
“Kenapa semua wanita kamu dekati?”
Bab 45 : Di Kafe Keinya
Sesampainya di restoran, kebersamaan Rara dan Kimo langsung mencuri perhatian Keinya. Keinya yang awalnya sedang menarik sebuah buku dari raknya, sampai mendadak mematung tatkala ia tak sengaja menoleh ke belakang dan mendapati kedua sejoli itu.
Mengenai Kimo yang terlihat jelas selalu siaga sekaligus berjaga. Pria yang memiliki sorot mata tajam itu kerap menolah ke sekitar, bawah bahkan atas. Memastikan setiap langkah Rara tanpa hambatan sama sekali. Bahkan ketika akan memasuki restoran berpintu kaca milik Keinya, Kimo langsung bergerak cepat membukakannya. Rara tak ubahnya ratu dari kerajaan besar yang benar-benar harus dilindungi. Hingga tanpa terasa, senyum geli menjadi menghiasi wajah Keinya. Pun dengan rasa geli yang begitu menggelitik sanubarinya, sampai-sampai, ia menjadi terkikik.
Setelah tangan kanannya perlahan mendorong kembali buku yang ditarik pada posisi semula, Keinya yang tak mau dibuat geli sendiri dengan tingkah Kimo, diam-diam menepi, bersembunyi sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jas peach yang dikenakan. Ia mengabadikan ulah Kimo melalui bidik kamera ponsel dalam modus video. Tentunya, kontak WA suaminya menjadi tujuannya.
Dalam video yang Keinya rekam, Kimo kembali mengamati suasana sebelum menarik sebuah kursi di meja bagian tengah paling depan, untuk Rara duduk. Namun ternyata Kimo tak lantas membiarkan Rara duduk. Sebab pria itu menahannya, menggunakan beberapa helai tisu yang ia tarik untuk mengelap kursi berikut meja pilihannya.
“Kimo, ... jangan over begitu. Nanti orang-orang malah mengira kamu enggak waras!” tegur Rara lirih. Ia sampai mendelik pada Kimo saking herannya, kenapa pria itu menjadi begitu proktektif kepadanya? Bahkan, yang paling mencolok setelah turun dari taksi tadi, Kimo yang membawa payung dari rumah, menggunakan payung itu untuk memayunginya dengan dalih, matahari sudah bersinar cukup panas. Padahal, suasana yang sedang berlangsung tidak seekstrim yang Kimo katakan. Suasana masih terbilang berawan dan hanya ada sedikit sinar matahari.
“Anggapan orang enggak bakal menghidupi bahkan sekadar mencukupi kehidupan kita. Mereka hanya menjadikan hidup kita sebagai hiburan. Jadi cukup menjaga diri saja tanpa ambil pusing anggapan mereka,” balas Kimo dengan entengnya dan kemudian mempersilakan Rara duduk.
Rara menatap khawatir Kimo. Pria yang tiba-tiba tidak mau bercerai darinya itu menunjukkan perubahan yang sangat drastis dalam melindunginya. Sampai-sampai, ia berpikir harus memeriksakan kesehatan Kimo lebih lanjut bahkan bila perlu ke psikiater. Rara takut, kecelakaan yang menimpa mereka tak hanya membuat Kimo amnesia sebagian, melainkan kejiwaan pria itu juga sampai terganggu bahkan parahnya bermasalah.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Kimo menatap heran Rara.
Rara mengerucutkan bibir tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Karena gerak-gerikmu mengkhawatirkan.”
“Kamu pikir, aku gila!” saut Kimo mengomel. “Hanya otakku yang rusak karena aku enggak ingat kamu. Selebihnya semuanya masih baik-baik saja, kecuali aku yang memang jadi enggak bisa jauh-jauh dari kamu.” Untuk kalimat yang terakhir, Kimo mengatakannya tanpa berani menatap Rara. Ia justru tertunduk dan merasa, ada yang tiba-tiba saja meledak-ledak di dadanya, sampai-sampai, jantungnya menjadi berdentam sangat keras, sedikit lebih cepat dari biasanya.
Meski masih kerap memperhatikan Kimo, tetapi Rara berangsur duduk. “Mendapat perhatian seperti ini, seharusnya aku bahagia apa malah sedih? Kimo benar-brnar baik-baik saja, kan?” batinnya.
Kimo menarik kursi di sebelah Rara. Ia meletakan tas milik Rara di sana dan memang sampai ia bawakan. Kemudian ia memutari Rara dan sengaja duduk di kursi sebelah wanita itu, agar Rara terapit olehnya berikut tas wanita itu tanpa ada yang mengusik. Pada meja pelanggan berbentuk bundar lebar itu, masih ada dua kursi yang tersisa. Sedangkan Gio yang membuat janji dengan Rara, belum menunjukkan batang hidungnya.
“Ke depannya, kalau harus pergi untuk keperluan pekerjaan, aku akan ke sini lagi,” ucap Rara sambil menatap Kimo yang sedang mengamati suasana sekitar.
Kimo langsung menatap Rara. “Sepertinya, Yuan sengaja membuat restoran ini untuk kepentingan bisnisnya dalam urusan bertemu dengan kolega. Lihat, pria berjas abu-abu di ujung sana. Dia kepercayaan perusahaan Yen, yang bergerak di bidang mesin pembersih udara ruangan.”
Rara berangsur menoleh, mengikuti apa yang Kimo maksud dan mencuri perhatian pria itu. “Itu bukan orang dari luar apalagi Wuhan, kan? Matanya sipit. Jangan-jangan, dia kena virus korona dan bisa menular ke kita?” ucap Rara kemudian tanpa bisa menutupi kecemasannya.
Sebuah timpukan Rara dapatkan dari Kimo. Pria itu menggunakan daftar menu untuk menimpuk Rara dan langsung membuat wanita itu terdiam detik itu juga.
“Rasis kamu!”
“Kan wajib berjaga!” kilah Rara tak mau kalah.
Kimo terdiam dan terlihat merenung, mencermati kecemasan Rara.
“Kamu bilang dia orang kepercayaan perusahaan? Tentu semua urusan akan dia selesaikan dengan cepat. Bahkan dia pasti enggak beda kayak Yuan yang tiba-tiba saja nongol di sana-sini kayak siluman!” Rara masih berkilah dengan suara lirih. Masih berusaha meyakinkan Kimo. Bahkan kali ini saking geregetannya, kedua tangannya sampai mengepal di depan tubuh.
Kimo menghela napas pelan sambil menatap Rara. “Kalau begitu, kamu pakai masker.” Kemudian ia memutari Rara menuju tas wanita itu. Ia mengeluarkan sebuah masker dan ia kenakan pada Rara.
Rara terdiam bingung menatap Kimo. Dengan jarak pandang yang begitu dekat layaknya sekarang, bahoan mata Kimo seolah ada di pelupuk matanya, ia bisa merasakan betapa pedulinya pria itu kepadanya. “Aku enggak bisa pakai masker lama-lama. Yang ada, aku bisa bengek dadakan!” protesnya kemudian.
“Nanti aku gendongin tabung oksigen kalau kamu sampai bengek!” balas Kimo terdengar kesal. Ia mengeluarkan laptop Rara dari tas, sesaat sebelum berlalu dari hadapan wanita itu.
Kimo tak lantas duduk. Pandangannya mengamati pintu masuk. Ia mendapati Gio tengah melewati hamparan anak tangga menuju beranda restoran.
“Benar ... dia Gionya Kimi. Kok bisa akrab sama Rara, ya?” pikir Kimo yang kemudian memilih duduk. Tepat ketika Gio membuka pintu.
Kimo meletakan laptop milik Rara di hadapannya. “Itu, Gio mantannya Kimi, kan?” tanyanya sambil menatap Rara.
Rara mengangguk santai. “Mantan calon suami Steffy juga. Dan juga mantanku.”
__ADS_1
“Seheboh itu?! Dia juga mantanmu?! Bedebah banget!” pekik Kimo geram.
“Ini Kimo marah kenapa? Cemburu, apa bagaimana?” batin Rara memilih tak mempermasalahkan keluhan Kimo.
Mendapati Kimo masih dikuasai emosi, Rara yang sempat mengamati sekitar pun berkata, “jangan dipikirkan masa lalunya. Pikirkan usahanya sekarang dalam berubah menjadi lebih baik.”
“Kamu pikir dia Ninja Hatori pembela kebenaran dan kebajikan! Berubah apanya?!” cibir Kimo yang tiba-tiba berkata, ”kenapa harus minta bantuan dia, sih? Memangnya enggak ada orang lain yang bisa bahkan lebih baik?”
“Aku enggak punya banyak kenalan, Kimo. Sudah, jangan banyak protes.”
Rara segera menyalakan laptopnya. Sedangkan Kimo yang ada di sebelahnya, terpaksa diam.
“Maaf aku telat ....” Gio sudah berdiri di sebelah mereka.
Kimo bersikap sesantai mungkin, dan berusaha untuk tidak mengecewakan Rara. Namun ketika Gio akan mendekati Rara, Kimo langsung meminta pria itu duduk di kursi yang tersisa. Pun meski tujuan Gio untuk memastikan laptop Rara. Kimo menyerahkan laptop Rara tanpa menghampiri pria itu.
Kendati demikian, Gio mau menerimanya. Meski pria itu menjadi memperhatikan Kimo secara diam-diam sambil mengecek laptop Rara.
“Ini server dari luar negeri, Ndut ....” Gio masih serius mengurus laptop Rara. Sesekali, jemarinya menekan tombol di keyboard laptop Rara.
“Lho, kok bisa, sih?” sahut Rara cemas.
“Namanya juga bisnis, ya banyak yang jail, Ndut.”
“Tapikan, aku enggak ganggu mereka ...?”
“Nanti aku pasang pengaman yang lebih kuat.”
“Balas pelakunya, Gi! Kasih virus yang banyak akunnya!”
***
“Beberapa hari yang lalu, dokter menemukan kandungan obat aborsi dalam sampel darah Kimo,” ucap Yuan dari seberang.
Tak lama setelah Keinya mengirim video perubahan sikap Kimo yang baginya sangat berubah, Yuan memang langsung menelepon.
“Ini maksudnya, ada orang yang sengaja ingin mencelakai Rara, tetapi nyasar ke Kimo?” saut Keinya menduga-duga. Hal tersebut benar-benar menyulut emosinya. Ia merasa tak habis pikir, siapa yang tega melakukan itu?
“Iya. Dan mungkin karena itu juga, Kimo jadi over proktektif terhadap keselamatan Rara.”
“Tapi pelakunya siapa? Kamu pasti tahu, kan?” sergah Keinya.
“Makanan itu dari Tante Kiara.”
Keinya yang ada di ruang kerjanya, menjadi gelisah dan tak hentinya mondar-mandir. Sesekali, ia mendekat ke arah pintu dan sedikit membukanya untuk mengamati kebersamaan Rara dan Kimo, yang kali ini sudah disertai Gio. Tampak seorang pelayan restoran menyuguhkan salad buah untuk Rara berikut jus alpukat. Namun Kimo langsung mengambil alih. Kimo langsung mengaduknya dan mencicipi satu-persatu suguhan itu. Bahkan Keinya juga sampai melihat Gio menjadi terheran-heran menatap aneh Kimo. Di mana, lima menit kemudian, Kimo baru memberikan kedua hidangan itu kepada Rara, bersamaan dengan kedatangan pelayan yang membawa dua cup kopi. Kopi itu dihidangkan pada Gio berikut Kimo.
Keinya berangsur menutup pintunya. “Iya, Yu. Kimo jadi protektif banget,” ucapnya kemudian. Ia berangsur duduk di kursi kerjanya dan mrngempaskan punggung di sana, mengambil posisi sesantai mungkin sambil menyimak ucapan Yuan.
***
“Aku sudah membantumu menyelesaikan masalahmu. Jadi sekarang, giliran kamu yang membantuku.” Gio mengatakan itu sesaat setelah menyandarkan punggungnya pada kursi tempatnya duduk.
Rara memanyunkan bibirnya, sedangkan Kimo yang selama kebersamaan dan hampir berlangsung tiga puluh menit menahan kegelisahan terhadap keberadaan Gio, menjadi mengernyit.
“Katakan apa yang kamu mau!” balas Kimo dengan ekapresi yang terlihat garang.
Gio melirik Kimo. “Kok, kamu jadi sensitif bahkan garang banget, ya?” ujarnya.
__ADS_1
“Kata siapa? Perasaan, aku biasa-biasa saja? Kamu kali, yang lagi sensitif. Justru, aku dan Rara sedang romantis-romantisnya, jadi mungkin, ya ... begitulah,” ucap Kimo mencoba basa-basi dan sengaja bersikap sesantai mungkin. Kimo bahkan sampai tersenyum sambil merangkul Rara.
Gio mengerling dan mengangguk-angguk. Pria itu terlihat tidak yakin.
“Rara sedang hamil, jadi aku harus lebih siaga buat dia. Ahh ... anak Papa lagi ngapain, ya, di dalam?” ucap Kimo tiba-tiba dan kali ini sampai mengajak perut Rara berbicara sambil mengelusnya.
Kimo terlihat begitu girang. Tetapi kegirangannya seperti sengaja untuk pamer kepada Gio.
Gio terdiam dengan ekspresi miris atas keterkejutannya. Dari wajah berikut pandangan pria itu kepada Rara seolah bertanya: suamimu masih waras, kan?
Rara tersenyum geli. Senyum geli yang sebenarnya balik bertanya kepada Gio : menurutmu?
Kali ini Gio membalasnya dengan menggeleng tidak yakin. Dan kenyataan tersebut membuat Rara yang masih mengenakan masker menjadi terpejam pasrah sebelum akhirnya memilih menyantap salad buah yang tersaji di hadapannya, dan tadi sempat dicicipi Kimo.
Gio berdeham sambil menutup mulutnya menggunakan sebelah tangan, lantaran ia menertawakan usaha pamer Kimo. Kimo bahlan masih melakukannya hingga sekarang. Pria itu begitu memperhatikan Rara, menyelinapkan anak rambut Rara ke belakang telinga wanita itu, selain kerap mengelap sekitar mulut Rara yang sebenarnya baik-baik saja, tanpa ada noda sedikit pun di sana.
“Bantu aku mendekati Kainya!” pinta Gio kemudian sambil menahan kegelian atas ulah Kimo, dan masih membuatnya kerap senyum-senyum sendiri. Ia menatap kedua sejoli di hadapannya dengan memasang ekspresi seserius mungkin.
Kimo berangsur menatap Gio dan membuatnya tak lagi membungkuk di hadapan Rara. “Kenapa semua wanita kamu dekati?”
Pertanyaan Kimo, membuat Rara yang masih mengunyah pelan, menatap heran Kimo. “Memangnya Kimo kenal Kainya? Bukankah seharusnya yang Kimo kenal hanya Keinya?” pikirnya.
Pertanyaan Kimo teramat menohok Gio yang seketika itu juga menjadi diam.
“Omong-omong, Kainya itu siapa lagi? Kenapa namanya mirip istri Yuan? Masih saudara?” bisik Kimo kemudian pada Rara.
Rara menelan makanannya dengan jawaban yang baru saja membuatnya berhenti bertanya. Mengenai Kainya dalam ingatan Kimo. Jadi, Kimo juga tidak ingat Kainya?
“Kembaran Keinya. Kakaknya Keinya,” balas Rara dengan berbisik juga.
Kimo mengangguk mengerti. “Oh ... istri Yuan, punya kembaran?” batinnya yang tiba-tiba ingin memiliki anak kembar. Bahkan karenanya, tanpa ia aadari, seulas senyum menjadi menghiasi wajahnya.
“Ya, aku setuju dengan Kimo.” Suara Keinya dari belakang Gio, memecahkan keheningan kebersamaan kendati suasana restoran sendiri selalu ramai dan nyaris penuh pengunjung.
Kimo, Rara, termasuk Gio, langsung menjadikan Keinya fokus pandang mereka. Pun meski yang bersangkutan berangsur menarik kursi di sebelah Gio dan duduk di sana.
“Siapa pun yang ingin mendekati Kainya, harus menghadapiku dulu. Apalagi kamu. Enggak meyakinkan banget.” Keinya menatap sebal Gio.
Gio tergagap. “Apanya yang enggak meyakinkan, Kei?”
“Nah, kan! Keinya saja sepemikiran dengan aku!” sergah Kimo.
Rara langsung menarik sebelah lengan Kimo. Kimo refleks menoleh pada Rara, dan seketika itu juga, Rara mendelik, menatap Kimo penuh peringatan.
“Jangan ngompor-ngomporin! Diam saja!” tegas Rara lirih.
Kimo tertunduk kemudian mendengus, menepis tatapan Rara.
Keinya berdeham sambil bersedekap, menunjukkan sikap dinginnya. “Keadaan Kainya saat ini tidak baik-baik saja. Dan dia membutuhkan pendamping yang bisa menerima semua keadaannya.”
“Kainya sakit apa?” sergah Gio tak sabar dan terlihat begitu cemas.
Keinya yang menatap Gio, mendapati kecemasan itu. Gio mencemaskan sekaligus peduli kepada kembarannya.
“Tolong, aku ingin bertemu dengqn Kainya!” sergah Gio kemudian dan menatap Keinya dengan sangat memohon.
Bersambung ....
__ADS_1