
Hukum sosial dari masyarakat jauh lebih berat dari hukuman yang mengharuskan penjahat mendekam di balik jeruji.
Bab 30 : Karma
“Aku mencarimu ke sana-kemari, tetapi ternyata kamu di sini? Lalu, apa yang terjadi dengan perutmu?!”
Pria bule itu bisa berbicara bahasa Indonesia, tetapi logatnya masih terdengar kaku dan cenderung kurang jelas.
“Kenapa vila yang di Bali juga sudah jadi punya orang? Kenapa mereka bilang kamu banyak hutang?”
Athan bergeming. Ia mencoba mencermati apa yang terjadi tanpa langsung mengambil kesimpulan. Pun meski tak biasanya, Tiara hanya diam tanpa melawan. Padahal tersinggung sedikit saja, wanita yang masih resmi menjadi istrinya meski hanya di mata agama, tidak mau diam. Tiara langsung meledak-ledak dan hanya akan berhenti ketika semuanya sudah sesuai keinginan wanita itu termasuk hadiah manis yang harus diberikan sebagai timbal balik. Namun kini, Tiara hanya tertunduk ketakutan setelah sempat berlindung padanya sesaat setelah diamuk Keinya.
Rara mencoba merayakan apa yang terjadi tanpa memikirkan perasaan Keinya juga bagaimana sahabatnya mencegah agar Pelangi tidak mendengar apa yang menimpa Athan. Hal tersebut ia lakukan lantaran Yuan sudah datang. Pria itu bisa memberikan semua kebahagiaan kepada Keinya tanpa diminta. Tak seperti Athan yang lebih memilih meninggalkan anak dan istrinya demi hubungan yang tidak jelas.
“Pak, tos dulu!” Rara mengajak kedua satpam yang tadi sempat akan menahannya dan memang berdiri di sebelahnya, untuk melakukan tos.
Anehnya, meski sedang serius melihat adegan drama dadakan yang berlangsung, kedua satpam itu mau-maunya saja menyempatkan waktu membalas Rara, meski tak lama setelah itu, keduanya kompak kembali menyaksikan drama yang masih berlangsung. Rara jadi tak habis pikir, ternyata bukan hanya kaum hawa yang hobi menonton drama, karena sekarang para lelaki juga memiliki hobi itu.
Yang membuat Rara makin bahagia, beberapa dari mereka yang menonton merekam drama yang berlangsung menggunakan ponsel tanpa terkecuali teman Tiara. Rara sungguh menikmati keseriusan mereka dalam merekam atau sekadar menonton. Bahkan Rara bersyukur karena semuanya meledak dalam waktu yang tepat. Rara yakin, kejadian ini juga menjadi awal kebahagiaan untuk Keinya. Apalagi ia paham, hukum sosial dari masyarakat jauh lebih berat dari hukuman yang mengharuskan penjahat mendekam di balik jeruji.
“Athan, Tiara, selamat tinggal! Ini memang bukan akhir, melainkan awal kehancuran kalian!” gumam Rara.
Rara bersedekap, tersenyum sarkastis menyaksikan nasib Tiara dan Athan. Athan yang masih bergeming namun jelas sudah tidak punya harapan. Sedangkan Tiara, Rara tidak tega mengatakan keadaan wanita itu. Namun ekspresi malu yang Tiara tepis karena terus mendapat gunjingan dari semua penonton apalagi si pria bule tak segan menoyor bahkan menjambaknya, sangat membuat Rara bahagia.
Ini karma kalian. Sebelumnya aku sudah menegaskan karma selalu ada, kan? Keinya memejamkan erat kedua matanya dengan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuh. Rasa puas yang tengah menyelimutinya berhasil menyapu puing-puing luka yang sempat merapuhkan kehidupannya. Ya, rasa yang puas yang begitu membuncah hanya karena ia menyaksikan nasib kedua orang yang telah menghancurkan masa depan Pelangi.
Ketika Yuan sampai di sebelah Keinya, pria itu langsung merangkul punggung Keinya sambil menepuk-nepuk pelan punggung itu dan terkadang mengelus lengan Keinya. Yuan jelas tengah menenangkan Keinya. Memberi kekuatan pada wanita itu agar lebih tegar menghadapi kehidupan termasuk menyaksikan kehancuran kedua orang yang telah menyakitinya.
“Apakah wanita ini benar-benar istri Anda?” tanya Yuan dengan gaya yang begitu sopan kepada si pria bule.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Tiara, pria itu langsung berkata, “ya! Terima kasih banyak karena sudah membantu menemukannya.”
Jantung Athan seolah melesak. Malaikat kematian seolah berusaha mencabut nyawanya dengan paksa. Apa yang pria itu katakan benar-benar membuatnya tak percaya apalagi Tiara juga tetap tidak melakukan penyangkalan. Diamnya wanita itu seolah membenarkan apa yang dikatakan si pria bule!
“Aku menikahinya 4 tahun lalu! Tapi sekarang aku sangat menyesal kenapa aku lebih memilihnya ketimbang anak dan istriku! Seharusnya aku lebih memikirkan anak dan istriku!” Pria bule itu bertutur sambil berderai air mata. Sesal dan kecewa menjebaknya dalam kesedihan tak berujung. Pun meski kedua tangannya sudah berulang kali menoyor dan menjambak Tiara. Wanita yang awalnya memberinya banyak kemanisan bak telaga madu hingga membuatnya gelap mata dan rela meninggalkan istri beserta anak-anaknya. Namun siapa sangka, perlahan-lahan wanita itu menguras kekayaannya. Sialnya, ternyata bukan hanya dirinya yang menjadi korban. Sebab beberapa saudara dari wanita yang mengaku sebagai istri pria yang Tiara rebut, juga meminta pertanggung jawaban padanya termasuk uang ganti rugi.
Setelah memastikan perubahan ekspresi wajah Keinya dan terlihat baik-baik saja, Yuan berdeham. “Baiklah. Semoga masalah Anda cepat selesai. Jika Anda membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Orang-orang saya akan kembali membantu Anda.” Setelah mengatakan itu, ia menuntun Keinya meninggalkan tempat itu. Namun karena Pelangi bangun dan menangis histeris kemudian menatap melas padanya, ia segera mengambil alih bocah itu dari gendongan Keinya.
“Iya ... iya, Pelangi sama Papa. Kita pulang? Ke salonnya nanti saja. Biar pihak salon saja yang datang ke rumah, ya?”
__ADS_1
Yuan menggendong dan menimang-nimang Pelangi penuh perhatian. Kenyataan yang langsung membuat Athan tercengang. Pria berkacamata itu begitu terpukul. Namun ketika ia menoleh dan menatap Keinya, wanita itu justru menepisnya.
“Jangan salahkan aku apalagi orang lain, karena Pelangi lebih memilih orang lain ketimbang kamu. Besok kita selesaikan semuanya di pengadilan. Satu lagi, semua yang aku dan Pelangi butuhkan, sudah kami dapatkan tanpa harus meminta apalagi mengemis padamu!” tegas Keinya lirih. Ia mengatakan itu sambil terus menepis tatapan Athan.
“Sayang, ayo kita pulang,” ajak Yuan dan langsung membuat Keinya mengikutinya.
Athan menatap tak percaya pemandangan itu. Anak dan istrinya lebih memilih pria lain. Mereka memasuki mobil mewah meninggalkannya begitu saja. Dan ketika ia menatap Rara selaku harapan terakhirnya, wanita itu jelas lebih marah dari Keinya.
“Nggak usah pasang wajah susah. Ingat bagaimana kamu membuang Keinya dan Pelangi? Ini karmamu. Tentu nggak cuma ini. Karena karmamu baru dimulai.” Rara tersenyum sarkastis.
“Ternyata yang nggak tahu apa-apa kamu, ya, bukan aku?” Rara meninggalkan Athan dengan kebahagiaan yang membuatnya ingin selalu tersenyum.
Athan bergeming dalam kesedihan juga penyesalan. Dunianya kosong. Apalagi, Tiara diseret paksa oleh pria bule yang mungkin memang suami wanita itu. Wanita yang masih resmi menjadi istrinya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi tidak yakin, benarkah anak yang dikandung Tiara anaknya? “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi begini?” pikirnya yang kemudian justru menggeragap.
Athan hilang arah. Tak ada sedikit pun celah yang mampu memberinya jalan penerang. Tak ada satu pun yang peduli padanya. Jangankan Tiara yang diseret pria bule dan biasanya selalu membuatnya tenang meski hanya dari kata-katanya, Keinya yang baik-baik saja justru memilih pria lain dan bahkan seolah tak sudi menatapnya.
“Kamu sudah bikin saya bangkrut. Masuk penjara kamu. Mati saja di sana! ”
“So-sorry, Honey ... kamu hanya salah paham. Aku hanya mencintaimu sementara pria tadi temanku. Dia memang mengejar bahkan memaksaku untuk bersamanya padahal aku sudah berulang kali menegaskan padanya, aku hanya mencintaimu karena kamu suamiku ....”
“Dasar wanita jahat! Kamu masih berani bohong setelah bukti-bukti terungkap, bahkan polisi terus menghubungiku?”
Athan berlari mengejar kepergian taksi yang membawa Tiara dengan si pria bule. “Ssst! ATM dan semua kartu kreditku dipegang Tiara!” gumanya. Sadar tak mungkin bisa mengejar, ia pun menyetop taksi. Karena meski mobilnya terparkir di depan salon setelah sempat dipakai Tiara, kunci mobilnya juga dibawa wanita itu.
Athan harap-harap cemas. Ia terus menegaskan pada dirinya; ia harus berhasil mengejar Tiara karena semua aset pentingnya dipegang wanita itu. Bahkan ia bisa menjadi gembel bila kehilangan jejak Tiara sebelum mengambil semua asetnya.
“Wah ... hebat, ya, si Jeng Tiara. Di mana-mana yang dimadu wanita, eh ini justru prianya.”
“Ini sih namanya poliandri.”
Teman-teman Tiara berkerumun sambil bergosip. Salah satu hal paling menyenangkan dari sekian banyak kesenangan yang selalu mereka harapkan.
“Eh omong-omong, Jeng Tiara kan punya banyak suami bahkan bule. Aman, nggak, ya?”
“Aman bagaimana maksudnya, Jeng?”
“Iya. Takutnya dia ada penyakit kelamin terus menular ke kita! Kita kan sering bareng Jeng Tiara.”
Setelah kompak bergeming, sepuluh wanita nyentrik itu kocar-kacir dan berdalih akan ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan. Mereka bahkan sampai berebut lebih dulu ketika memasuki mobil mewah sekelas Alphard dan bisa menampung sepuluh orang.
__ADS_1
Rara yang awalnya berdiri membelakangi mobil Yuan untuk mengintip apa yang Athan lakukan yaitu mengejar kepergian Tiara dan si pria bule, mendadak panik lantaran mobil Yuan tak lagi di belakangnya bahkan di sekitar salon.
“Loh, kok aku ditinggal? Nggak beres ini! Ya-ah! Harusnya aku nggak ngintip-ngintip Athan!” Rara mengacak-acak susunan rambut sepundaknya yang hampir di setiap kesempatan selalu digerai. “Apa iya, aku juga kena karma? Karmanya tukang ngintip?”
***
Yuan menghela napas pelan tatkala pandangannya berpaling dari Pelangi yang akhirnya tidur dalam dekapan Keinya yang duduk tepat di sebelahnya. Ia menatap Keinya tanpa bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Semenjak mereka meninggalkan Athan dan Tiara di depan salon, Keinya masih bungkam dan cenderung melamun. Ia yakin Keinya masih memikirkan kejadian di sana: mengenai hubungan Athan dan Tiara. Bahkan ia menjadi takut, bagaimana jika Keinya memilih kembali pada Athan dengan segala pertimbangan termasuk mengenai masa depan Pelangi?
“Kei, aku minta maaf. Aku tahu kamu marah karena aku berbohong mengenai jadwalku hari ini.”
Keinya menoleh dan menatap Yuan dengan bibir yang mengerucut. Ia bingung, apa maksud Yuan berkata seperti itu? “Kenapa minta maaf?”
“Berarti maaf saja belum cukup?” Yuan kembali menghela napas. Kali ini jauh lebih dalam dari sebelumnya. “Setelah aku mendapatkan semua info tentangmu, aku juga mencari tahu semua yang ada di dalamnya tanpa terkecuali. Dan yang lebih kebetulan lagi, orang-orangku menemukan salah satu suami Tiara di hotel cabang yang di Bali.”
“Kenapa suasananya jadi sedih? Yu, hari ini pekerjaanmu sangat bagus! Serius. Aku saja masih nggak percaya, bisa seseru tadi.”
Seulas senyum menghiasi wajah Yuan atas balasan Keinya. Melihat Keinya bahagia, ia juga merasakan hal yang sama bahkan lebih. “Tapi ....”
“Tapi apa?”
Yuan menjadi sungkan. “Salah nggak sih, kalau aku ngomong?”
“Ngomong apa?” Keinya menjadi penasaran.
Yuan tak menjawab karena ia justru tersenyum masam sambil menggeleng.
“Ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Keinya hati-hati.
“Aku hanya takut kehilangan kamu. Itu saja.”
Balasan Yuan berhasil membuat Keinya gugup. Apalagi, sekarang mereka tak hanya berdua, ada sopir dan ia dapati langsung menahan senyum selain Pelangi yang sudah tidur.
“Kalau begitu, sekarang aku boleh tidur?” ucap Yuan kemudian.
“O-oh ... tentu saja!” Keinya tersenyum sebelum memalingkan wajah demi menepis tatapan Yuan agar rasa gugupnya menjadi berkurang. Lagi pula, kenapa juga Yuan harus izin tidur kepadanya, padahal tak ada aturan yang mengikat mereka untuk hal itu. Namun, ketika sesuatu bersemayam di sebelah bahunya dan itu wajah Yuan, Keinya buru-buru mengubah pemikirannya. Pantas saja Yuan meminta izin!
#akhirnya bisa update 😂😂. Maaf, jadwalnya bentrok.
Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mengikuti dan mendukung Selepas Perceraian 💜💜💜💜💜
__ADS_1