
“Ke depannya, bersama seperti ini akan menjadi rutinitas baru kita,”
Bab 20 : Rutinitas Baru
Rutinitas baru yang Pelangi jalani semenjak Kim Jinnan hadir dalam hidupnya adalah menghapus setiap pesan yang dikirimkan oleh pria itu. Pun meski semua pesan mengandung perhatian bahkan rayuan. Rasanya, bukannya bahagia apalagi berbunga-bunga, yang ada Pelangi justru mual dan semakin membenci pria itu.
Namun selain rutinitas baru itu, ada satu hal yang akan membuat Pelangi juga menjalani rutinitas baru yang lain. Ya, melihat Dean yang ia dapati sedang mengobrol asyik dengan Kishi. Keduanya melangkah santai menuju gerbang sekolah tempatnya menunggu, tanpa benar-benar melihat ke arah tujuan.
“Rasanya seadem ini, melihat mereka seakrab itu,” batin Pelangi yang tetap duduk di bangku tunggunya tanpa kembali memperhatikan Dean dan Kishi.
“Benar kata mama, ... waktu begitu cepat berlalu. Namun, apa yang akan terjadi di masa depan? Akan seperti apa masa depanku nanti? Apakah masih akan ada Kim Jinnan?” batin Pelangi yang mendadak menghela napas dalam hingga kedua bahunya turun dan bahkan loyo.
Ketika Pelangi menoleh ke samping, sebuah sedan hitam menepi tepat di tepi jalan depan gerbang sekolah. Pelangi mengetahui mobil tersebut sebagai mobil Rafaro. Mobil yang juga sukses membuat Pelangi menjadi gelisah.
“Rafaro tak ubahkan cobaan bahkan godaan untukku ... hmmm, sudahlah. Fokus membasmi Kim Jinnan saja,” batin Pelangi yang kemudian berangsur bangkit. Namun, ia fokus menatap kebersamaan Dean dan Kishi.
Rafaro yang melihat Pelangi sendiri, sedangkan gadis itu justru menatap bahagia kebersamaan Dean dan Kishi, juga menjadi menatap Pelangi dengan senyum yang seolah tidak akan pernah usai.
Rafaro segera mematikan mesin mobilnya, lengkap dengan mencabut kuncinya. Kemudian, ia segera turun dan melangkah mendekati Pelangi. Rafaro berdiri persis di sebelah Pelangi.
“Kamu tidak melihatku?” tanya Rafaro cukup gugup.
“Lihat ... tapi memangnya harus bagaimana?” balas Pelangi tak bersemangat.
Baik Pelangi maupun Rafaro, sama-sama berucap tanpa menatap satu sama lain. Bahkan, melirik pun tidak. Keduanya sama-sama bersikap canggung, sengaja membatasi satu sama lain. Hanya berdiri bersebelahan, dengan Rafaro yang memang memiliki tinggi tubuh jauh lebih tinggi dari Pelangi. Ada sekitar dua puluh lima senti meter, jarak tinggi mereka.
“Mau sampai kapan kita begini? Mereka sudah bersama. Apa lagi yang kita tunggu?” ucap Rafaro memecahkan kecanggungan.
“Memangnya mau ngapain?” balas Pelangi masih tidak bersemangat.
“Jalan-jalan sebentar,” ajak Rafaro yang kali ini sampai menatap Pelangi.
Pelangi menggeleng sambil menghela napas. “Enggak ah ... aku mau tidur panjang saja. Soalnya besok aku sudah ada rutinitas baru.”
“D-de ....?” Pelangi nyaris berseru memanggil Dean, tetapi sebelah tangan Rafaro meraih sebelah pergelangan tangannya.
Kishi dan Dean yang nyaris ada di hadapan mereka, menjadi menatap bingung kebersamaan tersebut.
__ADS_1
“Ean, tolong antar Kishi ke rumahku. Aku ada urusan sebentar dengan Pelangi. Nanti aku yang antar Pelangi,” sergah Rafaro sesaat sebelum kepergiannya.
Rafaro membawa paksa Pelangi yang jelas-jelas kebingungan bahkan sampai berusaha menolak. Akan tetapi, kali ini seorang Rafaro sampai memaksa. Pemuda itu membukakan pintu sebelah kemudi untuk Pelangi. Dan setelah Pelangi masuk, Rafari segera menutupnya kemudian sampai berjalan tergesa memutari mobil bagian depan. Rafaro siap mengemudi dan sebelum benar-benar melaju, ia sampai menekan klakson mobil sambil menatap kebersamaan Dean dan Kishi yang juga masih menatapnya.
“Biarkan mereka pergi,” pinta Kishi yang memang menjadi tak bersemangat.
Kishi sampai menghela napas dan tampak sangat pasrah ketika Dean memastikannya.
“Kenapa kamu begitu tidak bersemangat? Kamu cemburu?” tanya Dean.
Kishi berangsur menatap Dean. “Aku memikirkan Mo,” keluhnya.
Dean segera menepis tatapan Kishi untuk melepas kepergian mobil Rafaro yang nyatanya sudah yak berjejak. “Aku mengkhawatirkan Kim Jinnan.”
Kishi mengerutkan dahi sambil kembali menatap Dean. “Kamu mulai simpati kepadanya?”
“Entahlah ... tapi, Kim Jinnan begitu gigih mengejar Ngi-ngie. Ya, meski di lain sisi, aku masih sangat sulit percaya kepadanya.”
Kishi yang masih menengadah hanya untuk menatap Dean pun berangsur tersenyum. “Kim Jinnan hanyalah satu dari mereka yang menjadi korban kesepian. Dia ... sangat jauh dari apa yang kita sebut beruntung.”
Dean segera menatap Kishi sambil mengerutkan. Dean merasa penasaran. Apalagi cara Kishi mengomentari Kim Jinnan, seolah-olah gadis itu mengetahui banyak hal tentang Kim Jinnan.
Andai, Feaya tidak tiba-tiba datang dan bahkan gadis gendut itu sampai berdeham keras, tentu akan ada cerita lain dalam kebersamaan tersebut.
“Di mana-mana, yang punya kekurangan dalam penampilan layaknya Fe, biasanya minder. Eh, ini justru ngelunjak ...,” batin Kishi sambil merengut sebal.
“Ean ... bagaimana kalau,” sergah Feaya yang memang masih berusaha mendapatkankan perhatian Dean.
Tak beda dengan Kishi, Dean juga menjadi sebal sendiri pada Feaya yang baginya tak tahu diri. “Sori, Fe. Aku sibuk. Dan lain kali, kita juga enggak usah akrab, karena aku takut, kamu hanya salah tangkap.”
Setelah berkata seperti itu, Dean menggandeng sebelah tangan Kishi. Mereka meninggalkan Feaya berikut gerbang sekolah.
“Sopirmu belum datang, yah, De?” tanya Kishi yang sebenar ya sangat berbunga-bunga lantaran Dean sudah memberi Feaya sikap tegas.
Dean mengamati sekitar sambil terus menggandeng sebelah tangan Kishi. “Ini enggak tahu karena macet, atau lagi sibuk urus Zean.”
“Coba ditelepon,” usul Kishi sambil terus menyeimbangi langkah Dean. Mereka melangkah di tepi jalan.
__ADS_1
“Kita pulang naik bus apa taksi saja, ya? Aku telepon sopirku biar enggak usah jemput sekalian. Toh, kayaknya memang macet atau sedang dirempongi Zean.”
“A-ku mau naik bus, De!” sergah Kishi yang langsung bersemangat.
Dean yang sudah mulai mengeluarkan ponselnya, berikut melepaskan gandengannya, menjadi tersenyum geli menatap Kishi.
“Aku belum pernah naik bus!” rengek Kishi memohon sambil terus berjalan layaknya apa yang Dean lakukan.
“Kira-kira, apa pendapat orang tuamu jika mereka tahu, aku mengajakmu naik bus? Bisa dimarahi habis-habisan, apalagi kamu harus selalu berada di tempat yang seteril, kan?” balas Dean yang menjadi senyum-senyum menatap Kishi.
Kishi mendekap sebelah lengeb Dean sambil menatap pemuda itu dengan wajah melas. “Ayolah, De ... aku mau naik bus. Perihal pendapat orang tuaku, nanti akunyang urus.” Kishi benar-benar meyakinkan Dean.
“Enggak usah mohon-mohon begitu. Aku pasti bakal kasih semua yang kamu mau.” Dean menatap Kishi penuh keyakinan. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Kishi tersenyum girang.
“Tapi, jika Feaya terus begitu, aku kok jadi ngeri, ya, De?” ujar Kishi lantaran ia tak sengaja mendapati Feaya di ujung sana, depan gerbang sekolah.
Feaya menatap kesal ke arah Kishi.
“Biarkan saja. Nanti lama-lama juga kembung sendiri liat kita.” Dean berkata yakin dan kemudian kembali menggandeng Kishi.
Dean berjalan cepat ke arah keberadaan halte bus sambil berbincang dengan sopirnya melalui panggilan telepon yang ia lakukan.
Sesuai rencana, mereka benar-benar naik bus. Dan meski tampak bingung lantaran untuk kali pertama naik bus, Kishi benar-benar bahagia. Keduanya duduk bersebelahan menikmati suasana bus yang lenggang.
“Hari ini, aku benar-benar bahagia. Masih enggak nyangka, akan sebahagia ini,” batin Kishi.
“Ke depannya, bersama seperti ini akan menjadi rutinitas baru kita,” ucap Dean dan sukses membuat kebahagiaan Kishi semakin bertambah.
***
“Mulai besok, rutinitas baruku adalah bekerja di perusahaan opa. Aku akan membantu opa dan papa mengurus bisnis keluarga,” ucap Rafaro tiba-tiba sambil terus mengemudi.
Apa yang Rafaro ucapkan berhasil memecahkan keheningan. Setetah Pelangi maupun Rafaro sama-sama diam di antara kecanggungan bahkan gugup yang menyelimuti kebersamaan. Mereka, tak ubahnya orang asing yang sengaja tidak mau mengenal satu sama lain.
“Ya. Mulai besok, aku juga akan memiliki rutinitas baru. Aku akan membantu papa di perusahaan sebelum aku mulai kuliah,” balas Pelangi akhirnya. Masih belum berani menatap atau sekadar melirik Rafaro, yang sedang mengemudi di sebelahnya.
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf ini ke up sama anak. Padahal lanjutannya ada di laptop. Maaf yaa. 😂😂😂😂