Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 95 : Ngidam


__ADS_3

Kim Jinnan keluar dari mobilnya dengan langkah tergesa, dan langsung dikawal oleh pak Jo berikut ajudannya. Mereka yang baru pulang kerja, sengaja mampir ke salah satu pusat perbelanjaan, lantaran Kim Jinnan akan membeli beberapa pesanan Pelangi.


“Jadi, beli apa saja? Gado-gado? Rujak? Manisan mangga muda? Asinan? Mangga muda?” ucap Kim Jinnan memastikan setiap permintaan Pelangi.


Pak Jo yang menyimak perbincangan Kim Jinnan dan Pelangi, menjadi sibuk menahan tawa. “Akhirnya,” batinya yang yakin, istri tuan mudanya itu sedang mengidam.


“Jinnan ... kamu cepat pulang, ya? Enggak enak, kan, kalau aku sakit, tapi mama yang urus? Belum lagi, Riri juga lagi sumeng. Belum Zean yang rese bentar-bentar datangin aku, terus tanya macem-macem,” pinta Pelangi dari seberang.


“Iya ... iya. Habis ini, aku langsung pulang, kok. Nih, aku mau langsung pesan gado-gado.” Kim Jinnan sibuk mengangguk di tengah kenyataannya yang terjaga dan terus menyimak permintaan Pelangi, melalui sambungan telepon yang menghubungkan mereka.


Dan ketika semuanya sudah pasti, Kim Jinnan langsung mengurus semuanya sendiri. Pak Jo berikut ajudan yang menyertai, hanya menerima setiap pilihan yang Kim Jinnan ambil. Dari mangga yang tidak matang tapi tidak terlalu muda, aneka manisan dan asinan, juga rujak selain gado-gado.


“Tuan Muda ... usahakan jangan pakai nanas,” ucap pak Jo mengingatkan.


Kim Jinnan yang sedang memesan rujak, menjadi mengernyit bingung. “Memangnya kenapa, Pak Jo?” tanyanya, sesaat setelah sampai menoleh dan menatap pak Jo.


“Enggak baik buat orang hamil.”


Balasan pak Jo, sukses membuat Kim Jinnan gugup. “Hamil?” ulangnya bersamaan dengan binar bahagia yang detik itu juga menarik kedua sudut bibirnya.


Senyum lepas menyertai wajah Kim Jinnan yang sampai menjadi merah merona. “Sudah dua bulan lebih memang!” ujarnya dan langsung disambut tawa lepas oleh pak Jo.


“Kira-kira, memang begitu, kan, pak, Jo? Ngi-ngie hamil?” Kim Jinnan semakin antusias.


Di tengah tawanya yang sengaja ia redam, Pak Jo berangsur mengangguk-angguk. “Setelah dari sini, kita langsung beli test pack, Tuan Muda.”


Kim Jinnan langsung mengangguk semringah. “Ah, iya!”


“Ya ampun ... sampai deg-degan begini!” batin Kim Jinnan yang juga sampai menjadi merasa sangat gugup sekaligus campur aduk. Di mana, Kim Jinnan sampai kebelet pipis.


***


“Jinnan ... kamu bawa apa?” Zean langsung berlari menghampiri Kim Jinnan yang menenteng banyak kantong belanjaan.


“Oh ... ini pesanan Ngi-ngie. Oh, iya. Aku beli eskrim buat kamu, Zean.”


“Wah ... asyik! Rasa mint campur cokelat, kan, Jinnan?”


“Iya, dong ... kan itu eskrim kesukaanmu.”


Zean langsung jingkrak-jingkrak, terus mengekor pada Kim Jinnan dengan sebelah tangannya yang sampai berpegangan pada mantel hangat yang pria itu kenakan.


Di dapur, Kim Jinnan bertemu dengan Keinya yang sedang meminumkan obat kepada Mentari dibantu oleh Yuan.

__ADS_1


“Malam Mah ... Pah ...?” sapa Kim Jinnan yang kemudian meletakkan belanjaannya di meja tengah dapur selaku meja paling luas di sana.


“Mmm ... malam, Sayang, kamu baru pulang?” balas Keinya yang tetap menyempatkan untuk menoleh dan menatap Kim Jinnan meski hanya sekilas.


“Iya, Mah.” Kim Jinnan yang sebenarnya buru-buru dan ingin bertemu dengan Pelangi, juga tetap menyempatkan untuk menoleh dan menatap mertuanya. Tentu, ia juga mengulas senyum sebagai tanda hormat sekaligus sayangnya.


“Wah ... sebanyak itu, pesanan Ngi-ngie semua?” ujar Yuan menatap tak percaya bawaan Kim Jinnan yang sampai menyita sebagian meja.


“Ada eskrim punyaku juga, Pah!” balas Zean yang tak sabar menerima satu kotak eskrim sebesar kepalanya, dari Kim Jinnan.


“Kamu yang minta?” lanjut Yuan sambil mengemban Mentari.


“Enggak, dong, dibeliin langsung!” Zean yang kembali jingkrak-jingkrak, langsung menerima eskrimnya dengan suka cita. “Makasih banyak, ya, Jinnan!”


“Sama-sama.” Kim Jinnan juga menjadi tersenyum lepas atas kebahagiaan yang menyertai Zean, hanya karena eskrim pemberiannya. Tak lupa, sebelah tangannya mengusap kepala Zean yang cukup kasar tak ubahnya landak, lantaran gaya rambut bocah itu ubrus nyaris cepak. Sampai-sampai, Kim Jinnan yakin, kalau saja ada balon yang tidak sengaja singgah di kepala Zean, balon tersebut pasti akan langsung meledak.


“Makannya sedikit saja, ini sudah malam. Sini, Mamah ambilin.” Keinya segera mengambil cangkir dari lemari yang ada di seberangnya.


“Yang gede dong, Mah!” protes Zean sambil mendekati Keinya. Ia menengadah menatap kinerja tangan Keinya yang akhirnya mengambil cangkir berukuran lebih besar dari sebelumnya.


“Mau ... mau eskim!” rengek Mentari.


“Ah, Riri ... kamu masih bayi enggak boleh makan eskrim!” omel Zean.


“Tapikan Riri lagi sakit, Ma?” Zean masih protes dan sebenarnya tidak rela jika harus berbagi.


“Enggak apa-apa, dikit. Daripada nangis lagi. Kasihan, dari tadi Riri nangis terus, kan?” Keinya masih sangat sabar menyikapi Zean yang banyak maunya.


“Ya sudah, Mah. Riri dikasih setetes saja. Kan enggak boleh banyak-banyak, kan?” ujar Zean yang sudah sampai mencolek eskrim dan kemudian menikmatinya.


“Iya ... bentar.” Yuan sibuk membujuk Mentari yang masih merengek meminta eskrim sambil meminta didekatkan kepada Keinya.


Sungguh, kebawelan Zean sukses mengocok perut Kim Jinnan yang tengah menyiapkan gado-gadonya di Piring, untuk Pelangi. Selebihnya, semua makanan berikut buah yang sengaja Kim Jinnan beli dalam jumlah banyak, juga akan Kim Jinnan susun di kulkas.


“Mah ... Pah ... ini ada gado-gado, asinan, manisan, rujak, sama mangga juga. Kalau Papah sama Mamah mau, langsung ambil saja. Aku simpan di kulkas, ya,” ujar Kim Jinnan.


Mendengar pernyataan Kim Jinnan, Keinya dan Yuan langsung diam kebingungan, di mana mereka juga saling bertukar tatapan.


“Ngi-ngie, ngidam?” lirih Yuan sambil menatap serius Keinya.


“Masa, sih? Dulu bilangnya mau tunda dulu?” balas Keinya tidak yakin.


“Kan dulu. Ke sini-sini kan Ngi-ngie jadi kayak perangko ke Jinnan,” balas Yuan lagi.

__ADS_1


“Berarti harus cek kalau gitu. Takut kenapa-napa!” Keinya waswas.


Zean yang penasaran dengan perbincangan kedua orang tuanya pun menengadah, menatap serius wajah keduanya. “Kalian ngomong apa, sih, bisik-bisik? Apanya yang harus dicek, Mah, Pah? Memangnya Ngi-ngie kenapa?” ujarnya sambil terus menikmati eskrimnya. Karena jauh di lubuk hatinya, Zean berniat akan tambah jika eskrim yang Keinya ambilkan sudah habis.


Sayangnya, baik Yuan maupun Keinya tidak bisa memberikan Zean balasan. Karena yang ada, Yuan dan Keinya justru kebingungan.


“Asyik ... kalau Papah sama Mama enggak bisa jawab, berarti aku boleh nambah!” sorak Zean yang kemudian berlalu meninggalkan area dapur.


“Zean, kamu mau ke mana?” seru Yuan.


“Mau nyusul Jinnan dong!” seru Zean terdengar semakin jauh.


“Pah ... itu Zean tahanlah. Takutnya Ngi-ngie sama Jinnan mau quality time,” tegur Keinya yang membereskan eskrim dan siap menyimpannya.


“Ya ampun anak itu!” Yuan bergegas menyusul Zean.


“Enggak! Aku mau sama Jinnan!”


Yuan mendapati Zean yang terus melangkah dan sepertinya memang akan menyusul Kim Jinnan.


“Sini, jangan ke sana. Katanya mau nambah eskrim?” lanjut Yuan masih berusaha.


“Nanti saja bareng Jinnan!” balas Zean yang juga berseru.


Lantaran Zean tetap dengan keputusannya, Yuan pun bergegas menyusul. “Jangan ke situ. Sebentar lagi Rora datang! Cepat sini!”


Yuan terpaksa berbohong. Sebab selain Kim Jinnan, satu-satunya yang bisa menarik perhatian Zean hanyalah Rora anak Kimo.


Benar saja, Zean yang sudah sampai di tengah-tengah anak tangga, langsung balik badan dan tersenyum semringah menatap Yuan.


“Yang benar, Pah? Rora mau ke sini?!”


“I-ya!” Yuan segera mengangguk. “Makanya kamu ke sini. Biar Jinnan mandi dulu!” Yuan sampai mendelik saking gemasnya pada Zean yang sangat sulit dikendalikan.


“Ah ... asyik, Pah! Kalau gitu, aku dandan dulu, biar ganteng!” sergah Zean yang buru-buru lari ke lantai atas.


“Dandannya di kamar Papah saja!” seru Yuan yang terpaksa menyusul lantaran Zean telanjur lari ke atas.


“Aku mau mandi bentar, Pah! Biar wangi!” seru Zean.


“Duh ... si Zean beneran kemakan bujukanku? Bisa kacau kalau Rora beneran enggak datang.” Dan Yuan menjadi bingung sendiri. “Duh ... yuh, Ri. Kita awasi kak Zean!” lanjutnya yang memutuskan untuk melanjutkan langkah menaiki anak tangga yang meghubungkan ke lantai atas.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2