
“Tapi maaf, aku hanya mencintai istriku. Jadi tolong, berhenti dari sekarang karena aku akan sangat marah jika ada yang mengganggu apalagi melukai istriku!”
Episode 62 : Kisah Lain
Kainya menghentikan laju mobilnya nyaris bersamaan dengan Steven, di depan garasi rumahnya. Bahkan saat keluar dari balik kemudi pun, keduanya kembali bersamaan.
“Ada masalah apa?” tanya Steven langsung sambil menatap serius Kainya. “Hal penting apa yang ingin kamu tanyakan?” Steven mendekati Kainya.
Steven dan Kainya saling berhadapan. Tak kurang satu meter jarak keduanya.
“Ben. Bukankah kalian dekat?”
Steven langsung mengangguk sambil menyimpan kedua tangannya di sisi calana putih yang dikenakan. “Dia sahabatku. Meski tidak sering bertemu, tetapi hubungan kami terbilang baik.”
Kainya menelan ludah atas rasa gugup berikut tegang yang tiba-tiba menyerangnya. Mengenai Ben, ia tidak bertanya untuk kepentingan pribadinya. Sebab bila meihat sifat pria itu di masa lalu yang selalu membenarkan semua cara demi mendapatkankan semua yang Ben inginkan, yang Kainya takutkan, Ben justru memiliki rencana terselubung untuk Keinya dan Yuan, mengingat Itzy sampai mendekati Yuan. Memang hubungan yang rumit, tetapi Kainya akan menyelesaikannya demi Keinya kembarannya. Namun, apakah Steven mau jujur mengenai Ben, mengingat pria itu sahabat Ben? Jangan-jangan, keputusan Kainya mencari informasi pada pria yang hampir di setiap kesempatan selalu mengenakan warna putih untuk penampilannya, justru salah?
“Ben itu bukan pria yang percaya cinta. Apalagi sekarang, setelah orang tuanya bercerai.” Steven mengatakan itu, sengaja memulai obrolan lantaran Kainya hanya terdiam kebingungan.
Kainya tersentak menatap tak percaya Steven. “Orang tua Ben, ... bercerai?” ucapnya. “Setelah om Oskar selingkuh dengan tante Piera, akhirnya mereka bercerai?” batinnya masih tak percaya. “Padahal, perselingkuhan tante Piera dan Om Oskar sampai menimbulkan banyak tragedi. Dari kecelakaan Ben, kematian tante Piera, ... bahkan om Roy sampai dipenjara?” Kainya masih menerka-nerka dalam hatinya.
Steven mengangguk. “Kalian ... pernah, ada hubungan, kan?” tanyanya kemudian, sangat hati-hati.
Kali ini Kainya jadi menggeragap. “Steven juga tahu?” batinnya.
“Kemarin aku tanya langsung ke Ben. Dia amnesia. Seperti Kimo. Dan dia kehilangan sebagian ingatannya termasuk semua tentang kamu.”
Kainya tak berkomentar. Hanya menunduk, menjadi penyimak baik untuk setiap ucapan Steven.
“Dia cerita semuanya. Dia tahu tentang kamu dari mamanya. Tapi itu, ... Ben, ... dia enggak percaya cinta. Sekarang dia dekat dengan banyak wanita. Tapi tolong, jangan jadikan hal ini sebagai beban.”
Kainya menatap sebal Steven dan berusaha menepis anggapan pria itu. “Dari dulu sampai sekarang, aku tidak ada perasaan lebih kepada Ben, karena aku selalu memiliki firasat buruk di setiap apa yang dia lakukan!”
“Tapi dia pernah tulus mencintaimu, dan belum pernah itu terjadi sebelumnya dalam hidup Ben!” tambah Steven penuh keyakinan.
Kainya menepis tatapan Steven. “Jangan menatapku seperti itu! Tatapanmu benar-benar menuduh!” omelnya.
Steven mengulas senyum dan sampai menahan tawanya.
“Berarti, ... Ben mendekati semua wanita, karena dia butuh? Untuk kepentingan bisnis?” tanya Kainya kemudian.
“Tanya saja sendiri,” balas Steven santai dan justru menjadi tertawa.
“Ayolah, aku serius!” keluh Kainya.
__ADS_1
“Aku juga serius! Serius banget malah. Daripada kamu salah info, mending langsung tanya sama yang bersangkutan biar enggak salah info, kan?” Steven benar-benar mengatakannya dengan santai.
Jika dilihat-lihat, di mata Kainya, Steven tipikal orang yang selalu menanggapi segala sesuatunya dengan tenang. Pria itu selalu menikmati apa yang ada dalam hidupnya bahkan kesulitan sekaligus luka sekalipun.
“Jadi, mengenai kedekatan Ben dengan Ryunana, bahkan Itzy, ... Ben juga untuk kepentingan bisnis?” ucap Kainya dengan nada suara yang terdengar jauh lebih tenang.
Tak hanya nada suara Kainya yang menjadi lebih tenang. Karena tatapannya juga begitu. Steven bisa merasakan berubahan drastis itu.
“Aku kurang paham. Tapi untuk sekarang ini, Ben sedang sangat sulit. Om Oskar benar-benar mengambil semuanya dari Ben dan mamanya. Ben dan mamanya hanya memiliki rumah yang mereka tinggali, selain mobil Ben. Tidak lebih,” jelas Steven yang juga merasa sangat prihatin pada nasib Ben.
“Kasihan juga, sih ...,” lirih Kainya yang kemudian mengembuskan napas. Tak beda dengan Steven, ia juga merasa kasihan pada Ben.
“Tapi, Ven ... menurutmu, hubungan Ben dengan Itzy, itu beneran, kan?”
Steven tak langsung menjawab. Pria itu mengerutkan kening berikut bibirnya dan terlihat sedang menimang rasa, mencermati pertanyaan Kainya. “Mama Ben dan Itzy itu sahabat.”
“Jadi kamu kenal Itzy juga?” sergah Kainya cepat.
Steven menggeleng. “Ben hanya cerita sebatas itu. Mamanya dan mama Itzy sahabatan.”
“Tapi mereka beneran, kan? Soalnya si Itzy, ... dia menyukai suami Keinya. Bahkan Itzy sampai minta restu ke Keinya buat jadi istri muda suami Keinya.” Kainya tertunduk karena sudah telanjur pusing memikirkan kisah cinta orang-orang di sekitarnya.
“Sudah ... kamu percaya sama Tuhan saja. Kita masih punya Tuhan yang jauh lebih mengerti umat-umatnya.”
Kainya langsung berlalu meninggalkan Steven.
“Tapi, Kai ...,” tahan Steven yang kemudian balik badan menatap kepergian Kainya.
Kainya menghentikan langkahnya dan langsung menoleh, balas menatap Steven.
“Tolong, temani aku.”
Permintaan Steven membuat Kainya mengerutkan dahi.
***
“Dari awal aku melihat Kimi, ... aku seperti melihat mama sewaktu mama masih muda. Dan pertemuan tak sengaja itu, ... juga karena Kainya. Jadi, aku benar-benar bersyukur sekaligus berterima kasih, karena Tuhan sudah mengirimmu kepadaku, Kai.” Steven mengatakan itu di hadapan Khatrin. Mereka, bersama Kainya, duduk di sofa ruang keluarga. Ruangan yang biasanya hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah dianggap dekat oleh keluarga mereka. Dan bagi Kainya, Khatrin memang tidak menganggap Steven orang lain.
Kainya dan Khatrin duduk bersebelahan menghadap Steven.
“Maksudnya Nak, Steven, ... apa, ya?” tanya Khatrin hati-hati sambil sesekali melirik Kainya.
Kainya yang menjadi penasaran dengan maksud Steven juga menatap serius pria itu. “Maksudnya, Steven menyukai Kimi? Kenapa sampai minta izin ke mami?” batin Kainya.
__ADS_1
“Dulu, waktu masih kecil, ketika masih berusia tiga tahun, Kimi hilang di bandara Changi Singapura, gara-gara kelalaian saya. Itu juga yang membuat saya memutuskan menetap dan bekerja di Singapura, selama Kimi belum ditemukan. Beruntung, Kimi dirawat oleh keluarga yang baik setelah sempat tinggal di panti asuhan seperti cerita yang kudapatkan dari om Franki ....”
Kainya dan Khatrin terbengong-bengong tak percaya. “Kimi, adik Steven?” gumam mereka tak menyangka ternyata Steven dan Kimi memiliki kisah lain yang tidak pernah mereka duga.
“Saya yakin, banyak yang terkejut dengan kabar ini, bahkan Kimi sendiri.” Steven mendapat keterkejutan yang luar biasa dari ekspresi kedua wanita di hadapannya.
“Niatnya ingin tahu tentang Ben dan Itzy, ... tapi aku juga tahu mengenai Kimi dan Steven. Kimi pasti sangat bahagia, karena akhirnya, dia bertemu dengan keluarga kandungnya,” batin Kainya sambil menghela napas pelan.
Tatapan Steven masih serius menatap Khatrin. “Lusa, ... keluarga besar saya akan berkumpul menyambut kembalinya Kimi. Jadi, karena kami sangat jarang memiliki waktu bersama, saya berniat untuk sekalian mengenalkan Kainya kepada mereka, Tan!”
Pernyataan Steven barusan sukses membuat Kainya tersentak bahkan menggeragap dalam waktu bersamaan. Dari wajahnya kini jelas menunjukkan keberatannya terhadap Steven. Bahkan dari wajahnya seolah tertulis, “kenapa harus aku?”
Lain halnya dengan Kainya, kebahagiaan justru merekah bersama senyum lepas yang menghiasi wajah Khatrin. Khatrin menatap tak percaya Kainya dan Steven, silih berganti.
“Mohon izinnya, Tan!” ucap Steven kemudian.
***
Di kamar, Itzy masih terisak-isak. Ia tengkurap, mengusekkan sebagian wajahnya di tengah-tengah kasur. “Di saat aku sedang terluka karena cinta, kenapa mama justru memaksaku menikah dengan Kak Ben?” gumamnya.
“Kenapa harus Kak Ben yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri? Kenapa aku tidak menikah debgan Yuan saja, meski hanya menjadi istri keduanya? Ah, tidak ... tidak ... ini ide gila! Yuan ... dia hanya mencintai Kak Keinya!”
Sebenarnya, setelah sempat menemui Keinya dan meminta izin secara langsung, Itzy juga nekat menemui Yuan saking penasarannya. Sore itu, Itzy yang terjaga menunggu kepulangan Yuan, sengaja datang ke rumah Yuan. Lebih tepatnya, ketika Keinya dijemput oleh Khatrin dan kemudian mereka pergi.
Itzy mengutarakan perasaannya. Sejujur-jujurnya termasuk mengenai ia yang sudah meminta restu pada Keinya. Namun, bukannya iba bahkan rasa terima kasih yang Itzy dapat, Yuan justru tidak memberi tanggapan berarti.
“Aku tahu semua tentang istriku. Begitu juga dengan istriku kepadaku karena itulah gunanya pasangan. Pun mengenai kamu, ... kami sama-sama tahu. Dan aku sangat berharap, kelak, ... kamu juga akan seperti kami, dengan pasanganmu,” ucap Yuan malam itu dengan sangat tenang.
“Aku menghargai perasaan sekaligus keberanianmu. Seusiamu memang sedang sangat emosional dan sangat mudah terbawa suasana. Aku yakin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu. Tapi maaf, aku hanya mencintai istriku. Jadi tolong, berhenti dari sekarang karena aku akan sangat marah jika ada yang mengganggu apalagi melukai istriku!” tambah Yuan sesaat sebelum pergi meninggalkan Itzy diikuti juga oleh seorang pria bertubuh tinggi besar yang sepertinya ajudan Yuan.
Dan setelah kejadian itu, Itzy benar-benar malu. Itzy bahkan mengurung diri di dalam kamar sambil meratapi nasib petcintaannya, di mana, kabar mengenai perjodohannya dengan Ben sukses membuatnya semakin terguncang. Itzy memberontak. Ia bahkan sampai keluar dan berterus terang pada Ben, jujur sejujur-jujurnya seperti apa yang ia lakukan pada Yuan. Namun, Ben berdalih akan bersabar dan siap menunggu Itzy sampai kapan pun.
“Apakah Kak Ben bisa dipercaya? Apakah Kak Ben benar-benar bisa mencintai dan menerima kekuranganku? Sejauh ini, ... yang kutahu Kak Ben sangat tidak menghargai wanita bahkan cinta. Tapi, tadi ... dia memelukku dan mengelap air mataku. Dia bahkan sampai berjanji akan menjagaku ....”
Itzy benar-benar dilema. Hatinya gamang memikirkan perjodohannya dengan Ben. Baginya, perjodohannya dengan Ben merupakan kisah lain yang tidak pernah terpikirkan olehnya akan terjadi, walau hanya dalam mimpi.
Bersambung ....
Detik-detik terakhir. Gio belum muncul, ya?
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa ^^
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.