Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 21 : Selamat Jalan, Bu!


__ADS_3

“Seberapapun buruk dirimu. Bahkan meski kamu menolak keberadaanku ... kamu tetap ibuku. Demi Tuhan ... sekalipun aku terlihat marah bahkan kecewa kepadamu, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat menyayangimu. Karena marahnya aku kepadamu adalah wujud rasa sayangku agar kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, Bu!”


Bab 21 : Selamat Jalan, Bu!


Rara bermimpi.


Dalam mimpinya, Rara melihat Piera menangis. Wanita itu tak sekadar menangis biasa. Karena selain sampai terdengar rengek suara yang teramat menyayat pilu, Piera juga mondar-mandir seperti sedang mencari-cari. Piera kerap menunduk, mengamati sangat teliti jalanan yang ia lalui. Seolah, sedikit saja wanita itu lengah, ada benda sangat berharga yang akan Piera lewatkan.


Piera mengenakan piama panjang berwarna putih kusam, sedangkan suasana di sana minim penerangan. Kendati demikian, di sepanjang seberang Piera melangkah seperti ruang tak terbatas yang memiliki cahaya terang dan seolah berkabut di bagian dasarnya. Rara tidak melihat bentuk alas dari ruangan tersebut. Hanya saja, di bagian bawah sana seolah dipenuhi kabut putih. Entah berupa lantai, tanah, atau malah aspal layaknya sebuah jalan.


Yang membuat Rara bingung, apa maksud mimpi yang sedang ia alami? Dan kenapa juga, ia sulit mengakhiri mimpi tersebut. Rara sadar ia sedang bermimpi. Itu kenapa, ia ingin menyudahinya. Namun sekali lagi, ia belum bisa keluar dari mimpi tersebut.


“Mungkin aku harus membantu Ibu menemukan apa yang sedang dicari?” pikir Rara yang kemudian menghampiri Piera.


Rara melangkah ragu menghampiri Piera. Sesekali, ia juga mengamati suasana keberadaannya. Suasana aneh, seperti suasana di balik panggung pertunjukkan akbar tanpa ada tanda-tanda kehidupan walau itu seekor binatang. Benar-benar senyap kecuali suara tangis Piera.


“Aneh sekali. Sebenarnya, aku di mana?” pikir Rara lagi.


Piera masih menangis sembari mencari-cari. Menatap lekat jalanan yang ia lalui bahkan sampai membuatnya mumbungkuk. Anehnya, meski Rara juga mengenakan piama, Rara masih mengenakan alas kaki walau sekadar sandal jepit. Sedangkan Piera, selain terlihat kotor, kaki Piera juga dipenuhi luka koreng yang menganga. Kenyataan tersebut membuat Rara menaruh kecemasan tersendiri. Tak peduli apa yang telah Piera lakukan kepadanya, juga kelakuan wanita itu yang begitu sibuk memburu kebahagiaan tanpa peduli dampaknya, Rara tetap menganggap Piera sebagai ibunya. Jadi, tanpa pikir panjang, ia langsung melepas sandalnya dan memberikannya kepada Piera.


“Ibu? Ibu, apa yang Ibu lakukan? Itu kaki ibu terluka parah, kenapa Ibu juga nggak pakai sandal? Ini pakai sandal, Bu,” sergah Rara sambil jongkok dan mencoba memasangkan sandalnya pada kaki Piera.


Piera tidak merespons walau wanita itu refleks berhenti melangkah dan membiarkan Rara memasangkan sandalnya. Yang membuat Rara bingung, kenapa selain kaki Piera terasa begitu dingin, luka koreng menganga juga sampai ke atas-atas? Bahkan ketika Rara sampai menengadah demi memastikan menatap wajah Piera, di wajah ibunya juga didapati banyak koreng.

__ADS_1


Saking syoknya, Rara sampai gemetaran takut. Ia bergegas berdiri dan menatap Piera lebih saksama. Ia juga sampai memastikan anggota tubuh Piera yang lain dengan membuka sebagian baju Piera dan melongoknya. Dari bagian pundak, perut, juga punggung wanita itu. Demi Tuhan, tubuh Piera dipenuhi koreng parah! Luka-luka koreng itu seperti karena melepuh. Bisa jadi, kalau tidak segera diobati, luka-luka Piera juga akan diserbu lalar hijau!


“I-ibu ...? Sebenarnya Ibu kenapa? Ibu salah kosmetik, atau bagaimana? Ini luka ... melepuh kenapa? Kita ke dokter, ya, Bu!” sergah Rara sembari menggenggam kedua tangan Piera, dengan hati-hati. Karena tak beda dengan kaki, kedua tangan Piera juga tak luput dari luka koreng. Itu mengapa Rara merasa perlu memperlakukan Piera dengan sangat hati-hati tak ubahnya benda antik yang sekali lengah dari pengawasan saja bisa rusak.


Yang membuat Rara makin tidak mengerti, ternyata tubuh Piera juga terasa begitu dingin. Seperti raga yang ditinggal kehidupan, tetapi Piera jelas masih menatapnya. Bahkan perlahan, seulas senyum juga menghiasi wajah Piera.


“Bu ...?!” Rara tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Sebab daripada melihat Piera tersenyum padanya tetapi dengan keadaan wanita itu yang dipenuhi luka, ia lebih memilih tidak dianggap oleh Piera ketika wanita itu bergaya glamor dipenuhi keangkuhan.


Dan meski Rara sadar itu hanya dalam mimpi, Rara juga mulai menuntun Piera. “Kita berobat, Bu! Kita ke spesialis!” isaknya. Namun apa daya, tiba-tiba tubuh Piera terbakar dengan api yang tidak Rara ketahui dari mana asalnya. Berawal dari kaki, dan langsung berubah menjadi abu yang seketika itu juga berterbangan.


Rara yang sempat bungkam saking terkejutnya, menjadi meraung-raung, mencoba menahan tubuh Piera yang masih tersisa. Ia meraih tangan Piera yang ia tahan erat. Sayang, api jahanam itu tetap melahap tangan berikut bagian tibuh Piera yang masih tersisa. Sampai-sampai, tangan Rara yang menahan juga merasakan efeknya. Panas. Benar-benar panas.


“Ibu ...?!”


***


“Ra ...,” lirih Kimo terdengar sengau yang kemudian mendekap tubuh Rara dengan hati-hati.


Rara tetap tidak melakukan perubahan berarti. Ia masih dengan posisi berikut kesedihan tak berujungnya. Karena meski kejadian yang baru saja ia alami merupakan mimpi, tetapi semua itu terlihat sangat nyata. Belum pernah ia kerasakan mimpi senyata itu apalagi mengenai ibunya, yang pernah dibilang almarhumah ayahnya sudah tinggal di bulan.


“Seberapapun buruk dirimu. Bahkan meski kamu menolak keberadaanku ... kamu tetap ibuku. Demi Tuhan ... sekalipun aku terlihat marah bahkan kecewa kepadamu, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat menyayangimu. Karena marahnya aku kepadamu adalah wujud rasa sayangku agar kamu tidak menyia-nyiakan waktumu, Bu!” batin Rara yang kemudian membalas pelukan Kimo. “Sayang, aku kangen ibu. Aku merasa sangat bersalah karena kemarin malam sudah nolak ibu,” keluhnya tanpa memastikan sesuatu yang menghiasi keningnyanya, di mana tak lama kemudian, ada handuk kompres jatuh dari sana.


Mendengar keluhan Rara, jantung Kimo seolah melesak. Bahkan, ia sampai lupa bernapas untuk beberapa saat. Apa yang harus ia lakukan? Dan dari mana ia harus memulai menjelaskan mengenai kematian Piera, agar istrinya itu tidak semakin tertekan sekaligus merasa bersalah?

__ADS_1


***


Semuanya berduka, tanpa terkecuali kendati yang menemani Kimo dan Rara hanya keluarga Yuan dan Keinya. Di tempat tinggal terakhir dalam kehidupan itu, Rara yang terlihat sangat terpukul hanya bungkam, terduduk di sebelah nisan ditemani Kimo. Bahkan orang-orang yang ada di sana sangat jarang melihat Rara mengenipkan mata. Pun dengan helaan napas yang sampai tidak terdengar. Wajah yang selalu ceria itu hanya menyisakan mata besar yang begitu sembam.


Kimo yang sedari awal merangkul berikut memapah tubuh Rara yang kadang pingsan juga tak kalah terpukul.


“Kehilangan ibu Piera bikin aku kangen banget sama Mama. Tapi mau bagaimana lagi? Mama begitu egois dan kasar ke Rara dan aku nggak mungkin membiarkan itu terjadi,” batin Kimo yang kemudian menyeka air matanya menggunakan sebelah tangan yang tidak merangkul Rara. Ia mengamati Yuan sekeluarga yang kompak menaburi bunga berikut air di atas pusara selaku tempat peristirahatan terakhir Piera. Sedangkan yang terjadi pada Rara, kini istrinya itu hanya terdiam menatap kosong nisan kayu yang menerakan nama Piera sebagai pemiliknya.


Khatrin dan Philip saling bersanding, Angela dengan Kim Yeon seok berikut Yura. Sedangkan Kainya yang terlihat masih terpukul karena menjadi orang yang pertama dari mereka yang mengetahui masalah Piera, didampingi Daniel sang adik. Pria muda berambut keemasan yang menjadi satu-satunya orang yang mengenakan kacamata hitam tebal dan terlihat sangat stylish. Sedangkan Yuan dan Keinya yang kali ini tidak disertai Pelangi, tak hentinya meratap pilu Rara.


Keinya yang lebih bersedih atas keadaan Rara ketimbang kematian Piera sendiri, menghela napas berat. Ia menunduk sambil terpejam. “Tuhan, tolong berikan kebahagiaan kepada Rara. Berikan kebahagiaan-Mu untuk Rara. Bukankah dia sudah melalui banyak hal sulit?” batinnya.


Yuan mengelus lengan Keinya yang ia rangkul. “Secepatnya, aku akan menemui orang tua Kimo. Karena biar bagaimanapun, akulah yang membuat Kimo mengenal Rara,” bisik Yuan meyakinkan. Ia yakin kesedihan istrinya bukan karena kematian Piera, melainkan kesedihan yang sedang meluluh-lantahkan ketegaran Rara.


“Aku tahu, Tuhan selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal. Bahkan untuk kali ini. Kematianmu, Bu. Kamu yang begitu haus kebahagiaan tanpa memedulikan dampaknya. Bukankah lebih baik begini? Karena dengan begini, kamu tidak akan membuat orang lain tersakiti. Dan dosamu juga tidak akan bertambah. Sedangkan sebagai anak yang sangar menyayangimu, kini aku hanya bisa melakukannya melalui doa,” batin Rara.


“Maaf karena aku belum bisa menjadi anak yang baik. Maaf karena aku belum bisa membahagiakanmu. Semoga, Tuhan memberimu tempat yang paling baik. Dan semoga, Ibu mendapatkan kebahagiaan yang selama ini ibu cari, di sisi Tuhan. Aku menyayangimu .... selamat jalan, Bu!” Rara masih berturut dalam hatinya. Ia meraba nisan Piera dengan air mata yang kembali berlinang.


***


Hallo, Author di sini. Sudah sedih bahkan ada horornya, besok kita cari yang manis-manis, ya, biar nggak bengkak terus matanya. Hehe ....


Satu lagi, duh gusti .... siapa yang nurunin rating cerita Author? Hahaha. Pagi-pagi dibuat sedih karena 5 bintang di certa ini jadi 4,8. Yuk bantu rate dengan memberikan bintang 5. Gratis kok. Author minta tolong banget, ya. Karena ini mempengaruhi permofa datanya . Like dan komen jangan lupa. Karena semakin rame, semakin bagus. Huhuhu

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2