Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 59 : Kabar Mengejutkan


__ADS_3

“Meski kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa melakukan banyak hal untuk mengendalikannya dari sekarang. Pasti lebih baik kalau kita memiliki banyak persiapan, kan?”


Bab 59 : Kabar Mengejutkan


***


“Selanjutnya, aku akan melamarmu di depan orang tua kita,” ucap Yuan sungguh-sungguh.


Hati Keinya bergetar. Orang tua kita?


“Kei, ... sebenarnya, ... sebenarnya mama kamu masih hidup.”


Kali ini, bukan hanya hati Keinya yang bergetar, melainkan jiwa dan raganya. Keinya seolah baru saja tersambar petir di siang bolong. Benar-benar tidak bisa dipercaya.


Sadar Keinya terlihat begitu terkejut dan menjadi bungkam, Yuan mengeratkan tahanan tangannya di wajah Keinya. Ia menghela napas pelan, kemudian menempelkan keningnya pada kening Keinya. Tak lama berselang, ia mencium kening Keinya sangat lama.


Keinya memang bungkam, tetapi air matanya terus berlinang. Aneh saja, bukankah seharusnya Keinya bahagia? Bukankah selama ini kabar mengenai kemungkinan orang tuanya masih hidup sangat Keinya dambakan? Namun, kenapa hatinya menjadi terasa sangat sakit? Kenapa Keinya justru merasa sangat terluka? Belum lagi, cara Yuan menyampaikan kabar mengejutkan ini seolah-olah, pria itu takut membuat Keinya terluka. 


Apakah ada alasan besar yang memang akan sangat melukai Keinya? Lihatlah, sudah berapa kali Yuan menghela napas pelan sekaligus dalam? Sudah berapa kali, pria itu mencium kening berikut kepala Keinya? Dan kenapa pula, Yuan terlihat sangat berat sekaligus takut?


Keinya menyingkirkan tahanan tangan Yuan. Dengan wajah tegang akibat luka yang tengah menguasainya, Keinya kembali mendekap tengkuk Yuan jauh lebih erat. Kenyataan tersebut pula yang membuat Yuan mengangkat sebelah tangannya—tangan yang sedari awal bekerja menahan sekaligus membelai Keinya.


Sesaat setelah Yuan menjentikkan jari tangan yang ia angkat, dua ajudan yang berjaga di belakang, di sudut ruang keberadaan mereka, berangsur mendekat. Ke duanya berdiri di depan sampingnya kemudian membungkuk memberikan hormat.


Yuan memberikan Pelangi yang sudah tidur, kepada ajudannya tanpa mengusik Keinya yang masih mendekapnya. “Tolong tidurkan di stroller,” pintanya santun.


Menyadari Tuan mereka cukup kesulitan memberikan Pelangi dikarenakan Keinya masih mendekap erat tengkuk Yuan, salah seorang dari mereka yang jaraknya tepat di sebelah Yuan langsung mengambil alih Pelangi. Sedangkan ajudan yang satunya lagi bergegas menyiapkan stroller yang berada di sebelah meja tempat mereka berjaga tak jauh dari pintu masuk restoran bernuansa kaca, dan kiranya bisa menampung seratus pengunjung lebih. 


Terhitung, ada sekitar dua puluh meja berbentuk bundar yang masing-masing disertai lima kursi, yang menghuni di sana.


“Kei ...?” panggil Yuan lirih sambil mengusap punggung berikut kepala Keinya.


Keinya masih bergeming.


“Apakah kabar ini begitu melukaimu?” sambung Yuan.


“Seharusnya aku memang bahagia. Tapi kabar ini sangat mengejutkan,” balas Keinya.


“Aku tidak menyalahkanmu jika memang kabar ini justru membuatmu terluka. Namun, apakah kamu tidak ingin mengetahui kabar orang tuamu? Kamu tidak ingin mengetahui alasan mereka sampai menitipkanmu ke panti asuhan?”


Tangis Keinya yang sempat mereda, menjadi kembali terisak-isak. “Aku salah. Maaf aku salah. Padahal aku juga seorang ibu. Tak seharusnya aku begini. Kekanak-kanakan,” sesalnya.


“Enggak, Kei. Kamu enggak salah. Rasa kecewamu itu lumrah,” sanggah Yuan berusaha meyakinkan.


Keinya tersedu-sedu. “Enggak, Yu. Aku memang salah. Seharusnya aku lebih bisa bersikap dewasa,” ucapnya sembari menyeka air matanya menggunakan kedua tangan sesaat setelah mengakhiri dekapannya.


Yuan menghela napas pelan kemudian menggenggam kedua tangan Keinya.


“Ceritalah. Ceritakan semuanya. Aku sudah siap.”


Sesuai permintaan Keinya, Yuan mengatakan semuanya. Mengenai ibu Keinya yang masih hidup dan sudah memiliki keluarga baru. Alasan Khatrin ibu Keinya menitipkan Keinya dan Kainya di panti asuhan untuk sementara waktu, dikarenakan ayah Keinya tidak bertanggung jawab. Juga, Kainya yang ternyata sudah bergabung dan tinggal bersama Khatrin, semenjak Kainya lulus SMA.


Mendengar itu semua, Keinya benar-benar terpukul. Kenapa Kainya yang begitu Keinya sayangi, selalu Keinya percaya sekaligus patuhi, begitu ingin menyingkirkan Keinya? Mereka saudara, kembar! Di dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama. Namun, kenapa Kainya begitu membencinya? Kenapa selama ini, Kainya seolah menjadi malaikat untuk Keinya?


Memikirkan semua itu, kepala Keinya menjadi terasa begitu pusing bahkan panas. Keinya terpejam, tetapi ia segera membuka matanya. “Tidak, aku tidak boleh lemah. Jangan pingsan, Kei!” batinnya menyemangai diri sendiri.


Meski sudah berusaha keras mengusir pusing berikut rasa panas di kepalanya, Keinya tetap gagal. Keinya memilih untuk lebih rileks dengan bersandar di dada Yuan. “Semua kebencian Kainya pasti beralasan, kan, Yu? Bahkan dia sudah membenciku di saat usia kami masih sangat dini.”


Sambil mendekap hangat punggung Keinya, Yuan mengangguk. “Aku rasa juga begitu,” ucapnya.

__ADS_1


“Kamu tahu alasannya?” lirih Keinya sambil menengadah. Ia berharap, untuk alasan kali ini, Yuan juga mengetahuinya dan akan mengatakannya.


Yuan berangsur menunduk, menatap Keinya yang masih bersandar padanya. Tatapan Keinya begitu menahan banyak luka dan jelas berserah kepadanya. “Belum,” ucapnya sambil menggeleng.


Keinya mengerutkan bibir, tampak berpikir seiring pandangan yang menjadi kosong.


“Aku akan mencari tahu untukmu secepatnya,” ujar Yuan. Berharap apa yang dilakukannya segera menghilangkan keraguan sekaligus beban wanitanya.


Keinya mencoba mengulas senyum agar kesedihan yang ia rasakan tidak terlihat begitu mencolok. Ia yakin, Yuan merasa sangat bersalah atas kesedihan yang menimpanya.  “Kamu punya foto mamaku?”


Yuan mengangguk. “Aku juga punya nomor ponselnya. Kamu mau? Mama juga pakai WhatsApp.”


Ada gurat kebahagiaan yang terpancar di wajah Keinya. Hanya saja, wanita itu masih terlihat tidak yakin. Karena meski alasan mamanya menitipkannya di panti asuhan bisa Keinya terima, tetapi di sisi lain ada Kainya yang begitu membencinya bahkan sudah berhasil membuat keluarganya percaya, Keinya telah tiada.


“Aku rasa, sebaiknya aku menghubungi mama setelah kebencian Kainya kepadaku beralasan. Aku yakin, ada hal yang membuat Kainya begitu terluka. Aku pasti telah melakukan kesalahan fatal kepadanya.”


“Kalau menurutmu begitu, dengan kata lain pernikahan kita juga akan semakin ditunda. Yang aku takutkan, kebencian mamamu semakin bertambah. Bukan hanya kepadaku karena setahu mereka, aku ini pria tidak bertanggung jawab yang sudah mempermainkan Kainya. Karena aku juga takut, kebencian itu juga diberikan kepadamu.” Melihat kenekatan Kainya, Yuan yakin apa yang dikatakannya pasti terjadi.


“Meski kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa melakukan banyak hal untuk mengendalikannya dari sekarang. Pasti lebih baik kalau kita memiliki banyak persiapan, kan?” lanjut Yuan.


Tatapan Keinya refleks mengunci kedua mata Yuan yang sedari awal menatapnya penuh keyakinan. Ia tidak menyangka bila Yuan sudah menyiapkan banyak hal yang bahkan sangat jauh, untuk mereka.


“Jangan terlalu memikirkan ini. Aku akan melakukan semuanya untukmu. Untuk kita. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Asal itu membuatmu bahagia dan kamu tetap di sisiku, aku akan selalu mendukungnya!” lanjut Yuan.


Keinya tersipu. “Memangnya siapa yang akan meninggalkanmu? Kenapa kamu begitu takut aku meninggalkanmu?” batinnya. Ia membenamkan wajahnya di dada Yuan. Tempat di mana ia mendapatkan begitu banyak ketenangan. Karena ketika Keinya bersandar di sana, Keinya selalu merasa sangat nyaman.


“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” Tatapan Keinya kosong sedangkan pikirannya yang melayang, memikirkan banyak hal mengenai ibunya. Yuan bilang, namanya Khatrin. Wanita itu juga sangat cantik seperti diri Keinya. Lemah lembut dan ketegasan yang ada dalam diri Khatrin, dikata Yuan juga sangat mirip dengan Keinya. Hanya saja, mengenai ayah Keinya, hingga detik ini Yuan masih belum bisa menemukan faktanya.


Sambil mendekap punggung berikut kepala Keinya, Yuan berkata, “kita harus menemui mamamu dan duduk bersama, bila perlu Kainya juga bersama kita.”


“Apakah itu mungkin? Mana mungkin Kainya mau?”


Rencana apa yang akan Yuan lakukan untuk menjinakkan Kainya yang gerakannya begitu gesit dan sangat sulit dikendalikan seperti belut? Keinya harap, apa pun itu, semoga ke depannya tak ada lagi kebohongan terlebih pengkhianatan yang membuat mereka terluka. Apalagi, kekacauan yang Kainya lakukan sudah membuat semuanya terlalu jauh.


“Apakah kamu juga tahu, kalau tidak diundur, seharusnya hari ini, Rara juga bertemu dengan ibunya.”


Pengakuan barusan membuat Keinya sangat terkejut. Bahkan saking terkejutnya, Keinya sampai tersedak ludahnya sendiri, buru-buru mengakhiri dekapannya kemudian memukul keras dada Yuan. “Bagaimana mungkin kamu berkata seperti itu, sedangkan ibu Rara sudah lama meninggal?!” omelnya.


“Menurutmu?”


“Yuaaaan! Kamu enggak boleh ngomong seperti itu. Kata-katamu rancu. Apalagi kamu bilang tifus Rara kambuh dan dia sengaja enggak mau merepotkan aku, karena Kimo juga bersikeras merawat Rara. Begini saja, hatiku jadi gamang. Rasanya enggak enak banget, seperti jauh dari anak yang jelas-jelas harus aku perhatikan lebih. Eh kamu malah!” Keinya menatap kesal Yuan.


“Tapi aku serius,” balas Yuan santai bahkan sambil menahan senyumnya.


“Yu ...?” Keinya kehilangan ekspresi. “Apakah sebenarnya, sakit Rara sangat parah? Kalian sengaja menyembunyikannya dariku?” Keinya benar-benar takut, apa yang ia pikirkan dan berhasil meracuni pikirannya justru kebenaran.


“Jangan ngomong begitu. Pamali. Tadi, kamu sendiri kan, yang bilang kalau kata-kataku rancu?” Yuan berusaha meredam tawanya tanpa berani menatap Keinya.


“Yuan, sebenarnya kamu kenapa? Kenapa kamu justru terkesan mempermainkanku?”


****


“Ki-mo? Apa yang kamu lakukan?” omel Rara yang terlonjak keluar dari lift sambil menekap sebelah lehernya. “Kalau membekas Bagaimana?!”


Kontras dari Rara yang meledak-ledak bahkan takut, di mana wanita itu juga terus memastikan leher yang akan kembali Rara tutupi rapat-rapat, Kimo justru terlihat begitu santai, meski Kimo juga menahan senyum yang begitu mewakili kebahagiaannya.


Kimo keluar dari lift dengan santai kemudian mengangsurkan tas milik Rara yang masih ia tenteng. Rara mengambil tasnya dengan sangat berjaga di mana tatapannya juga masih terlihat begitu sebal pada pria yang selalu mengikutinya dan kali ini sampai menahan sebelah pergelangan tangannya.


“Kimo! Kamu sudah melangkah terlalu jauh!” omel Rara, tapi Kimo tetap melakukan apa yang ia keluhkan. Pria itu terus menggandeng dan mengikutinya. Sampai-sampai, ia terjaga dan kembali menekap lehernya sambil menunduk tatkala di depan apartemen Keinya, Yura juga baru saja keluar dari apartemen Yuan.

__ADS_1


“Ya ampun. Jangan sampai ada yang tahu. Pasti membekas ini. Bagaimana aku bisa menghilangkannya?” batin Rara yang kemudian menghela napas dalam. 


Rara tetap menyempatkan untuk menyapa Yura dengan senyum tanpa mengubah keadaannya yang lebih sering membungkuk dan sebisa mungkin menyembunyikan bekas yang Kimo tinggalkan di lehernya.


“Kenapa Yura terlihat sangat sinis? Dia marah kepadaku? Tapi kenapa?” pikir Rara. Rara yakin, reaksi Yura yang begitu angkuh bahkan sampai menepisnya itu memang karena adik Yuan marah kepadanya. Dan yang membuatnya semakin kesal, Kimo tak mau melepaskan gandengan mereka, sedangkan Rara tidak mungkin menggunakan tangan sebelahnya yang menekap leher, untuk menyingkirkan Kimo. Pun meski Rara sudah menatap Kimo penuh isyarat agar pria menyebalkan itu segera melepaskan gandengannya. Yang ada, wajah jutek Kimo ia dapati menepis Yura.


“Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat tidak akur? Bukankah Yura adik Yuan? Seharusnya mereka akrab, kan?” pikir Rara lagi makin bertanya-tanya. Rara terpaksa melepas tahanan lehernya, tapi buru-buru menutupi bagian yang sempat ia tutup dan terdapat bekas kemerahan cukup panjang sekaligus mencolok di sana, dengan rambutnya yang tergerai. Tentu, ia harus tetap menunduk agar bekas tersebut lebih aman.


“Kimo, aku harus ke toilet. Lepaskan tanganku,” keluh Rara setelah berhasil membuka pintu apartemen. Ia yang akan masuk, tertahan oleh Kimo yang menggandengnya dan justru terdiam di depan pintu menghadapi Yura.


Kimo melepaskan Rara. Melepaskan gandengannya. “Jangan lupa obatmu.”


“Mmm ... aku tidak akan lupa,” seru Rara dari dalam sambil terus berlari menuju kamarnya.


Yura melirik sinis Kimo.


“Ada masalah?” tanya Kimo.


Yura menepisnya dengan lirikan sinis, tetapi Kimo tak peduli dan masuk meninggalkan wanita itu.


“Hatiku yang bermasalah. Dan kamu yang menyebabkannya!” ujar Yura.


“Aku tidak pernah memintamu untuk mencintaiku. Aku juga tidak pernah menjanjikan apa pun. Justru, aku selalu memintamu untuk mencari dan hidup bersama pria yang benar-benar mencintaimu. Lantas, di mana letak kesalahanku?” ucap Kimo sesaat setelah ia berbalik dan menatap Yura penuh kepastian.


Yura bergeming. Hanya saja, selain kedua matanya yang menatap dalam kedua mata Kimo, kedua tangannya yang ada di sisi tubuh juga refleks mengepal erat. Ucapan Kimo sungguh melukai sekaligus membuatnya semakin emosi.


****


“Rara ... akhirnya kamu pulang?” seru Keinya antusias dan kebetulan baru menutup pintu kamarnya.


Rara yang baru akan masuk kamarnya makin panik. “Astaga, bagaimana ini?” pekiknya dalam hati.


“Aduh, Kei, sebentar. Aku mau ke kamar mandi dulu!” sergahnya  dan langsung meninggalkan Keinya termasuk mengunci pintu kamarnya.


Keinya yang sudah telanjur mengejar, terheran-heran. Apalagi, Rara juga sampai mengunci pintu kamar. Dan ketika ia meninggalkan pintu kamar Rara yang sempat ia coba untuk membukanya, ia mendapati Kimo dan Yura di depan pintu masuk apartemennya dalam suasana yang cukup menegangkan. Kimo yang terlihat jelas menolak Yura, serta Yura yang terlihat begitu terluka.


“Ya ampun mereka!” gumam Keinya sembari menggigit kuat bibir bawahnya.


****


Di kamarnya, Rara buru-buru melempar tasnya ke kasur. Ia juga melepas jas Kimo yang masih ia kenakan. Kemudian ia buru-buru memastikan keadaan lehernya di depan cermin rias.


“Astaga! Kimo benar-benar gila! Ini sangat jelas. Aku ... aku harus menutupnya, tapi pakai apa?”


“Ah!” setelah mondar-mandir kebingungan, fokus Rara langsung tercuri pada BB krim yang ada di meja rias tempatnya bercermin. Ia buru-buru menggunakan krim ajaib itu untuk menutupi bekas kemerahan yang bahkan sudah menghitam di lehernya.


Ketika Rara keluar dari kamar, Keinya baru saja meninggalkan arah pintu masuk.


“Ada apa, Kei? Kimo belum masuk juga?”


Keinya terkejut. “Ah, enggak. Enggak ada apa-apa. Mungkin Kimo akan bertemu Yuan. Oh iya, kamu enggak apa-apa, kan?”


Rara menggeleng. “Nggak, sih. Tapi kok, ... kenapa Yura kelihatan nggak suka ke aku, ya? Cuma aku yang salah arti, apa bagaimana?”


Keinya buru-buru menggeleng. Ia merangkul Rara, menuntun sahabatnya menuju dapur. “Ada rahasia yang harus kamu ketahui.”


“Rahasia? Rahasia apa? Kelihatannya sangat serius?” bisik Rara penasaran. “Apakah ini kabar yang mengejutkan?”


Keinya hanya mesem dan menyiratkan banyak arti, membuat Rara semakin bertanya-tanya. Rara ingin secepatnya mengetahui semuanya. Empat hari tak bersama, sepertinya telah terjadi banyak hal yang membuat Rara tertinggal banyak hal.

__ADS_1


*****


__ADS_2