
“Sebenarnya mau Itzy apa, sih? Bukankah dia marah, benci, bahkan jijik kepadaku?”
Part 71 : Sebenarnya, Mau Itzy Apa?
Ben melangkah buru-buru sambil sibuk berkirim pesan WA dengan Yura. Karenanya, ia yang tidak tahu akan ada Itzy di balik pintu ruang kerjanya, tak sengaja menabrak wanita itu. Sebab, di saat Itzy baru akan meraih gagang pintu, dari dalam, Ben yang lebih dulu menarik gagang pintu langsung bergegas keluar tanpa melihat apa yang ada di hadapannya.
Itzy terjatuh, terduduk tanpa bantuan Ben. Adegan romantis dari pria itu layaknya kebanyakan cerita romantis yang Itzy tonton, benar-benar tidak Itzy dapatkan. Padahal, Itzy sangat mengharapkan hal tersebut terjadi. Itzy sangat berharap Ben kembali memperlakukannya penuh kasih sekaligus romantis.
“Kok enggak ada romantis-romantisnya, sih?” batin Itzy yang merasa sangat kecewa bahkan refleks cemberut.
Lantaran Ben tak kunjung merespons, Itzy mendengkus kesal dengan kedua tangan bertumpu pada lantai, sedangkan kedua tiket yang awalnya ia pegang menggunakan kedua tangan bahkan tak hentinya ia pandangi, terkapar di hadapannya.
Ben hanya memandangi Itzy dengan bingung. Andai saja ponselnya tidak berdering, pasti ia masih memandangi Itzy. Namun, Ben tak lantas mengurus ponselnya. Fokusnya kembali tertuju pada Itzy.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Ben terdengar hati-hati sekaligus memastikan sambil membungkuk.
Itzy langsung menengadah, menatap pria di hadapannya dengan sangat kesal. “Ya ditolongin, dong! Kakak tega banget, masa aku cuma dilihatin?” balasnya tanpa bisa mengontrol rasa kesalnya.
Ben tak lantas membalas. Ia mengerutkan dahi, mencermati maksud Itzy lantaran takut salah.
“Kak Ben! Aku enggak bisa bangun! Bantuin!” protes Itzy dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh.
“Kamu yakin? Bukannya kita beda kelas?” balas Ben. Sesuai pernyataannya, ia merasa aneh kalau tiba-tiba Itzy berbicara di luar urusan pekerjaan, bahkan wanita itu sampai meminta bantuan kepadanya?
Itzy tertunduk sedih. Merasa malu sekaligus bersalah. Mendapati hal tersebut, Ben segera mengantongi asal ponselnya, kemudian mengulurkan kedua tangannya pada Itzy.
“Ya sudah. Tolong jangan salahkan aku apalagi mamaku karena aku hanya ingin menolongmu!” ucap Ben memastikan. Berurusan dengan Itzy membuatnya harus berhati-hati. Ia belum siap kehilangan pekerjaan lantaran selain ia harus memberikan kehidupan layak kepada sang mama, ia juga belum memiliki pekerjaan lain selain di perusahaan keluarga Itzy.
Tanpa banyak kata, bahkan menjadi diam, Itzy membiarkan Ben menolongnya. Pria itu membantunya berdiri dengan menahan kedua bahunya. Tak lupa, Ben juga bergerak cepat memungut dua tiket menontonnya dan memberikannya kepada Itzy.
“Sudah, ya ...?” ucap Ben yang buru-buru berlalu.
Ben kembali mengeluarkan ponselnya dan tampak sibuk memainkan jemarinya di atas ponsel.
__ADS_1
“Lho ... kok?” gumam Itzy kesal. “Kak Ben, aku ...?” tahan Itzy merasa tak dianggap. Ia benar-benar menjadi sedih karenanya.
Setelah selesai dengan ponselnya, Ben berangsur balik badan hingga ia menatap Itzy. “Ada apa? Bukankah seharusnya tidak ada yang salah?” tanya Ben bingung. “Tadi, aku sudah menolongmu, kan? Dan aku hanya menolongmu, sesuai permintaanmu?”
Itzy merasa matanya yang seketika itu juga terasa panas, menjadi basah. Terlepas dari itu, hatinya juga menjadi terenyuh. ”Kak Ben, ... marah, ke aku?” tanyanya hati-hati.
Ben terdiam dan tidak bisa menampik anggapan Itzy.
“Aku minta maaf!” ucap Itzy kemudian yang justru sudah berlinang air mata. Ia sulit menghalau apalagi menghentikan air matanya untuk tidak mengalir.
Ben tertunduk nelangsa. Menjadi Ben yang sekarang bukanlah perkara mudah. Ben yang tak lagi memiliki uang apalagi kekuasaan, menjadi sering diremehkan. Namun, menghadapi Itzy juga membuat Ben seolah bercermin pada sosoknya di masa lalu. Karena kurang lebih, begitulah dirinya di masa lalu yang sangat tidak tahu diri dan begitu membanggakan apa yang dimiliki. Padahal, roda kehidupan selalu berputar. Nyatanya, ia yang awalnya bisa mendapatkan semuanya dengan mudah, kini tak ubahnya sampah yang hanya dipandang sebelah mata.
Ben menelan ludah. Menelan kepahitan yang akhir-akhir ini menimpa kehidupannya. Kemudian ia menatap Itzy yang kiranya ada enam meter dari keberadaannya. “Lupakan saja. Maaf.” Ia memilih berlalu tanpa ingin berurusan lebih dengan Itzy.
“Kak Ben, tunggu!” seru Itzy.
Ben yang kembali bingung, berangsur memelankan langkah.
Ben yang telanjur sakit hati oleh ucapan Itzy yang kemarin malam, berangsur menoleh. “Maaf. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku bereskan.”
Mendengar balasan Ben, Itzy menjadi menggeragap. Ben menolaknya? Bahkan pria itu langsung berlalu meninggalkannya begitu saja? Itzy benar-benar kecewa atas kenyataan itu. Namun, ia tak akan tinggal diam. Ia tidak menyerah dan sengaja mengantongi tiket menonton bioskopnya ke dalam tas sambil berlari menyusul kepergian Ben.
***
Di luar, Ben langsung masuk ke mobilnya. Hal tersebut membuat Itzy yang hanya kurang lima meter dari Ben, segera berlari dan menyusul. Itzy membuka pintu seberang kemudi mobil Ben, dan membuatnya duduk di sebelah Ben, meski kenyataan tersebut sukses membuat Ben terkejut sekaligus terheran-heran.
“Sebenarnya kamu ini kenapa?” keluh Ben sesaat setelah sampai menghela napas. “Sebenarnya mau Itzy apa, sih? Bukankah dia marah, benci, bahkan jijik kepadaku?” batin Ben.
“Kakak enggak akan selingkuh, kan?” tuding Itzy.
“Ya ampun ... apa lagi, ini? Selingkuh bagaimana?” keluh Ben masih berusaha bersabar.
“Kakak pikir aku enggak tahu, kalau tadi siang, Kakak teleponan sama wanita bernama Yura?!” tegas Itzy kesal.
__ADS_1
“Itzy, ... dengar. Kita sudah enggak ada hubungan selain pekerjaan, semenjak kemarin malam. Bukankah kamu sendiri yang memintaku menjauhi keluargamu? Kita beda kelas, kan? Astaga, ... maaf, aku lupa. Maksudku, ibu Itzy. Aku benar-benar minta maaf!” Ben mulai merasa kewalahan.
“Kak Ben jadi orang kok baperan banget, sih? Lemah! Rapuh! Hanya karena ucapanku kemarin malam, Kak Ben jadi begini?!” balas Itzy semakin kesal.
“Anggap saja semua yang kamu katakan benar!” Ben mengangguk-angguk sambil menunduk pasrah. “Tapi kalau memang bukan urusan pekerjaan, aku harus pergi.”
“Aku mau kita menonton bioskop!” tegas Itzy sambil bersedekap dan sengaja memunggungi Ben.
Lantaran Ben masih diam, Itzy yang menoleh mendapati Ben masih diam pun berkata, “aku sudah membeli tiket!”
Ben yang tetap diam berangsur menyalakan mobilnya. Ia mengemudi meninggalkan area parkir tanpa menatap apalagi mengajak Itzy berkomunikasi.
Itzy yang juga menjadi diam, melirik Ben dengan pandangan tak habis pikir. “Kak Ben sok jual mahal banget!” batinnya.
Sekitar lima menit setelah perjalanan, ponsel Ben kembali berdering. Hal tersebut langsung mengusik Itzy yang masih bersedekap dan seketika itu melirik curiga Ben. Ben yang langsung merogoh ponsel kemudian mengusap layar ke atas menggunakan jempol tangan kirinya.
“Yura, aku sedang menyetir,” ucap Ben sopan.
“Oh, ya sudah. Maaf. Aku akan mengirimu pesan suara saja karena komunikasi lewat pesan tertulis sangat rawan salah paham,” balas Yura dari seberang, sarat pengertian.
Ben mengangguk. “Baiklah, terima kasih.”
Mendengar nama Yura disebut Ben, Itzy langsung naik pitam. Ia merebut ponsel Ben. “Heh, Yura! Kenapa kamu terus mengganggu calon suamiku?! Berhenti dari sekarang dan jangan kegatelan lagi!”
“Itzy, apa yang kamu lakulan?!” seru Ben geram. “Jangan main-main! Yura itu sudah jadi klien kita dan orang tuamu juga tahu!” tambah Ben berusaha sabar sekaligus memberi Itzy pengertian.
Kendati Ben sudah memberi alasan, tetapi Itzy tetap merasa kesal pada Yura, berikut hubungan Ben dengan wanita itu.
Bersambung ....
Duh, Author enggak bisa lama-lama. Anak lagi super rewel. Disambung besok, yaa ^^
Maaf yang Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) juga enggak jadi Up 2 episode ^^
__ADS_1