
“Karena meski kita merasa jauh lebih baik, tetapi hal tersebut tak lantas membuat orang yang kita cintai meninggalkan pasangannya dan mencintai kita.”
Bab 6 : Menjelang Pernikahan
Melihat Kimo yang menghabiskan waktu istirahat untuk berkirim pesan dengan Rara, Yura jadi penasaran, apa yang membuat Rara berbeda untuk pria sekelas Kimo yang sudah menjumpai banyak wanita? Jika mengenai pendidikan, Rara hanya lulusan dari universitas biasa. Rara juga pelajar dengan prestasi biasa tanpa menonjol di bidang tertentu. Kalaupun karena Kimo melihat Rara melalui paras wajah wanita itu, di luar sana bahkan dirinya juga bisa lebih cantik dari Rara. Sedangkan mengenai sikap, Rara juga tidak selalu bijak dan dewasa. Karena terkadang, selain kekanak-kanakan, Rara justru selalu membuat Kimo marah dengan berbagai pertikaian yang membuat keduanya cekcok. Benar-benar tidak ada yang spesifik, tetapi kenapa Kimo justru tergila-gila dan bahkan sampai rela melepas semuanya termasuk keluarga?
Kimo bahkan sampai ribut dengan Kiara sedangkan selama ini, yang Yura tahu, Kimo sangat menyayangi Kiara. Bahkan karena rasa sayang berikut cara Kimo menghormati Kiara, Yura menjadi makin mengagumi Kimo. Jarang kan, ada pria yang begitu memuliakan wanita? Anehnya, dinding pertahanan itu runtuh hanya karena seorang Rara. Dan karena Rara juga, Kimo yang hobi dengan rambut gondrong sampai rela potong rambut. Semuanya benar-benar karena Rara.
Namun, ketika di waktu pulang, Yura yang masih memperhatikan Kimo mendapati pria itu dihampiri seorang wanita cantik bergaya modis. Wanita yang Yura ketahui sebagai Steffy. Yang Yura tahu, selain keduanya sempat bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahan, keduanya juga pacaran semenjak awal SMA. Dan karena wanita itu juga, Yura tidak pernah bisa mendapatkan Kimo dari awal. Sayangnya, ketika Kimo lepas dari Steffy, Yura yang sempat merasa memiliki peluang besar justru tetap tidak bisa walau sekadar kesempatan, lantaran Kimo hanya menganggapnya sebatas adik, saudara dan tidak lebih.
Sembari menahan kaitan tas di pundaknya, Yura tertunduk sedih. Kimo memang tidak pernah mencintaiku. Itu kenapa sekadar kesempatan mendekatinya, juga tidak pernah dia berikan. Kemudian ia kembali memperhatikan Kimo dan Steffy yang berhadapan tak jauh dari pintu masuk perusahaan. Di luar, tepat di depan pintu masuk bernuansa kaca, hingga ia yang kiranya berjarak 10 meter dari kebersamaan keduanya, masih bisa melihat dengan leluasa.
Yura memperhatikan kebersamaan Kimo dan Steffy, dari dinding sekat resepsionis.
Kimo, jangan tergoda pada apa pun. Kamu tidak boleh berpaling dari Rara karena dia sudah banyak terluka hanya karena mencintaimu. Meski aku juga terluka, tetapi melihat Rara bertahan setelah mendapat perlakuan kasar dari mamamu, rasanya tidak ada yang pantas mendapatkanmu selain Rara. Rasa sesak tiba-tiba saja memenuhi dada Yura. Karenanya, ia sengaja menghela napas pelan sambil terus memperhatikan kebersamaan Kimo dan Steffy dengan perasaan cemas.
Bahkan meski Steffy sempat mewarnai harimu selama bertahun-tahun. Aku lebih rela melihatmu bersama Rara berikut masa lalunya. Karena meski Rara anak seorang pelakor, tetapi dia tulus dan tidak pernah mengkhianatimu seperti Steffy. Yura melepas kebersamaan keduanya dengan hati yang gamang.
***
Kimo menatap heran Steffy yang tiba-tiba mengulas senyum padanya, sesaat setelah tiba-tiba menghampirinya. Tidak ada hujan, tidak ada angin, wanita dari masa lalunya itu datang bak jaelangkung yang tidak pernah ia undang. Jangankan undang, sekadar mengenalnya pun meski tidak sengaja saja, Kimo tidak mau.
Kimo berlalu begitu saja, karena sekadar menatap Steffy, ia sudah malas. Pun meski wanita yang pernah mewarnai hari-harinya selama hampir delapan tahun, mengejarnya, merengek meminta waktu tanpa dosa, seolah-olah hubungan mereka baik-baik saja, tanpa ada masalah sekaligus luka yang wanita itu torehkan kepadanya.
“Kimo, aku minta maaf. Aku tahu, aku salah. Tapi nggak ada salahnya, kan, kalau kita mulai lagi dari awal?”
Karena Steffy berani meraih sebelah tangan Kimo dan nyaris mendekapnya, Kimo refleks mengipratkannya sambil balik badan. “Kamu ini kenapa, sih? Heran!”
Steffy mendengkus manja sembari memanyunkan bibir mungilnya sedangkan kedua tangannya saling remas di depan tubuh. “Aku mau kita balikan. Apalagi mamamu juga minta aku buat sama kamu lagi.”
Kimo refleks menelan ludah kemudian mundur menjaga jarak. Saking bingungnya harus melakukan apa, pun sekadar berkomentar, yang ada ia menjadi menggeragap. Bayangkan saja, setelah kepergok selingkuh ketika rencana pernikahan sudah mereka sepakati, dengan tidak tahu dirinya Steffy meminta balikan? Bahkan dulu di beberapa kesempatan, Steffy sering pamer kemesraan kepada Kimo yang jelas-jelas, sudah sangat terluka. Tapi sekarang? Kalau tidak berpikir panjang, Kimo ingin mencaci maki, atau lebih parahnya membuat malu Steffy di depan umum.
“Aku bingung dengan cara pikir kamu. Tapi yang jelas, aku benar-benar sudah nggak mau kenal kamu,” lantaran Steffy nyaris mendekap sebelah tangannya lagi, Kimo langsung mundur sambil berucap, “cukup, ya, Fy! Aku sudah memiliki wanita yang mau menerima kekuranganku. Dan aku nggak perlu menjelaskan betapa berharga sekaligus spesialnya dia dalam hidup aku.”
“Tapi, Kimo ....”
__ADS_1
“Satu lagi, kami akan menikah. Jadi tolong, jangan pernah berpikir aku mau kembali ke kamu, apa pun alasannya!” tegas Kimo memotong penjelasan Steffy. “Itu nggak akan pernah dan nggak mungkin terjadi!”
“Tapi mama kamu nggak setuju dengan pernikahan kalian, kan? Bahkan mama kamu lebih berharap aku yang menikah denganmu,” sergah Steffy penuh keyakinan.
“Menikahlah denganku dan mamamu akan sangat bahagia. Lupakan Rara. Lupakan semuanya. Kita mulai dari awal.” Steffy benar-benar memohon. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia sangat berharap Kimo mau kembali menerimanya.
Kimo meninggalkan Steffy tanpa berkomentar lagi. Karena yang ada, semakin ia mendengarkan sederet alasan yang wanita itu berikan bahkan sampai mencatut mamanya, emosinya semakin membludak, sedangkan menjelang pernikahannya, ia benar-benar ingin tenang dan mulai hidup bahagia bersama Rara. Benar-benar tidak mau memikirkan hal lain apalagi yang tidak penting seperti Steffy. Karena perkara mengenai mantan ketika kita sudah memutuskan untuk menentukan masa depan apalagi pernikahan, memang harus ditiadakan.
“Kimo!” Steffy merana. Kimo yang terus ia kejar dengan berbagai alasan lebih memilih memasuki taksi berwarna biru yang kebetulan menunggu di depan perusahaan tempat pria itu bernaung. Namun Steffy tak lantas menyerah sebelum memastikannya langsung. Ia ingin mendengar pengakuan Kimo secara langsung di hadapan Rara. Jadi, ia memutuskan untuk menyusul Kimo menggunakan mobilnya yang kebetulan terparkir di belakangnya dan sudah dihuni seorang sopir yang duduk di balik kemudi.
Keyakinan Steffy jika Kimo masih memiliki rasa padanya begitu kuat. Terlebih setelah Kiara tiba-tiba menemuinya dan memintanya untuk kembali pada Kimo. Kiara ingin Steffy menyadarkan Kimo, menghentikan pernikahan dengan Rara karena Kiara lebih cocok dengan Steffy dan berharap Steffy yang menjadi pendamping sekaligus istri Kimo. Dengan modal keyakinan sekaligus dukungan Kiara, Steffy semakin yakin bisa kembali merebut hati Kimo.
***
Sepanjang hari ini, Rara sulit berkonsentrasi. Tak ada satu kalimat pun yang bisa ia tulis meski ia sudah terjaga di depan laptop bahkan ponsel. Ingatan bahkan hidupnya telanjur kacau terus dipenuhi kejadian Kiara yang kasar dan mengecam hubungannya dengan Kimo. Rara begitu terluka mendapatkan perlakuan kasar Kiara, terlebih biar bagaimanapun, ia juga korban Piera. Dan bila memikirkan masa depan termasuk anak-anaknya dengan Kimo kelak, Rara berpikir untuk menyerah dan memilih meninggalkan Kimo demi kebaikan bersama. Kiara begitu membencinya, jika wanita itu juga membenci anak-anaknya dan Kimo yang tentu menjadi cucu Kiara? Namun di lain sisi, selain sudah berjanji untuk hidup bersama Kimo, Rara yakin Kimo tidak akan melepasnya begitu saja. Bisa jadi, pria itu nekat melakukan hal fatal yang bahkan tidak pernah Rara duga sebelumnya.
Mereka sudah melangkah sejauh ini. Meski hubungan mereka juga bukan hubungan pasangan yang menghabiskan waktu bersama dalam hitungan tahun, tetapi dalam waktu delapan bulan yang mereka lalui, sudah banyak kejadian besar sekaligus berharga yang membuat mereka merasakan banyak rasa. Mereka pernah tertawa bahkan menangis dalam waktu bersamaan. Mereka juga sering cekcok bahkan sangat bahagia hanya karena hal-hal sepele. Bahkan, mereka tak hanya saling berbagi bahagia, tetapi juga luka.
Sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata saking berartinya hubungannya dengan Kimo, sampai-sampai, Rara tidak rela melepas pria itu. Bahkan ketika sekarat saja, alasannya bertahan adalah Kimo. Jadi, setelah kebahagiaan sudah ada di depan mata, besok mereka akan menikah, tidak etis rasanya jika Rara justru menyerah. Mengenai restu Kiara bisa didapat setelah mereka menikah seperti kata Franki. Sedangkan mengenai bagaimana tanggapan Kiara terhadapnya bila ia bertahan di sisi Kimo, tentu sudah menjadi konsekuensinya. Bukankah segala sesuatunya selalu beralasan dan memang butuh pengorbanan? Bahkan biasanya yang penuh pengorbanan selalu menghasilkan hasil yang lebih istimewa.
Ketika Rara sudah bisa menata hati dan pikirannya termasuk sibuk menghasilkan karya tulis yang cemerlang, seruan bunyi bel membuat wanita muda itu waswas. Ternyata Rara masih trauma jika yang datang adalah Kiara dan sampai kembali marah-marah padanya. Tetapi ketika ia memastikan waktu pada laptop tempatnya menghasilkan pundi-pundi uang, ternyata waktu sudah nyaris pukul tujuh malah, yang berarti, bisa jadi itu Kimo yang datang. Namun bila dipikir ulang, kenapa Kimo harus menekan bel, sedangkan pria itu mengetahui sandi kunci apartemen?
Binar bahagia tidak dapat Rara tahan. Ia langsung menerima buket tersebut dengan suka cita. Langsung ia peluk berikut kecupan mesra yang ia daratkan di sebelah pipi Kimo yang sengaja pria itu sandingkan, di mana Kimo sampai rela membungkuk demi memudahkan Rara menciumnya.
“Tumben romantis banget?” puji Rara masih tersipu.
“Sama istri sendiri nggak boleh romantis?” Kimo membalasnya dengan nada yang tak kalah manja dari Rara. Bibir mengerucut, juga tatapan yang teduh.
“Belum resmi!” tolak Rara penuh penekanan meski kata-kata Kimo makin membuar perasaannya campur aduk saking bahagianya. Bahkan, luka akibat ulah kasar Kiara menguap dan menghilang begitu saja.
Kimo tersipu sambil mengangguk kemudian membentangkan tangannya, tetapi Rara bingung bagaimana mungkin ia bisa menyelinapkan tubuh ke dalam dekapan Kimo atau memeluk pria itu, sedangkan buket mawarnya saja sangat besar?
Tak jauh dari mereka, Steffy yang awalnya berjalan antusias menjadi memelankan langkah. Tangan kanannya memainkan tentengan tas yang menghiasi pundak kanannya, sedangkan tatapannya lurus menatap kebersamaan Rara dan Kimo, penuh luka.
“Jangan memelukku dulu. Aku nggak mau bunganya rusak,” ujar Rara di sela tawanya.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu,” balas Kimo yang justru tiba-tiba saja membopong Rara.
“Ki-kimo, bunganya,” keluh Rara yang masih menomor satukan bunganya.
“Kenapa bunganya justru lebih penting daripada aku?” keluh Kimo.
“Karena bunga ini pemberianmu. Tentunya sangat penting. Memangnya ada yang lebih penting dari kamu dan semua pemberianmu? Bungkus hadiah dari kamu walau kantong plastik saja, masih aku simpan di tempat khusus.”
Kimo terpejam gembira mendengar balasan Rara. “Duh, sumpah! Rasanya kayak terbang ke langit terus tersambar petir!”
Rara tergelak. “Gosong, dong!”
“Iya, soalnya kamu nggak ada romantis-romantisnya meski maksudnya manis!” cibir Kimo yang langsung membuat Rara makin tergelak.
Di belakang Steffy, Yura menghela napas sambil bersedekap. Ia turut memperhatikan kebahagiaan Rara dan Kimo, layaknya apa yang Steffy lakukan. “Bukankah mereka sangat serasi?”
Steffy terlonjak kaget dan refleks balik badan menatap Yura, meski tanpa menatap wanita muda itu pun, ia sudah tahu kalau itu memang suara Yura.
Yura mengangguk sambil menatap Steffy. “Mereka saling mencintai dan tetap begitu, meski waktu belum sepenuhnya memihak pada mereka termasuk restu Tante Kiara.”
Yura menyikapi Steffy dengan santai, kemudian menoleh ke depan, di mana Kimo membawa Rara yang masih dibopong, memasuki apartemen.
“Saranku, sadar diri lebih dini jauh lebih baik daripada kamu terus memaksa yang hanya membuatmu malu bahkan kehilangan harga diri,” sambung Yura. “Aku pernah ada di posisi kamu. Bahkan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa yang membuat Rara lebih istimewa dariku padahal bila dilihat dari semua sisi, aku bisa lebih baik.”
Steffy menatap tak percaya Yura di tengah matanya yang terasa basah. Bagaimana tidak, melihat Kimo dan Rara sangat mesra seperti tadi, lebih menyakitkan dari ketika ia terluka yang membuatnya berdarah-darah.
“Karena meski kita merasa jauh lebih baik, tetapi hal tersebut tak lantas membuat orang yang kita cintai meninggalkan pasangannya dan mencintai kita.” Yura menatap Steffy penuh keyakinan. Ia tahu apa yang Steffy rasakan sekarang, meski dalam cintanya pada Kimo, ia tidak sampai melakukan pengkhianatan.
Cinta itu urusan hati, satu-satunya sumber kebenaran yang tidak bisa dibohongi dalam kehidupan ini. Faktanya, meski banyak pria yang lebih baik daripada Kimo, aku masih saja berharap padanya yang jelas-jelas selalu menolakku. Yura mendapati Steffy menyeka sekitar mata. Salah siapa kamu selingkuh menyia-nyiakan Kimo. Sekarang setelah Kimo justru bahagia dengan wanita lain, kamu baru tahu rasa, kan?
***
“Kimo, turunkan aku. Aku mau pamer bunga ini ke Keinya!” sergah Rara.
“Jangan mengganggu mereka. Mereka sedang bulan madu.” Kimo berangsur menurunkan Rara.
__ADS_1
Rara segera meletakkan buketnya dengan hati-hati pada meja kerjanya. Meja di ruang bersantai. “Tapi tadi Keinya WA, kalau kamu sudah pulang, aku diminta kasih kabar.” Rara bersiap membidikkan kamera ponselnya, tetapi ia tiba-tiba ingat. “Ya ampun, aku belum menyiapkan makan malam!”
Kimo menertawakan Rara yang seketika itu pula tak jadi memotret dan lebih memilih berlari ke dapur menyiapkan makan malam.