
“Melukai diri sendiri saja tega, apalagi melukai orang lain?”
Bab 26 : Menjemput Dean dan Kishi di Sekolah
Dunia Rafaro seolah berputar melambat, ketika pandangan pemuda itu tidak sengaja menangkap kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan.
Di depan lift perusahaan Yuan di lantai dasar, Pelangi tampak berbincang dengan Kim Jinnan. Rafaro memang tidak bisa mendengar atau sekadar memastikan bagaimana raut wajah Pelangi, lantaran posisi gadis itu tepat membelakangi Rafaro. Rafaro hanya bisa menatap punggung Pelangi yang berangsur didekap erat Kim Jinnan, yang posisinya menghadap Rafaro.
Kim Jinnan menatap Pelangi sarat perhatian. Antara menahan luka, juga memberikan banyak cinta. Entah apa yang terjadi pada keduanya. Atau jangan-jangan, apa yang membuat Rafaro datang ke perusahaan Fahreza Grup juga sudah diketahui Pelangi bahkan Kim Jinnan? Perihal kasus bunuh diri yang menimpa seorang siswi setelah cintanya ditolak Dean?
Namun, jika hubungan Pelangi dan Kim Jinnan hanya pura-pura, kenapa keduanya terlihat sedekat itu? Kenapa Pelangi mau-mau saja dipeluk oleh Kim Jinnan? Bahkan mereka terus begitu hingga Kim Jinnan membawa masuk Pelangi ke dalam mobil pemuda itu.
Rafaro yang hanya bisa menjadi pengamat baik, kendati ulahnya justru semakin membuatnya terluka, memilih untuk tetap menjadi pengamat baik. Rafaro segera masuk ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Kim Jinnan. Mobil Rafaro terparkir tepat di belakang mobil Kim Jinnan. Mobil mereka hanya terpaut sekitar lima meter.
Dan Rafaro segera mengikuti kepergian mobil Kim Jinnan yang membawa Pelangi pergi. Tadi, Rafaro sampai mendapati seorang Kim Jinnan yang tak hanya membuka sekaligus menutupkan pintu mobil untuk Pelangi. Karena Kim Jinnan juga sampai menyeka air mata Pelangi, sebelum akhirnya pria itu memasangkan sabuk pengaman untuk Pelangi.
Rafaro tahu, apa yang dilakukannya merupakan tindakan bodoh. Karena jelas-jelas, Pelangi dan Kim Jinnan begitu saling melengkapi. Namun sungguh, tak sedikit pun rasa cinta Rafaro pada Pelangi berkurang. Itu juga yang membuat Rafaro nekat terus mengikuti, mengemudi di belakang mobil Kim Jinnan.
***
Mobil yang Kim Jinnan bawa akhirnya memasuki area parkir di sekolah Dean dan Kishi, yang juga menjadi bekas sekolah Pelangi.
Kim Jinnan segera keluar dari mobil, memutari mobil bagian dengan dengan tergesa, kemudian membukakan pintu sebelah kemudi selaku keberadaan Pelangi
Tampak beberapa awak media berikut polisi yang masih menghiasi pelataran sekolah. Rafaro yang memarkir mobilnya di sebelah mobil Kim Jinnan, juga segera menyusul kepergian keduanya. Tak jauh dari depan ruang kepala sekolah selaku kelas Kishi dan Dean, di lantai sana yang juga merupakan lapangan basket, tampak dihiasi garis polisi terlepas dari noda darah yang masih cukup menggenangi.
Rafaro berpikir, darah yang menggenangi lantai di sana, mungkin darah siswi yang bunuh diri dan kabarnya loncat dari balkon kelas Kishi. Sedangkan alasan Rafaro mengetahui perihal tragedi tersebut, karena sekitar satu jam lalu, Kishi menghubunginya. Kishi meminta Rafaro untuk menghubungi Pelangi, tanpa terlebih dulu memberi tahu kabar orang tua mereka tentang tragedi yang terjadi.
“Bukan ke situ. Mereka ada di UKS,” tegur Rafaro yang melangkah tergesa hanya demi menyusul ketinggalannya dari Kim Jinnan dan Pelangi.
Awalnya, Kim Jinnan dan Pelangi akan pergi ke kelas Kishi maupun Dean, andai saja Rafaro tidak menegur. Dan keberadaan Rafaro sukses membuat Pelangi terkejut. Rafaro yang kali ini mengenakan kemeja lengan panjang warna merah hati menjodohi celana bahan berwarna hitam, terlihat begitu serius.
“Kamu tahu juga?” tegur Pelangi yang bahkan masih digandeng Kim Jinnan. Ia menatap serius Rafaro.
Rafaro mengangguk sambil balas menatap Pelangi. Bersama Kim Jinnan, gadis itu berangsur putar arah mengikutinya yang melangkah menuju UKS.
“Kishi menghubungiku. Dia memintaku merahasiakan kasus ini dari orang tua kita,” ucap Rafaro.
“Tapi tadi pagi aku sempat dengar Dean telepon Papa. Dean berencana pindah sekolah,” ujar Pelangi. “Kamu tahu kronologinya?” lanjutnya.
“Kemarin, gadis itu sukses membuat Kishi pingsan,” balas Rafaro masih memimpin langkah.
“O-oh, ya?” Pelangi merasa sangat terkejut, lantaran nyatanya, gadis yang bunuh diri itu sangat nekat.
“Melukai diri sendiri saja tega, apalagi melukai orang lain?” timpal Kim Jinnan yang akhirnya berkomentar.
Pelangi yang refleks menatap Kim Jinnan, membenarkan anggapan pria itu di dalam hatinya. “Kira-kira aku kenal, enggak, ya?”
“Harusnya kenal, kan kamu sempat sekolah di sini, apalagi dia sekelas sama Dean,” balas Kim Jinnan.
Rafaro yang kalah cepat memilih menutup mulut dan menguncinya rapat-rapat.
“I-itu Kim Jinnan!”
“Iya! Kim Jinnan dan Pelangi!”
“Tapi yang di sebelah mereka siapa?”
“Ih, enggak kalah keren, ya?”
“Itu cowok yang suka antar jemput Kishi!”
Beberapa siswi yang tidak sengaja melihat kehadiran Rafaro, Pelangi, berikut Kim Jinnan, sibuk membicarakan keduanya. Tanpa terkecuali, Rafaro yang mendadak menjadi idola baru mereka.
“Tahu kayak gini, mending si gendut bunuh diri dari kemarin-kemarin, ya?” sela salah satu dari mereka sambil menekam mulut demi meredam tawa.
__ADS_1
“Gila aja kamu jahanya kebangetan!” saut yang satu lagi sambil menekap mulut, lantaran ia juga menahan tawa.
“Tapi aku kasihan, sama Kishi dan Dean,” balas yang satunya.
Pelangi, masih bisa mendengar semua itu. Dan tak beda dengan ke dua siswi yang kemudian masuk ke perpustakaan, Pelangi juga kasihan, sangat mencemaskan Kishi dan Dean. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikiran Pelangi. Mengenai Kim Jinnan yang ternyata menggandengnya sangat erat dan baru Pelangi sadari. Lantas, apa yang membuat Kim Jinnan begitu terkenal di kalangan siswi di sekolahnya? Pelangi benar-benar penasaran perihal kenyataan tersebut.
***
Rafaro yang memimpin langkah, segera mengetuk pintu UKS. Sedangkan Pelangi berangsur mengakhiri gandengannya dari Kim Jinnan. Tak seperti biasa, kali ini Kim Jinnan mau-mau saja melepaskan Pelangi tanpa banyak drama.
“Permisi?” ucap Kim Jinnan tiba-tiba sebelum Rafaro berucap.
Pelangi sampai menggeleng geli dibuatnya. Karena dengan kata lain, kedua pria yang bersamanya, tanpa direncanakan, saling bekerja sama. Rafaro yang mengetuk pintu, Kim Jinnan yang akan menjadi juru bicara mereka.
“Masuk,” seru suara cukup berat yang terdengar dari dalam.
Rafaro segera membuka pintu UKS dan membuat mereka bisa melihat situasi dalam UKS.
Di UKS, Kishi masih terduduk selonjor di tempat tidur yang tersedia, sedangkan Dean duduk di kursi sebelahnya. Keduanya di temani seorang pria paruh baya yang Pelangi kenali sebagai kepala sekolah di sana. Sedangkan sisanya, masih ada dua orang polisi yang duduk di sofa berbeda dari kepala sekolah.
Tak jauh dari tempat tidur Kishi berbaring, memang ada sebuah sofa panjang, selain dua sofa kecil yang menghadap meja panjang selaras dengan sofa panjang.
“Kami wali murid untuk Kishi dan Dean,” ucap Rafaro sopan sambil menghanpiri kebersamaan.
“Kenapa kalian memperlakukan mereka seperti tawanan? Bahkan mereka sudah terlihat sangat tertekan? Sebenarnya, bagaimana cara kerja kalian?” ucap Kim Jinnan yang langsung mengkritik keras orang-orang di sana.
Rafaro dan Pelangi dibuat tak percaya perihal tanggapan Kim Jinnan yang langsung marah-marah.
“Seharusnya kalian meminta mereka untuk istirahat di rumah. Bukan malah ditahan seperti tawanan begini!” tambah Kim Jinnan yang kali ini sampai bertolak pinggang sambil menatap kepala sekolah berikut ke dua polisi yang sampai beranjak dari duduknya.
“Jinnan,” lirih Pelangi sembari meraih sebelah tangan Kim Jinnan menggunakan kedua tangannya. “Jinnan jangan menambah masalah!” lirihnya penuh penekanan. Bahkan karenanya, gigi-giginya sampai bertautan.
“Aku sudah mendengar sepenggal kisah mengenai kasus ini. Beberapa murid di luar sana saja sepakat Dean dan Kishi hanya korban,” lanjut Kim Jinnan tanpa mengindahkan peringatan Pelangi yang bahkan masih menahan sebelah pergelangan tangannya.
Kim Jinnan, terlihat sangat marah. Dan Pelangi tak kuasa menahannya. Toh, apa yang Kim Jinnan lakukan juga apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Jadi, Pelangi yang sebenarnya untuk sekadar menatap Dean dan Khisi saja tidak tega, berangsur menghampiri keduanya.
Pelangi langsung mendekap Kishi yang juga langsung mendekapnya, seiring raut takut yang semakin menyelimuti raut wajah Kishi. Kemudian, sebelah tangan Pelangi juga berangsur mengelus kepala Dean yang masih bertahan bungkam.
“Ngie ...,” rengek Kishi yang sampai terisak-isak.
“Enggak apa-apa, Ki ... enggak apa-apa. Kamu enggak salah. Kalian enggak salah,” balas Pelangi lirih juga.
Rafaro berangsur mendekati Dean. “Bangun. Kita pulang,” ajaknya dengan suara pelan.
Dean berangsur menengadah kemudian mengangguk. “Ponsel kami masih ditahan polisi.”
“Ya sudah, ponsel bukan masalah. Enggak apa-apa. Kita lakukan yang terbaik saja,” balas Rafaro mencoba menghibur sekaligus meyakinkan Dean.
“Kalian pulang dulu. Biar aku yang urus masalah ini,” ujar Kim Jinnan yang masih saja berdiri tak ubahnya bos besar yang sedang memimpin karyawannya.
“J-jinnan, kamu benar-benar akan mengurusnya?” ujar Pelangi antara tidak yakin, tetapi merasa cukup tersentuh juga.
Kim Jinnan segera menoleh dan menatap Pelangi sambil mengangguk. “Kamu juga istirahat. Dan jangan lupa kabari papamu, kalau kamu sudah pulang.”
Pelangi menghela napas dalam, merasa cukup lega bersamaan dengan kenyataan tersebut. Terlebih setidaknya, Kim Jinnan yang biasanya hanya sibuk menganggunya, kini mendadak berguna.
Pelangi menuntun Kishi untuk beranjak dibantu juga oleh Dean. Sedangkan Rafaro, pemuda itu sengaja menenteng tas Kishi.
“Kami duluan,” pamit Rafaro kepada Kim Jinnan.
“Ya ... hati-hati. Awas saja kalau kamu sampai berani goda-goda Pelangi!” ucap Kim Jinnan lirih yang kali ini sampai bersedekap.
Kim Jinnan juga sampai melirik sinis Rafaro. Rafaro membalasnya sambil menghela napas sekaligus menggeleng tak habis pikir.
“Apakah aku tidak lebih baik menunggu di sini, sampai semuanya benar-benar berakhir?” tanya Dean kepada Kim Jinnan dengan suara lirih juga.
__ADS_1
Kim Jinnan menelan ludah. Ia menatap Dean dengan tatapan yang disertai banyak simpati. “Lebih baik kamu pulang dan istirahat. Tenangkan pikiranmu.”
Bagi Kim Jinnan, karena Dean adik Pelangi, dengan kata lain, Dean juga menjadi tanggung jawabnya.
“Ya sudah, thanks, ya,” balas Dean yang langsung menunduk.
Dean melangkah loyo mengikuti kepergian Pelangi yang merangkul Khisi mengikuti Rafaro yang memimpin langkah.
Namun, ada yang membuat Kim Jinnan merasa tak percaya atas apa yang Dean lakukan kepadanya. Karena ungkapan terima kasih dari pemuda itu, sukses membuat Kim Jinnan merasa dihargai.
“Ternyata bahagia sesederhana ini? Saat ada orang lain yang dengan suka rela mengucapkan terima kasih untuk apa yang kita lakukan? Ya Tuhan ... aku bahkan sampai lupa bernapas!” batin Kim Jinnan masih meepas kepergian Dean dan juga rombonga.
Setelah ke empatnya tak lagi berada dalam jangkauan tatapan Kim Jinnan, fokus Kim Jinnan pun kembali tertuju kepada ke tiga pria di hadapannya.
“Boleh saya duduk?” tanya Kim Jinnan.
Kepala sekolah buru-buru mengangguk dan mempersilakan Kim Jinnan untuk duduk. Dan setelah itu, Kim Jinnan pun duduk di sofa kecil yang tersisa. Kim Jinnan menanggapi segala sesuatunya dengan serius. Berdiskusi dan mengupayakan yang terbaik untuk Dean maupun Kishi.
***
“Istirahat dan jangan memikirkan yang aneh-aneh lagi,” pesan Dean kepada Kishi yang duduk di sebelahnya ketika Rafaro menepikan mobilnya di kediaman rumah Yuan.
Dean memang duduk bersebelahan dengan Kishi di jok penumpang, sedangkan Pelangi duduk di sebelah Rafaro yang mengemudi.
Kishi yang masih terlihat sangat terpukul pun berangsur mengangguk. “Iya, kamu juga, yaa,” lirihnya sambil balas menatap Dean.
Dean yang masih menatap Kishi, berangsur mengangguk seiring tangan kanannya yang mengelus punggung kepala Kishi.
Pelangi dan Rafaro sama-sama menoleh dan menyimak apa yang Kishi dan Dean lakukan, meski tak lama setelah itu, fokus Pelangi juga teruju pada Rafaro.
“Makasih, ya, Raf. Tolong titip Kishi. Soalnya, besok, ayah sama Mama baru pulang daru Singapura,” ucap Pelangi.
Rafaro segera mengangguk sambil mengulas senyum kepada Pelangi. “Serahkan saja dia kepadaku,” ucapnya meyakinkan.
Pelangi balas tersenyum. “Apa enggak lebih baik, kamu menginap di sini saja?” usulnya kemudian sambil menatap Kishi.
Dean merasa ide Pelangi bukan hal yang buruk.Toh, beberapa kali, biasanya di waktu libur sekolah, Kishi juga akan menginap sekamar dengan Pelangi.
“Iya. Biar kamu bisa lebih leluasa sama Ngi-ngie juga?” ujar Dean.
Namun, Kishi yang berangsur mengulas senyum, justru menggeleng. “Enggak apa-apa. Aku di rumah Rafaro saja. Toh, aku sudah ada janji sama mama Rara.”
“Kalian enggak usah khawatir. Kami akan menjaga Kishi.” Rafaro meyakinkan
Setelah obrolan singkat tersebut, Dean dan Pelangi turun dari mobil Rafaro. Lambaian tangan mengakhiri perpisahan mereka, kendati lambaian tangan yang mereka lakukan kali ini mereka lakukan dengan hati yang diliputi banyak kecemasan.
Dan setelah mobil Rafaro benar-benar tak terlihat, Pelangi berangsur mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Dean.
“De ... semangat! Kamu bisa! Kamu apalagi Kishi, enggak salah!” ucap Pelangi berusaha meyakinkan.
Dean menghela napas dalam. Antara percaya dan tidak percaya, Feaya yang nyatanya salah mengartikan pertolongan Dean, dan bahkan menganggap Dean mencintai gadis itu, telah meninggal akibat kecelakaan yang dibuat gadis itu sendiri.
Feaya langsung meninggal setelah terjatuh dari balkon. Tak sekadar karena kecelakaan yang membuat Feaya mengalami pendarahan berat, sebab Feaya juga sampai terkena serangan jantung.
Namun, kendati demikian, ... kasus yang menimpa Feaya juga masih tetap diawasi pihak kepolisian. Dan baik Kishi, Dean maupun kepala sekolah yang menjadi saksi jatuhnya Feaya, masih akan diminta keterangan oleh pihak kepolisian. Tanpa terkecuali pihak keluarga khususnya orang tua Kishi perihal rutinitas yang gadis itu jalani di rumah, dan nantinya bisa menjadi bukti tambahan.
“Maafkan aku ... aku telah mengecewakan kalian,” balas Dean yang bahkan sampai tidak sanggup membalas pelukan Pelangi.
Dean, merasa buruk setelah apa yang menimpa Feaya dan Dean anggap sebagai kesalahannya. Selain itu, Dean juga merasa telah membuat malu keluarga. Entah sampai kapan, rasa bersalah itu akan bertahan menyelimutinya. Namun, Dean benar-benar butuh waktu untuk memaafkan, sekaligus menerima dirinya seperti sedia kala.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Baca cerita Author yang judulnya “Menjadi Istri Tuanku” juga 😊😊😊
Makasih banyak 😍
__ADS_1