Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 24 : Bahagia dan Luka


__ADS_3

“Bahagia dan luka ibarat dua mata pada uang logam yang enggak bisa dipisahkan.”


Bab 24 : Bahagia dan Luka


****


Kedatangan Keinya disambut dengan wajah sekaligus senyum tak berdosa oleh Rara yang kepergok mengintip. Sahabatnya itu sampai terkapar tengkurap di lantai, karena terjatuh saat melarikan diri. Tadi, Keinya tidak sengaja melihat Rara kebingungan ketika ia datang. Rara buru-buru balik badan lari menuju pintu kamar Yuan yang kiranya masih empat meter lagi, tapi gadis periang itu justru tersandung kakinya sendiri.


Keinya menghela napas lantaran merasa tak habis pikir. Ia bergegas dan segera membantu Rara untuk bangun.


“Sepertinya Yuan sangat mencintaimu,” ucap Rara yang masih tersenyum ceria meski tak jarang, ia juga akan menyeringai menahan sakit dari jatuhnya khususnya di bagian ke dua lututnya.


“Kalau dia sudah bosan, dia pasti akan pergi seperti Athan.” Keinya sampai memapah Rara. “Lagian ngapain juga kamu sempat-sempatnya ngintip urusan orang lain?”


“Gemas tahu lihat kamu sama Yuan. Sebenarnya kalian itu sangat cocok. Secara, kamu ini pendiam dan sulit mengutarakan perasaan, sementara Yuan sangat perhatian bahkan pengertian—”


Rara belum selesai berbicara, tapi Keinya tiba-tiba berkata, “dibayar berapa kamu sama Yuan, sampai-sampai kamu sibuk muji dia?”


Rara menyeringai, memasang tampang tak berdosa. “Maunya sih dikasih apartemen juga kayak kamu, Kei. Lumayan, lho. Nih apartemen mewah banget!”


Keinya melirik sebal Rara yang meski terlihat bercanda, tapi juga serius. Dan setelah membantu Rara duduk dengan hati-hati pada sofa di seberang ranjang Pelangi, Keinya meninggalkannya.


“Seenggaknya kamu bisa memanfaatkan Yuan. Maksudku—?” sergah Rara tertahan lantaran Keinya tiba-tiba berkata, “Dia sudah melakukannya tanpa diminta. Yuan membantuku tanpa diminta, Ra.”


“Wah ... benarkah?” Rara langsung girang dan buru-buru bangkit dari duduknya. Ia mendekati Keinya tanpa peduli pada rasa sakit di ke dua lututnya dan sampai membuat langkahnya cukup terseok-seok.


Keinya tidak mengomentari. Ia langsung mengambil tote bag dari sofa dan tampak akan berkemas. Keinya mengemasi laptop berikut ponselnya yang awalnya terkapar di meja, ke tote bag tersebut. Kemudian Keinya menyiapkan embanan di tubuhnya dan bersiap menggendong Pelangi yang masih tidur sangat pulas.


“Kalau kamu enggak bisa mendapatkan orangnya, kamu bisa mendapatkan manfaatnya, Kei.” Rara masih berusaha meyakinkan Keinya. Setidaknya, ia harus membujuk teman baik sekaligus rekan kerjanya itu, demi masa depan pekerjaan mereka.


Sambil menggendong Pelangi, Keinya menatap Rara. “Jangan main api kalau kamu enggak mau terbakar!”


“Kamu sengaja jaga-jaga, apa memang takut terluka, Kei?” Rara menatap Keinya penuh kepastian. “Kei … bahagia dan luka ibarat dua mata pada uang logam yang enggak bisa dipisahkan.”

__ADS_1


Keinya menepis tatapan Rara.


“Ini kesempatan emas, sangat jarang terjadi apa lagi sampai lebih dari sekali, Kei.”


“Tuhan mendatangkan Yuan kepadamu karena Tuhan tidak tidur. Tuhan sengaja mengirim Yuan untuk mengatasi semua masalah dalam hidupmu.”


Keinya masih saja diam mengabaikan Rara.


“Kei ...?”


“Kalau aku menerimanya hanya karena aku ingin memanfaatkannya—”


Keinya menimang rasa, tapi Rara yang menjadi antusias tiba-tiba menahannya dengan berseru, “kamu akan mencintainya dengan sangat mudah!” Rara setengah berlari menghampiri Keinya kemudian menahan kedua bahu wanita tersebut.


Bagi Rara, Yuan adalah cahaya terang yang akan membuat orang di dekatnya ikut bersinar dan terus begitu. Dan Rara yakin, Keinya akan sangat bersinar jika wanita itu menjadi bagian dari hidup Yuan.


Keinya dan Rara bertatapan layaknya sahabat yang sedang asyik bertukar pikiran. “Tidak hanya fisiknya yang tampan dan menjadi idaman setiap wanita. Karena Yuan juga tipikal romantis terlepas dari dia yang memiliki segalanya. Yuan pria mapan yang memiliki wajah rupawan dan sangat menginginkanmu, Kei! Kamu sangat beruntung!” Rara masih berusaha meyakinkan Keinya.


“Sementara aku hanyalah calon janda beranak satu yang baru saja dicampakkan,” tegas Keinya yang mengakhirinya dengan senyum miris. “Jangan menulis ceritaku karena kisahnya terlalu klise!” Setelah mengatakan itu sambil menatap Rara penuh peringatan, Keinya berlalu dengan langkah cepat yang sudah menjadi ciri khasnya.


Ada hal yang terbilang serius dan harus diketahui oleh semua orang ketika kisah mereka sampai diketahui oleh seorang penulis apalagi jika mereka memiliki teman dekat seorang penulis. Karena ketika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan kisah kita menjadi inspirasi bahkan abadi.


Rara memanyunkan bibirnya. “K-kei, tunggu!” rengeknya.


Rara yang tidak memiliki pilihan segera mengemasi ponsel berikut laptopnya ke dalam tas kemudian menyusul kepergian Keinya. Ia merasa tidak habis pikir lantaran Keinya sangat bodoh dan justru menolak peluang emas dari Yuan. Kalau saja Rara ada di posisi Keinya, yang akan Rara lakukan hanyalah berpura-pura jual mahal kemudian membalas cinta Yuan.


“Mau ke mana?” tahan Yuan.


“Pulang,” balas Keinya tak acuh dan cenderung judes.


“Kenapa harus pulang? Tinggal di sini saja. Apartemen ini untukmu dan Pelangi.” Yuan berusaha meyakinkan terlepas dari ia yang merasa ketar-ketir, apalagi sebelumnya, Yuan berpikir ketulusannya mulai diterima Keinya. Namun, kenapa sekarang Keinya mendadak pulang dan meninggalkan apartemen pemberiannya?


Keinya memilih meninggalkan Yuan layaknya kebersamaan sebelumnya. Padahal Rara sudah sangat bahagia melihat kebahagiaan menghampiri teman baiknya dan semua itu berasal dari Yuan.

__ADS_1


“Kalau begitu beri aku alamatmu. Aku akan mengantarmu.” Yuan masih berusaha mendapatkan Keinya. Pria itu terus mengikuti Keinya.


Keinya balik badan kemudian menatap Yuan. “Tolong beri aku waktu untuk sendiri.”


“Kamu bisa melakukannya walau sedang bersamaku. Aku mohon, Key. Aku enggak akan ganggu kamu. Aku bakalan biarin kamu buat fokus dan istirahat!”


“Kalau kamu terus memaksa, aku bisa membencimu, Yu!” Keinya mengucapkan itu dengan nada berat.


Rara menjadi penonton yang baik untuk kebersamaan Keinya dan Yuan. Rara sengaja menjaga jarak dari keduanya. Dan saking seriusnya, wanita itu sampai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sebab adegan kini tak ubahnya bagian dari drama romantis yang selalu membuat penontonnya harap-harap cemas.


“Jangan lebih dari satu hari. Aku hanya mampu menunggu selama itu.” Hal yang membuat Yuan merasa buruk adalah ketika ia ingin melindungi orang yang sangat ia cintai, tapi yang bersangkutan justru sama sekali tidak memberinya kesempatan.


“Dengan kata lain, setelah lewat batas itu, kau akan melupakanku? Baguslah!” batin Keinya.


Keinya menemukan banyak ketulusan dari cara Yuan menatapnya. Sayang, hingga detik ini hati Keinya masih mati rasa tanpa mau menganggap lebih ketulusan pria di hadapannya.


“Kalau memang kamu masih belum bisa percaya pada ketulusanku karena trauma masa lalu, setidaknya mulailah mencintai dirimu lebih dari sebelumnya.” Nada suara Yuan terdengar sengau. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sedasyat itu memang cinta yang tak hanya mampu menerbangkan seseorang dengan kebahagiaan, sebab kehancuran juga sering kali terlahir dari cinta yang begitu besar.


Setelah terdiam sejenak, Yuan mendekat dan memeluk Keinya. “Ingat janji kita. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu kecuali aku.” Setelah mengatakan itu, ia mengakhiri dekapannya. Kemudian ia menatap lama wajah Pelangi sambil mengelusnya sesaat sebelum mencium kening bayi menggemaskan itu cukup lama.


Hati Keinya terenyuh. Apa yang Yuan lakukan benar-benar membuatnya sedih seiring sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya, sedangkan matanya menjadi terasa sangat panas. Keadaan kini tak beda ketika ia memotong bawang merah atau bawang bombai selaku hal yang paling ia benci ketika memasak, kendati memasak menjadi salah satu hobinya. Dan dengan perasaannya yang dikuasai kesedihan, Keinya berlalu meninggalkan Yuan sambil mendekap Pelangi yang digendongnya di depan dada.


Menyadari kepergian Keinya, Rara kocar-kacir dan segera berlari. “Ya ampun, Kei, tunggu!” gumamnya. “Yu, aku pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya. Percayalah, Keinya hanya butuh waktu. Dia memang seperti itu, keras kepala. Tapi tenang, Keinya wanita baik yang selalu ingin berdiri di atas kakinya sendiri!” Rara mengucapkannya dengan nada cepat di tengah keadaannya yang tetap buru-buru.


“Tolong beritahu aku, alamat tinggal Keinya yang baru,” tahan Yuan.


Sambil menatap Yuan dan tetap berjalan tergesa, Rara pun berkata, “aduh, aku enggak tahu, Yu. Mana mungkin Keinya memberitahuku, karena itu bisa membahayakan persembunyiannya!”


Balasan Rara membuat Yuan pupus harapan. Yuan benar-benar kebas bahkan mulai frustrasi.


“Tetap semangat. Jangan menyerah. Aku akan selalu mendukungmu. Tapi kalau kamu berani menyakiti Keinya, aku enggak segan memberimu tinju menggunakan kedua tanganku!” Rara terus menyemangati Yuan hingga wanita periang itu meninggalkan ruang tamu selaku keberadaan Yuan.


Di tengah napasnya yang menjadi melemah, Yuan hanya bisa menyemangati dirinya sendiri untuk tetap meyakinkan Keinya.

__ADS_1


“Keinya masih sangat trauma, Yu … kamu yang semangat, ya!”


******


__ADS_2