
“Mofaro! Aku pacarnya Pelangi!”
Bab 28 : Mofaro
Kim Jinnan menatap cemas Pelangi yang menuruni anak tangga dengan keadaan terkantuk-kantuk. “Kamu beneran masih tidur ...?” ujarnya yang sampai beranjak dari sofa tempatnya duduk menunggu.
Di belakang Pelangi, Zean melangkah dengan begitu ceria. Bocah itu sampai lari-lari bahkan meski menuruni anak tangga.
“Jinnan, aku sudah membangunkan Ngi-ngie untukmu. Kalau yang lain sih ogah!” seru Zean yang merasa sangat bangga.
“Kalau Ngi-ngie tidur, mending enggak usah dibangunin, Zean,” ujar Jinnan dengan suara yang lebih dipenuhi pengertian.
“Kembali ke kamar dan tidur lagi saja,” ujar Kim Jinnan yang sengaja melangkah tergesa demi menyusul Pelangi.
“Cieee ... cieee, pacaran lagi!” goda Zean yang berhasil melewati Pelangi dan mendahuluinya.
Zean, bocah itu begitu bahagia atas kehadiran Kim Jinnan. Sampai-sampai, Pelangi yang sedang tidur juga dibangunkan oleh bocah itu.
“Jinnan, kamu mau minum apa?” seru Zean yang sudah berdiri di lantai dasar setelah melewati semua anak tangga.
Zean sampai balik badan demi menatap Kim Jinnan yang sampai menuntun Pelangi menuruni anak tangga.
“Enggak usah. Nanti saja. Kamu main saja,” balas Jinnan yang hanya menatap Zean sekilas, lantaran fokusnya tertuju pada Pelangi.
“Kalau begitu, aku makan es krimnya, ya!” balas Zean yang langsung berlari menuju meja di depan sofa tadi Kim Jinnan menunggu.
Zean meraih satu mug es krim dari kotak kemasan khusus yang sampai disertai es, selaku bawaan Kim Jinnan kali ini.
“Jinnan, enggak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri,” tolak Pelangi pelan, tetapi Kim Jinnan tetap merangkulnya.
“Kamu ini susah banget sih kalau diperhatiin. Aku kan beneran tulus niat bantu, enggak bakalan macam-macam apalagi mencari kesempatan!” tegur Kim Jinnan pelan lantaran di sofa sana masih ada Zean.
“Kalau kamu jadi aku, kamu pasti juga akan melakukan hal serupa,” gumam Pelangi dan masih bisa Jinnan dengar dengan baik.
Kim Jinnan menelan ludahnya yang mendadak terasa cukup kasar. “Aku ... beneran sudah berubah kok. Meski hingga saat ini memang masih tahap belajar,” ucapnya.
“Sepertinya kita enggak bisa ngobrol di sana karena di sana ada Zean,” balas Pelangi yang menjadi menghentikan langkahnya.
Kim Jinnan yang melakukan hal serupa segera mengerutkan dahi. “Terus bagaimana? Mau ngobrol di mana?” balasnya dengan suara lirih.
Baik Pelangi maupun Kim Jinnan memang sengaja berjaga dari Zean tanpa terkecuali nada bicara mereka. Mereka sengaja berbincang dengan suara lirih, di mana tak lama setelah itu, Pelangi menuntun Kim Jinnan menuju ruang tamu yang keberadaannya ada di seberang ruang tamu biasa.
Boleh dibilang, ruang tamu tersebut merupakan ruang tamu khusus, meski suasana berikut tata letak sofa dan meja di sana, tidak begitu berbeda dengan suasana di ruang tamu di seberang. Hanya saja, ketika suasana di ruang tamu biasa bernuansa hitam, di ruang tamu keberadaan mereka benar-benar bernuansa emas. Semua yang di sana baik meja dan sofa berikut wallpaper bahkan lantai berwarna emas.
Pelangi sengaja duduk di sofa kecil agar terpisah dari Kim Jinnan, tetapi pria itu tetap saja memilih duduk dekat dengannya. Karena meski Kim Jinnan duduk di sofa sebelah, tetapi pria itu tetap saja menempel padanya.
“Jinnan, ceritakan padaku mengenai perkembangan kasusnya,” pinta Pelangi sambil bersedekap dan menatap serius lawan bicaranya.
“Kamu enggak mau kasih aku minum apa gimana?” balas Kim Jinnan yang tiba-tiba saja memasang ekspresi teraniaya.
“Tadi sok perhatian, minta aku buat tidur lagi. Eh sekarang minta dilayani minum,” gerutu Pelangi sambil menatap sebal Kim Jinnan.
“Tapi aku beneran haus. Tapi ya sudah, lupakan dulu. Aku cerita dulu, baru kamu buatin minum buat aku,” balas Kim Jinnan.
__ADS_1
“Oke. Setelah kamu beres cerita, aku bakalan bikinin kamu minum,” sanggup Pelangi sambil menatap serius Kim Jinnan.
Kim Jinnan menatap takjub Pelangi. Bahkan, Kim Jinnan memnjadi semringah. “Memangnya kamu bisa bikin minuman apa saja?” tanyanya.
“Air putih,” balas Pelangi singkat dan langsung menyurutkan senyum semringah di wajah Kim Jinnan.
“Ya enggak apa-apa, sih, meski air putih. Asal kamu yang ambilin, pasti aku habisin,” balas Kim Jinnan pasrah.
“Sudah, cerita. Nanti aku ambilin air putih,” tagih Pelangi.
Kim Jinnan berdeham sambil melirik Pelangi. “Tadi, orang tua Feaya sempat datang. Ternyata mereka berasal dari golongan berada, lho.”
“Oh, iya? Terus-terus, ... gimana?” tanggap Pelangi penasaran.
“Ya langsung diceritakan duduk perkaranya oleh kepala sekolah dan polisi yang ada di sana,” balas Kim Jinnan. “Tapi dugaan utama sih karena Feaya terlalu tergila-gila kepada Dean. Dan selanjutnya, polisi akan melakukan penyelidikan lebih dalam, di rumah Feaya untuk menemukan bukti lebih lanjut.”
“Dan saranku, orang tuamu harus tahu perihal ini. Jangan sampai orang tuamu justru tahu dari orang lain!” tambah Kim Jinnan.
Pelangi terdiam dan tampak ragu sekaligus bingung.
“Kalau memang kamu mau, nanti aku bantu untuk mmebucarakan masalah ini ke orang tuamu,” ujar Kim Jinnan sambil menatap sungguh-sungguh.
Pelangi menghela napas pelan. “Kira-kira, ... semuanya akan baik-baik saja, kan?” tanyanya sambil menatap khawatir Kim Jinnan.
“Enggak apa-apa. Kita sama-sama jalani dan menikmati prosesnya saja,” balas Kim Jinnan yang sengaja menguatkan. Ia mengelus kepala Pelangi yang kali ini membiarkannya melakukannya.
Pelangi hanya diam menunduk dan masih tidak bersemangat. “Padahal kita enggak berbuat salah, tetapi ada saja yang membuat kita terlibat dalam masalah.”
“Jalani saja, Ngie. Tinggal di hutan atau gurun yang enggak ada siapa-siapa kecuali kita saja, kita bisa tetap mengalami masalah. Bahkan meski kita hanya diam.” Kim Jinnan masih sangat nyaman mengelus-elus kepala Pelangi.
“Ngie, apa sih yang harus aku lakukan, agar kamu percaya, aku serius ke kamu?” tanya Kim Jinnan sambil menatap serius Pelangi.
“Enggak tahu. Jangan tanya itu ke aku. Aku beneran enggak mau mikir macam-macam, termasuk mengenai hubungan,” balas Pelangi santai.
Pernyataan Pelangi cukup membuat Jinnan bingung. Gadis seumur Pelangi yang harusnya sedang semangat-semangatnya menjalin hubungan asmara di usia muda, justru terlihat sangat tidak berselera? Adakah yabg salah dengan gadis itu? Atau, Pelangi memiliki alasan khusus?
“Kamu mau jalan-jalan?” tawar Kim Jinnan kemudian.
“Hampir tiap minggu, aku selalu jalan-jaran bersama keluargaku. Bahkan kami kerap liburan bersama walau hanya di akhir pekan,” balas Pelangi masih tidak bersemangat.
“Bukan jalan-jalan bersama keluargamu. Tapi jalan-jalan bersamaku,” keluh Kim Jinnan.
Pelangi langsung mendengkus sambil menggeleng. “Enggak, ah ... bahaya kalau cuma sama kamu. Bisa enggak jelas, nanti akhirnya.”
Balasan Pelangi sukses membuat Kim Jinnan menertawakan dirinya sendiri. Kim Jinnan sampai menahan senyum sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
“Sampai kapan pun kita enggak akan tahu bagaimana akhir dari sebuah hal, jika kita enggak menjalaninya sampai akhir,” sanggah Kim Jinnan.
“Ngie ...?”
Seruan itu sukses membuat kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan terusik. Pelangi mengenalinya sebagai suara Mofaro. Ya, Mofaro, ... salah satu sosok yang tidak mempunyai rasa sungkan.
Mofaro memang tipikal yang tidak takut pada apa pun tanpa terkecuali saat ini. Mofaro nekat masuk ke ruang tamu kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan. Pun meski pintu ruang tersebut dalam keadaan tertutup. Akan tetapi, Pelangi yakin Mofaro mengetahui keberadaannya dari pekerja rumah yang membukakan pemuda itu pintu, atau justru Zean yang sengaja membuat Mofaro cemburu.
__ADS_1
Pelangi yang awalnya telah kembali bersedekap, buru-buru meraih sebelah tangan Kim Jinnan yang sempat Pelangi singkirkan dari kepalanya. Dan apa yang Pelangi lakukan membuat Kim Jinnan kebingungan.
“Dia menyukaiku. Jadi mesralah!” omel Pelangi dengan suara lirih.
Pelangi sampai mendelik, menatap Kim Jinnan penuh peringatan.
Kim Jinnan langsung tersenyum lepas. Tak peduli meski tujuan Pelangi hanya untuk memanas-manasi pemuda yang baru datang. Sebab Kim Jinnan akan memanfaatkan kesempatan tersebut, untuk membuat Pelangi percaya kemudian mencintainya.
“Lho, kok mirip sama yang kemarin? Tapi yang kemarin rambutnya pendek? Masa iya, dalam sehari bisa sepanjang itu?” pikir Kim Jinnan yang sampai terkejut dan menatap Mofaro tak percaya.
“Kok kalian ngumpet-ngumpet?” sergah Mofaro yang tak segan duduk di sofa seberang keberadaan Kim Jinnan.
Mofaro duduk berhadapan dengank Kim Jinnan, membuat Pelangi ada di tengah-tengah mereka.
“Kamu pulang lebih awal?” ujar Pelangi yang menatap Mofaro sambil memasang senyum.
Mofaro yang masih cemberut, tak lantas menjawab. Sebab pria itu menatap sebal gandengan tangan Kim Jinnan dan Pelangi yang ada di meja kecil, selaku sekat sofa keberadaan keduanya.
“Mau menyaingi truk gandeng, ya? Sengaja gandengan terus, biar aku cemburu? Enggak mempan!” sindir Mofaro.
“Pemuda ini, ... kenapa mendadak cerewet nyebelin gini?” batin Kim Jinnan yang menjadi menatap sinis Mofaro. “Padahal kemarin dia hanya diam ...?” gumamnya.
Sadar Kim Jinnan terlihat pangling kepada Mofaro, Pelangi pun berinisiatif untuk mengenalkan keduanya.
“Mo ... ini Jinnan. Kalian pernah bertemu,” ujar Pelangi yang kemudian mengakhiri gandengannya dengan Kim Jinnan, tetapi pria itu tidak mau melakukannya.
Kim Jinnan menatap tegas Mofaro.
“Ya, aku masih ingat,” balas Mofaro cuek dan sampai menepis tatapan Kim Jinnan.
“Jinnan. Ini Bukan Rafa. Ini kembaran sekaligus kakaknya Rafa,” jelas Pelangi lagi sambil menatap Jinnan.
“Oh, pantas. Kesannya beda. Yang ini enggak kenal aturan!” batin Kim Jinnan yang akhirnya mengangguk sambil mengulas senyum. Ia berangsur menatap Mofaro.
“Kim Jinnan,” ucap Kim Jinnan sambil mengulurkan tangannya pada Mofaro, sesaat setelah ia sampai beranjak dari duduknya. Kim Jinnan juga sampai membungkukkan tubuhnya demi menyalami pria di hadapannya.
Setelah mendengkus dan menatap Kim Jinnan sinis, Mofaro segera beranjak dan kemudian langsung menyalami Kim Jinnan.
“Mofaro! Aku pacarnya Pelangi!” tegas Mofaro dan sukses membuat Kim Jinnan terkesiap.
Kim Jinnan refleks menoleh dan menatap serius Pelangi yang detik itu juga langsung beranjak, berdiri dari duduknya. Pelangi menatap kebersamaan Mofaro dan Kim Jinnan, penuh keresahan. Terlebih rasa bingung dan takut, langsung membebani Pelangi detik itu juga.
Pelangi takut, kebersamaan kini, apalagi baik Mofaro maupun Kim Jinnan sama-sama keras kepala, akan berakhir dengan mala petaka.
“Aku harus melakukan sesuatu!” batin Pelangi. Ia melihat sebdiri, dalam bersalaman pun, baik Mofaro maupun Kim Jinnan, sama-sama mencengkeram, berusaha melukai satu sama lain. Dan jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajah keduanya.
Otot dan saraf di wajah Kim Jinnan dan Mofaro sama-sama diliputi ketegangan, terlepas dari wajah keduanya yang sudah berubah menjadi merah padam. Dan keduanya, ... seolah nyaris meledak detik itu juga, atas emosi yang sama-sama mereka tahan.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya,
Siap-siap masak buat buka puasa.
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya. Biar Jinnan sama Mo enggak sampai adu bogem 😂😂😂😂
Salam sayang dan semoga sehat selalu ♥️