
“Kamu tidak berhak menghina orang lain, jika kamu sendiri tidak lebih baik dari orang yang kamu hina!”
Bab 7 : Si Kembar Sudah Pulang
Sore ini, Pelangi sengaja mengantar Zean ke rumah Rara dengan berjalan kaki. Entah atas dasar apa, kali ini Zean yang menghiasi punggungnya dengan tas ransel kecil, mau digandeng tangannya.
“Ngie, bukankah Kim Jinnan keren?” tanya Zean sambil menengadah demi menatap Pelangi.
Pelangi menatap heran Zean. “Kenapa?”
“Menurutmu dia keren, tidak? Si Jinnan?” balas Zean makin serius, meski sesekali, mata bermanik hitamnya akan berkedip sendu.
Kedipan yang membuat bocah itu terlihag sangat lugu.
“Apa seleramu, yang bule-bule, ya, Ngie?” tambah Zean menebak-nebak.
“Jangan bahas beginianlah, Zean. Kakak saja belum mau bahas. Jadi, kamu juga jangan bahas yang melebihi kapasitas. Belajar dan main saja. Jangan memikirkan yang lain,” balas Pelangi meyakinkan.
“Tapi aku ingin lebih baik dari Dean. Aku juga bisa jaga kamu loh, Ngie ... dan v. ke luar negeri, aku harus memastikan ada yang benar-benar jaga Ngi-ngie,” kilah Zean.
“Wah ... mengenai kebohongan ke luar negeri ternyata sudah sukses membuat semuanya percaya, ya? Bahkan Zean saja sampai percaya?” batin Pelangi.
Menghadapi Zean memang kerap membuat Pelangi kewalahan. Tak sekadar karena tidak bisa menjawab, sebab Pelangi bahkan mungkin orang lain, juga akan sampai pusing jika menghadapi Zean.
“Iya, Zean ... Kakak tahu ... tapi akan jauh lebih baik jika kamu fokus belajar dan bermain. Oh, iya ... omong-omong, bagaimana liburan ke kebun binatangnya?” Pelangi sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Zean berhenti membahas hal yang tidak seharusnya.
“Biasa saja. Karena akan lebih seru lagi jika aku punya kebun binatang sendiri di rumah,” balas Zean menjadi tak bersemangat.
Pelangi sampai mendelik sambil menelan ludah saking tidak percayanya pada tanggapan sang adik.
Ketika mereka nyaris sampai di kediaman Rara, mereka yang sudah ada di depan gerbang rumah bernuansa putih tersebut, dikejutkan oleh sesosok pengemis. Baik Pelangi maupun Zean meyakini sosok berpenampilan kumal yang juga mengenakan topi hingga sebagian wajahnya tertutup memang pengemis. Terlebih, keadaan sosok yang tidak mereka ketahui jenis kelaminnya--pria atau wanita--juga terduduk selonjor. Akan tetapi, dari semua rumah yang ada di sana, sosok tersebut hanya mengamati kediaman rumah Rara.
Zean yang paham sang kakak menjadi diam gara-gara sosok di seberang sana, jarak mereka sekitar sepuluh meter, pun berkata, “ayo masuk, Ngie ... ngapain merhatiin pengemis?”
Pelangi menatap Zean sambil membungkuk. “Zean, tadi mama kasih dua bekal kan, di ranselmu? Kasih semua gih ke orang itu,”
“Ogah! Kenapa harus dikasih? Kalau mau makan ya kerja. Ngapain malah jadi pengemis?” balas Zean sewot.
“Enggak bakalan miskin, kok, kalau kamu mau berbagi. Cepat berikan saja, kasihan!” balas Pelangi yang kali ini sampai mengomel.
Zean mendengkus kesal sambil melirik sebal Pelangi.
“Kakak juga mau kasih uang. Kasihan. Kita sudah selalu hidup enak dan enggak semua orang bisa kayak kita,” lanjut Pelangi yang langsung merogoh saku sisi celana panjang yang dikenakan.
“Ya sudah, ... aku yang jadi pengemis, pengemisnya yang jadi aku. Biar adil!” balas Zean serius.
“Ih ... nyebelin!” uring Pelangi. “Enggak usah bahas begitu kenapa, sih?”
“Aku serius ingin miskin, Kak. Enak tahu. Bisa main bebas. Manjat sana-sini enggak dilarang.”
Pelangi bergegas, setengah berlari menghampiri sosok yang diyakininya sebagai pengemis tanpa menghiraukan ocehan Zean lagi.
Tak mau ketinggalan, Zean juga menyusul dengan berlari. Zean melakukannya sambil mengeluarkan kedua kotak bekal dari ransel. Dua kotak bekal berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk bahkan dua susu kemasan kotak.
“Maaf,” ucap Pelangi sambil menunduk kemudian memberikan dua lembar uang seratus ribu yang sebelumnya sudah sampai Pelangi gulung.
Pengemis itu sampai menengadah, menatap Pelangi dan Zean silih berganti tanpa menerima uang yang Pelangi suguhkan.
“Apakah kalian anak-anak Rara?” ucap si Pengemis.
Pelangi menjadi merinding. Tak hanya perihal tatapan si pengemis yang ia yakini seorang wanita, dan menjadi begitu bengis. Melainkan nada berbicara pengemis itu sendiri yang begitu kental dengan kebencian.
“Bahkan orang ini mengenal bibi Rara?” batin Pelangi mulai bertanya-tanya.
Meski tak lama setelah itu, Pelangi juga menjadi sangat terkejut lantaran sebelah tangan pengemis tersebut, sampai menyempar kasar tangan Pelangi yang mengangsurkan uang. Juga, pengemis itu yang sampai menarik tongkat yang tergeletak di sebelahnya, untuk menghantam kepala Zean! Dan andai saja Pelangi tidak bergerak cepat menarik Zean, mungkin sesuatu yang fatal telah menimpa bocah itu.
“Ngi-ngie ... punggungmu!” jerit Zean yang memang syok lantaran niat baiknya justru dibalas dengan hal kasar yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Karena jangankan sebuah pukulan, berbicara dengan nada tinggi juga sangat dilarang dalam lingkungan tumbuh kembang mereka.
Kebencian. Pelangi yang masih memeluk Zean sangat erat, melihat kebencian yang begitu besar, dari cara wanita itu memandangnya dan Zean.
“Apa salah kami? Kami tulus membantu Anda ...?” ujar Pelangi masih memeluk erat Zean yang juga balas memeluknya.
“Karena kalian terlahir dari Rara ... wanita yang telah membuat hidupku sengsara!” tegas si pengemis.
__ADS_1
“Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Karena aku yakin, bibi Rara tidak begitu. Justru, aku menemukan banyak kebencian dari dalam dirimu!” tolak Pelangi.
Uang dua ratus ribu milik Pelangi berikut kedua kotak bekal, langsung Pelangi pungut.
“Apa jangan-jangan, kalian anak Keinya? Ah ... Keinya dan Rara sama saja. Sama-sama wanita jal--” lanjut si pengemis dan langsung ditahan oleh Pelangi yang sampai membentaknya.
“Tutup mulutmu! Kamu tidak berhak menghina orang lain, jika kamu sendiri tidak lebih baik dari orang yang kamu hina!” Pelangi menatap wanita itu penuh kebencian. Sungguh, tidak ada ampun bagi mereka-mereka yang berani menghina keluarga apalagi orang tuanya.
Sadar situasi semakin tak bersahabat, Zean langsung lari dari pelukan Pelangi. Ia berhenti di depan gerbang rumah Rara dan terus menekan bel rumah yang ada di sana.
Seorang satpam segera keluar, kebingungan menatap Zean. Zean yang juga terlihat begitu ketakutan.
“Panggilkan bibi Rara, cepat! Kenapa kamu begitu lelet! Penting ini!” omel Zean lantaran si Satpam justru kebingungan.
Setelah membuat suasana menjadi dihiasi drama, Rara bahkan dengan Mofaro dan Rafaro, keluar memastikan.
Rara juga tak kalah bingung, mendapati aduan dari Zean yang langsung menceritakan semuanya dengan sangat detail. Dan Rara yang tidak mau ketinggalan bukti pun segera berlari menghampiri pengemis yang beranjak pergi sambil menarik-narik tubuhnya dan mungkin, ... lumpuh. Pengemis itu telah meninggalkan Pelangi.
Kendati mencemaskan Pelangi, tetapi Rara lebih ingin memastikan si pengemis. Rara melewati Pelangi dan berhenti menghadang si pengemis.
Tampak Mofaro yang langsung menghampiri Pelangi, sedangkan Rafari yang tertinggal memilih mengemban Zean sebelum ikut menghampiri Pelangi.
“Hei ...?” sapa Mofaro sambil merangkul punggung Pelangi menggunakan sebelah tangannya.
Apa yang Mofaro lakukan sukses membuat Pelangi terkejut. Pelangi bahkan refleks mengipratkan rangkulan Mofaro sebelum akhirnya menjengit.
“Ini aku ... kenapa kamu terkejut seperti itu?” ujar Mofaro. Pemuda berambut gondrong itu menatap Pelangi penuh kepastian.
Sambil menyeka cepat air matanya menggunakan sebelah tangan, Pelangi yang memang masih terkejut pun berkata, “kok kamu sudah pulang?”
Mofaro tersenyum lepas. Senyum yang membuatnya terlihat semakin manis dengan dua lesung pipit yang menghiasi kedua pipinya.
“Mo! Itu jagain mom! Eh kamu malah asyik tebar pesona! Biar Pelangi, aku yang urus!” semprot Rafaro yang masih menggendong Zean.
Zean segera melepaskan diri dari gendongan Rafaro. Bocah itu segera mendekap erat tubuh Pelangi tanpa bisa menyembunyikan kekhawatiran berikut ketakutannya. Pun meski Zean tidak berbicara.
Mofaro segera lari menyusul Rara tanpa pamit. Perbedaan Mofaro dan Rafaro hanya pada gaya rambut keduanya berikut lesung pipit. Karena ketika Mofaro menyukai gaya rambut gondrong tak ubahnya Kimo ketika masih muda, Rafaro justru menyukai gaya rapi. Dan ketika Mofaro memiliki dua lesung pipit, Rafaro hanya memiliki satu dan itu di sebelah kanan.
“Kamu enggak apa-apa, kan?” tanya Rafaro tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya, terlebih Pelangi yang terlihat syok juga sampai berlinang air mata.
Tanpa harus membuka topeng sosok di hadapannta, Rara sudah tahu dan bisa mengenali. Ya, sosok yang diyakini sebagai pengemis oleh Zean itu memang mengenal Rara dan bahkan lebih. Sosok dari masa lalu yang mungkin masih sakit hati bahkan dendam kepada Rara maupun Keinya.
“Steffy? Kamu benar kekanak-kanakan! Beraninya sama anak-anak! Bahkan kamu sampai memukul anak-anak?” cibir Rara sambil menatap sosok di hadapannya penuh kebencian.
Rara benar-benar marah bahkan ingin membanting tubuh Steffy yang tak berdaya itu, detik itu juga. Akan tetapi, Rara masih waras dan memang sudah malas berurusan dengan manusia pendendam layaknya Steffy. Sudah cacat dan mendapatkan banyak teguran, masih saja menyimpan dendam bahkan tak segan balas dendam!
“Seteffy? Mom kenal orang ini?” bisik Mofaro yang kemudian berdiri di sebelah Rara dan nyaris tak berjarak, sambil sesekali menatap Steffy.
Ketika Steffy menatap pemuda di sebelah Rara, detik itu juga Steffy terperangah.
“Tak hanya suara, ... tetapi juga dengan gaya bahkan ... wajahnya. Benar-benar mirip Kimo ....,” batin Steffy.
“Ini anak pertamaku dan Kimo. Dia memiliki kembaran. Dan kami hidup bahagia. Intinya, semua orang yang ingin kamu sakiti, kami semua hidup bahagia ...,” ucap Rara kemudian.
Rara melihat butiran bening yang mengalir dari kedua mata Steffy yang berangsur menunduk.
“Kembali lah ke keluargamu ...,” ucap Rara kemudian.
“Mamaku sudah meninggal karena korona. Sedangkan setelah itu, papaku menikah lagi dan sekarang sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya.” Steffy mengatakan itu sambil terus menunduk.
“Corona? Kalau enggak salah, itu virus fenomenal yang menyerang seluruh dunia di tahun 2020? Berasal dari Wuhan, ya?” batin Mofaro yang berangsur bersedekap.
“Itu kabar baik karena setidaknya, papamu sudah hidup bahagia,” ujar Rara.
“Bagaimana denganku?” protes Steffy yang kemudian menatap kesal Rara.
“Kenapa kamu bentak-bentak Mom! Apa hakmu?!” bentak Mofaro tidak terima.
“Benar, ... apa hakmu? Kenapa kamu terua membuat susah orang lain bahkan hidupmu sendiri?” timpal Rara.
Steffy menepis tatapan serius Rara.
“Pergilah ke tempat yang seharusnya kamu ada,” tambah Rara lagi.
__ADS_1
Steffy tidak berkutik. Ia hanya diam sambil terus menunduk.
“Aku akan menghubungi papamu. Membuatmu memiliki hakmu,” tambah Rara lagi.
“Dengan keadaanku yang seperti ini?” balas Steffy sambil menatap Rara dengan tidak yakin.
“Orang ini, kok gini banget? Mom sudah baik hati mau bantu, masih saja enggak sadar diri!” batin Mofaro yang menjadi kesal sendiri. Namun ketika ia menatap ke depan, di sana, Rafaro sedang mengobrol hangat dengan Pelangi. Di mana, kembarannya itu nyaris tidak berkedip dan terus menatap Pelangi.
“Woi ... cut! NG NG ...! Jaga jarak ... jaga jarak!” serunya sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
Mofaro langsung menggandeng dan membawa paksa Rara mendekati kebersamaan Rafaro dan Pelangi, meninggalkan Steffy begitu saja.
“Mo ... Mom belum selesai. Masih ada hal yang harus Mom bicarakan.”
“Ah, Mom. Jangan berurusan dengan orang seperti itu. Aku enggak suka Mom meluangkan waktu dengan orang yang jahat sama orang lain apalagi jahat sama Mom dan Pelangi!” jelas Mofaro tanpa menatap Rara lantaran kedua matanya terus tertuju pada kebersamaan Pelangi dan Rafaro.
“Mom ... itu bilangin dong si Rafa ... masa iya ganggu-ganggu Pelangi terus?” keluh Mofaro kemudian.
“Duh ... meski Mofa dan Rafa kembar, enggak juga dengan hati dan cinta mereka, kan? Gimana, ini? Apalagi mereka justru nyangkutnya ke Pelangi. Kalau ada apa-apa kan enggak enak juga sama Yuan dan Keinya,” batin Rara yang menjadi ketar-ketir.
“Lalu, bagaimana dengan aku?” gumam Steffy kebingungan lantaran ditinggalkan begitu saja tanpa kepastian.
Steffy menoleh dan terus menatap kepergian Rara yang dibawa paksa oleh Mofaro. Pemuda yang bagi Steffy sangat mirip dengan Kimo muda. Dan ketika ia menatap saksama perihal sosok di belakang sana. Benar, masih ada satu pemuda lagi yang memiliki rupa mirip dengan Kimo. Hanya gaya rambutnya saja yang berbeda.
“Jangan pada rebutan Ngi-ngie. Bikin rusuh saja! Toh, Ngi-ngie sudah punya pacar!” omel Zean sambil menatap tegas Mofaro dan Rafaro, kedua pemuda kembar yang tak segan ribut jika sudah merebutkan Pelangi.
“Ternyata benar kata papa. Kim Jinnan enggak sepenuhnya bikin masalah. Karena gara-gara dia juga, aku bisa membebaskan diri dari kedua kembar ini. Namun, jika harus memilih, aku lebih nyaman sama Rafa, meski aku memang dua tahun lebih tua dari dia ...,” batin Pelangi yang memilih diam. Membiarkan kedua pemuda di hadapannya sibuk mengeluh dan meragukan cerita Zean.
“Eh, Zean ... jangan bohong kamu!” omel Mofaro.
“Aku serius! Namanya Kim Jinnan! Cari saja nama Kim Jinnan di google. Ada kok!” balas Zean penuh keyakinan.
Di saat Mofaro ketar-ketir tidak bisa menerima kenyataan, Rafaro justru hanya diam menatap sedih gadis di hadapannya.
“Kenapa aku harus mencarinya di google? Memangnya dia artis apa jangan-jangan, petinggi negara? Ah, Zean ... kamu jangan bohong, ah!” keluh Mofaro yang sampai membuktikan ucapan Zean.
Sambil sesekali menyibakkan rambut gondrongnya, Mofaro melakukan pencarian di google dengan mengetikkan nama Kim Jinnan.
Melihat cara Rafaro dan Pelangi bertatapan, Rara menemukan banyak ketulusan di antara keduanya. Akan tetapi, Rara juga yakin, baik Rafaro maupun Pelangi sama-sama menahan diri.
“Ngie ... aku enggak sangka jika pertemuan pertama kita setelah bertahun-tahun terpisah justru seperti ini!” keluh Mofaro.
“Kan! Apa kataku! Kim Jinnan itu ada. Pacar Pelangi!” ujar Zean sambil bersedekap dan memasang wajah bangga.
Meski Mofaro terlihat begitu terpukul, tetapi Pelangi yakin, pemuda itu akan jauh lebih terpukul jika mengetahui kenyataan, Pelangi justru memilih Rafaro.
“Tapi enggak apa-apa, sih ... kan baru pacar. Toh, aku juga belum bertemu langsung sama orangnya ... apalagi, pacaran kan juga gampang putus!” ujar Mofaro yang berusaha menghibur dirinya sendiri.
“Putus bagaimana? Kim Jinnan sudah berulang kali mengajak Pelangi menikah!” ujar Zean masih menyebarkan banyak keyakinan di setiap informasi yang diaampaikan.
Mofaro kembaki ketar-ketir. “Ah, kompor kamu, Zean! Sengaja pasti kamu, ya, biar aku cemburu?” semprot Mofaro pada Zean.
Rara yang menyaksikan tingkah konyol anak-anak, apalagi Zean yang sangat mirip dengan Kimo dalam bertutur katanya, menjadi tidak bisa berhenti tersenyum. Rara merasa geli sendiri melihat tingkah mereka.
Tak lama setrlah itu, ketika Rara baru saja menggiring mereka untuk masuk ke rumah, sebuah mobil sport warna biru mendadak menepi di depan mereka.
Sontak semuanya refleks berhenti dan menoleh, menjadikan mobil tersebut perhatian.
“Ngie?” sapa Kim Jinnan yang sampai melongok dari sebelah kaca pintu kemudi.
Kali ini Kim Jinnan memang menyetir sendiri. Ia segera keluar dari mobil dan menghanpiri kebersamaan.
“Wah ... Kim Jinnan! Kau keren sekali!” seru Zean sangat antusias.
“Hai, Zean! Terima kasih! Kamu juga keren!” balas Kim Jinnan yang tak segan mengedipkan sebelah matanya.
Zean, terlihat begitu bangga kepada sosok Kim Jinnan. Lebih tepatnya, Zean memang mengagumi Kim Jinnan yang baginya sangat keren.
Dan kehadiran Kim Jinnan yag masih bergaya kantoran lengkap dengan jas berikut dasi yang menyertai penampilan pria itu, sukses membuat suasana kebersamaan menjadi canggung.
Awan hitam yang seolah menyelimuti kehidupan si kembar, menandakan jika sebentar lagi akan ada badai besar. Antara mereka dan Pelangi, juga kenyataan perihal Pelangi yang nyatanya sudah dimiliki sekaligus memiliki seorang pria bernama Kim Jinnan.
Bersambung ......
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Like, komen, dan juga votnya, Author tunggu. 😍