
“Enggak semua tentang mantan menyakitkan, kan? Seenggaknya kita pasti pernah bahagia karena mereka?”
Bab 98 : Dua Gadis Berupa Sama
Meski masih lemas, Elia sengaja mengajak Elena untuk lari pagi keliling komplek, lantaran dirasa Elia, ada yang sengaja Elena sembunyikan dan kenyataan tersebut membuat kembarannya itu menjadi pendiam.
“Rafa sama Mo harusnya sudah sampai kan?” ujar Elena memulai pembicaraan.
“Iya. Biasa. Berangkat pukul dua pagi kurang, pukul sebelas paginya juga sudah sampai.” Elia mulai terengah-engah, terlepas dari kinerja jantungnya yang mulai kacau, hingga Elia juga merasa semakin lemas.
Elena yang sadar Elia mulai kelelahan, sengaja menuju bangku yang ada di taman hadapan mereka. “Kita istirahat dulu. Kamu kan belum sembuh betul.”
Keduanya duduk di bangku yang Elena duduki. Selain terengah-engah, keduanya juga berkeringat, apalagi Elia yang sampai terlihat pucat.
“Ya ampun ... seger banget!” gumam Elena sambil menengadah, setelah ia juga sampai menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku tempat mereka duduk.
Sedangkan Elia, gadis itu memilih membungkuk di tengah kenyataannya yang terbatuk-batuk dan berakhir muntah.
“Yah ... Li!” Elena segera memijat-mijat tengkuk Elia, sambil mengelus-elus punggung gadis itu
“Enggak apa-apa. Kayaknya aku masuk angin, gara-gara kemarin antar Rafa jam segitu.”
Karena ketika dijemput Rafa sebelum pemuda itu menjalani penerbangan ke Melburne, itu sekitar pukul dua belas malam.
“Tapi kalau enggak ikut antar, kamu bisa rindu. Berkarat malahan.”
“Pasti. Jangan ditanya!”
“Hahaha!”
Meski merasa tidak karuan, tapi godaan Elena juga membuat Elia menjadi menertawakan dirinya sendiri.
“Terus, apa tujuanmu ajak aku lari pagi? Enggak mungkin, enggak ada maksud, kan?” lanjut Elena.
Elia yang telanjur lemas berangsur merebahkan kepalanya di pangkuan Elena.
“Duh ... andai ini pahanya Rafa,” goda Elena lagi.
“Ah ... jadi kangen!” saut Elia yang kembali menertawakan dirinya sendiri.
Kembali, Elena menertawakan kembarannya. Namun membicarakan hubungan Elia dan Rafaro, yang ada ingatan Elena justru dipenuhi sosok Mofaro. “Ngeselin banget itu orang, Li! Pengin aku remes-remes kayaknya! Usil banget!”
“Hahaha ... Mo. Tapi orang kayak dia bisa jadi hiburan sih, kalau lagi suntuk.” Elia terbatuk-batuk.
“Tapi kadang bercandanya kelewatan. Lihat saja pesan-pesannya ke aku, penuh bom ciuman!”
Kali ini giliran Elia yang menertawakan Elena. Di tengah sisa hujan semalam yang menyisakan suasana basah berikut sejuk, berada di taman yang bunga-bunganya sedang bermekaran, membuat keduanya betah berlama-lama di sana. Meski tentu, semua keindahan itu juga bisa mereka jumpai di taman rumah mereka yang tak kalah hijau dihiasi aneka bunga. Hanya saja, untuk kali ini, mereka sangat menginginkan suasana berbeda untuk quality time mereka. Benar-benar berdua tanpa ada orang lain, bahkan orang tua mereka.
“Li, bolehkah aku meminta pendapatmu?” tanya Elena beberapa saat, tak lama setelah keduanya menikmati terpaan air bak gerimis dari pohon beringin besar yang tersapu angin, dan keberadaannya ada di sebelah mereka.
“Harus, dong! Aku kan, calon psikiater masa depan!” Elia terbahak setelah berlaga pamer.
Dan kenyataan tersebut membuat Elena mencubit gemas hidung kembarannya.
“Baiklah, begini. Dengarkan baik-baik, Li.”
Elena siap bercerita, dan Elia juga sudah tidak sabar mendengarnya. Mengenai keputusan Elena yang sengaja meninggalkan Atala, lantaran Elena tidak bisa berbagi Atala dengan siapa pun, apalagi Irene.
“Meski Atala mencintaiku, tapi dia tidak bisa meninggalkan Irene. Dan aku yakin, jika terus dipertahankan, aku hanya akan melukai Atala dan Irene. Jadi, sebelum semuanya telanjur jauh, aku lebih memilih menyudahi semuanya.”
“Bayangkan, wanita mana yang mau di nomor sekiankan? Tidak ... tidak. Lebih tepatnya, ... ada, yang mau dinomor sekiankan oleh pasangan sendiri? Bahkan aku yakin, Atala juga tidak mau! Dan jika di luar sana bahkan kamu menganggap aku egois, aku berani taruhan, kalian juga tidak akan bisa ada di posisi aku!”
Elia berangsur duduk dan menatap prihatin Elena yang sudah berderai air mata. “Aku mengerti perasaanmu, Len. Dan bagiku, bahkan orang-orang waras di luar sana, apa yang kamu lakukan juga sudah sangat benar. Karena sampai kapan pun, meski Atala sudah berusaha seadil mungkin, tapi, dia bahkan kita hanya manusia biasa. Enggak mungkin enggak ada yang terluka jika keadaannya sudah begitu.”
Elena mengangguk-angguk sambil menyeka air matanya.
“Jangan dibikin stres, ya. Cari kesibukan lain saja.” Elia mengelus-elus punggung Elena.
“Kayaknya aku beneran mau ke luar negeri.”
Elia mengerutkan dahi. “Ke mana? Harus direncanakan dengan matang. Jangan sampai hanya jadi pelampiasan. Terlebih kalau kita sampai pisah lama-lama, kita juga akan sama-sama sakit. Kita enggak bisa jauh-jauh.”
Elia menghela napas pelan. “Jadi, kalaupun kamu mau pergi ke mana, aku akan ikut dan menyesuaikan diri.”
Tangis Elene semakin pecah, di mana gadis itu juga sampai menekapkan kedua tangannya ke wajah.
__ADS_1
“Enggak apa-apa. Di jalani saja. Tapi kalau menurutku, apa pun yang sudah ada, kita enggak usah takut. Apalagi sampai kapan pun, masalah enggak akan pernah benar-benar selesai. Bahkan sekalipun kita enggak bikin masalah, masalah juga tetap akan ada. Memang sudah jadi hukum alamnya begitu.”
“Memang enggak mudah. Bahkan lebih sering sulit. Tapi ya kamu jangan lupa, Tuhan sudah kasih banyak ke kita. Bahkan sekadar kita masih bisa bernapas dengan baik, melihat dengan baik dan lain sebagainya, kita wajib bersyukur.”
“Bagiku, hidup cukup banyak-banyak bersyukur. Dijalani, berjuang juga. Intinya kamu pasti tahu. Apalagi di luar sana, masih banyak orang yang lebih kurang beruntung dari kita, tapi mereka justru merasa jauh lebih bahagia.”
“Iya, Li. Makasih banyak.” Elena menyandarkan wajahnya pada dada Elia.
“Iya. Sama-sama. Jalani saja. Semangat. Kalau memang kamu masih ada yang kurang berkenan di hati, nanti aku atur waktu agar kamu sama Atala bisa bertemu dan berbicara empat mata.”
“E-enggak usah, Li!” Elena mulai takut dan buru-buru menyudahi sandarannya.
“Enggak apa-apa. Biar kalian sama-sama menyadari, apa yang seharusnya kalian terima dan sebagainya. Lagian, mantan kan bukan perkara yang harus selalu kita lupakan, terus kita jadikan beban?” Elia menatap serius Elena. “Enggak semua tentang mantan menyakitkan, kan? Seenggaknya kita pasti pernah bahagia karena mereka?”
“Kayak kamu punya mantan, ah!” gerutu Elena sambil menyeka ingusnya menggunakan handuk kecil yang menghiasi tengkuknya.
Elia langsung terbahak. “Enggak, ah. Cukup Rafa saja, terus langsung nikah!”
Bak orang kesurupan, Elia mendadak menjadi sibuk tertawa.
“Setres, kamu, Li!”
“Aku juga mikirnya gitu! Hahaha!”
“Ya sudah ... ayo, pulang!” Elena meraih kedua tangan Elia dan kemudian menggandongnya.
“Kuat gitu?” ujar Elia ragu.
“Memangnya cuma Rafaro yang kuat gendong kamu!” rutuk Elena sambil terus menggendong Elia.
Meski kewalahan, tapi Elena tetap menggendong Elia. Mereka terus berjalan di sebelah sisi kiri jalan. Di mana, tak berselang lama, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang kebetulan mengenakan sepeda. Dan itu merupakan Arkan.
Arkan yang mengenali wajah Elena, tapi langsung kaget ketika melihat wajah gadis yang Elena digendong dan kebetulan sedang terpejam. Sampai-sampai, Arkan yang harus melalui tikungan di hadapannya, menjadi kebablasan dan berujung menabrak pohon beringin yang ada di taman bekas kebersamaan Elena dan Elia.
Ketika sepeda Arkan langsung bebas melenggang, wajah pemiliknya justru terkapar di muntahan Elia.
“Ya ampun, apaan, ini? Bau lengket ... uugh! Muntahan! Sssttt!” Sudah sakit, Arkan yang terseok-seok dan kesulitan bangun bahkan sekadar menggerakkan tubuh, langsung muntah-muntah.
“Len, tadi kayaknya ada suara berisik karena jatuh, ya?” ujar Elia sesaat setelah membuka matanya dan sampai menoleh ke belakang. Tidak ia dapati tanda-tanda ada yang mencurigakan lantaran Elena sudah membawanya jauh dari tikungan keberadaan Arkan.
“Tapi serius ... tadi kok ada dua gadis berupa sama?” Arkan masih kepikiran Elena dan Elia. Terlebih, ia benar-benar tidak tahu mengenai status keduanya, kendati ia berniat memberi pelajaran pada gadis yang menjadi kekasih Atala.
“Lena ... aku baru kepikiran.”
“Apa?”
“Kita sudah terlalu egois, karena kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan orang lain, padahal kita juga enggak luput dari kekurangan dan kesalahan.” Elia menghela napas dalam.
“Ya ampun, Li ... aku baru kepikiran juga, ya? Jadi merasa bersalah begini!” uring Elena.
“Iya. Aku juga. Sudah, turunin aku di sini. Nanti kamu capek!”
Elena berangsur menurunkan Elia dengan hati-hati. “Kalau gitu aku mau minta maaf ke Atala. Syukur-syukur.”
“Syuku-syukur apa?” tahan Elia.
Elena menjadi tersenyum tak berdosa. “Balikan. Hehehe.”
“Ya Tuhan ... kalian pacaran mode seterika. Bolak-balik di situ-situ saja!” Setelah sampai menggeleng tak habis pikir, Elia kembali terbahak. Tak pedulu meski setelah itu, ia kembali terbatuk-batuk dan nyaris muntah.
“Kualat, kan. Azab itu! Ayo, aku tuntun!”
“Len ... perutku kembung parah. Kalau begini caranya, bisa diare parah juga karena pencernaanku makin bermasalah!”
“Ya sudah, nanti aku kerokin!”
“Tahu saja kamu kalau aku masuk angin harus kerokan!”
“Ya iyalah ... kamu kan penikmat ‘tato merah’!”
“Ketawa terus saja kamu. Nanti kalau ingat Atala, baru mewek lagi!”
“Biar ah. Tandanya hatiku masih normal. Masih ngezinin aku nangis!”
***
__ADS_1
Yang membuat Elia merasa sangat terkejut, bahagia sekaligus malu, bukan karena perdebatannya dengan Elena yang menjadi sibuk saling ejek kekurangan satu sama lain. Sebab ketika mereka sampai di rumah, ternyata Kimo, Rara, dan juga Rora, sudah menjadi tamu spesial. Ketiganya datang membawa bubur berikut aneka ramuan herbal untuk Elia.
Bersama Elena, Elia pun langsung menyalami lengkap mencium punggung tangan Rara dan Kimo, tanpa terkecuali Steven dan Kainya yang sudah bergabung dan duduk bersebelahan sambil memangku Shean.
“Ya ampun ... mertua idaman!” goda Elena pelan sambil menyikut lengan Elia.
“Dan aku menantu idaman!” balas Elia dengan berbisik juga, dan buru-buru manahan tawanya agar tidak pecah.
Kendati demikian, setelah mengulas senyum sebisanya dan duduk di sofa seberang kebersamaan Kimo, Rara, berikut Rora yang ada di tengahnya, Elia buru-buru pamit. Dan Elia yang sampai berlari dalam kepergiannya segera masuk ke kamar mandi yang tidak terlalu jauh dari ruang keluarga, selaku ruang kebersamaan orang tua Rafaro dan orang tuanya.
Elena beranjak dari duduknya dan menatap kepergian Elia dengan banyak kecemasan. “Kayaknya Elia harus infus deh, Pah. Parah tuh muntah terus. Perutnya juga kembung parah.”
Mendengar pernyataan tersebut, semua yang di sana pun menjadi menaruh cemas. Steven sampai memberikan Shean yang awalnya sedang pria itu pangku, kepada Kainya.
Setelah pamit tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya, Steven menyusul kepergian Elia. Begitu juga dengan Elena yang turut serta sesaat setelah mengulas senyum masam dalam pamitnya.
***
Ketika memasuki kamar mandi, Steven dan Elena mendapati Elia sudah terduduk lemas di dekat kloset. Nyaris sekujur tubuh apalagi wajah dan leher Elia berkeringat, terlepas dari wajah gadis itu yang semakin pias.
“Pah gendong, Pah. Lemes!” keluh Elia lirih.
“Ya ampun ... sini ... sini. Papah, kamu infus, ya?” Steven bergegas membopong Elia, tapi sebelum berlalu dari kamar mandi, terlebih dulu, ia membasuh wajah Elia lantaran di sekitar mulut gadis itu belepotan cairan muntahan.
“Ya ampun, payah kamu, Li! Calon dokter tapi penyakitan! Bayangin, semua orang pun tahu kalau masalah lambung sama pencernaan karena kita enggak jaga pola makan sama pola istirahat!” omel Elena yang terus mengikuti kepergian Steven.
“Sejak kecil, kesehatan Elia memang kurang baik. Apalagi masalah pencernaannya.” Kainya berusaha menenangkan Kimo dan Rara yang terlihat sangat mencemaskan kesehatan Elia.
Rara mengangguk-angguk prihatin sambil menatap Kainya. “Padahal anaknya ceria begitu, ya? Benar-benar kayak Mo. Mo juga begitu. Gampang banget masuk angin. Pusing, bahkan vertigo! Padahal daripada Rafa, Mo jauh lebih jaga kesehatan.”
“Tapikan mengenai hidup sehat, Rafa nomor satu. Mo berantakan kan anaknya?” timpal Kimo.
“Ya mirip kamulah, jadi berantakan. Sama si Zean juga persis kamu, gara-gara Yuan sering ngledekin kamu pas Keinya hamil Zean,” timpal Rara.
“Itu sih azabnya Yuan. Hobi banget ngledek!” balas Kimo dengan entengnya.
Tak lama setelah itu, mereka semua memastikan keadaan Elia yang benar-benar diinfus di kamar. Tentunya, Elena juga sampai membantu Elia kerokan.
“Lihat anak-anak sudah pada akur, rasanya adem banget!” ujar Rara.
“Sama. Rasanya kayak enggak punya beban!” balas Kainya yang sampai berkaca-kaca.
“Benar-benar, ya. Cobaan tersendiri kalau punya anak kembar terus, mereka juga memiliki kesukaan yang sama khususnya dalam urusan cinta!” lanjut Rara lagi yang sampai tersipu.
Kainya mengangguk-angguk. “Jadi, Minggu depan jadi launching novel terbarumu sama Keinya?”
Dan obrolan dilanjutkan seiring mereka yang kembali ke ruang keluarga. Mereka membiarkan Elia diurus Elena.
“Jangan sakit, dong ... katanya mau jadi mediatorku sama Atala. Lagian sudah sampai dijenguk mertua itu,” keluh Elena.
“Duniaku mendadak muter-muter, Len!” keluh Elia.
“Itu efek masuk anginmu sudah terlalu parah!” Elena meyakinkan sambil terus memijat kaki Elia. “Tuh lihat, infusnya kenceng banget. Artinya kamu kekurangan cairan banget!”
Elena meraih sebotol air minum, kemudian menungkannya pada gelas yang sudah tersedia di sebelahnya.
“Pakai sedotan lebih gampang!” tolak Elia.
“Ya ampun, bawelnya kamu!” semprot Elena.
“Biar aku cepat sembuh, kan biar cepat jadi mediatormu dan Atala juga!”
“Ya enggak sampai nekan juga!”
“Sekali-kali kamu jadi asistenku!”
“Oke, Bos!”
Di tengah kenyataannya yang sudah tak berdaya, Elia melepas kepergian Elena yang meninggalkannya dengan buru-buru.
“Alhamdullilah aku masih sakit. Berarti Alloh masih sayang aku,” gumam Elia yang kemudian memejamkan kedua matanya.
—Bersambung—
__ADS_1