Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 74 : Kegilaan Tiara (Revisi)


__ADS_3

“Ucapkan selamat tinggal, Flora ... aku sudah memakai baju anti peluru. Jadi kalaupun aku harus mati, tentu kamu dulu.”


Bab 74 : Kegilaan Tiara


****


Keinya merasa kacau jika ia tetap diam apalagi pura-pura bahagia, semenjak ia mengetahui Athan dan Tiara kembali. Keinya takut, Tiara yang ia yakini tidak dalam keadaan baik bahkan lebih mirip orang gila, justru menemukan Rara kemudian melukainya.


“Mi, Mami istirahat dulu, ya. Aku siapkan minum dulu. Mami mau minum apa?” tawar Keinya. “Ini Rara ke mana, sih? Kok dia sampai enggak ada di apartemen?” batin Keinya yang sulit menghentikan kegelisahannya.


Sambil memegangi pinggang sebelah kanannya, Khatrin yang terlihat masih kesakitan, langsung menggeleng. “Enggak usah repot-repot, Kei. Minum air putih juga cukup. Lagian kalau Mami mau, Mami juga ambil sendiri. Masa, di rumah anak sendiri kayak tamu?”


Keinya tersenyum masam. “Ya sudah kalau begitu, aku mau menyiapkan makannya Pelangi sekalian kasih kabar ke Yuan, kalau aku sudah sampai,” sergahnya yang langsung meninggalkan Khatrin sambil menenteng teremos bekal milik Pelangi.


Keinya berjalan tergesa meninggalkan Khatrin sembari menghubungi Yuan menggunakan ponsel barunya.


“Jam segini, seharusnya Yuan sedang enggak sibuk!” gumamnya sambil terus berjalan. 


Ketika sambungan sudah cukup lama, akhirnya ia mendapat balasan. “Yu ...?” sergahnya yang lagi-lagi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Iya, Nyonya Yuan, ada apa?” jawab Yuan dari seberang terbilang santai meski suaranya terdengar berat seperti kelelahan.


“Yu, ini masalah besar! Aku bertemu Tiara dan Athan di tempat parkir apartemen!” Keinya menceritakannya dengan menggebu-gebu. Sebelah tangannya yang bebas sampai mengepal kencang, memukul-mukul meja dapur yang ada di hadapannya.


“Mereka datang menemuimu?” sergah Yuan langsung terdengar khawatir.


“Hampir. Tadi Tiara nyaris tertabrak mobilku! Gila saja tiba-tiba dia lari ke tengah jalan, sengaja begitu! Kalaupun memang Tiara enggak waras, enggak seharusnya juga dia ngelayabnya ke apartemen, kan, Yu?”


Dari seberang, Yuan tak langsung membalas.


“Kamu sudah tahu masalah ini?”


“Oh, iya ... tadi Pak Satum sudah menghubungiku, katanya Nyonya kelihatan sangat ketakutan ketika melihat Tiara dan Athan. Jadi, aku meminta mereka untuk lebih berhati-hati, serta menyikapi semuanya dengan tenang agar kamu juga tidak semakin ketakutan.”


Keinya mendengkus kesal, merasa tak habis pikir lantaran keseriusannya terus dibalas candaan oleh Yuan yang sampai memanggilnya dengan sebutan “Nyonya”. “Aku serius, Yu!”


“Ya, iya, aku juga serius. Mereka menceritakannya begitu.”


“Tapi masa mereka memanggilku begitu? Nyonya?”


“Adanya begitu. Tapi aku sengaja meminta mereka melakukannya untuk menyamarkan namamu. Toh, nantinya kamu memang dipanggil Nyonya Yuan, kan?”


Keinya tersipu mendapatkan panggilan “Nyonya Yuan”, langsung dari Yuan dan itu sampai berulang-ulang.


“Tapi memangnya ada apa dengan namaku, Yu?” Keinya meletakan teremos bekal makanan Pelangi di meja dapur dengan perasaan yang makin tak karuan. Begitu banyak kebenaran yang Yuan sembunyikan darinya sedangkan pasangannya itu hanya mau cerita kalau ia terus mendesak.


“Tiara mencarimu. Namun, ada beberapa informasi yang masih perlu digali mengenai Tiara. Jadi kamu harus hati-hati dan lebih baik jangan keluar dari apartemen dulu. Kalau kamu butuh sesuatu pun, tinggal pesan online atau minta bantuan Pak Satum,” ucap Yuan penuh pengertian.


Kecemasan Keinya berangsur mereda. “Omong-omong, Yu, si Tiara beneran gila?”


“Aku kurang yakin. Tapi seharusnya Tiara dipenjara untuk beberapa kasus penipuan yang dilakukan. Makanya jangan gegabah. Aku enggak mau sampai kecolongan.”


Memikirkan Tiara yang begitu nekat, Keinya menjadi merasa ngeri. “Baiklah, aku akan lebih berhati-hati. Ya sudah, kembalilah bekerja,” balas Keinya hampir mengakhiri sambungan mereka.


“Heum. Aku mencintaimu, Nyonya Yuan!”


Balasan Yuan dari seberang seolah menjadi angin segar bagi Keinya yang kembali tersipu detik itu juga. “Aku juga mencintaimu, Tuan, Yuan. Sangat. ... pulanglah lebih awal. Aku akan memasak banyak untukmu sebelum kembali ke rumah Mami.”


“Namun sepertinya hari ini aku enggak bisa pulang lebih awal. Jam sembilan saja masih ada pertemuan dengan klien. Kamu masak saja nanti pasti kumakan,” sesal Yuan terdengar berat.

__ADS_1


“Baiklah.” Keinya mengakhiri sambungan telepon mereka. “Berarti hari ini enggak bisa ketemu,” gumamnya yang menjadi sedih, kemudian mengalihkan fokus perhatiannya ke teremos makan Pelangi. “Tapi omong-omong, sebenarnya Rara ke mana?” Rara ... apa yang sebenarnya terjadi padamu?


****


“Tiara ... Tiara, sudah, cukup!” Athan masih kewalahan menarik paksa Tiara memasuki mobil yang kebetulan diparkir tak jauh dari keberadaan mereka.


“Andai aku enggak janji ke Rara untuk menjadi orang yang jauh lebih baik, pasti aku enggak mungkin mengurus Tiara yang depresi. Tapi kalau begini terus, mana mungkin aku bisa bekerja?” Athan terdiam bingung dan merenung. “Lebih baik aku menyerahkan Tiara ke polisi untuk kasusnya, agar Tiara mendapatkan pelayanan khusus, hingga aku bisa bekerja dan mengurus keperluannya.”


“Paling tidak, meski anak yang dikandung Tiara sudah meninggal dalam kandungan hingga aku tidak bisa melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah anak itu anakku, aku akan tetap bertanggung jawab sampai Tiara kembali memiliki ingatannya.”


Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Athan sudah sangat ingin menceraikan Tiara. Bahkan kedatangannya ke apartemen Fahreza Grup keberadaannya kini, karena ia sedang mencari tempat tinggal setelah menjual rumah bersamanya dan Keinya. Sebab, perpisahannya dengan Keinya berikut Tiara yang ternyata hanya memperbudak Athan, membuat keuangan Athan terpuruk.


“Masuk dan tunggu di mobil. Jangan membuat keributan lagi,” pesan Athan sebelum menutup pintu mobil di sebelah Tiara.


Namun siapa sangka, ke dua tangan Tiara justru mencengkeram kemeja bagian dada Athan dengan sangat kuat.


“T-tiara, lepas!” Athan makin kewalahan. Ia menggunakan ke dua tangannya untuk melepaskan cengkeraman Tiara.


“Kamu pikir, aku benar-benar gila?” tegas Tiara lirih sambil memelotot kemudian tersenyum sarkastis kepada lawan bicaranya.


Athan hanya menggeleng dan sengaja abai. Namun ketika ia nyaris berlalu sambil berusaha menyingkirkan cengkeraman tangan Tiara, wanita itu tetap menahannya.


“Aku punya pistol dan pisau. Aku akan menggunakannya untuk menghabisi Pelangi kalau kamu enggak mau menuruti kata-kataku!” ucap Tiara.


Nada suara Tiara terdengar tenang tak lagi seperti orang depresi. Pun ketika Athan memastikan ekspresi wajah Tiara yang menyeringai kemudian menuntunnya memastikan kedua barang yang dimaksud melalui gerak wajah. Di depan perut Tiara ada pisau berikut pistol yang tersimpan rapi selain Tiara yang mengenakan pakaian khusus untuk menyimpan kedua barang tersebut. 


“Tiara bahkan mengenakan pakaian anti peluru?” batin Athan benar-benar dibuat tak percaya.


“Kamu benar-benar gila! Bunuh saja aku kalau kamu memang tetap begini! Aku masih mau mengurusmu saja sudah untung!” bentak Athan.


Tiara terkekeh-kekeh. Membuat Athan muak apalagi ketika Tiara mencabut pisau tajam dari persemayamannya dan sampai disayatkan kepada leher Athan dengan kelewat santai.


“Dulu kamu sangat mencintaiku! Bahkan kamu mau-maunya saja menikahi Keinya untukku!”


“Aku masih normal, Tiara. Aku menikahinya tak semata aku menuruti perintahmu! Karena bila kamu pria normal, kamu juga bisa dengan mudah mencintai Keinya! Jadi, daripada Keinya dan Pelangi semakin terluka, aku memilih mencampakkan mereka!”


“Tak apa aku menghancurkan bahkan membuat mereka tak punya apa-apa. Asal mereka lepas dariku, mereka pasti mendapatkan kebahagiaan berkali-lipat!”


Merasa semakin muak lantaran Tiara tetap duduk bahkan tertawa lepas, Athan menarik paksa tubuh Tiara untuk keluar dari mobilnya kemudian mendorongnya hingga wanita berpenampilan awut-awutan tersebut tersungkur.


“Athan … setan kamu, ya!”


Athan segera berlalu sambil menahan bekas sayatan Tiara yang terus mengeluarkan darah segar. Athan mengemudi buru-buru dan tetap abai meski Tiara berteriak sambil menghantam pintu sebelah kemudi keberadaannya.


“Mengenalmu adalah kebodohan sekaligus penyesalan terbesar yang tidak akan pernah aku lupakan, Tiara! Kalaupun awalnya aku diperdaya olehmu, sekarang aku tak mau lagi!”


Athan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi. Sedangkan yang terjadi kepada Tiara, wanita itu segera mencari toilet.


“Athan mengkhianatiku. Dia pasti akan melaporkanku ke polisi. Tapi sebelum itu terjadi, aku harus menemukan Keinya maupu  Rara, kemudian menghabisi Pelangi!” racau Tiara. Ia mengemasi penampilannya dan sengaja membuat susunan rambutnya menjadi lebih rapi.


Setelah merasa aman dengan penampilannya, Tiara mendatangi resepsionis. “Ini merupakan apartemen Fahreza Grup. Kemungkinan besar Keinya di sini, sangat besar. Setidaknya, aku juga bisa mendapatkan alamat pacar baru Keinya yang sangat kaya itu!” batinnya yang optimis bisa secepatnya menjalankan misinya untuk balas dendam.


Dengan penuh kegelisahan, Tiara menghadap resepsionis di sana. Namun siapa sangka, kedua wanita berpenampilan santun yang Tiara hadapi langsung terkejut dan menyamakan foto orang yang terselip di laci meja resepsionis. Menurut atasan mereka, wanita dalam foto berikut pria yang tak lain Athan, tidak boleh memasuki area apartemen mereka. Jadi, meski mereka tetap pura-pura melayani Tiara, salah satu dari mereka dengan santainya meraih gagang telepon, melakukan telepon layaknya biasa.


“Selamat siang, Ibu? Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang resepsionis pada Tiara.


“Saya butuh satu air minum. Tolong kirim botol warna merah,” ucap resepsionis yang satunya lagi.


Tiara abai dan langsung bertanya. “Aku sudah ada janji dengan Keinya. Dia menyuruhku menunggu di sini,” ucapnya.

__ADS_1


Resepsionis yang melayani, langsung mengernyit. “Sebelumnya saya minta maaf, Ibu. Tapi Keinya itu siapa? Di sini tidak ada yang bernama Keinya,” balasnya sopan.


Tiara melirik sadis. “Kalau begitu, biarkan aku bertemu pemimpin Fahreza Grup. Sebutkan saja namaku, pasti dia tahu,” balasnya ketus.


Si resepsionis yang menghadapi Tiara, mengulas senyum. “Maaf, Bu. Untuk urusan itu, kami tidak memiliki wewenang. Kalau Ibu mau,”


Belum selesai resepsionis itu berbicara, Tiara sudah mencabut pisau yang bahkan masih dihiasi darah segar Athan. Membuat ke dua resepsionis di hadapannya terkejut bahkan ketakutan.


“Turuti semua yang aku minta!” ancam Tiara sambil mengarahkan pisaunya pada ke dua leher resepsionis, silih berganti.


“Beri aku uang! Semua yang kalian punya! Terus, katakan padaku di mana apartemen Keinya!”


“Tetapi di sini tidak ada yang bernama Keinya, Bu!”


“Kenapa tidak ada? Ya sudah cari pemilik bernama Pelangi! Pelangi Arsy Wijaya!”


“Nama tersebut juga tidak ada, Bu,” jelas petugas yang tadi pura-pura telepon.


Diam-diam, di belakang Tiara sudah dikerumuni polisi yang siap mengamankan Tiara.


“Angkat tangan dan turunkan senjatamu!” teriak salah satu dari polisi.


Tiara terkesiap. Kedua matanya memelotot tak percaya, kenapa polisi begitu cekatan mencium keberadaannya? Atau jangan-jangan, Athan nekat menghubungi polisi? Pria itu tak hanya menggertak, melainkan sungguh-sungguh?


Tak mau menyerah, Tiara memilih kabur. Kenyataan yang membuat polisi yang memimpin penggerebekan tak segan melayangkan tembakan pada kaki Tiara. Dalam pelariannya itu, Tiara juga menggunakan pistolnya. Tiara merasa beruntung telah mencuri pistol dari salah satu bule yang ia kencani karena itu membuatnya jauh bisa melindungi diri layaknya sekarang ini.


Baku tembak tak terelakkan. Pun meski setiap tembakan yang Tiara layangkan selalu meleset lantaran polisi-polisi yang mengejar, bergerak dengan sangat cepat.


Dor!


“Aah!” Kendati kakinya telah tertembak, Tiara tetap saja melarikan diri. Pun meski selain kesakitan dan pincang, darah segar juga terus mengalir. Di mana, sesosok wanita yang menjadi salah satu incarannya justru berdiri tak jauh darinya. Rara! Bukankah Athan juga sangat menyayangi Rara? Dan bukankah Rara juga dalang di balik tersebarnya video viral dirinya yang berjudul “Hukuman Untuk Pelakor?” 


Tanpa menunggu lama, Tiara mengarahkan pistolnya kepada Rara yang detik itu juga langsung berhenti melangkah sambil menatapnya serius.


Semua polisi yang mengejar Tiara langsung menyebar mengepung Tiara. Mereka tetap berjaga dan siaga walau tak lagi lari dan mengejar. Perlahan tapi pasti, mereka mendekat sambil mengarahkan moncong pistol yang mereka kendalikan menggunakan kedua tangan.


“Bantat, kamu masih mengingatku?” tanya Tiara sambil menyeringai di tengah buih keringat yang terus mengalir dari ujung kepalanya.


“Kamu, … sedang berbicara denganku?” sanggah Rara dingin. 


Meski awalnya terlihat tak bersemangat, bertemu Tiara berhasil menyulut emosi Rara apalagi keadaan Tiara sekarang benar-benar membuatnya geram. Sudah dikepung polisi, Tiara yang terlihat menyedihkan masih saja mengarahkan pistol kepadanya!


Tiara kian menyeringai dan mulai menekan pistolnya. Membuatnya terlihat semakin kejam. “Ucapkan selamat tinggal, Flora ... aku sudah memakai baju anti peluru. Jadi kalaupun aku harus mati, tentu kamu dulu.”


“Oh, iya, Flora. Tolong sampaikan salamku pada penghuni Neraka. Bilang pada mereka kalau aku tidak bisa bersama mereka, karena aku akan tinggal di surga.”


“Tembak saja kalau kamu berani. Aku tidak takut. Dari awal, bukankah kamu sudah kalah? Kalaupun kamu memperbudak Athan, dia tidak benar-benar setia kepadamu. Athan tulus mencintai Keinya, itu kenapa dia memilih mencampakkan anak dan istrinya agar kamu—”


“Tutup mulutmu!” teriak Tiara histeris, tak mau mendengar apa yang Rara katakan dan itu teramat menyakitkan untuknya.


Dor!


Satu peluru mengarah kepada punggung Tiara dan Tiara langsung menembakkan satu pelurunya kepada Rara. Tiara terkekeh-kekeh menikmati apa yang ia lakukan. Tubuh Tiara tidak bisa ditembus peluru, tetapi dada sebelah kiri Rara langsung memuncratkan darah segar bersamaan dengan tubuh Rara yang sampai menggeliat dan terempas. Karenanya, polisi di sana menembak kedua tangan Tiara, kemudian menendang pistol dan menjauhkannya dari jangkauan Tiara.


“Mati, hal yang akhir-akhir ini selalu ingin kujalani. Aku ingin mati, agar aku tak lagi bertemu dengan wanita itu. Namun, bila aku harus mati karena Tiara, rasanya aku benar-benar tidak rela.” Hati kecil Rara berbicara. Tak terima rasanya jika ia harus tiada di tangan wanita gila itu.


“Flora ... Flora, buka matamu!”


“Aku seperti mendengar suara Kimo. Dia menangis, ... ketakutan.” Jauh di lubuk hatinya, di alam bawah sadarnya, Rara seolah merasakan kehadiran Kimo. Ia tak hanya mendengar suara pria itu, melainkan juga sentuhannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2