Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 25 : Kabar Mengejutkan


__ADS_3

“*Semenjak aku bertemu denganmu secara langsung, rasanya, waktu nanti hanya akan sia-sia jika aku tidak langsung menyelesaikannya. Dan semenjak itu juga, aku selalu berpikir, nanti benar-benar tidak ada, karena waktu yang kumiliki hanya s*aat ini!”


Bab 25 : Kabar Mengejutkan


Siang ini, Kim Jinnan kembali datang ke kantor Pelangi untuk makan siang bersama, layaknya hari kemarin. Seperti biasa, meski ada Yuan, pria muda itu melakukan semuanya dengan leluasa. Justru, Kim Jinnan dan Yuan menjadi semakin akrab layaknya teman sebaya. Di mana, selain nyambung dalam setiap obrolan, keduanya juga kerap bertukar tawa.


Tak beda dengan acara makan siang kemarin, di makan siang kali ini, Kim Jinnan juga datang tidak dengan tangan kosong. Kim Jinnan membawa tim sarang burung walet dengan rempah ala masakan chinese. Ada kurma kering, buah goji, leci kering, juga bahan-bahan yang tidak Pelangi ketahui. Namun menurut Yuan, makanan sarat khasiat dan terkenal mahal yang teksturnya kenyal layaknya agar-agar itu, lebih bagus dikonsumsi ketika perut kosong, atau sebelum tidur malam. Jadi, Kim Jinnan meminta Pelangi menyimpan tim sarang burung walet tersebut di lemari pendingin, dan nantinya Pelangi bawa pulang ke rumah.


“Si Kim Jinnan suruh-suruh begini, terkesannya aku ini teman rasa istri!” gumam Pelangi dalam hati.


“Biasanya aku makan ya asal makan, Om,” ujar Kim Jinnan yang kali ini menatap serius Yuan.


“Enggak boleh begitu. Semuanya ada aturannya,” balas Yuan mencoba memberi alasan.


“Kan, si Kim Jinnan memang enggak tahu aturan. Otaknya saja kayaknya salah posisi!” cibir Pelangi masih dalam hati. Ia yang baru selesai menaruh rantang berisi tim sarang burung walet, sengaja pergi tanpa pamit.


Pelangi bahkan sengaja melipir demi menghindari jangkauan pandangan Kim Jinnan.


“Syukurlah,” gumam Pelangi sambil mengelus-elus dadanya menggunakan sebelah tangan, ketika akhirnya ia berhasil kabur meninggalkan pintu ruangan keberadaan Kim Jinnan dan Yuan.


Pelangi segera ke toilet terdekat dan memang toilet yang diperuntukkan untuk Yuan berikut tamu khusus. Dan ketika sudah masuk, Pelangi segera membasuh wajah, di sebelah wastafel yang sampai dihiasi sabun pencuci wajah miliknya.


“Kalau begini terus, bisa bahaya,” gerutunya sambil mengelus-elus wajahnya yang sudah diselimuti busa.


“Bahaya kenapa?” ucap Kim Jinnan tiba-tiba dari belakang, sambil menatap bungung Pelangi.


Di toilet tersebut memang tak ubahnya toilet umum. Selain berukuran besar, ruang di sana juga ada tiga pintu, sedangkan wastafel untuk mencuci wajah dilengkapi cermin layaknya yang Pelangi gunakan, ada tiga buah.


“Ya Alloh Kim Jinnan, kenapa di mana-mana selalu ada kamu, sih?” keluh Pelangi yang menjadi uring-uringan.


“Oh, jadi aku yang bikin kamu merasa bahaya?” balas Kim Jinnan dengan santainya tetapi sarat perhatian.


Pelangi merasa, gaya Kim Jinnan mendadak mirip Yuan. Kim Jinnan bahkan melangkah dengan tenang kemudian berdiri di sebelah Pelangi. Dan Kim Jinnan, juga akan membasuh wajah.


“Kamu di ujung sana, kenapa, jangan di situ? Sempit tahu!” omel Pelangi.


“Ya ampun segitunya? Padahal, aku kan enggak gendut, Ngie?”


Sekesal apa pun, Pelangi tidak bisa benar-benar mengusir Kim Jinnan lantaran perusahaan mereka sedang terikat kerja sama. Dan melalui hal tersebut juga, Kim Jinnan selalu menjadikannya sebagai senjata pamungkas mendekati Pelangi. Bahkan, Kim Jinnan sangat bersyukur lantaran akhirnya Pelangi ikut terjun ke perusahaan.


Kim Jinnan tetap membasuh wajah di wastafel sebelah Pelangi. Bahkan, Kim Jinnan tak segan mengenakan sabun cuci wajah milik Pelangi.


“Enggak salah, itu?” tegur Pelangi.


“Enggak. Biar wangi wajahmu selalu nempel di wajahku!” balas Kim Jinnan bersemangat dan sampai mengusap-ngusap wajahnya yang menjadi berbusa, bak model andal di bidangnya. “Cepat basuh, wajahmu nyaris kering, tuh!” tegurnya pada Pelangi.


Karena Kim Jinnan yang tiba-tiba muncul, Pelangi memang lupa dengan acara cuci wajahnya hingga sabun di wajah gadis itu mengering begitu saja.


Pelangi pun segera membasuh wajahnya tanpa benar-benar bisa menghalau rasa kesak yang tiba-tiba menyelimuti.


“Kim Jinnan, kenapa sih kamu ngebet banget deketin aku? Kayak enggak ada waktu lain kali saja? Kamu ngejar aku nyarus enggak berjeda, sampai-sampai, aku bingung mau lari ke mana lagi?” keluh Pelangi yang baru saja beres mencuci wajah.


Pelangi menatap Kim Jinnan melalui cermin wastafel di hadapanya.


Kim Jinnan yang sedang mengelap wajahnya menggunakan tisu, membalas Pelangi dengan senyum tulus. Ia menatap gadis itu tak beda dengan apa yang Pelangi lakukan. Melalui cermin wastafel di hadapannya.


“Semenjak aku bertemu denganmu secara langsung, rasanya, waktu nanti hanya akan sia-sia jika aku tidak langsung menyelesaikannya. Dan semenjak itu juga, aku selalu berpikir, nanti benar-benar tidak ada, karena waktu yang kumiliki hanya saat ini!” balas Kim Jinnan yang sekali lagi, Pelangi rasa cukup mirip dengan Yuan.

__ADS_1


Entah karena sengaja meniru gaya Yuan, atau karena sudah terlalu sering menghabiskan waktu dengan Yuan, gaya Kim Jinnan memang menjadi mirip dengan Yuan. Dari cara berbicara, berikut cara berpikirnya.


Kim Jinnan menarik beberapa helai tisu yang tersedia di hadapannya, dan memberikannya kepada Pelangi.


“Jadi dengan kata lain, maksud kamu, ... sehari saja kamu enggak menemui apalagi menghubungiku, duniamu akan kiamat, begitu?” balas Pelangi sembari menerima tisu pemberian Kim Jinnan, kemudian menggunakannya.


Pelangi menatap Kim Jinnan penuh kepastian.


Kim Jinnan segera mengangguk tanpa beban sambil mengelap wajahnya menggunakan tisu. “Iya. Seperti itu.”


Kemudian, Kim Jinnan membuang tisu bekasnya mengelap wajah ke tempat sampah yang tersedia di wastafel. “Ngie, boleh, enggak, aku cium kamu sekali saja?” pintanya sambil menatap Pelangi.


Permintaan Kim Jinnan sukses membuat Pelangi mendelik sekaligus tersedak ludahnya sendiri. “Kim Jinnan, sinting kamu ya?!”


“Serius, sebentar saja! Biar aku tambah semangat kerjanya. Apalagi kamu tahu sendiri, ke depannya, aku bakalan pulang larut malam terus!” Kim Jinnan benar-benar memohon.


“Enggak!” tegas Pelangi galak sambil bersedekap dan menepis tatapan Kim Jinnan.


Dari balik pintu toilet yang sedikit terbuka, Yuan yang sengaja menyimak jadi geli sendiri menertawakan ulah Kim Jinnan yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Pelangi.


“Jika dulu aku bertemu Keinya lebih awal, mungkin apa yang terjadi padaku juga seperti Jinnan kepada Pelangi. Ya ... meski dalam catatan hidupku, tidak ada banyak wanita yang kukencani. Hanya Kainya dan Keinya, dan pada Kainya pun, karena aku salah orang,” batin Yuan.


“Ya sudah ... biarkan saja mereka. Toh, aku yakin, Kim Jinnan enggak berani macam-macam, dan Pelangi juga tetap bisa jaga diri,” pikir Yuan yang berangsur mengakhiri intipannya.


Yuan menutup pintu ruang toilet kebersamaan Kim Jinnan dan Pelangi, dengan hati-hati sebelum berlalu meninggalkannya.


“Kalau enggak boleh pipi, cium bibir juga enggak apa-apa,” ucap Kim Jinnan masih memohon.


“K-kamu ini beneran gila, ya? Pipi saja enggak boleh, apalagi bibir?” omel Pelangi.


“Iya, aku memang gila. Aku tergila-gila ke kamu!” balas Kim Jinnan masih memohon.


“Ya sudah, kalau gitu, peluk juga enggak apa-apa,” rengek Jinnan lagi. “Sebentar ....”


“Enggak!” Pelangi masih dengan keputusannya. Bahkan, kedua tangannya yang bersedekap, menjadi semakin tinggi berikut dagu berlesungnya yang semakin terangkat.


“Lima menit, Ngiei ....”


“Kim Jinnan ... sekali lagi kamu minta aneh-aneh, aku enggak mau kenal kamu lagi!” omel Pelangi yang sampai menjerit-jerit.


“Oke ... oke, Ngie ... aku bakalan coba tahan, sampai kita nikah!” sergah Kim Jinnan dengan kedua tangannya yang sampai mengarah pada Pelangi, demi mengakhiri jerit gadis itu.


Pelangi segera meninggalkan Kim Jinnan, tetapi Kim Jinnan juga segera menyusul, kembali mengekor tak ubahnya satelit pada sebuah planet.


Tak lama setelah keduanya meninggalkan pintu toilet, ponsel di saku depan jas hitam yang Pelangi kenakan mendadak dihiasi dering cepat beruntut.


“Itu notif apa bom? Rame beruntut begitu?!” sindir Kim Jinnan.


“Ngapain sih kamu masih di sini? Balik saja ke kantormu!” omel Pelangi.


“Itu notif apa?” balas Kim Jinnan yang justru mengalihkan pembicaraan.


“Ini notif pesan. Kenapa?!” balas Pelangi masih mengomel.


“Bukan dari cowok lain, kan?” balas Kim Jinnan was-was sekaligus takut.


“Jadi, kamu lebih suka kalau aku dideketin waria?!” cibir Pelangi.

__ADS_1


“Ini notif grup. Biasanya, kalau bukan grup sekolah, ya keluarga. Karena aku cuma masuk di dua grup.” Pelangi berharap, penjelasannya bisa membuat Kim Jinnan mengerti, hingga akhirnya pria itu meninggalkannya.


“Ngie ... aku mau, dong, dimasukkin ke grup keluargamu,” rengek Kim Jinnan yang kali ini juga kembali menatap Pelangi penuh harap.


Pelangi terpejam pasrah. Pelangi yang sangat kesal, ingin menelan Kim Jinnan hidup-hidup, detik itu juga. Kim Jinnan yang semakin lama semakin ngelunjak.


“Baiklah, aku pergi. Tapi sebelum itu, tolong antar aku ke depan. Karena aku ingin melihat wajahmu sebelum aku benar-benar pergi,” ucap Kim Jinnan.


Dengan tampang malas, Pelangi segera berlalu mendahului Kim Jinnan dan langsung diikuti yang bersangkutan dengan senyuman lepas.


Ketika memasuki lift, Pelangi mengeluarkan ponselnya, sedangkan Kim Jinnan yang menutup pintu berikut menentukan ke mana mereka akan pergi, sengaja terus berdiri di belakang gadis itu.


“Ini notif dari grup sekolah. Ni nih, baca. Jelas, kan!” gerutu Pelangi saking sebalnya pada Kim Jinnan.


Sambil bersedekap, Kim Jinnan yang tersenyum bahagia kemudian menggigit bibir bawahnya sambil mengamati situasi sekitar.


“J-jinan ...?”


Suara Pelangi terdengar gemetaran seperti menahan banyak rasa takut.


“Mmm? Ada apa? Ada kiriman aneh? Kamu jangan lihat yang aneh-aneh, lho. Kamu masih di bawah umur!” balas Kim Jinnan yang langsung melongok layar ponsel Pelangi.


Pelangi berangsur mendongak, menatap Kim Jinnan dengan banyak rasa takut. Kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang selama ini Kim Jinnan dapatkan dari gadis itu.


“Jinnan, ... tolong pinjam tanganmu ... sepertinya, aku nyaris pingsan,” pinta Pelangi kemudian.


Kim Jinnan segera memberikan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi, merangkul punggung Pelangi.


“Mau istirahat dulu?” tawar Kim Jinnan.


Pelangi yang berangsur tertunduk sedih sesaat berpegangan pada tangan Kim Jinnan, menggeleng pasrah.


“Jinnan ... di sekolah, ada siswi yang bunuh diri ....”


“Lantas, apa hubungannya denganmu?” Lantaran Pelangi semakin gemetaran, Jinnan pun mendekap tubuh gadis itu jauh lebih erat.


Pintu Lift telah terbuka dan Kim Jinnan segera menuntun Pelangi untuk keluar.


“Kim Jinnan, gadis itu bunuh diri setelah cintanya ditolak Dean, sedangkan Dean dan Kishi belum lama berpacaran, dan ... Kishi ... fisik dan mentalnya sangat lemah.”


“Bagaimana jika sesuatu yang fatal juga menimpa Dean dan Kishi? Keduanya sama-sama adikku!”


Pelangi menangis ketakutan, dan kenyataan tersebut tak mungkin Kim Jinnan biarkan. Kim Jinnan tak mungkin dan memang tidak bisa hanya tinggal diam. Pria itu langsung menyandarkan wajah Pelangi ke dadanya sembari memeluknya lebih erat.


Kim Jinnan benar-benar tak peduli, meski kenyataan tersebut langsung membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang lalu-lalang.


“Pelangi, semua orang memperhatikan kita. Cerita pelan-pelan saja. Kita ke mobil, ya?” bujuk Kim Jinnan lirih.


Pelangi yang masih menangis dalam dekapan Kim Jinnan, segera mengangguk tanpa benar-benar mau berlalu dari dada Kim Jinnan. Bahkan meski mereka sudah melangkah, Pelangi tetap menyembunyikan wajahnya di dada Kim Jinnan.


Pelangi benar-benar mengkhawatirkan keadaan mental Dean apalagi Khisi. Sungguh, kabar mengenai siswi yang bunuh diri hanya karena cintanya ditolak Dean, tak ubahnya kabar mengejutkan yang tidak pernah Pelangi harapkan.


Bersambung ....


Selamat sahur buat yang menjalankannya, yaaa. Terus ikuti dan dukung ceritanya. Jangan lupa buat baca cerita Author yang judulnya “Menjadi Istri Tuanku”. Setiap hari up juga, kok.


Kita bertemu di bab selanjutnya, ya

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2