya lagi.
Siau Cui langsung ikut duduk bersimpuh disana, dia langsung menarik Yu Ming kedalam pelukannya.
Meski Yu Ming kini telah dewasa, tapi di matanya mata seorang ibu,.Yu Ming tetap masih adakah Yu Ming nya yang dulu.
Yu Ming kecilnya yang kecil lemah tapi pemberani dan penuh pengertian dan sangat bertanggung jawab.
Sambil memeluk Yu Ming erat erat dengan airmata membasahi wajah, dia berkata,
"Ming Er,.. katakanlah Ibu tidak sedang mimpi kah..!?"
"Ohh putra ku, kamu kah itu..?!"
"Kamu tidak boleh menipu ibu nak..!"
"Ibu..ibu...!"
Ucap Siau Cui belum selesai, dia sudah tidak sanggup melanjutkan nya.
Dia keburu menangis menguguk , sambil memeluk erat erat Yu Ming.
Seolah olah bila terlepas, dia takut Yu Ming akan kembali di rengut pergi dari sisinya.
Kasih sayang Siau Cui ini, secara tidak langsung mengingatkan Yu Ming akan kasih sayang kedua ibunya di kahyangan sana.
Sehingga dia sekaligus melepaskan rasa kangennya ke ibu Siau Cui.
Karena saat ini selain Siau Cui dia sudah punya ibu yang lainnya di dunia baru ini.
Dengan suara sedikit bergetar dan serak, karena di liputi perasaan hari di hatinya.
Yu Ming menjawab pelan,
"Tidak Bu ini benar Ming Er.."
"Ming Er telah kembali Bu.."
"Maafkan Ming Er Bu, Ming Er janji tidak akan membuat ibu bersedih.lagi.."
Siao Cui menggelengkan kepalanya, lalu berkata penuh rasa syukur.
"Ahhh Ming Er putra ku, akhirnya kamu kembali juga.."
"Puji syukur pada Thian, akhirnya kamu menjawab doa kami juga.."
"Terimakasih Thian,.. terimakasih.."
__ADS_1
Ucap Siau Cui penuh khidmat.