
“Asal kamu nggak minta pacar apalagi suami baru, semua yang kamu minta pasti aku kasih!”
Bab 22 : Kencan
Suasana duka masih terasa begitu kuat. Walau tanpa kata, apalagi keluhan. Namun bungkamnya Rara yang bahkan terlihat sangat kehilangan, lebih menyakitkan dari luka yang berdarah-darah.
Rara terdiam di sudut sofa ruang bersantai. Masih mengenakan pakaian hitam saat ke makam. Kedua tangan di atas pangkuan, sedangkan tatapannya kosong. Kimo yang baru saja menutup pintu apartemen, menghampiri istrinya karena sudah tidak tahan. Ia ingin menyudahi kesedihan yang sedang berjalan lantaran takut, apa yang ditakutkan orang-orang mengenai Rara bisa sampai stres, benar-benar terjadi.
Keinya terpejam pasrah dalam tangisnya. Malam ini, setelah menggelar pengajian khusus untuk Piera, ia dan Yuan memang sengaja menginap di apartemen Rara. Sedangkan Kainya berikut keluarganya, telah pamit bersama sisa duka yang masih menyelimuti. Sekali lagi, duka itu bukan sepenuhnya untuk kepergian Piera, melainkan dampak kepergian Piera sendiri yang menjelma menjadi pukulan sangat berat bagi Rara.
Yuan menelan ludah kemudian menghela napas berat. Seberat duka sekaligus beban mental yang tengah membebani mereka. Ia yang sampai menitikkan air mata berangsur merangkul Keinya dan menuntunnya memasuki kamar di belakang mereka.
“Kita tidur. Sudah malam. Jangan di sini,” bujuk Kimo yang langsung meraih sebelah tangan Rara, kemudian menuntunnya.
Rara kebingungan. “Bentar,” lrihnya berjaga. Seperti sengaja menghindari sesuatu. Ia juga menatap Kimo penuh pengertian.
Kimo menatap Rara dalam. “Flora,” lirihnya mencoba memberi pengertian.
Di belakang mereka, Keinya juga menolak tuntunan Yuan. Keinya justru menyimak apa yang Rara dan Kimo bicarakan.
“Kimo, jangan berisik. Ibu lagi tidur,” omel Rara lirih. “Kalau kamu mau tidur, tidur saja dulu nanti aku nyusul.”
Di sebelah rara. Pada sofa panjang itu memang bekas Piera tidur, dua malam lalu. Selimut bekas Piera juga entah atas dasar apa, digelar di sana berikut sebuah bantal yang diletakkan di atasnya, dan tadi itu semua dilakukan oleh Rara. Kini, Rara merapikan selimut berikut bantal sofa di atasnya tanpa perubahan berarti.
Kimo terpejam pasrah dan memilih jongkok hingga akhirnya duduk. Ia menyemayamkan wajahnya di pangkuan Rara, sambil mendekap pinggang wanita itu.
Yang membuat Keinya makin bersedih, setelah itu, Rara juga sampai tersenyum sambil meraba-raba gelaran selimut sambil berlinang air mata.
“Tidur yang tenang, yah, Bu. Aku di sini bakalan jagain ibu, kok,” bisik Rara dengan segala ketulusan sekaligus rasa cintanya.
“Kamu juga harus bisa tenang dan lkhas, ya Ra. Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja,” batin Kimo tanpa perubahan berarti. Sayangnya, waktu seolah melambat bersama duka yang terus saja menorehkan luka. Rasa pilu yang menorehkan rasa sesak tak hentinya memenuhi dada mereka di setiap mereka memikirkan Rara. Juga, Rara sendiri yang merasa sangat menyesal kenapa ia masih belum bisa menjadu anak yang baik untuk Piera. Bahkan di saat-saat terkhir Piera masih hidup, ia sampai mengusirnya yang sempat datang berlindung.
***
Paginya, Raa dikejutkan dengan keadaannya. Ia yang tertidur terduduk di sofa, sedangkan di bawah, Kimo tidur di lantai sambil mendekapnya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Kenapa aku dan Kimo sampai tidur di sini?” pikir Rara yang kemudian juga mendapati bekas selimut berikut bantal sofa di sebelahnya. Selimut dalam keadaan tergelar, sedangkan bantal tepat di atas tengah selimutnya.
“Apakah aku telah melakukan kesalahan? Apakah aku telah melakukan tindakan bodoh yang membuat orang-orang mencemaskanku?” Rara terus bertanya-tanya dalam hatinya mengenai apa yang telah terjadi. Namun, ia sama sekali tidak ingat. Hal yang terakhir ia ingat, ia baru pulang dari pemakaman Piera. Belum lama melangkah tetapi tiba-tiba saja, saat itu pandangannya menjadi gelap. Dan setelah itu, ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.
Dengan perasaan yang diselimuti rasa bersalah karena takut telah mebuat orang-orang dalam hidupnya mencemaskannya, Rara membelai kepala Kimo menggunakan kedua tangannya. Ketika ia memastikan waktu pada jam dinding, ternyata sudah pukul enam lewat.
“Kimo ... Kimo bangun. Siap-siap. Sudah pukul enM lebih. Kamu harus kerja, kan?” bisik Rara.
Kimo mengulet dan terdengar desissan suara orang khas baru bangun tidur. Pria itu tidak langsung menatap Rara. Kimo menengadah sambil terpejam erat dan mendesah. Kemudian kedua tangannya juga ia tarik dari pinggang Rara untuk melakukan peregangan.
“Kamu mau disiapkan sarapan apa?” tanya Rara.
Kimo refleks mengernyit dan berangsur membuka matanya dengan penuh, menatap Rara. Ia merasa tidak percaya lantaran nada suara Rara terdengar baik-baik saja.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu,” keluh Rara yang kemudian menutupkan sebelah tangannya pada wajah Kimo.
Kimo yang masih terdiam berangsur menahan lengan tangan Rara yang menutup wajahnya. Ia menatap sang istri sambil mengerutkan dahi kemudian menyodorkan sebelah tangannya.
“Ini berapa?” tanya Kimo kemudian sambil menyodorkan kelima jari tangannya.
Bukannya menjawab, Rara justru mengerutkan bibir dan terlihat kesal. “Kamu ngajak ribut, ngetes aku begitu?” omelnya terdengar mengancam.
“Sudah, nggak usah senyun-senyum begitu. Kamu siap-siap, memangnya hari ini nggak kerja lagi?” ucap Rara masih terdengar mengomel.
Senyum Kimo semakin menjadi-jadi. Bahkan sesaat beranjak, Kimo sampai mencium kening Rara. “Hari ini aku masih libur. Kamu mau aku siapin makan apa?” ucapnya.
Rara mengerutkan dahi dan bibirnya kemudian mengerling. “Benar hari ini kamu masih libur?”
Kimo langsung mengangguk.
“Jalan-jalan, yuk?” pinta Rara terlihat sangat berharap.
Kimo terlihat mempertimbangkan permintaan istrinya. “Mau jalan-jalan ke mana?” ucapnya yang kemudian berjongkok dan membingkai wajah Raa menggunakan kedua tangannya.
“Enggak usah jauh-jauh. Kita menonton bioskop, main ke wahana permainan juga. Di wahana bawah kan ada tuh!” Rara makin antusias.
__ADS_1
Senyum di wajah Kimo kian lebar. “Apakah Tuhan mengabulkan doaku? Tapi masa iya? Jangan-jangan, ini hanya cara Rara mengelabuhiku? Tapi nggak apa-apa sih. Ini lebih baik biar Rara bisa merasa lebih lega,” pikir Kimo.
“Bisa, enggak?!” tagih Rara lantaran Kimo belum juga memberinya balasan.
“Tentu!” balas Kimo sambil mengangguk mantap.
Rara tersenyum girang. Apalagi ketika Kimo sampai memunggunginya kemudian jongkok dan siap menggendongnya. Tanpa pikir panjang, Rara langsung mengalungkan tangannya ke leher Kimo.
“Hari ini, kita kencan! Kamu mau apa, pasti aku kasih!” ucap Kimo sembari melangkau menuju kamar mereka.
“S-serius?! Aku mau dong, nonton konser BTS terus foto bareng sama Seok Jin ...!” sergah Rara antusias sambil menepuk-nepuk pundak suaminya.
Senyum di wajah Kimo langsung hilang. “Kecuali itu. Kamu ini, kenapa tiba-tiba jadi ganjen? Jelas-jelas aku lebih tampan, masih saja jadi fangirl!” balas Kimo mengomel.
“Ah ... aku mau foto bareng Seok Jin! Kalau enggak kamu beliin aku poster yang segede orangnya, terus beliin aku boneka khusus keluaran Seok Jin!” rengek Rara lagi semakin menjadi-jadi.
Kimo menghela napas tak habis pikir. “Kamu ini dikasih kesempatan malah ngelunjak, ya?” ucapnya pasrah.
“Tapi kamu mau, kan?” sergah Rara belum menyerah.
“Iya ... iya. Buat kamu apa sih yang enggak. Asal kamu nggak minta pacar apalagi suami baru, semua yang kamu minta pasti aku kasih!” ucap Kimo yang setengah mengomel dan terdengar tidak sepenuhnya rela.
Kendati demikian, Rara tidak mempermasalahkannya. Ia tersenyum girang dan kemudian mencium sebelah pipi Kimo.
Bagi Kimo, kebahagiaan Rara yang terlihat tidak punya beban, kontras dari kemarin, sudah menjadi kebahagiaan luar biasa untuknya. Bahkan, kenyataan tersebut tak beda dengan keajaiban lantaran kemarin, Rara terlihat seperti orang yang sangat tertekan bahkan depresi.
***
Seperti apa yang Rara minta, mereka berkencan di mal apartemen. Menonton, menikmati eskrim sepanjang perjalanan mereka sambil melihat-lihat suasana mal yang makin lama makin ramai. Juga, mereka yang sampai melakukan foto di photobox. Dan terakhir, mereka mencoba aneka wahana permainan yang begitu menguji adrenalin seoerti roller coster.
Saat di roller coster yang membawanta melesat dan melikuk dengan begitu cepat, Rara mendekap sangat erat sebelah lengan Kimo sambil berteriak sekencang-kencangnya seperti penunggang lainnya.
“Aku ingin bahagia. Aku benar-benar ingin bahagia! Tuhan, tolong izinkan aku memulainya!” batin Rara.
“Gila kamu naik kayak gini! Perutku kayak dikocok ....” Kimo terus meracau di antara teriakkannya, dan hal tersebut membuat Rara tak hentinya tertawa meski rasa tegang atas kecepatan roller coster yang membawanya lebih mendominan.
__ADS_1
“Aa ...!”
Bersambung ....