
“Aku kekasihnya! Elia kekasihku! Jadi, bukan hal yang aneh jika aku juga selalu ikut campur dalam urusan Elia. Bukankah memang sudah seharusnya begitu?"
Bab 74 : Dia, Kekasihku!
Hal pertama yang Rafaro lakukan ketika baru menepikan mobilnya tak jauh dari gerbang rumah Elia, adalah membalas sapaan sang satpam yang langsung siap tanggap menghampirinya.
“Itu tadi, saya lihat mobilnya nenek Khatrin baru dari sini? Berarti, Elia sudah sampai rumah, ya, Pak?” lanjut Rafaro dan memang sengaja mencari tahu keberadaan Elia.
Mofaro takut, masalah Atala yang sampai membuat Elia tinggal di rumah Khatrin, masih menjadi dilema tersendiri bagi Elia. Bahkan parahnya, Elia yang sudah sampai diminta pulang oleh Kainya, justru pergi ke tempat lain hanya untuk menghindari Elena.
“Oh, iya, Den. Itu tadi memang Non Elia. Pulang bentar, tapi pergi lagi,” jawab sang satpam dengan sangat sopan dan sampai membungkuk demi menyeimbangi wajah Rafaro.
Sungguh, balasan sang satpam yang bahkan sudah sampai Rafaro pikirkan, sukses membuat Rafaro kacau. “Tapi, Elia ada bilang mau ke mana, Pak?” sergahnya.
Sang Satpam langsung menyeringai sambil menggeleng, menandakan jika pria berkulit bersih itu memang tidak tahu menahu.
“Ya sudah, Pak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Den!”
Rafaro langsung kembali menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan depan gerbang kediaman keluarga Elia tanpa jadi memasukinya lantara yang dituju memang tidak ada. Di mana kemudian, ia sampai mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Elia. Sialnya, semua telepon yang Rafaro lakukan benar-benar Elia abaikan.
“Aku tahu keadaan sekarang membuatmu merasa sangat pelik. Namun, apakah sesulit itu membagi waktu, sampai-sampai, sekarang kamu juga enggak ada waktu buat aku?” pikir Rafaro.
Rafaro berikir, mungkin, ia juga harus berbicara empat mata juga dengan Elena. Agar Elena tidak terlalu menyalahkan Elia. Juga, agar Atala tak terus menyudutkan Elia melalui Elena.
Jadi, Rafaro sengaja mengirim pesan WA kepada Elena. Ia melakukannya sambil menunggu antrean di lampu merah.
Rafaro : Lena, ini aku Rafaro, kamu menyimpan nomorku, kan? Aku mau langsung bahas ke tujuanku menghubungimu saja. Ini mengenai salah paham antara kamu dan Elia. Aku tidak bermaksud ikut campur. Namun karena ini sudah menyangkut Elia, rasanya aku juga harus angkat suara dan meluruskan keadaan.
Rafaro : Kamu jangan berpikir macam-macam. Aku dan Elia sudah sepakat untuk sama-sama menjadi ‘orang’, sebelum memantapkan hubungan. Jadi, tidak mungkin juga Elia ada rasa kepada Atala, terlebih selama ini kamu dan semuanya tahu, Elia begitu mencintaiku. Namun intinya, kita masih terlalu muda untuk membahas apalagi terluka karena cinta.
Rafaro : Tidak ada yang lebih berharga dari hubungan keluarga, Elena ... kuharap, kamu paham maksudku.
Rafaro : Secepatnya, aku usahakan agar kita bisa duduk bersama. Kamu, Elia, Atala, dan juga aku.
Semua pesan yang Rafaro tulis selesai dikirimkan, bertepatan dengan lampu merah yang berubah menjadi hijau. Di mana, semua kendaraan yang awalnya mengantre dan menjadi satu kesatuan himpunan, juga berangsur melaju dan bubar dengan tujuan masing-masing tanpa terkecuali Rafaro.
“Aku harus mencari Elia ke mana?” pikir Rafaro yang memang tidak mengetahui tujuan Elia.
Sambil menyetir, Rafaro memukul-mukulkan pelan, ponselnya pada bibir, di mana tak lama setelah itu, ponselnya berderingd an merupakan dering tanda pesan masuk. Dering pesan tersebut merupakan pesan dari Elia, dan Rafaro buru-buru memastikannya.
Elia : Jangan telepon dulu. Tinggalkan pesan saja. Aku sedang ada urusan penting.
Rafaro langsung membalasnya.
Rafaro : Kamu di mana? Aku hanya ingin tahu itu.
Elia : Sebentar lagi aku pulang.
Rafaro : Aku mencemaskanmu. Tolong, jangan melakukan hal bodoh yang justru bisa membuat keadaan semakin runyam.
***
Elia yang masih ada di dalam mobil dan duduk di tempat duduk penumpang tepat belakang sopir, menjadi menunduk lemas. “Bagaimana ini?” gumamnya seiring air matanya yang kian berlinang.
Di depan sana, mobil Atala terparkir, sedangkan tadi, Elia mendapati pemilik mobilnya membopong seorang wanita yang berperut cukup buncit. Di mana, ketika Elia turun dan memastikan, menurut keterangan perawat yang sempat membantu Atala, wanita yang Atala bawa, mengalami pendarahan dan posisinya sedang hamil.
“Bagaimana, Non? Kita mau pulang, atau ke mana lagi? Tapi ini sudah malam, lho, ... nanti mama nyariin,” tegur sang sopir, lantaran semenjak kembali dari klinik kunjungan mereka, Elia hanya diam dan melarangnya menyalakan mobil.
“Bentar, Pak. S-saya ... saya mau turun lagi, sebentar!” lanjut Elia yang kemudian bergegas turun.
Tepat ketika Elia turun, di waktu yang sama, Rafaro yang kebetulan menoleh ke kiri selaku klinik keberadaan Elia, berangsur menghentikan laju mobilnya.
“Elia, di klinik? Dia sakit?” pikir Rafaro yang buru-buru memasuki tempat parkir di klinik yang tidak begitu besar itu.
“Ini juga mobil nenek Khatrin?” Rafaro memarkirkan mobilnya di sebelah mobil yang dimaksud, dan kebetulan di sana memang masih ada tempat untuknya memarkir mobil.
Rafaro buru-buru turun dari mobil, dan sampai cukup berlari hanya untuk mengejar Elia.
***
Sesampainya di dalam klinik, Rafaro mendapati Elia ada di balik sebuah ruang rawat. Gadis itu terlihat sengaja mengintip keadaan di dalam ruang rawat, melalui pintu yang sedikit Elia buka sekaligus tahan.
__ADS_1
“Elia ngapain, sih?” Rafaro menatap apa yang Elia lakukan dengan banyak tanya, seiring dahinya yang sampai berkerut. Dan ia yang sempat berhenti melangkah hanya untuk mengamati apa yang Elia lakukan, kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah ada tepat di belakang Elia, Rafaro tak lantas mengusik kesibukan gadis itu dalam mengintip apa yang tengah terjadi di dalam. Justru, Rafaro yang penasaran memastikannya melalui sela pintu dari atas kepala Elia yang sampai membungkuk.
Rafaro melihat seorang wanita berbaring di atas tempat tidur pasien. Dan di sebelahnya ada Atala yang juga sedang berbincang dengan si wanita. Dan tak lama setelah itu, Elia yang masih diam berangsur menengadah bertepatan dengan Rafaro yang berangsur menunduk, hingga tatapan mereka akhirnya bertemu.
Rafaro dan Elia bertatapan sangat lama. Di mana bersamaan dengan itu, duania mereka seolah berhenti berputar. Tepatnya, dunia seolah hanya milik mereka berdua.
“Aku mohon, bantu aku meyakinkan Jinnan, kalau anak ini, anaknya!” tangis Irena semakin pecah.
Akan tetapi, apa yang Irena katakan dari dalam ruangan, membuat Elia langsung tersentak. Bahkan Elia yang sampai syok, kelepasan dengan gagang pintu yang awalnya ditahan, sampai-sampai, pintu menjadi tertutup dan menimbulkan bunyi.
Elia dan Rafaro sama-sama terdiam. Namun tak lama setelah itu, Rafaro segera menarik Elia untuk menjauhi ruangan tersebut. Rafaro membawa Elia ke koridor di seberang dan berlindung di balik tembok sekat ruang rawat lain.
Jantung Elia berdetak kacau. Tak semata lantaran Rafaro sampai mendekapnya erat mengggunakan sebelah tangan, di mana mereka sama-sama kembali mengintip ruang rawat kebersamaan Atala dan Irene, sebab pengakuan Irena barusan juga tak ubahnya bom atom yang baru saja diledakkan dalam kehidupannya.
“Wanita tadi siapa?” tanya Rafaro serius tanpa perubahan berarti. Tak hanya pandangannya yang terlampau lurus pada pintu ruang rawat keberadaan Atala, tetapi juga sebelah tangannya yang masih menyimpan rapi tubuh kecil Elia dalam dekapannya.
“A-aku, ... juga tidak tahu,” balas Elia yang memang sampai gugup dan kerap mengerjapkan kedua matanya. “Tapi dia sedang hamil dan mengalami pendarahan,” lanjutnya.
“Tahu begini, tidak menghubungi apalagi jujur kepadaku?” saut Rafaro yang sampai menunduk dan menatap sebal Elia yang detik itu juga langsung menunduk, menepis tatapannya.
Elia merasa beruntung, yang menyusulnya Rafaro. Karena jika Mofaro yang ada bersamanya, bisa terjadi baku hantam lagi antara Mofaro dan Atala, dan bahkan Irene yang belum Elia ketahui asal-usulnya.
“Jadi, apa hubungannya dengan Kim Jinnan?” lanjut Rafaro mulai menduga-duga.
“Aku harus menemui Atala!” ujar Elia yang kembali menjadi bersemangat.
“No!” tolak Rafaro cepat.
Elia mengerutkan dahi dan kemudian menengadah. Ia menatap Rafaro tidak mengerti. “Biar semuanya cepat beres karena aku juga akan fokus belajar. Apalagi satu minggu lagi, aku akan ikut olimpiade SAINS!” jelasnya.
“Kamu enggak cerita kalau kamu ikut olimiade?” balas Rafaro yang menjadi terpesona lantaran ternyata, gadis di hadapannya memiliki kepintaran di atas rata-rata.
“Nanti dikira pamer,” balas Elia.
“Aku bukan Mo. Karena yang mengira seperti itu kepadamu, hanya Mo. Aku Rafaro,” balas Rafaro.
“K-kamu ini kenapa? Awas, ... aku mau beresin urusanku dulu!” Elia menyingkirkan tangan Rafaro dari tubuhnya dengan hati-hati. “Rafa bikin gugup saja,” batinnya yang sampai menjadi sesak napas di antara ketegangan yang semakin membuatnya tidak baik-baik saja.
“Biar aku temani,” ucap Rafaro tanpa melepaskan dekapannya.
Elia menjadi terdiam. “Rafaro seperti sedang memberi kode keras,” pikirnya.
“Dia menyukaimu, kan? Tidak, ... lebih tepatnya, dia mencintaimu!” ujar Rafaro mengingatkan, kendati kenyataan tersebut, perihal mengingat Atala yang begitu mencintai Elia, langsung membuat Rafaro ketar-ketir.
“Aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan cinta, karena aku akan fokus dengan sekolah dulu. Aku mau fokus belajar.” Elia mengatakannya sambil menunduk.
“Ya ... aku juga berpikir begitu lebih baik.” Dan Rafaro setuju-setuju saja.
“Asal pada akhirnya, kita bersama,” lanjut Rafaro. Ada beban yang seolah menghilang dari kehidupannya, sesaat setelah ia mengatakannya.
“Aku serius ...,” lanjut Rafaro lantaran Elia tak kunjung meresponsnya. Bahkan yang ada, Elia justru tetap menunduk.
“Biarkan aku menyelesaikan urusanku dulu. Kamu tunggu saja,” pinta Elia.
Rafaro yang berusaha menghargai keputusan Elia pun menyerah dan mengakhiri dekapannya. “Aku akan mengawasi dari sini,” ucapnya, kendati sebenarnya, ia ingin ikut dengan Elia.
Elia mengangguk sambil menatap Rafaro. “Iya. Tetap begitu. Tetap jadi Rafa yang menyenangkan. Jangan tiba-tiba aneh seperti tadi,” balasnya yang menjadi bingung, kenapa tadi, seorang Rafaro sampai memperlakukannya bak seorang kekasih?
“Memangnya tadi aku aneh?” tanya Rafaro yang juga menjadi bingung sendiri.
Dan Elia yang sempat terdiam karena bingung, berangsur mengangguk sebagai balasannya.
“Oh ... itu ... itu, karena aku cemburu. Dan aku takut kehilangan kamu.” Meski menjadi sangat gugup, tetapi Rafaro mencoba meyakinkan Elia melalui tatapannya.
Dan apa yang Rafaro katakan, sukses membuat wajah Elia bersemu.
“Tapi aku lebih suka kalau kamu fokus belajar dulu,” lanjut Rafaro lagi.
Elia yang menjadi salah tingkah, dan bahkan menatap Rafaro saja menjadi tidak berani, berangsur mengangguk.
“Ya sudah, pergilah. Aku akan mengawasi dari sini.” Meski sadar belum benar-benar mengikat Elia, tetapi Rafaro merasa jauh lebih lega, daripada sebelumnya, di mana ia selalu saja emosi hanya karena merasa cemburu. Tak hanya pada Mo, melainkan Atala.
__ADS_1
Seperginya Elia, ponsel Rafaro berdering dan itu merupakan dering tanda pesan masuk. Ketika Rafaro memastikannya, ternyata itu merupakan pesan masuk dari Elena.
Elena : Apa maksudmu mengirimiku pesan seperti itu? Apa status Elia dalam hidupmu?
Rafaro : Dia, kekasihku.
Secepat kilat, Rafaro membalas pesan Elena sebelum akhirnya kembali serius menatap ke depan selaku keberadaan Elia. “Tunggu, tadi mereka membahas Jinnan? Dan sepertinya, nama Jinnan terbilang langka. Maksud wanita itu, bukan Jinnan suaminya Ngi-ngie, kan?” pikir Rafaro yang sampai kembali teringat ucapan Irene.
“Aku mohon, bantu aku meyakinkan Jinnan, kalau anak ini, anaknya!”
“Seandainya kalau itu memang benar ... ya ampun ... semoga bukan!” Dan Rafaro menyingkirkan jauh-jauh pemikiran buruk itu, di mana ia langsung terjaga lantaran di depan sana, Atala keluar dari ruang rawat, bersamaan dengan Elia yang nyaris mengetuk pintu.
Ketika Elia dan Atala berhadapan, detik itu juga dunia Rafaro seolah berhenti berputar. Tak hanya itu, sebab jantung Rafaro juga sampai berdegup kacau dan Rafaro sadar, semua itu terjadi lantaran ia takut bahkan cemburu.
“Kamu ada di sini? Kenapa kamu ada di sini? Kamu sakit?” tanya Atala yang memang mencemaskan keadaan Elia. Ia takut, Elia tidak baik-baik saja lantaran selain ada di klinik, mata gadis itu juga sudah sangat sembam.
Bahkan karenanya, tangan kanan Atala bergerak dengan sendirinya dan kemudian menahan sebelah wajah Elia. Elia yang memilih mudur lantaran takut.
“Jangan menyentuhku sembarangan,” tegas Elia. “Aku ke sini bukan untuk hal lain, melainkan,” lanjutnya yang langsung terhenti lantaran suara Rafaro terdengar dari belakang.
“Wanita di dalam siapa?” tanya Rafaro yang kemudian berdiri di sebelah Elia.
“Memang itu sih yang ingin aku tanyakan, karena tidak mungkin, aku langsung meminta Atala mencintai Elena, sedangkan status Atala saja belum jelas,” batin Elia.
“Dia? Secepat itu wajahnya menjadi baik-baik saja?” batin Atala yang mengira Rafaro justru Mofaro.
“Iya ... wanita di dalam, siapa?” lanjut Elia lantaran Atala menjadi terdiam dan terlihat kebingungan.
“Dia, siapa? Kenapa dia selalu ikut campur dalam urusanmu?” tegas Atala sambil menatap serius Rafaro.
“Aku kekasihnya! Elia kekasihku! Jadi, bukan hal yang aneh jika aku juga selalu ikut campur dalam urusan Elia. Bukankah memang sudah seharusnya begitu?" tegas Rafaro yang sudah telanjur kesal pada Atala.
Akan tetapi, pengakuan Rafaro membuat Elia menjadi sangat gugup. Elia yang menjadi menunduk dan kerap menghela napas pelan demi meredan kegugupannya, terlepas dari Elia yang juga menjadi sibuk mengerjap.
“Jangan begini. Mari kita duduk bersama dan selesaikan semuanya. Jangan terus-menerus membuat hidup orang lain susah,” lanjut Rafaro yang sebisa mungkin memberi Atala pengertian, kendati ia sadar, pria di hadapannya jauh lebih dewasa dari dirinya.
Atala yang telanjur kesal atas status Rafaro yang seolah dibenarkan oleh Elia yang justru bungkam, menjadi semakin murka atas apa yang baru saja Rafaro tekankan. Bahkan karenanya, kedua tangan Atala langsung mencengkeram kedua sisi kerah kemeja putih tak berdasi yang Rafaro kenakan.
“Atala, kamu ini apa-apaan, sih!” tegas Elia yang menjadi panik sekaligus takut. Cukup Mofaro saja yang babak belur, tidak dengan Rafaro.
Elia yang sampai berjinjit-jinjit berusaha melepaskan cengkeraman tangan Atala dari kerah kemeja panjang yang Rafaro kenakan.
“Apakah hobimu memang menyelesaikan masalah dengan kekerasan?” tegas Rafaro yang kemudian menyingkirkan kedua tangan Atala dari kerah kemejanya.
Sebenarnya, Atala tidak rela melepaskan Rafaro begitu saja. Namun karena pernyataan pemuda itu yang menudingnya hobi menyelesaikan masalah dengan kekerasan, ia menjadi mundur untuk menjaga sikap. Apalagi, setelah ia mundur, Elia juga sampai maju dan memunggungi Rafaro, seolah-olah, gadis itu sengaja melindungi pemuda yang mengaku sebagai sang kekasih.
“Ikut kami dan ayo kita selesaikan semuanya dengan Elena. Jangan mengulur-ngulur waktu lagi, jika memang kamu laki-laki!” tegas Rafaro lagi yang masih mempertahankan tatapan tegasnya kepada Atala.
“Statusmu sebagai seorang pilot akan hancur karena aku bisa membuatmu mendapatkan itu, setelah apa yang kamu lakukan pada kembaranku, bahkan kamu juga tak segan berbuat kasar kepada Elia!” lanjut Rafaro.
Atala benar-benar dongkol pada Rafaro. Ia menghela napas kesal dan kemudian berlalu dari kebersamaan.
“Dia mau ke mana?” ujar Elia yang takut Atala kabur.
“Menemui Elena,” balas Rafaro cepat.
“Ayo, kita juga harus pergi,” lanjut Rafaro kemudian sambil menggandeng sebelah pergelangan tangan Elia.
Elia yang cukup terkejut dan mengikuti langkah Rafaro, mendadak teringat Irene. “Wanita hamil tadi, bagaimana?” ujarnya yang sampai menengadah demi menatap Rafaro.
“Oh, iya, ya?” Dan Rafaro juga bingung sendiri.
“Apa yang harus kita lakukan?” lanjut Elia lagi seiring ia yang sampai menghentikan langkah lantaran Rafaro juga berangsur menghentikan langkah.
“Ini terlalu kebetulan. Bagaimana jika yang dia maksud bukan Jinnan Ngi-ngie?” ujar Rafaro.
“Tapi kita ambil kemungkinan buruknya saja,” balas Elia yang memang tidak mau kecolongan.
Rafaro yang tidak langsung mengomentari, berangsur menatap Elia dengan jauh lebih serius.
Jadi, apa yang seharusnya mereka lakukan? Menyelidiki wanita hamil yang tadi dijaga oleh Atala, atau, menyusul Atala dan menyelesaikan semuanya seperti tujuan awal mereka?
#Bersambung
__ADS_1