
“Apa hubungan Ryunana dan Yuan?”
Bab 18 : Ryunana
****
“Apa maksudmu masih bersamanya?” ucap Ryunana penuh penekanan setelah sampai mengempaskan Keinya ke tembok sebelah hingga tubuh wanita kurus itu menghantam tembok.
Keinya menyeringai menahan sakit yang bertumpu di lengan kanannya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyaman yang ia rasakan atas perlakuan kasar Ryunana. Pun meski ia telah melakukan kesalahan fatal dikarenakan semua naskah pesanan wanita di hadapannya diplagiat dengan cara jauh lebih murahan—dicuri melalui penyadapan data.
“Bukankah kalian sudah berpisah?!”
Melihat gaya Ryunana yang tak hanya main kasar tapi juga meledak-ledak dalam berkata, Keinya menjadi bingung. Kenapa pertanyaan Ryunana untuk hal lain, bukan masalah plagiat dan justru membahas perpisahan Keinya?
Setelah menghela napas untuk menenangkan diri, Keinya berkata, “maaf. Saya tahu, saya salah. Tapi tolong, jaga sikap Anda. Lagi pula, saya yakin, kasus plagiat tidak sepenuhnya merugikan. Bukankah kasus tersebut membuat penjualan novel menjadi semakin meningkat?” Baginya tak sepantasnya sekelas Ryunana bertindak kasar apa pun alasannya, apalagi padanya yang ibararnya rekan kerja.
Ryunana menatap Keinya yang bergaya formal, dengan tatapan tidak mengerti. Wanita berambut pirang tersebut semakin tidak tenang bahkan geregetan pada wanita di hadapannya yang tampilannya sangat sederhana. Hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan celana pensil panjang tanpa rias berarti, termasuk aksesori yang menyertai. Sementara wajah Keinya juga terlihat kusam terlepas dari matanya yang terlihat sembam sekaligus sayu.
“Tuntut pelakunya dan bawa kasus ini ke ranah hukum. Saya akan dengan senang hati memberikan bukti kecurangan pelaku.” Keinya mulai memberi solusi.
“Apa maksudmu? Kenapa berbicara seperti itu?” Ryunana menatap Keinya dengan dahi berkerut dan terlihat semakin tidak mengerti.
Tak jauh berbeda dengan Ryunana, Keinya juga menjadi bingung. Keinya merasa jika maksud yang ia dan Ryunana pikirkan memang berbeda. Mereka tidak dalam satu pembahasan, melainkan hal yang sangat berbeda.
Ryunana terheran-heran sekaligus takut, andai saja Rara tidak tiba-tiba muncul sambil berlari dan berhenti menjadi penengah antara dirinya dengan wanita di hadapannya.
__ADS_1
“Ryunana, ini Keinya.” Rara menjelaskan dengan napas tersengal-sengal. Mengenai siapa wanita di hadapan Ryunana dan sampai disebut Rara sebagai bos di perusahaan jasa tulis yang Ryunana pakai jasanya.
Ryunana mendelik, menatap Keinya dengan tatapan tidak percaya. Ryunana terlihat sangat terkejut. Bahkan sebelah tangannya refleks menahan dadanya yang naik turun cukup cepat, seolah-olah jika Keinya berubah menjadi sosok mengerikan layaknya monster bahkan hantu.
Keinya menelan ludah. Ini memang kali pertama ia bertemu Ryunana secara langsung, karena biasanya, semua urusan pertemuan di perusahaannya selalu ditangani Rara. Pantas jika Ryunana tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika Rara memberitahu jati diri Keinya. Akan tetapi, jika memang Ryunana baru mengetahui status Keinya sebagai penulis sekaligus penanggung jawab dari naskah yang Ryunana pesan, apa maksud pertanyaan yang dilayangkan wanita itu? Dan kenapa juga Ryunana langsung bersikap kasar kepada Keinya?
“Apa maksudmu masih bersamanya?”
“Bukankah kalian sudah berpisah?!”
Kedua pernyataan tersebut begitu mengganggu Keinya.
Ryunana berdeham sambil bergaya elegan. Ia bersedekap kemudian melirik Keinya sesaat setelah mundur tiga langkah. Tanpa menatap Keinya, ia pun berkata, “apakah Yuan mengetahui urusan ini?”
“Saya tidak yakin dan juga tidak bisa menjamin. Namun, Yuan-lah yang mengaturkan pertemuan ini.” Keinya membalasnya dengan tegas layaknya pebisnis andal. Ia berkata seperti itu karena sejauh ini Yuan selalu tahu mengenai urusannya. Meski tidak tahu dari awal, Yuan pasti akan langsung bergerak cepat. Bahkan Keinya sampai berpikir jika pria itu bak super hero dalam kehidupannya.
“Yuan selalu mengetahui semuanya termasuk hal-hal yang tidak diketahui kebanyakan orang.” Keinya menambahi dan dibalas lirikan sinis oleh Ryunana.
Rara memperhatikan Ryunana berikut cara wanita tersebut memperlakukan Keinya. Kenapa Ryunana terkesan tidak menyukai Keinya? Tak hanya dari cara wanita berkulit putih itu menatap, melainkan semua gelagatnya yang terlihat tidak sudi berdekatan dengan Keinya. Orang bodoh saja bisa langsung tahu kalau cara Ryunana bersikap kepada Keinya bukan hanya karena marah, melainkan benci. Benci karena naskah-naskahnya diklaim pihak lain? Bukankah seperti yang Keinya katakan, bila keadaan tersebut bukan masalah berarti untuk Ryunana, meski Rara sendiri sempat kelabakan karena belum siap mental berhadapan dengan hukum?
“Kei, Pelangi demam. Suhu tubuhnya sangat panas!” seru Yuan dan langsung mengusik kebersamaan.
Keinya masih tenang. Ia menatap Ryunana sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kepada Rara. “Ra, buat Ryunana percaya ke kita, kalau kamu enggak mau usaha kita berakhir bahkan tanpa pesangon. Aku enggak ada modal kalau harus bayar ganti rugi,” bisiknya. “Maaf, saya tinggal dulu,” pamitnya pada Ryunana.
Rara mengangguk, melepas Keinya dengan tatapan cemas. Wanita yang kembali mengikat tinggi rambut panjangnya itu melangkah dengan tergesa dan langsung mengambil alih Pelangi dari gendongan Yuan yang menunggu di ambang pintu apartemen.
__ADS_1
“Kalau bukan untuk bersenang-senang, apa maksud Yuan mengajakku ke sini? Apa Yuan sengaja pamer kemesraan? Ah tunggu ... mereka tidak tinggal satu atap lagi, kan? Dan bukankah … bukankah mereka sudah berpisah? Ya ampun … kenapa dunia ini begitu sempit? Dan kenapa juga aku baru tahu jika wanita itu Keinya!”
Tanpa menatap Rara dikarenakan pandangannya telanjur terkunci pada kebersamaan Keinya dan Yuan, Ryunana berkata, “apakah anak itu anak Keinya, ah, maksudku—”
Ryunana begitu gugup. Bahkan luka tampak menjadi menguasainya ketika Rara justru mengangguk membenarkan pertanyaannya.
“Mungkin efek imunisasi, Pelangi jadi demam. Oh, iya. Mari masuk untuk membahas masalah berikut rencana penanganannya. Keinya sudah mengurus semuanya.” Rara mendapati tatapan berlebihan Ryunana terhadap kebersamaan Keinya dan Yuan. Tatapan kesedihan yang bercampur kesal tak beda dengan cemburu.
Ryunana menatap Rara dengan bengis. “Bukankah mereka sudah berpisah?!” keluhnya.
“Hah ...? Berpisah apanya?”
Balasan Rara yang terlihat polos sekaligus tak tahu-menahu, bukanlah balasan yang Ryunana harapkan. Dengan rahang yang mengeras lantaran menahan kesal, Ryunana kembali bertanya, “mereka tinggal satu atap lagi?”
Meski nada suara Ryunana begitu dipenuhi rasa kecewa, tapi Rara mengangguk membenarkan. Apalagi biar bagaimanapun, semalam Keinya dan Yuan memang bermalam bersama bahkan satu kamar. Akan tetapi, sebenarnya Rara sengaja manfaatkan pertanyaan Ryunana agar Yuan hanya berjodoh dengan Keinya, mengingat jika dari gelagatnya, Ryunana terlihat sangat tertarik kepada Yuan.
“Iya, mereka tidur sekamar.” Rara mengangguk, menatap Ryunana penuh keyakinan. “Memangnya kenapa?” Ia sengaja bersandiwara agar Ryunana percaya. “Tuhan, ampunilah dosaku. Untuk pertama kalinya aku berbohong, dan ini demi Keinya yang telah Kau kenalkan dengan si setan Athan. Semoga Keinya memang berjodoh dengan Yuan yang kaya raya dan begitu menyayangi Keinya sekaligus Pelangi!” batin Rara.
Rara berharap Keinya mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Athan. Urusan Yuan yang selalu memperlakukan semua wanita dengan baik, akan ia bereskan setelah memastikan pria itu hanya dekat dengan Keinya.
Sekarang, Rara sengaja memasang ekspresi lugu, benar-benar tak berdosa. Dapat ia pastikan, wanita di hadapannya kecewa bahkan pupus harapan. Ryunana menatap kecewa kebersamaan Keinya dan Yuan yang tengah mendiskusikan keadaan Pelangi. Begitu banyak luka yang terpancar dari cara Ryunana menatap kebersamaan tersebut. Di mana, kenyataan tersebut membuat Rara semakin yakin, Ryunana memang menyukai Yuan.
“Tapi omong-omong, apa hubungan Ryunana dengan Yuan?” Tiba-tiba saja Rara menjadi sangat penasaran.
Bersambung ....
__ADS_1
Catatan Penulis :
Terima kasih banyak saya ucapkan untuk semua pembaca “Selepas Perceraian”. Jangan lupa dukung cerita ini dengan memberikan vote serta memasukannya ke dalam bacaaan favorit kalian agar cerita ini terus berlanjut, ya. Insya Alloh kalau reaksinya bagus, akan saya update setiap hari. Bahkan kalau bisa setiap hari update lebih dari 1 episode 😍😍😍