Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 61 : Dengan Caraku


__ADS_3

Author : Kalau bisa, baca cerita ini sambil dengerin lagu “Dengan Caraku” Arsy Widianto feat Brisia Jodie ^^


“Biarkan aku, mencintaimu, dengan caraku ....”


Bab 61 : Dengan Caraku


Steven memajukan sedikit tubuhnya, hingga wajahnya ada persis di atas bahu Kainya yang masih terdiam di hadapannya. “Aku mengenalimu ...,” lirihnya.


Tiba-tiba saja, hati Kainya menjadi berdebar-debar. Ia mendadak dilanda tegang, tetapi bukan karena kesal. Tegang karena Steven sudah berani melangkah lebih jauh dalam mendekatinya. “Apa maksud Steven? Apakah ... dia masih belum menyerah setelah semua pesan dan teleponnya aku abaikan?” batin Kainya.


Bagi Steven, tak mungkin Kainya tersenyum bahkan bersikap ramah padanya. Belum lagi, dari cara menatap saja, ia bisa membedakan, mana tatapan seorang Kainya yang selalu berusaha menolaknya. Jadi, mudah saja untuk membedakan dua wanita berupa sama yang ada di sana.


“Selamat sore?” sapa Steven kemudian pada semua orang yang di sana.


Steven tetap dengan sikap ramahnya yang mudah akrab dengan semua orang.


Semua orang di sana menyambut Steven dengan hangat kecuali Kainya. Kainya yang mendadak bersikap kaku bahkan gugup. Jangankan tersenyum seperti yang lain, yang ada, Kainya justru terlihat berusaha menghindari Steven.


“Hallo, namanya siapa? Cantiknya ...?” sapa Steven pada Pelangi dan langsung menggendongnya.


“Baru pulang kerja?” sapa Khatrin.


Sambil tetap menggendong Pelangi, Steven mengangguk. “Iya, Tan. Kebetulan dekat.”


Senyum Khatrin terhadap Steven seolah tidak akan putus. Meski kemudian, tatapannya teralih pada Kainya yang kebetulan ada di belakang Steven dan akan kembali duduk di sofa sebelumnya.


“Kai, ambilkan kolak apa sup buat Steven,” ucap Khatrin.


Perintah Khatrin sukses membuat Kainya bengong, menatap tak percaya wanita itu. Kontras dari Steven yang seketika itu juga langsung tersenyum lepas kemudian menoleh, menatap Kainya.


Tak mau mengecewakan Khatrin, Kainya terpaksa mendekati kebersamaan Steven dan mamanya itu. Menuju meja selaku keberadaan seperangkat makanan berikut wadahnya, mengingat di nakas sekat ranjang Kimi dan Rara sudah tidak muat.


Yang Kainya herankan, kenapa Khatrin harus memintanya mengambilkan makanan untuk Steven, bukan Khatrin saja yang jelas-jelas lebih dekat dengan meja keberadaan makanan, selain Khatrin yang sudah tidak bersama Pelangi, karena Pelangi masih digendong Steven?


Ketika Kainya mendekat ke arah meja, Steven yang sudah ada di dekat meja juga menyusul. Sedangkan yang terjadi dengan Khatrin, wanita paruh baya itu kembali duduk di sofa, kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel sebelum akhirnya menjadi sibuk dengan gawainya itu.


Bagi Keinya dan Rara yang diam-diam memperhatikan punggung Kainya dan Steven, mereka seolah melihat keluarga kecil yang begitu bahagia, jika Pelangi diibaratkan sebagai anak Kainya dan Steven. Bahkan, Rara seolah melihat potret Keinya dan Yuan di masa lalu. Tepatnya, sebelum Keinya menerima cinta Yuan. Kebersamaan yang canggung, kendati dari pihak pria terlihat begitu berharap.


“Aku enggak makan santan,” ucap Steven lirih sebelum Kainya yang kebingungan mau mengambil kolak atau sup, bertanya padanya.


Kainya yang refleks diam kemudian mengambilkan sup nyaris semangkuk penuh.


“Kimo, mereka cocok, ya?” bisik Rara yang menjadi senyum-senyum sendiri memperhatikan kebersamaan Steven dan Kainya. Pun meski kebersamaan keduanya membuat Kainya terlihat sangat canggung.


Kimo mengangguk. “Lumayan.”


“Kok, lumayan?” desis Rara kesal.


Kimo yang kebingungan buru-buru mengubah pernyataannya. “Iya ... iya, cocok.”

__ADS_1


Sayangnya, Rara sudah telanjur kesal dan memilih kembali berbaring ke sisi kiri menghadap Kimo.


“Aku cuci mangkuk dulu. Kamu mau aku potongin buah apa?” ucap Kimo sebelum pergi.


“Kiwi!” sergah Rara antusuas.


Sekali lagi, Kimo dibuat heran, kenapa apa yang Rara mau juga sedang ia mau? Tadi, kolak kolang-kaling dan pisang. Dan sekarang, buah kiwi. Terlepas dari itu, Kimo juga masih belum mengerti, kenapa ia selalu ingin mengayomi Rara, padahal hingga detik ini, wanita itu belum ia temukan di ingatannya yang hilang? Jangankan jauh-jauh dari Rara, membiarkan Rara merengek saja, Kimo tidak bisa. Pun meski pada akhirnya, Kimo benar-benar harus mengalah, menjadi yang salah berikut deretan pengorbanan lain yang harus Kimo lakukan.


Kimo benar-benar siap, asal Rara selalu bersamanya. Asal Rara selalu mencintainya dan terus begitu hingga maut memisahkan mereka. Karena dengan begitulah caranya mencintai Rara--berkorban bahkan menjadi orang bodoh sekalipun. Kimo memikirkan semua itu sembari melangkah menuju wastafel yang keberadaannya persis di sebelah pintu ruang rawat. Kimi.


“Melihat Kainya dan Steven, rasanya kok aku bahagia banget, ya? Bahkan mami kayak sengaja kasih kode,” batin Keinya yang menjadi senyum-senyum sendiri.


“Kak, Kei ... pria itu, ... kemarin dia yang nolongin aku!” lirih Kimi yang terlihat begitu bersemangat dan tak hentinya menatap Steven dengan berbinar-binar.


Kimi yang melakukanya sambil mengguncang lengan panjang yang Keinya gunakan, membuat Keinya bingung. Bahkan, Keinya menjadi dilanda kecemasan. “Kimi, ... enggak suka sama Steven, kan?” batin Keinya.


“Kai, kamu enggak bawa hape? Daniel nanyain kamu terus, ini?” ujar Khatrin dan langsung membuat Kainya memiliki alasan untuk meninggalkan Steven, sesaat setelah memberikan semangkuk sup yang sampai dilengkapi dengan sendoknya.


“Kata papi, aku harus cuti total, jadi memang enggak ada yang perlu aku pusingkan dengan hape, kan? Aku sengaja enggak pegang hape selama aku cuti,” ucap Kainya sambil mendekati Khatrin.


“Ya, kalau papi enggak maksa kamu buat cuti, kamu pasti sudah sibuk lagi. Enggao ada, loh, karyawan yang sampai urusan cuti pun harus sampai dipaksa. Nah, kenapa kamu ke sini? Sana temenin Steven dulu. Kasihan.”


Kainya yang baru akan duduk langsung menjengit, refleks mundur lantaran diusir Khatrin. Namun ketika Kainya menoleh ke Steven, pria itu kerepotan membawa mangkuk lantaran sebelah tangannya menggendong Pelangi. Jadilah, Kainya kembali terpaksa mendekati pria itu.


“Kamu sengaja menghindariku?” lirih Steven ketika Kainya kembali, setelah sempat menelantarkannya.


“Meski kamu selalu abai bahkan enggak menganggap kehadiranku, itu enggak akan mengubah keputusan sekaligus perasaanku kepadamu. Aku enggak peduli, Kai!” ucap Steven lirih sebelum Kainya kembali meninggalkannya.


Kainya yang kian dilanda tegang pun berkata, “kamu boleh berbicara seperti itu, setelah kamu mengenalku setidaknya minimal dua tahun.” Tak beda dengan Steven, Kainya juga mengatakannya dengan lirih juga.


Kainya segera duduk di sofa seberang sofa keberadaan Khatrin duduk. Dan dengan santai, Steven pun menyusul, duduk di sebelah Kainya.


“Dua tahun?” lirih Steven. Ia mengatakan itu dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Kainya. “Baiklah ....”


Kainya mengernyit menyimak Steven tanpa menatap pria itu. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan Pelangi yang justru meminta turun dan lari menghampiri Keinya.


“Biarkan aku, mencintaimu, dengan caraku ....” Setelah berkata seperti itu, Steven memakan bahkan menuntaskan supnya.


Kainya terdiam bingung dan berangsur menunduk. “Apa ini? Kenapa perasaan seperti ini, tiba-tiba saja muncul?” batin Kainya yang kemudian sengaja geser, menjaga jarak dari Steven.


Tiba-tiba saja, Kainya merasa kesedihan berikut rasa takut yang begitu besar hanya karena pengakuan Steven. Kainya benar-benar takut, Steven justru memenangkan tantangan darinya. Pria itu bertahan mencintainya dengan, sedangkan Kainya sudah berniat untuk menutup hatinya rapat-rapat.


“Kenapa pria itu sampai ke sini? Apakah dia sengaja mencariku?” batin Kimi yang menjadi berbunga-bunga dan tidak bisa berhenti memperhatikan Steven.


***


Di hari terakhir cutinya, Kainya kembali lolos dari pengawasan Daniel. Bahkan Kainya sampai bisa mengemudikan mobilnya sendiri tanpa kawalan sopir. Dan hari ini, Kainya sengaja menemui Itzy ke rumah wanita itu. Kainya melakukan hal tersebut, agar wanita muda itu berhenti mengusik rumah tangga Keinya dan Yuan. Namun, baru juga akan menepikan mobilnya di depan rumah keluarga Itzy, Kainya justru dikejutkan oleh pemandangan yang tidak pernah ia sangka, di halaman depan rumah keluarga Itzy yang terbilang luas dan merupakan hamparan rumput hijau yang terawat.


“Bukankah itu Ben? Kenapa dia ada di sini, bahkan sampai memeluk Itzy? Bukankah sekarang, Ben, ... kekasih Ryunana?” batin Kainya.

__ADS_1


Bahkan karena mengetahui hubungan Ben dan Ryunana yang berkembang begitu cepat semenjak pria itu amnesia, Kainya yang sempat memberi harapan kepada Ben, menjadi sangat kecewa. Itu juga alasannya menolak Ben, ketika tak sengaja bertemu pria itu di rumah sakit, sekitar satu minggu lalu.


Tak mau mati penasaran, Kainya segera keluar dari mobilnya. Namun ia tak lantas masuk menghampiri keduanya. Karena ia memilih menemui satpam yang berjaga di depan gerbang. Kainya yakin, satpam yang berjaga juga akan mengenali Ben, jika Ben memiliki hubungan spesial dengan Itzy. Tapi, masa Ben tidak memiliki hubungan spesial dengan Itzy, sementara pria itu sampai memeluk dan bahkan mengelap setiap air mata Itzy?


Kainya yang awalnya antusias mencari informasi, menjadi menatap sedih kebersamaan Ben dan Itzy. Terlebih, tiba-tiba saja pengakuan cinta Ben untuknya yang pria itu rekam dalam video, juga terputar di ingatannya.


“Bu Keinya, mau tanya apa? Tadi katanya mau tanya-tanya?” satpam yang tak lain Paimun, dan berhasil mengusik Kainya. Yang Paimun tahu, wanita di hadapannya adalah Keinya istri Yuan--pria yang dicintai bosnya.


Kainya yang dirundung kesedihan sampai menitikkan air mata, tak kuasa melihat kedekatan Ben dan Itzy. Kainya segera mengelap air matanya kemudian mengeluarkan dompet dari tas yang menghiasi pundak kanannya. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dari dompet dan memberikannya pada Paimun.


“Ini buat apa, Bu?” Paimun yang kebingungan, sebenarnya hanya pura-pura, lantaran jauh di lubuk hatinya, pria paruh baya itu bersorak riang sambil menerima uang dari Kainya.


Kainya menelan ludah. “Itu ... pria yang sama Itzy siapa?” bisik Kainya sambil menunjuk Ben.


Paimun menatap Ben sekilas. “Oh, itu. Itu sih Pak Ben. Dia calon suami Non Itzy! Kabarnya sih, mereka dijodohkan!”


Kepala Kainya menjadi terasa pusing. “Drama apa lagi ini?” batinnya sambil mengerutkan dahi demi meredam pusing di kepalanya. Bahkan Kainya sampai meninggalkan Paimun begitu saja, sambil memegangi keningnya menggunakan kedua tangannya. Kainya berjalan sempoyongan menuju mobilnya dan kembali duduk di balik kemudi.


Lain halnya dari Kainya yang dirundung banyak luka bahkan duka, Paimun justru sibuk menghitung lembaran uang berwarna merah pemberian Kainya yang jumlahnya ada tujuh lembar. “Lumayan!” lirihnya girang dan kemudian memasukkannya ke dalam dompetnya dan hanya dihuni selembar uang dua ribu pun itu sudah sangat lusuh.


Tiba-tiba saja, Kainya yang masih dirundung pilu, teringat sesuatu. “Bukankah Ben dan Steven dekat? Kenapa aku enggak tanya tentang Ben, ke Steven saja?” Kainya yang bergegas menyalakan mesin mobilnya juga kembali bertanya-tanya, kenapa Itzy yang sudah dijodohkan juga masih mencoba merebut perhatian Yuan?


Semburat warna jingga telah menjadi pertemuan senja dan matahari, ketika Kainya mengemudikan mobilnya menuju apartemen Steven. Hanya saja, demi mencari aman takut Steven belum pulang kerja bahkan ada urusan lain, Kainya sengaja menelepon pria itu.


Di dering ke dua sambungannya terhubung, dari seberang, suara Steven sudah langsung terdengar. “Kai?”


“Kamu di mana? Ada waktu? Aku ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu.”


“Oh ... sebentar lagi aku pulang. Biar aku saja yang ke rumahmu.”


“Aku sudah di jalan.”


“Kau menyetir sendiri?”


“Aku bisa.” Kainya tahu, Steven sedang mengkhawatirkannya.


“Matikan saja teleponnya. Jangan menemudi sambil telepon. Sekarang juga kamu pulang. Aku akan langsung ke rumahmu agar tidak dikira macam-macam.”


Steven benar-benar memutus sambungan telepon mereka. Dan Kainya langsung terdiam detik itu juga. Jika Steven pria kurang ajar, Steven pasti akan memanfaatkan permintaan Kainya dan bahkan mungkin lebih. Namun, ... Steven bahkan lebih memilih datang ke rumah Kainya agar tidak dikira macam-macam? Steven melakukan itu karena memang sudah menjadi sifat pria itu, atau hanya sedang mencari simpati Kainya bahkan keluarga Kainya?


***


Dudududu ... diselesaikan satu-persatu, yaa ^^


Author tunggu like dan komen kalian ^^


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2