
“Di saat aku mencintai seseorang, orang itu tidak pernah mencintaiku bahkan menjadi membenciku. Namun di saat ada seseorang yang menyatakan cinta kepadaku, kenapa orang itu justru divonis gegar otak ...?”
Bab 18 : Hukuman
Kainya baru saja duduk pada sofa kecil sebelah ranjang Ben dirawat, menggantikan Shena yang izin ke kamar mandi, ketika telepon masuk dari Kimo menghiasi ponselnya.
Kainya tidak langsung menjawab, dan justru memandangi layar ponselnya yang berisi telepon masuk dari kontak Kimo, untuk beberapa saat sambil menghela napas. Rasa lelah atas pekerjaan di kantor berikut wasiat dari Ben perihal kecelakaan yang menimpa pria itu, membuatnya sangat terbebani. Belum lagi, hingga detik ini Ben juga belum sadarkan diri. Sekadar kemajuan berarti saja tidak ada. Benar-benar tidak ada kabar baik yang bisa membuatnya bernapas lebih lega. Belum lagi, adanya Piera dalam kasus Ben juga akan memberatkan Rara. Kainya benar-benar merasa serba salah bahkan stres memikirkan semua itu.
Kainya sengaja menolak telepon masuk dari Kimo dan menggantinya dengan mengirimi pria itu pesan WhatsApp.
Kainya : Jangan telepon. Aku sedang di ruang rawat Ben.
Kimo : Oh, bagaimana keadaan Ben? Apakah sudah ada kemajuan? Dan mengenai kecelakaannya, apakah sudah ada kejelasan?
Kainya : Belum ada kemajuan. Termasuk kasus kecelakaannya. Maaf membuatmu ikut memikirkan ini.
Kimo : Iya. Aku mencemaskan Rara. Aku takut Rara tambah tertekan. Kamu juga, jangan sampai ini juga membuatmu tertekan.
Kimo : Semoga semuanya cepat terselesaikan.
Kainya : Iya. Aku juga berharap begitu.
Kainya : Kalian pengantin baru. Cobalah ambil cuti dan pergi bulan madu. Besok peluncuran restoran sedangkan hari ini, Keinya kabarnya pulang. Jadi Keinya bisa mengurus penuh restoran tanpa Rara.
Karena Kimo tidak membalas pesan WhatsApp-nya lagi, Kainya pun mengantongi ponselnya ke dalam tas, bertepatan dengan kembalinya Shena dari kamar mandi yang keberadaannya berada dalam ruang rawat Ben.
Untuk bertahan, Ben dibantu beberapa alat medis seperti selang infus dan selang makanan untuk memasukkan nutrisi berikut obat-obatan. Sedangkan mesin EKG juga turut dipasang untuk mengontrol kerja jantung Ben. Dan untuk bernapasnya, Ben juga dibantu mesin ventilator yang dimasukkan melalui mulut berupa selang dan seperangkatnya yang bagi Kainya terlihat begitu rumit. Bahkan karena semua alat-alat itu, keadaan Ben menjadi sangat mengenaskan. Membuat Kainya semakin tidak tega bahkan menjadi ikut merasa sakit. Apalagi jika Kainya harus membalas tatapan penuh luka Shena yang jelas hanya pura-pura tenang bahkan baik-baik saja.
Kainya tahu, Shena sudah memberikan sarana pengobatan terbaik untuk Ben. Hal yang Kainya yakini juga akan Khatrin lakukan jika ia atau saudaranya mengalami hal yang sama dengan apa yang Ben alami. Pun dengan ketegaran sekaligus ketabahan Shena, Kainya yakin itu juga akan Khatrin lakukan. Sungguh, semua kenyataan itu membuat Kainya tidak bisa menutup mata untuk tidak peduli. Apa pun yang telah Ben lakukan baik di masa lalu berikut pengakuan cinta dari pria itu, sekarang Kainya hanya menempatkan dirinya untuk menjalani kewajibannya sebagai makhluk hidup yang harus saling menolong.
“Terima kasih banyak, ya, Kai. Kamu masih mau datang dan menemani Tante menjaga Ben. Kalau Ben tahu, dia pasti sangat senang,” ucap Shena tulus.
Kendati Shena tersenyum, tetapi mata berikut ekspresi wanita itu sarat kesedihan. Apalagi, tak lama setelah itu, Shena juga sampai menitikkan air mata.
“Sama-sama, Tante.” Kainya sengaja mengulas senyum dan sebisa mungkin menguatkan Shena yang duduk di sebelahnya, dan membuatnya sengaja menghadap wanita itu.
“Kalau ingat bagaimana dulu Tante sekeluarga bersikap ke kamu dan keluargamu, rasanya nggak pantas, kalau sekarang, kami justru merepotkan kamu.” Shena makin terisak-isak sembari menyeka air matanya.
Mengingat masa lalu, awal-mula Ben ada dalam hidupnya, yang ada hanya rasa kesal yang terlintas di ingatan Kainya. Belum lagi, cara Ben sekeluarga menekan keluarganya. Dan kalau saja tidak ada Yuan, Kainya tidak yakin semuanya akan baik-baik saja. Bisa jadi, Ben sekeluarga makin menginjak-injak bahkan menghancurkan keluarganya. Namun, Kainya tidak mau terlalu larut dengan masa lalu. Karena sampai kapan pun, tidak ada masa lalu seseorang yang tidak luput dari kesalahan. Karena baginya, tidak ada kehidupan yang benar-benar suci bahkan orang baik sekali pun.
Kainya sengaja merangkul Shena dan berusaha menguatkan wanita itu. “Nggak apa-apa, Tante. Yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu. Yang terpenting sekarang, apa yang kita jalani, juga bagaimana caranya menjadi lebih baik termasuk di masa depan.”
Kainya menghela napas dalam demi mengurangi sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Itu terjadi karena ia merasa sangat sedih atas apa yang menimpa Ben berikut Shena. “Nggak ada orang yang luput dari kesalahan. Semua orang pernah melakukan kesalahan, Tan. Kita sama-sama belajar dari kesalahan di masa lalu ....”
“D-dokter bilang, ... kemungkinan Ben bisa kembali normal seperti sebelumnya itu sangat kecil.” Shena terisak-isak.
Tiba-tiba saja, hati Kainya menjadi terasa sangat sakit hanya karena mendengar pengakuan beriring tangis Shena.
__ADS_1
“Bahkan operasi yang kemarin Ben jalani, karena di otak besarnya mengalami pendarahan. Ada gumpalan darah yang harus diangkat.”
“....”
“Dokter bilang, kemungkinan Ben gegar otak juga ada ... Tante takut kalau Ben sampai gegar otak, Kai!”
Tangis Shena semakin pecah, sedangkan kedua tangannya mendekap erat tubuh Kainya. Kainya sendiri sudah berlinang air mata di antara kesedihan yang tiba-tiba membuncah.
“Di saat aku mencintai seseorang, orang itu tidak pernah mencintaiku bahkan menjadi membenciku. Namun di saat ada seseorang yang menyatakan cinta kepadaku, kenapa orang itu justru divonis gegar otak ...?” batin Kainya. “Sebenarnya, kesalahan apa yang telah aku lakukan di masa lalu, sampai-sampai, aku dihukum seperti ini?”
“Apakah aku memang tidak diizinkan mengenal cinta? Apakah aku tidak seharusnya membiarkan seseorang mencintaiku?” Kainya makin bertanya-tanya dalam hatinya.
***
Yang membuat Gio bingung, kenapa Piera sampai duduk menunggu dan bahkan sampai ketiduran di depan pintu kontrakan barunya? Juga, kenapa Piera mengenakan piama tanpa kemewahan yang selama ini menyertai wanita itu?
Gio mengerutkan dahi dan menjadi enggan melanjutkan langkah. Di kompleks perubahan menengah yang terbilang sepi, ia terjebak dalam rasa yang kembali membuatnya muak. Kenapa Piera masih saja mengganggunya, setelah semua yang wanita itu lakukan dan mengambil semua kebahagiaannya tanpa tersisa?
Sialnya, belum sempat Gio angkat kaki meninggalkan Piera, wanita itu justru terbangun dan melihat keberadaannya.
“Gio ...?” sergah Piera yang langsung bangkit dari duduknya. Ia sampai melangkah tergesa demi menghampiri Gio.
“Jangan mendekat!” tahan Gio penuh peringatan.
Tatapan Gio yang begitu dipenuhi kebencian, sampai berkaca-kaca.
“Gio ...,” ujar Piera dipenuhi sesal.
“Aku mohon maafkan aku!” ujar Piera yang sampai berkaca-kaca.
Gio mengerutkan dahi. “Apakah aku tidak salah dengar?” tanyanya tidak percaya sembari menatap Piera penuh kenistaan.
Piera segera menggeleng. “Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya terdengar sengau sembari melangkah mendekati Gio.
Gio mundur. “Semudah itu?” ucapnya dengan rasa kecewa yang seketika membuncah.
Piera terdiam dan kemudian menunduk.
“Kamu pikir kata maaf bisa membuat mamaku kembali hidup?!” Gio meledak-ledak sambil menunjuk-nunjuk wajah Piera yang seketika tersentak menatapnya, dengan telunjuk tangan kanannya.
“Nggak usah pura-pura terkejut!” sambung Gio.
Piera kebingungan dengan air mata yang terus berlinang.
“Bukankah ini yang kamu inginkan?”
“G-gio ...?”
__ADS_1
“Dasar wanita iblis! Pembunuh!” Rasa sakit hati Gio pada Piera benar-benar sudah tidak bisa diobati.
“Mamamu benar-benar sudah meninggal?” tanya Piera terlihat tak percaya sekaligus menyesal.
“Sudah jangan pura-pura peduli kepadaku. Lebih baik kamu pergi dan jangan pernah menggangguku lagi!” bentak Gio sambil memejamkan kedua matanya dan terlihat sangat terpukul. Begitu banyak luka sekaligus beban yang menyelimutinya.
“Aku wanita iblis? Aku, ... pembunuh?” batin Piera gemetaran tidak percaya. Aku memang pembunuh. Ben juga kecelakaan gara-gara aku ... bahkan Rara juga sudah tidak peduli kepadaku. Tidak ada yang membutuhkanku lagi.
Piera melangkah tak berdaya dan berlalu dari hadapan Gio. Dengan kenyataannya yang menyedihkan tanpa sedikit pun kemewahan berikut rias yang melapisi kulitnya, ia menelusuri jalanan yang sepi dan jauh dari keramaian. Hingga akhirnya setelah ia melangkah lama, ia mendapati jalan raya yang ramai lalu-lalang kendaraan.
Piera berhenti untuk beberapa saat, menatap sekaligus mengamati jalan raya bersamaan dengan ingatannya yang dihiasi penegasan Gio.
“Kamu pikir kata maaf bisa membuat mamaku kembali hidup?!”
“Dasar wanita iblis! Pembunuh!”
Dengan semua kata-kata itu, Piera melangkah ke tengah jalan. Seketika itu juga, suara klakson terdengar memekkan suasana sekitar tanpa terkecuali Piera yang membiarkan tubuhnya tertabrak sebuah truk. Truk yang juga menjadi pemilik suara klakson itu sendiri.
“Biarlah ini menjadi hukuman untukku,” batin Piera.
Tubuh Piera yang berlumur darah, menggeliat bahkan kejang-kejang. Darah segar juga melumuri bibir mungil Piera yang biasanya dipoles gincu berwarna merah terang. Yang membuat keadaan lebih mengenaskan, Piera yang terkapar di trotoar jalan sampai muntah darah.
“Ra ... maafkan Ibu, ya.” Mata Piera terpejam sempurna seiring tubuhnya yang menjadi benar-benar tidak bergerak.
Beberapa orang berdatangan dan langsung mengerumuni Piera. Suara sirine ambulans juga terdengar tak kurang dari setengah jam, setelah itu, di mana tubuh Piera juga langsung diangkat dan dibawa.
***
Di apartemennya, Rara yang baru minum menepikan gelasnya di meja depan kulkas. Ia membuka kulkas dan mengambil kotak berisi manisan kedondong berikut mangga, pemberian Angela. Ketika Rara meletakkan kotak tersebut tak jauh dari gelasnya, tangannya tidak sengaja mengenai gelas dan membuat gelas tersebut terjatuh. Rara menatap tak percaya pecahan gelas dengan hati yang dipenuhi kegelisahan.
“Ada apa, ini? Kok firasatku jadi nggak enak?” gumamnya. Namun yang ada di pikirannya hanya Kimo. “K-kimo!”
Rara yang takut sesuatu yang buruk menimpa Kimo, atas firasat buruk yang tiba-tiba berkecamuk menghantui kehidupannya, segera berlari dan memastikan sang suami yang terakhir kali ia tinggalkan di kamar. Tadu, Kimo sedang membuat laporan untuk keperluan pekerjaan kantor menggunakan laptop.
“K-kimo?” sergah Rara dan langsung membuat Kimo yang awalnya sedang berkutat di depan laptop, refleks menoleh.
“Ada apa? Ada masalah?” tanya Kimo sembari menatap cemas Rara yang terlihat begitu ketakutan sekaligus kebingungan.
Bukankah saat meninggalkannya, Rara baik-baik saja bahkan cenderung ceria? Namun, kenapa saat kembali dari kepergian yang belum ada lima menit, istrinya itu terlihat ketakutan bahkan kebingungan layaknya sekarang?
Bukannya membalas, Rara justru berlinang air mata sambil mengelapnya. Hal yang membuat Kimo bergegas menghampiri.
“Flora, kamu kenapa?” tanya Kimo sembari mendekati, dan kemudian memeluk Rara.
“Nggak tahu. Tiba-tiba takut, lemes kayak gini? Aku pikir, kamu kenapa-kenapa ....?” balas Rara yang justru menjadi terisak-isak. Tiba-tiba saja ia merasa sangat nelangsa. Di mana kesedihan yang dulu, tiba-tiba memenuhi pikirannya dan kenyataan itu membuatnya sulit untuk tidak bersedih.
“Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Aku di sini. Aku di sini, Ra!” bisik Kimo sembari mengeratkan dekapannya dan menjamahi kepala Rara dengan kecupan.
__ADS_1
Tubuh Rara sampai gemetaran. Namun Rara mengangguk-angguk membalas suaminya, sembari mendekap tubuh bidang Kimo dengan sangat erat.
“Mungkin, aku memang harus segera mengambil cuti untuk bulan madu agar Rara bisa liburan dan melupakan semua masalah yang ada,” batin Kimo.