
“Kalau aku memulangkanmu dalam keadaan sakit, itu namanya aku enggak tanggung jawab!”
Episode 76 : Drama Datang Bulan
Itzy tak kuasa menahan sakit di perutnya. Ia yang sudah berulang kali ganti posisi tidur, meringkuk ke kanan-kiri dengan tubuh tertekuk menyerupai udang rebus, mulai kehabisan akal. Kendati demikian, Itzy juga sungkan membangunkan Shena yang sudah terlelap. Sialnya, Ben yang ia harapkan justru tak kunjung merespons. Jangankan datang, membalas setiap pesan yang ia kirimkan saja tidak. Jadilah, Itzy terpaksa keluar, melangkah membungkuk dengan kedua tangan mencengkeram perut.
Susah payah Itzy melakukan itu, melangkah menaiki anak tangga yang kadang membuat tubuhnya nyaris terjatuh andai saja ia tidak cekatan berpegangan pada pegangan tangga. Sebab, jika Itzy berpegangan, sakit di perutnya akan bertambah, sedangkan rasa sakit di perutnya akan sedikit berkurang ketika ia menahan terlebih mencengkeramnya.
“Rasanya, ... Kak Ben kayak enggak ada perasaan sama sekali, ke aku ... sakit begini, tetap saja dicuekin!” Itzy yang sudah berhasil melewati anak tangga, tak lantas melanjutkan langkah. Ia terduduk lemas di lantai sambil menyandar pada terali tangga. “Ya ampun ... di saat sakit begini saja, tempat sandaranku masih benda mati!” rutuknya dalam hati. Ia mendapati buih keringatnya sampai ada yang jatuh ke lantai. “Mau mens saja selalu berdrama ...,” keluhnya kemudian merasa tak habis pikir atas kenyataannya yang harus selalu tersiksa ketika datang bulan.
***
Ben yang rutin minum dikarenakan tenggorokannya terasa sakit, cukup dibuat bingung lantaran dua buah botol mineral ukuran 1,5 liter sudah ia tandaskan isinya. Hal tersubut terjadi lantaran Ben takut, Itzy akan memanfaatkan keadaannya. Ben takut, Itzy kembali bersikap agresif bahkan nekat. Namun, dikarenakan tenggorokannya sudah semakin sakit, ia pun terpaksa keluar dan berniat mengambil stok air minum di dapur.
***
Belum lama keluar dari kamar, bahkan sebelah tangannya masih menahan gagang pintu, Ben sudah dikejutkan oleh sesosok berambut panjang dan tergerai tengah terduduk di lantai dekat anak tangga. Sosok tersebut duduk sambil menekuk tubuh dan menyandar pada terali tangga.
Ben mengamati sosok tersebut dengan saksama. Dirasanya, sosok tersebut bergerak--menunjukkan tanda-tanda bernapas. Bahkan tak lama kemudian, sosok tersebut berangsur balik badan dan menatapnya.
Sudah Ben duga, bukan orang asing apalagi hantu, sebab sosok itu Itzy! Kendati demikian, Ben hanya menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir. Ia kembali melangkah bahkan nyaris melewati Itzy, andai saja sebelah kakinya tidak ditahan wanita itu.
“Kak, Ben ...?”
“Itzy, jaga sikapmu. Enggak baik kalau kamu seagresif ini!” tegur Ben penuh penekanan.
“Kak Ben. Aku beneran sakit. Lihat, aku lemes keringetan begini, masih dianggap bohong? Kenapa di mata Kakak, aku kayak enggak ada baiknya sama sekali?”
Awalnya, Ben akan kembali tak acuh. Namun ketika sebelah tangan Itzy yang sampai gemetaran meraih sebelah tangan Ben, pria itu mulai percaya Itzy memang sakit. Dan rasa peduli tumbuh dengan begitu liar menguasai sanubarinya untuk Itzy yang baginya sangat rese.
“Biasanya, aku bisa sampai pingsan, lho, Kak! Gendong aku, ya!” Dan Itzy tetap tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia bahkan tetap tersenyum ceria cukup agresif kepada Ben.
“Beneran sudah enggak kuat jalan?” tanya Ben memastikan dengan gaya yang terbilang dingin.
Itzy segera memasang wajah sangat sedih sambil menggeleng. “Gendong ....”
__ADS_1
Ben melirik sebal Itzy. “Oke! Tapi harus anteng. Merem juga biar matamu enggak jelalatan genit!”
Itzy merengut dan berangsur menunduk sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya. Kendati demikian, kedua tangannya tetap mencengkeram perut. Dan ketika Ben benar-benar menggendongnya, Itzy berkata, “aku ini, orang yang gampang jatuh cinta, tapi juga gampang terluka. Jadi, ... aku harap Kak Ben mau menerimaku dan mencintai kekuranganku.”
“Jangan pernah berharap pada orang sepertiku apalagi aku enggak percaya cinta!” balas Ben judes.
“Wah ... romantisnya!” saut Itzy yang masih menepati janjinya.
Ben menggeleng tak habis pikir sambil melangkah pasti menuju kamarnya yang pintunya tidak sepenuhnya tertutup.
“Sejak kecil, aku paling suka kalau mama mendongengiku mengenai kehidupan tuan putri. Karenanya, aku bermimpi menjadi tuan putri juga.”
Itzy kembali sibuk berbicara sedangkan Ben memilih diam.
“Aku ingin memiliki kisah cinta romantis sekaligus manis, meski awalnya harus dipenuhi banyak pengorbanan! Bahkan sekalipun di luar sana masih banyak pria yang lebih baik dari Kak Ben.”
“Namun, semenjak mama bilang Kak Ben bisa diandalkan, aku sudah memutuskan untuk berhenti mencari cinta lagi!”
“Ya ya, sudah. Jangan bicara lagi!” saut Ben ketika ia akan menurunkan Itzy dan merebahkan tubuh wanita itu ke kasurnya.
“Ya. Biar aku yang tidur di kamar tamu.” Ben masih bersikap dingin kepada Itzy.
“Kok gitu? Kakak enggak mau merawat atau seenggaknya menemani aku? Perutku sakit banget ... Kakak ada koyok? ... terus ... pembalut juga?”
“Kamu pikir aku ini pria jadi-jadian, sampai nyimpen pembalut?!” omel Ben.
Itzy menatap Ben sarat kesedihan. Hal tersebut pula yang membuat Ben mengambil keputusan. “Oke. Aku bakalan jagain kamu. Aku mau mengurus kamu!”
Meski terlihat terpaksa, tapi keputusan Ben sukses membuat Itzy bahagia. Ben yang Itzy dapati langsung membuka laci lemari di sebelah meja kerja. Ben mengambil koyok dari sana dan kemudian melangkah mendekati Itzy. Bahkan tanpa canggung, Ben membuka perut Itzy kemudian memasang koyok di sana.
Setelah itu, Ben menutup kembali baju bagian perut Itzy dan menatap Itzy yang masih berbaring, dengan wajah judes khasnya. “Katakan padaku, obat apa yang biasanya kamu minum ketika seperti ini?”
“Ada obat khusus. Mama membelinya di Singapura, tetapi aku masih ada stok di rumah.” Lantaran Ben justru tertunduk dan tampak merenung, Itzy pun melanjutkan, “Kak Ben enggak akan memulangkan aku, kan?” tanyanya hati-hati. “Biarkan aku di sini. Besok kan Minggu. Aku pengin liburan di sini.”
Ben menelan ludah cepat. “Kalau aku memulangkanmu dalam keadaan sakit, itu namanya aku enggak tanggung jawab! Ya sudah. Aku ke rumahmu buat ambil obatnya sekalian beli pembalut.”
__ADS_1
Pengakuan Ben sukses membuat Itzy terpesona. “Ya ampun, ... Pangeran Dinginku!”
Ben tak acuh dan meninggalkan Itzy begitu saja. Namun tak lama setelah kepergian Ben, Shena datang dengan keadaan cukup panik.
“Kenapa enggak bangunin, Mom?” sergah Shena langsung memastikan keadaan Itzy.
Itzy menyeringai, menatap Shena sambil memasang wajah tak berdosa. “Padahal niatnya enggak mau ngerepotin, eh ... tetap saja ngerepotin.”
Shena menepisnya sambil menggeleng. Ia meraba perut Itzy kemudian membuka baju bagian perutnya. “Ini enggak kepanasan?” Sebab yang ia tahu, koyok yang digunakan Itzy sangat panas.
Itzy menggeleng santai. “Enggak, Mom. Ini langsung berefek. Mendingan. Kalau boleh, aku mau lagi buat dipasang di pinggul. Sakit semua Mom kalau mau datang bulan.”
“Oke ... oke.” Shena langsung menuju lemari kecil yang keberadaannya di dekat meja kerja Ben.
Shena membuka laci lemari yang Itzy ketahui juga menjadi laci Ben mengambil koyok untuknya.
“Dulu ... Mom juga sakit kalau mau datang bulan. Tapi enggak seekstrim kamu!” Shena masih merasa ngeri dengan keadaan Itzy. Kemudian ia membantu wanita itu memasang koyok tepat di tengah-tengah pinggul.
***
Bagi Ben, selepas perceraian orang tuanya, mereka yang awalnya sangat mencintai dan bahkan kerap membuatnya iri, tetapi justru berakhir dengan perselingkuhan sang ayah, sukses membuat Ben tak lagi percaya dengan yang namanya cinta. Anehnya, tiba-tiba saja Tuhan justru membuat Itzy menjadi tidak tahu diri dan tak hentinya menebarkan virus cinta kepadanya.
Kini, Ben yang sedang menyetir pun sampai heran, kenapa wajah menyebalkan Itzy yang dipenuhi keceriaan sekaligus cukup agresif, justru memenuhi mata sekaligus benaknya.
“Dasar bocah!” cibir Ben dan ditujukan kepada Itzy yang masih saja mengganggu sekaligus menguasai kehidupannya.
Bersambung ....
Duh ... sudah jam segini. Sampai di sini dulu, ya. Besok langsung dilanjut. Mau urus anak lagi ini. Batuk flue sesak banget lihatnya.
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1