Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 9 : Kesempatan


__ADS_3

Sesederhana ini, indahnya mencintai? Dipanggil pakai nama saja sudah seneng banget!


Bab 9 : Kesempatan


Sesuai perkataannya, Yuan masih menunjukkan kesungguhannya menjadi teman baik Keinya. Bahkan demi menggantikan Keinya menjaga Pelangi dikarenakan wanita itu akan menjalani pengobatan kaki, Yuan sampai belajar menggendong Pelangi. Pria itu benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Pun meski rasa gugup lantaran sebelumnya belum pernah menjaga bayi, membuat cara menggendongnya masih sangat kaku.


Ada beberapa orang yang sampai tertawa meski tidak dengan tawa keras hanya karena melihat usaha Yuan. Kebanyakan dari mereka akan bergunjing setelah memperhatikan Yuan. Namun kemudian mereka akan tertawa karena gemas. Tak jarang, sebagian dari mereka juga memberi Yuan senyum memuji karena kagum, Yuan masih tetap berusaha belajar kendati untuk menggerakkan kedua tangannya yang mendekap Pelangi saja terlihat ragu bahkan takut. Meski begitu, ada juga yang menghujat usaha Yuan dengan tegas.


“Suami idaman, nih!”


“Lucu, ya? Lagi usaha tuh si Papa muda!”


“Dasar laki-laki, gendong anak saja nggak becus! Bisanya cuma bikin doang!”


Bukan hanya Yuan yang mendengar semua itu. Karena Keinya yang masih ada di sebelahnya juga mendengarnya. Hanya saja, Keinya memang tidak menanggapi. Tidak ada perubahan berarti dari ekspresinya. Masih datar seperti kebanyakan pikiran.


“Yu, mana KTP-mu buat jaminan biar kamu nggak macam-macam,” pinta Keinya.


Yuan langsung merogoh sebelah saku bagian dalam jasnya.


“Aku cuma minta KTP. Kenapa kamu memberiku dompet?” protes Keinya lantaran Yuan memberikan dompetnya dengan sukarela.


“Tidak masalah. Cepat masuk karena dokter sudah menunggumu. Lihat kakimu. Ya ampun, kamu ini sangat keras kepala.” Yuan bertutur dengan suara yang dipenuhi kepedulian.


Darah di sandal Keinya tak hanya merembes, melainkan mulai mengeluarkan bau anyir. Beberapa lalat juga beterbangan mengikuti. Keinya melihatnya dengan ekspresi yang begitu polos. Tak ada tanda sedikit pun jika wanita itu merasakan sakit tanpa terkecuali pada kedua telapak kakinya yang berdarah-darah.


Di dompet Yuan yang berbentuk memanjang, tak hanya dihuni tumpukan lembar uang terbilang tebal berwarna biru dan merah. Karena kartu ATM, kartu kredit, juga kartu lain berbentuk nyaris seukuran, berjejer dan terselip memenuhi dompet selain KTP dan kartu tanda pengenal pria tersebut sebagai CEO Fahreza Grup. Setelah mengamati dompet tersebut sekilas, Keinya mendengus kemudian menatap Pelangi sambil mengelus pipi bocah itu.


“Jangan macam-macam, ya.” Tak hanya nada, tatapan Keinya juga dipenuhi peringatan bahkan terbilang mengancam Yuan.


Yuan menelan ludah dan merasa kesal lantaran Keinya tak kunjung percaya. Yang ada, wanita itu justru semakin mencurigainya. “Maumu apa, sih, Kei? Masih nggak percaya juga? Kalau begitu ayo kita langsung nikah saja biar kamu nggak dikit-dikit curiga!” rutuknya sungguh-sungguh.


Keinya mendengus sambil tetap menatap Yuan dengan sinis. Pria itu akan bersama Pelangi tanpa pengawasannya. Karenanya, ia menjadi semakin cemas. Baginya, ia harus tetap berjaga-jaga meski jika dilihat dari identitas Yuan, seharusnya bisa dipercaya. Namun rasa ragu yang semakin membuncah membuat Keinya balik badan padahal ia nyaris memasuki ruang pemeriksaan.


“Tapi kamu bukan pedofil, kan?” Keinya merasa serba salah.


Yuan yang awalnya sedang mengajak Pelangi berbincang, langsung menatap Keinya dengan ekspresi datar. Pria itu semakin kesal sekaligus heran. “Kalau begitu aku ikut masuk saja, ya?”


Keinya sadar apa yang ia lakukan pada Yuan sudah keterlaluan. Tapi ia tidak bisa berhenti curiga pada pria itu, meski sebenarnya Keinya hanya ingin memastikan. Bukankah kejahatan tidak hanya datang dari pihak luar? Lihat saja apa yang telah Athan lakukan padanya bahkan Pelangi. Bukankah pria itu terkesan tidak punya otak bahkan hati?


Jika melihat Yuan dari identitas yang ada di dompet, pria itu memang lebih dari mapan. Yuan terbilang memiliki semuanya dan bisa memberikan kehidupan mewah tanpa terkecuali pulau kepada Keinya, seperti yang Yuan katakan beberapa saat lalu di depan Athan dan Tiara. Kenyataan tersebut pula yang tiba-tiba saja menyadarkan Keinya. Wanita itu menjadi tidak percaya lantaran ada pria konglomerat yang mencoba mendekatinya tanpa mempermasalahkan statusnya. Hubungan mereka memang berawal dari Keinya yang menolong Yuan. Awalnya pria itu merasa berhutang budi dan kemudian justru jatuh cinta kepadanya. Namun, benarkah semua itu nyata, tidak akan berubah layaknya cinta Athan padanya, apalagi kini ia merupakan ibu tunggal untuk Pelangi?


***


“Kalau boleh tahu, apa hubungan Anda dengan pasien?” tanya dokter pada Yuan, ketika Keinya keluar dari ruang dokter.


Yuan mengernyitkan dahi. Ia yakin ada masalah serius yang menyangkut Keinya. “Saya yang akan bertanggungjawab untuk semua urusan pasien. Kalau memang ada yang perlu dilakukan, katakan saja, Dok.” Yuan mulai harap-harap cemas.


Dokter mengangguk. “Baiklah. Lalu, apakah hubungan pasien dengan orang-orang terdekatnya baik-baik saja?”

__ADS_1


Yuan kebingungan. “Maksud Dokter bagaimana? Bisa tolong diperjelas?”


Wanita di hadapan Yuan menghela napas lirih. Masih menatapnya dengan serius meski gayanya begitu tenang. Wanita itu seolah menuntun Yuan untuk melakukan hal serupa.


“Ibu Keinya seolah mati rasa. Seperti ada beban yang begitu berat, hingga hal tersebut membuat Ibu Keinya terbiasa dengan rasa sakit. Selama mengobatinya dan harus melakukan pembedahan untuk mengeluarkan beberapa pecahan kaca dan terbilang besar, Ibu Keinya sama sekali tidak memberikan tanda-tanda sakit.”


Yuan menyimak balasan dokter dengan sangat serius. Seperti yang ia tangkap dari awal, Keinya memang tidak menunjukkan tanda-tanda merasakan sakit. Wanita itu seolah mati rasa.


“Ibu Keinya seperti mengalami tekanan batin yang begitu berat. Tentu keadaan seperti ini tidak baik jika dibiarkan apalagi pasien memiliki anak yang masih balita.”


***


Yuan keluar dari ruang dokter dengan wajah murung.


Menyadari Yuan keluar, Keinya yang sudah menunggu di bangku tunggu di hadapan pria itu pun segera berdiri. “Sebenarnya ada apa? Kenapa harus ada sesi mengobrol dengan keluarga pasien? Aku hanya menjalani sedikit bedah di telapak kakiku tanpa ada masalah.”


Yuan mengulas senyum sambil menggeleng menatap Keinya. Kemudian ia melangkah mendekati wanita tersebut.


“Mereka hanya ingin memanfaatkanmu agar kamu mengeluarkan uang lebih banyak untuk pengobatanku.” Keinya masih merajuk.


Ketika Yuan nyaris menggendong Pelangi, Keinya menahannya. Keinya meletakkan dompet pria itu pada tangan yang siap menggendong. Hal tersebut membuat Yuan kebingungan kendati dompet itu memang miliknya. Mata pria itu terus menatap Keinya, bertanya-tanya.


“Kalau saja aku nggak jagain dompetmu, aku sudah pergi dari tadi.”


Setelah mengatakan itu, Keinya yang jelas tak acuh berlalu meninggalkan Yuan. Yuan melepas kepergian Keinya dengan cemas. Wanita itu melangkah tanpa beban sekaligus tegas, padahal kedua telapak kakinya yang diperban baru menjalani pengobatan.


Cara Keinya bersikap; dingin tanpa mengizinkan orang lain memasuki kehidupannya, menunjukkan jika luka yang wanita itu rasakan terlampau dalam. Bahkan mungkin Keinya mengalami trauma yang begitu besar. Bisa jadi, alasan wanita itu mati rasa juga karena trauma itu sendiri.


Keinya mengalami gangguan mental yang membuat wanita itu melupakan rasa sakit. Wanita itu tidak gila. Hanya saja, karena begitu terluka, Keinya selalu menyembunyikan rasa sakitnya hingga ia benar-benar lupa dengan rasa sakit itu sendiri.


Yuan segera menyusul Keinya dengan berlari. Ia memasang wajah santai dan setulus mungkin.


“Setelah ini, kamu mau ke mana? Jalan-jalan, yuk?” Tak lama setelah mengatakan itu, Yuan sudah berdiri di sebelah Keinya. Kemudian sebelah tangannya bergerak kaku merangkul punggung Keinya.


“Jangan menyentuhku sembarangan!” tegas Keinya tanpa menatap Yuan atau sebelah tangan pria itu yang berada di punggungnya. Meski dengan suara lirih, tapi memekakkan.


“Bukankah pasangan yang akan menikah dalam waktu dekat memang harus terbiasa bersikap romantis guna membangun kedekatan?”


Keinya mendengkus dan tak acuh.


Reaksi tak acuh Keinya membuat Yuan mesem. Baginya itu lebih baik daripada Keinya langsung kabur menelantarkannya.


“Mengenai urusan pentingmu, apa harus hari ini juga? Kamu beneran nggak mau jalan-jalan dulu? Ah, bagaimana kalau kita ke tempat spa ibu dan anak? Pelangi kan baru sembuh, pasti tubuhnya pegal-pegal butuh perawatan. Selain itu, kamu juga perlu memanjakan diri biar lebih rileks.” Yuan terus mengikuti Keinya bak kereta yang tidak akan mundur. “Rileks itu penting buat ibu menyusui, Kei.”


Tanpa menatap Yuan, Keinya menyingkirkan tangan pria itu dari punggungnya.


Gaya Keinya teramat cuek sekaligus galak.


“Kalau begitu maumu apa?” ujar Yuan sabar.

__ADS_1


Kemudian Yuan menahan pergelangan tangan Keinya yang menyingkirkan tangannya. “Ibu menyusui butuh ketenangan untuk tumbuh kembang anaknya.” Dengan cepat ia berhasil membuat jemarinya dan Keinya mengisi ruas satu sama lain.


“Kepalaku bisa meledak kalau kamu terus menggangguku, Yu!” ucap Keinya geregetan namun masih dengan suara lirih.


Untuk pertama kalinya Keinya memanggil nama Yuan, dan itu membuat pria itu merasa sangat senang.


Sesederhana ini, indahnya mencintai? Dipanggil pakai nama saja sudah seneng banget!


“Ayolah, Kei.”


Keinya menyerah. Ia menoleh kemudian menengadah untuk menatap Yuan. Pria itu memang jauh lebih tinggi darinya bahkan Athan. Keinya hanya sepundak Yuan, sementara saat bersama Athan, tinggi Keinya sehidung mantan suaminya itu.


Keinya mulai berpikir, bertemu Yuan, sebenarnya keberuntungan atau malah kesialan? Kenapa pria itu begitu keras kepala dan terus saja memintanya untuk bergantung?


“Kalau begitu antar aku ke indekos temanku.” Keinya mengatakannya dengan setengah hati.


“In-dekos?”


“Iya, kos-kosan. Masa nggak tahu sok kaya banget, deh ....” Keinya kembali merasa sebal pada Yuan.


“Aku nggak sok kaya. Tapi memang kaya,” seloroh Yuan setengah bercanda kemudian mengelus punggung hidung Keinya menggunakan telunjuk kananya.


“Heh!” omel Keinya penuh peringatan sambil mundur menjaga jarak dari Yuan yang jelas-jelas masih menggandengnya.


Yuan begitu santai menyikapi Keinya termasuk kemarahan wanita itu.


“Apakah temanmu seorang pria?” tanya Yuan tanpa basa-basi.


“Dia bukan seorang pria atau pun wanita, melainkan waria! Puas?”


Yuan menggeragap. “Aku serius, Kei,” keluhnya.


“Nggak usah bawel bisa, kan?”


“Baiklah. Tapi kamu jangan pernah menemui pria lain tanpa aku, ya?” Yuan memimpin langkah.


“Atas dasar apa? Apa hakmu melarang bahkan mengaturku?” Kendati mengikuti, tapi Keinya kerap mengipratkan tahanan tangan Yuan.


“Kei, mulai sekarang semua yang berhubungan denganmu juga menjadi urusanku.”


Keinya pasrah dan memang tidak ingin memikirkan keberadaan Yuan dalam hidupnya. Pun mengenai yang akan terjadi dengan Rara ketika pria itu benar-benar mengikutinya. Rara pasti akan heboh. Karena selain kopi dan drama Korea berikut artis dari negeri Ginseng, godaan terberat teman dekatnya itu adalah pria tampan.


Bagi Yuan, apa yang ia jalani merupakan kesempatan untuk semakin dekat dengan Keinya. Ia ingin mengenal Keinya lebih jauh dan membuat wanita itu percaya padanya. Apa pun dan bagaimanapun balasan Keinya kepadanya.


***


Catatan :


Terima kasih untuk semua pembaca “Selepas Perceraian” khususnya buat kalian yang sampai ninggalin vote dan komen.

__ADS_1


Terus ikuti kisah Keinya, yaahh ☺️😊☺️


__ADS_2